Dengan semakin rumit, pelik, kacau dan tidak terkendalinya permasalahan oleh para pemegang kekuasaan, pelaksana keadilan, aparat penegak hukum serta semua aturan yang sudah begitu banyak dibuat bahkan sampai tumpang tindih satu sama lain, kiranya perlu ditengok ulang siapakah sebenarnya Sang Maha Adil sejati.
Tentu dengan sangat cepat akan bisa dijawab Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak pada tempatnya apabila menuntut keadilan yang seadil-adilnya pada tataran keputusan Manusia, barangkali hanya sedapat mungkin mendekati.
Berdo'a agar bisa berlaku adil dalam tataran sebaik-baiknya pada porsi kemanusiaan/makhluk dan sedapat mungkin tidak melanggar hukum.
PEACE INDONESIA
Minggu, 28 Februari 2010
Kamis, 18 Februari 2010
LA TANZHUR ILA MAN QAALA WAN ZHUR ILAA MA QAALA (PILIH KULIT ATAU ISI)
Jangan pandang siapa yang berkata, tapi pandanglah apa kata-katanya
Kalimat ini diucapkan oleh Sayidina Ali, salah satu sahabat dekat Rasulullah SAW untuk mengingatkan agar kita hendaknya tidak cenderung melihat SIAPA YANG BERBICARA. Namun lihatlah SUBSTANSI ATAU ISI yang DIBICARAKANNYA. Di Jaman sekarang ini, semakin menjadi-jadi orang dilihat dan dinilai dari kulit luarnya. Orang menghargai orang karena kekayaannya, jabatannya, pangkatnya, statusnya, kendaraannya, rumahnya, kerjanya dimana, usianya berapa, isterinya siapa, suaminya siapa, anaknya siapa dan seterusnya.
Padahal, kalau kita mau meluangkan waktu sejenak untuk menggali kejernihan perenungan… semua predikat itu hanyalah baju-baju duniawi yang hanya sesaat disandang oleh seseorang. Predikat itu kemudian dijadikan parameter untuk menilai dan melegitimasi kebenaran sehingga aspek isi dinomorduakan.
Bila yang mengatakannya menteri, bila yang menyampaikannya presiden, bila yang berpidato itu ulama atau ustadz yang terkenal, bila yang tampil itu spiritualis kondang maka kita akan dengan mudah PERCAYA terhadap informasi yang disampaikannya. Namun, bila yang mengatakannya itu Mas Bejo, yang menyampaikan Mas Tarno, yang koar-koar itu Anda atau saya maka dianggap angin lalu dan disebut mengada-ada dan TIDAK DIPERCAYA.
Inilah gejala penyakit di masyarakat yaitu LEBIH SUKA KULIT DARI PADA ISI. Kita semua harus mengakui kena penyakit ini. Sebuah penyakit kronis yang sumber asalnya adalah KEDANGKALAN SPIRITUAL KARENA KITA MASIH BELUM MELAKONI TAHAPAN-TAHAPAN PERJALANAN SPIRITUAL LANJUTAN.
Dalam konteks beribadah kita masih sibuk dengan menata syariat, tata cara, hukum, rambu-rambu saja. Kita masih belum menyentuh wilayah tariqat yang lebih dalam lagi, apalagi menuju hakikat yaitu wilayah akal budi yang akan tercerahkan karena mendapatkan kebijaksanaan. Hingga mampu untuk bermakrifat, yaitu mengenal rahasia-rahasia ketuhanan. Rambu-rambu (baca syariat) tetaplah hal yang penting dan harus dijalani karena kalau tidak dijalani, kita bisa kena tilang oleh polisi yang mengawasi jalannya hidup ini yaitu malaikat.
Namun jangan lupakan, bahwa kendaraan kita juga harus tetap melaju di jalan (tariqat) sebaik-baiknya dengan bekal dan persiapan mental yang matang agar kita sampai pada tujuan hidup yaitu mencari kebenaran dan mencintai kebijaksanaan (PHILO–SOPHIA), dan kemudian bisa mengenal bahkan bertemu langsung dengan SANG PEMILIK KENDARAAN yaitu TUHAN YANG MAHA PENCIPTA.
Dunia pendidikan sekarang juga setali tiga uang, yaitu dihinggapi penyakit LEBIH SUKA KULIT DARI PADA ISI. Lebih mementingkan output yang berorientasi jangka pendek, praktis, laku di dunia kerja daripada menghasilkan SDM memahami proses dan metode untuk kemudian menemukan sendiri langkah dan cara yang lebih bijaksana, manusiawi dan menyejahterakan peradaban lahir dan batin.
Syariat dan hakikat itu seperti lahir dan batin, seperti pohon kayu dan kulit kayu. Kayu yang hanya tinggal intinya dan tidak berkulit maka tidak akan lama usianya. Dan kayu yang remuk, dan hanya tinggal kulitnya saja tidak kuat menghadapi angin yang kencang. Pohon itu akan roboh dalam waktu yang singkat. Kita jelas mencela orang-orang yang hanya membaca apa yang tersurat saja. Namun kita juga tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuan dan kesadaran yang hakikat semata karena akan menjadikan kita gerombolan orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Keduanya akan sama-sama rugi bila tidak saling melengkapi. Jadilah kayu SYAJAROTIN THAYYIBATIN, kayu yang indah murni, berdahan, bercabang, beranting dan berdaun subur.
Itulah ILMU SEJATI yang bisa dijelaskan sebagai “Filsafat sebagai penjelasan hidup, kesusasteraan sebagai nyanyian hidup, kesenian sebagai perhiasan hidup dan tasawuf sebagai intisari hidup dan ibadah sebagai pegangan hidup. Semuanya untuk hidup, karena hidup yang tinggi dan panjang adalah hidup yang bernilai. Bahkan maut sendiri adalah tonggak awal dari hidup yang lebih bernilai.”
Salah satu hakikat yang perlu dipahami oleh masyarakat yang sudah dewasa pola pikirnya sekarang ini adalah hakikat agama. Ini cukup penting untuk disampaikan karena semakin hari terjadi gejala penyempitan nalar publik yang berujung pada radikalisasi gerakan-gerakan umat beragama secara diam-diam. Hakikat agama adalah semuanya menuju Allah SWT. Seorang yang arif bijaksana akan memandang bahwa yang siapa sejatinya yang disembah berbeda dengan simbol penyembahan. Menyembah berhala atau menyembah Ka’bah itu hakikatnya sama kalau itu yang disembah. Semua obyek itu hanya simbol dan lambang, baik api, patung, batu, arca, atau Ka’bah. Kita tidak menyembah simbol namun apa yang ada di balik simbol tersebut, yaitu menghadirkan “Allah SWT” sebagai satu-satunya Pencipta segala yang ada. Beribadah yang sah adalah bila dipandang bahwa segala bentuk, segala rupa, segala yang tampak ini sebagai kenyataan dari HAKIKAT YANG ESA. Inilah METAFISIKA KESATUAN!
Sumber : @wongalus, 2010
Kalimat ini diucapkan oleh Sayidina Ali, salah satu sahabat dekat Rasulullah SAW untuk mengingatkan agar kita hendaknya tidak cenderung melihat SIAPA YANG BERBICARA. Namun lihatlah SUBSTANSI ATAU ISI yang DIBICARAKANNYA. Di Jaman sekarang ini, semakin menjadi-jadi orang dilihat dan dinilai dari kulit luarnya. Orang menghargai orang karena kekayaannya, jabatannya, pangkatnya, statusnya, kendaraannya, rumahnya, kerjanya dimana, usianya berapa, isterinya siapa, suaminya siapa, anaknya siapa dan seterusnya.
Padahal, kalau kita mau meluangkan waktu sejenak untuk menggali kejernihan perenungan… semua predikat itu hanyalah baju-baju duniawi yang hanya sesaat disandang oleh seseorang. Predikat itu kemudian dijadikan parameter untuk menilai dan melegitimasi kebenaran sehingga aspek isi dinomorduakan.
Bila yang mengatakannya menteri, bila yang menyampaikannya presiden, bila yang berpidato itu ulama atau ustadz yang terkenal, bila yang tampil itu spiritualis kondang maka kita akan dengan mudah PERCAYA terhadap informasi yang disampaikannya. Namun, bila yang mengatakannya itu Mas Bejo, yang menyampaikan Mas Tarno, yang koar-koar itu Anda atau saya maka dianggap angin lalu dan disebut mengada-ada dan TIDAK DIPERCAYA.
Inilah gejala penyakit di masyarakat yaitu LEBIH SUKA KULIT DARI PADA ISI. Kita semua harus mengakui kena penyakit ini. Sebuah penyakit kronis yang sumber asalnya adalah KEDANGKALAN SPIRITUAL KARENA KITA MASIH BELUM MELAKONI TAHAPAN-TAHAPAN PERJALANAN SPIRITUAL LANJUTAN.
Dalam konteks beribadah kita masih sibuk dengan menata syariat, tata cara, hukum, rambu-rambu saja. Kita masih belum menyentuh wilayah tariqat yang lebih dalam lagi, apalagi menuju hakikat yaitu wilayah akal budi yang akan tercerahkan karena mendapatkan kebijaksanaan. Hingga mampu untuk bermakrifat, yaitu mengenal rahasia-rahasia ketuhanan. Rambu-rambu (baca syariat) tetaplah hal yang penting dan harus dijalani karena kalau tidak dijalani, kita bisa kena tilang oleh polisi yang mengawasi jalannya hidup ini yaitu malaikat.
Namun jangan lupakan, bahwa kendaraan kita juga harus tetap melaju di jalan (tariqat) sebaik-baiknya dengan bekal dan persiapan mental yang matang agar kita sampai pada tujuan hidup yaitu mencari kebenaran dan mencintai kebijaksanaan (PHILO–SOPHIA), dan kemudian bisa mengenal bahkan bertemu langsung dengan SANG PEMILIK KENDARAAN yaitu TUHAN YANG MAHA PENCIPTA.
Dunia pendidikan sekarang juga setali tiga uang, yaitu dihinggapi penyakit LEBIH SUKA KULIT DARI PADA ISI. Lebih mementingkan output yang berorientasi jangka pendek, praktis, laku di dunia kerja daripada menghasilkan SDM memahami proses dan metode untuk kemudian menemukan sendiri langkah dan cara yang lebih bijaksana, manusiawi dan menyejahterakan peradaban lahir dan batin.
Syariat dan hakikat itu seperti lahir dan batin, seperti pohon kayu dan kulit kayu. Kayu yang hanya tinggal intinya dan tidak berkulit maka tidak akan lama usianya. Dan kayu yang remuk, dan hanya tinggal kulitnya saja tidak kuat menghadapi angin yang kencang. Pohon itu akan roboh dalam waktu yang singkat. Kita jelas mencela orang-orang yang hanya membaca apa yang tersurat saja. Namun kita juga tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuan dan kesadaran yang hakikat semata karena akan menjadikan kita gerombolan orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Keduanya akan sama-sama rugi bila tidak saling melengkapi. Jadilah kayu SYAJAROTIN THAYYIBATIN, kayu yang indah murni, berdahan, bercabang, beranting dan berdaun subur.
Itulah ILMU SEJATI yang bisa dijelaskan sebagai “Filsafat sebagai penjelasan hidup, kesusasteraan sebagai nyanyian hidup, kesenian sebagai perhiasan hidup dan tasawuf sebagai intisari hidup dan ibadah sebagai pegangan hidup. Semuanya untuk hidup, karena hidup yang tinggi dan panjang adalah hidup yang bernilai. Bahkan maut sendiri adalah tonggak awal dari hidup yang lebih bernilai.”
Salah satu hakikat yang perlu dipahami oleh masyarakat yang sudah dewasa pola pikirnya sekarang ini adalah hakikat agama. Ini cukup penting untuk disampaikan karena semakin hari terjadi gejala penyempitan nalar publik yang berujung pada radikalisasi gerakan-gerakan umat beragama secara diam-diam. Hakikat agama adalah semuanya menuju Allah SWT. Seorang yang arif bijaksana akan memandang bahwa yang siapa sejatinya yang disembah berbeda dengan simbol penyembahan. Menyembah berhala atau menyembah Ka’bah itu hakikatnya sama kalau itu yang disembah. Semua obyek itu hanya simbol dan lambang, baik api, patung, batu, arca, atau Ka’bah. Kita tidak menyembah simbol namun apa yang ada di balik simbol tersebut, yaitu menghadirkan “Allah SWT” sebagai satu-satunya Pencipta segala yang ada. Beribadah yang sah adalah bila dipandang bahwa segala bentuk, segala rupa, segala yang tampak ini sebagai kenyataan dari HAKIKAT YANG ESA. Inilah METAFISIKA KESATUAN!
Sumber : @wongalus, 2010
AJARAN KEBAJIKAN (PIWULANG KAUTAMAN)
Falsafah Ajaran Hidup Jawa memiliki tiga aras dasar utama. Yaitu: aras sadar ber-Tuhan, aras kesadaran semesta dan aras keberadaban manusia. Aras keberadaban manusia implementasinya dalam ujud budi pekerti luhur. Maka di dalam Falsafah Ajaran Hidup Jawa ada ajaran keutamaan hidup yang diistilahkan dalam bahasa Jawa sebagai piwulang (wewarah) kautaman.
Secara alamiah manusia sudah terbekali kemampuan untuk membedakan perbuatan benar dan salah serta perbuatan baik dan buruk. Maka peranan Piwulang Kautaman adalah upaya pembelajaran untuk mempertajam kemampuan tersebut serta mengajarkan kepada manusia untuk selalu memilih perbuatan yang benar dan baik menjauhi yang salah dan buruk.
Namun demikian, pemilihan yang benar dan baik saja tidaklah cukup untuk memandu setiap individu dalam berintegrasi dalam kehidupan bersama atau bermasyarakat.
Oleh karena itu, dalam Piwulang Kautaman juga diajarkan pengenalan budi luhur dan budi asor dimana pilihan manusia hendaknya kepada budi luhur. Dengan demikian setiap individu atau person menjadi terpandu untuk selalu menjalani hidup bermasyarakat secara benar, baik dan pener (tepat, pas).
Cukup banyak piwulang kautaman dalam ajaran hidup cara Jawa. Ada yang berupa tembang-tembang sebagaimana Wulangreh, Wedhatama, Tripama, dll. Ada pula yang berupa sesanti atau unen-unen yang mengandung pengertian luas dan mendalam tentang makna budi luhur.
Misalnya : tepa selira dan mulat sarira, mikul dhuwur mendhem jero, dan alon-alon waton kelakon.
Filosofi yang ada dibalik kalimat sesanti atau unen-unen tersebut tidak cukup sekedar dipahami dengan menterjemahkan makna kata-kata dalam kalimat tersebut.
Oleh karena itu sering terjadi ”salah mengerti” dari para pihak yang bukan Jawa. Juga oleh kebanyakan orang Jawa sendiri. Akibatnya ada anggapan bahwa sesanti dan unen-unen Jawa sebagai anti-logis atau dianggap bertentangan dengan logika umum. Akibat selanjutnya berupa kemalasan orang Jawa sendiri untuk mendalami makna sesanti dan unen-unen yang ada pada khasanah budaya dan peradabannya.
Namun kemudian, sesanti dan unen-unen tersebut dijadikan olok-olok dalam kehidupan masyarakat.
Mulat sarira dan tepa selira diartikan bahwa Jawa sangat toleran dengan perbuatan KKN yang dilakukan kerabat dan golongannya.
Mikul dhuwur mendhem jero dimaknai untuk tidak mengadili orangtua dan pemimpin yang bersalah.
Alon-alon waton kelakon dianggap mengajarkan kemalasan.
Padahal ajaran sesungguhnya dari sesanti dan unen-unen tersebut adalah pembekalan watak bagi setiap individu untuk hidup bersama atau bermasyarakat. Tujuan utamanya adalah terbangunnya kehidupan bersama yang rukun, dami dan sejahtera. Bukan sebagai dalil pembenar perbuatan salah, buruk dan tergolong budi asor. Makna dari mulat sarira dan tepa selira adalah untuk selalu mengoperasionalkan rasa pangrasa dalam bergaul dengan orang lain.
Mulat sarira, mengajarkan untuk selalu instropeksi akan diri sendiri.”Aku ini apa? Aku ini siapa? Aku ini akan kemana? Aku ini mengapa ada?” Kesadaran untuk selalu instropeksi pada diri sendiri akan melahirkan watak tepa selira, berempati secara terus menerus kepada sesama umat manusia. Kebebasan individu akan berakhir ketika individu yang lain juga berkehendak atau merasa bebas. Maka pemahaman mulat sarira dan tepa selira merupakan bekal kepada setiap individu yang mencitakan kebebasan dalam hidup bersama-sama, bukan?
Mikul dhuwur mendhem jero, meskipun dimaksudkan untuk selalu menghormat kepada orangtua dan pemimpin, namun tidak membutakan diri untuk menilai perbuatan orangtua dan pemimpin. Karena yang tua dan pemimpin juga memiliki kewajiban yang sama untuk selalu melakukan perbuatan yang benar, baik dan pener. Justru yang tua dan pemimpin dituntut ”lebih” dalam mengaktualisasikan budi pekerti luhur. Orangtua yang tidak memiliki budi luhur disebut tuwa tuwas lir sepah samun. Orangtua yang tidak ada guna dan makna sehingga tidak pantas ditauladani. Pemimpin yang tidak memiliki budi luhur juga bukan pemimpin.
Alon-alon waton kelakon, bukan ajaran untuk bermalas-malasan. Namun merupakan ajaran untuk selalu mengoperasionalkan watak sabar, setia kepada cita-cita sambil menyadari akan kapasitas diri.
Contoh yang mudah dipahami ada dalam dunia pendidikan tinggi. Normatif setiap mahasiswa untuk bisa menyelesaikan kuliah Strata I dibutuhkan waktu 8 semester. Namun kapasitas setiap mahasiswa tidaklah sama. Hanya sedikit yang memiliki kemampuan untuk selesai kuliah 8 semester tersebut. Sedikit pula yang prestasinya cum-laude dan memuaskan. Rata-rata biasa dan selesai kuliah lebih dari 8 semester. Dengan mengoperasionalkan ajaran alon-alon waton kelakon, maka mahasiswa yang kapasitas kemampuannya biasa-biasa akan selesai kuliah juga meskipun melebihi target waktu 8 semester.
Makna positifnya mengajarkan kesabaran dan tidak putus asa ketika dirinya tidak bisa seperti yang lain. Landasan falsafahnya, hidup bukanlah kompetisi tetapi lebih mengutamakan kebersamaan.
Banyak pula kita ketemukan Piwulang Kautaman yang berupa nasehat atau pitutur yang jelas paparannya. Sebagai contoh adalah sebagai berikut :
“Ing samubarang gawe aja sok wani mesthekake, awit akeh lelakon kang akeh banget sambekalane sing ora bisa dinuga tumibane. Jer kaya unine pepenget, “menawa manungsa iku pancen wajib ihtiyar, nanging pepesthene dumunung ing astane Pangeran Kang Maha Wikan”.
Mula ora samesthine yen manungsa iku nyumurupi bab-bab sing durung kelakon. Saupama nyumurupana, prayoga aja diblakakake wong liya, awit temahane mung bakal murihake bilahi.
Terjemahannya:
“Dalam setiap perbuatan hendaknya jangan sok berani memastikan, sebab banyak sambekala (halangan) yang tidak bisa diramal datangnya pada “perjalanan hidup” (lelakon) manusia.
Sebagaimana disebut dalam kalimat peringatan “bahwa manusia itu memang wajib berihtiar, namun kepastian berada pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Mengetahui”.
Maka sesungguhnya manusia itu tidak semestinya mengetahui sesuatu yang belum terjadi. Seandainya mengetahui (kejadian yang akan datang), kurang baik kalau diberitahukan kepada orang lain, karena akan mendatangkan bencana (bilahi).”
Piwulang Kautaman memiliki aras kuat pada kesadaran ber-Tuhan. Maka sebagaimana pitutur diatas, ditabukan mencampuri “hak prerogatif Tuhan” dalam menentukan dan memastikan kejadian yang belum terjadi.
Sumber :Alang Alang Kumitir
Secara alamiah manusia sudah terbekali kemampuan untuk membedakan perbuatan benar dan salah serta perbuatan baik dan buruk. Maka peranan Piwulang Kautaman adalah upaya pembelajaran untuk mempertajam kemampuan tersebut serta mengajarkan kepada manusia untuk selalu memilih perbuatan yang benar dan baik menjauhi yang salah dan buruk.
Namun demikian, pemilihan yang benar dan baik saja tidaklah cukup untuk memandu setiap individu dalam berintegrasi dalam kehidupan bersama atau bermasyarakat.
Oleh karena itu, dalam Piwulang Kautaman juga diajarkan pengenalan budi luhur dan budi asor dimana pilihan manusia hendaknya kepada budi luhur. Dengan demikian setiap individu atau person menjadi terpandu untuk selalu menjalani hidup bermasyarakat secara benar, baik dan pener (tepat, pas).
Cukup banyak piwulang kautaman dalam ajaran hidup cara Jawa. Ada yang berupa tembang-tembang sebagaimana Wulangreh, Wedhatama, Tripama, dll. Ada pula yang berupa sesanti atau unen-unen yang mengandung pengertian luas dan mendalam tentang makna budi luhur.
Misalnya : tepa selira dan mulat sarira, mikul dhuwur mendhem jero, dan alon-alon waton kelakon.
Filosofi yang ada dibalik kalimat sesanti atau unen-unen tersebut tidak cukup sekedar dipahami dengan menterjemahkan makna kata-kata dalam kalimat tersebut.
Oleh karena itu sering terjadi ”salah mengerti” dari para pihak yang bukan Jawa. Juga oleh kebanyakan orang Jawa sendiri. Akibatnya ada anggapan bahwa sesanti dan unen-unen Jawa sebagai anti-logis atau dianggap bertentangan dengan logika umum. Akibat selanjutnya berupa kemalasan orang Jawa sendiri untuk mendalami makna sesanti dan unen-unen yang ada pada khasanah budaya dan peradabannya.
Namun kemudian, sesanti dan unen-unen tersebut dijadikan olok-olok dalam kehidupan masyarakat.
Mulat sarira dan tepa selira diartikan bahwa Jawa sangat toleran dengan perbuatan KKN yang dilakukan kerabat dan golongannya.
Mikul dhuwur mendhem jero dimaknai untuk tidak mengadili orangtua dan pemimpin yang bersalah.
Alon-alon waton kelakon dianggap mengajarkan kemalasan.
Padahal ajaran sesungguhnya dari sesanti dan unen-unen tersebut adalah pembekalan watak bagi setiap individu untuk hidup bersama atau bermasyarakat. Tujuan utamanya adalah terbangunnya kehidupan bersama yang rukun, dami dan sejahtera. Bukan sebagai dalil pembenar perbuatan salah, buruk dan tergolong budi asor. Makna dari mulat sarira dan tepa selira adalah untuk selalu mengoperasionalkan rasa pangrasa dalam bergaul dengan orang lain.
Mulat sarira, mengajarkan untuk selalu instropeksi akan diri sendiri.”Aku ini apa? Aku ini siapa? Aku ini akan kemana? Aku ini mengapa ada?” Kesadaran untuk selalu instropeksi pada diri sendiri akan melahirkan watak tepa selira, berempati secara terus menerus kepada sesama umat manusia. Kebebasan individu akan berakhir ketika individu yang lain juga berkehendak atau merasa bebas. Maka pemahaman mulat sarira dan tepa selira merupakan bekal kepada setiap individu yang mencitakan kebebasan dalam hidup bersama-sama, bukan?
Mikul dhuwur mendhem jero, meskipun dimaksudkan untuk selalu menghormat kepada orangtua dan pemimpin, namun tidak membutakan diri untuk menilai perbuatan orangtua dan pemimpin. Karena yang tua dan pemimpin juga memiliki kewajiban yang sama untuk selalu melakukan perbuatan yang benar, baik dan pener. Justru yang tua dan pemimpin dituntut ”lebih” dalam mengaktualisasikan budi pekerti luhur. Orangtua yang tidak memiliki budi luhur disebut tuwa tuwas lir sepah samun. Orangtua yang tidak ada guna dan makna sehingga tidak pantas ditauladani. Pemimpin yang tidak memiliki budi luhur juga bukan pemimpin.
Alon-alon waton kelakon, bukan ajaran untuk bermalas-malasan. Namun merupakan ajaran untuk selalu mengoperasionalkan watak sabar, setia kepada cita-cita sambil menyadari akan kapasitas diri.
Contoh yang mudah dipahami ada dalam dunia pendidikan tinggi. Normatif setiap mahasiswa untuk bisa menyelesaikan kuliah Strata I dibutuhkan waktu 8 semester. Namun kapasitas setiap mahasiswa tidaklah sama. Hanya sedikit yang memiliki kemampuan untuk selesai kuliah 8 semester tersebut. Sedikit pula yang prestasinya cum-laude dan memuaskan. Rata-rata biasa dan selesai kuliah lebih dari 8 semester. Dengan mengoperasionalkan ajaran alon-alon waton kelakon, maka mahasiswa yang kapasitas kemampuannya biasa-biasa akan selesai kuliah juga meskipun melebihi target waktu 8 semester.
Makna positifnya mengajarkan kesabaran dan tidak putus asa ketika dirinya tidak bisa seperti yang lain. Landasan falsafahnya, hidup bukanlah kompetisi tetapi lebih mengutamakan kebersamaan.
Banyak pula kita ketemukan Piwulang Kautaman yang berupa nasehat atau pitutur yang jelas paparannya. Sebagai contoh adalah sebagai berikut :
“Ing samubarang gawe aja sok wani mesthekake, awit akeh lelakon kang akeh banget sambekalane sing ora bisa dinuga tumibane. Jer kaya unine pepenget, “menawa manungsa iku pancen wajib ihtiyar, nanging pepesthene dumunung ing astane Pangeran Kang Maha Wikan”.
Mula ora samesthine yen manungsa iku nyumurupi bab-bab sing durung kelakon. Saupama nyumurupana, prayoga aja diblakakake wong liya, awit temahane mung bakal murihake bilahi.
Terjemahannya:
“Dalam setiap perbuatan hendaknya jangan sok berani memastikan, sebab banyak sambekala (halangan) yang tidak bisa diramal datangnya pada “perjalanan hidup” (lelakon) manusia.
Sebagaimana disebut dalam kalimat peringatan “bahwa manusia itu memang wajib berihtiar, namun kepastian berada pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Mengetahui”.
Maka sesungguhnya manusia itu tidak semestinya mengetahui sesuatu yang belum terjadi. Seandainya mengetahui (kejadian yang akan datang), kurang baik kalau diberitahukan kepada orang lain, karena akan mendatangkan bencana (bilahi).”
Piwulang Kautaman memiliki aras kuat pada kesadaran ber-Tuhan. Maka sebagaimana pitutur diatas, ditabukan mencampuri “hak prerogatif Tuhan” dalam menentukan dan memastikan kejadian yang belum terjadi.
Sumber :Alang Alang Kumitir
70 RIBU JENIS HIJAB
Kenapa Tuhan Yang Maha Kuasa memberi keterbatasan pada manusia sehingga manusia tidak mampu langsung “melihat” Nya? Itu disebabkan karena kebanyakan mata manusia tidak mampu melihat betapa luar biasa “CAHAYA” yang terpancar pada Dzat-Nya. Hanya manusia yang berusaha keras ingin melihat, dan sudah memiliki PERSIAPAN KHUSUS yang mampu untuk melihat CAHAYA MAHA CAHAYA. Kecuali bila Anda diijinkan Tuhan melalui jalan pintas.
Dia akhirnya tersungkur, pingsan, tidak sadarkan diri, ekstase saat ingin melihat Dzat-nya yang sangat terang. Matanya nyaris buta bila dia tidak pingsan. Bahkan bisa-bisa langsung lenyap tanpa bekas. Menjadi arang bahkan debu pun saya rasa masih luar biasa.
Dialah Nabi Musa atau Moses –begitu orang Barat menyebut – saat menantang agar Tuhan menampakkan diri dalam wujud fisik. Bayangkan saja bagaimana bila kita melihat matahari dalam jarak ratusan kilometer sebagaimana jarak Musa melihat Tuhan? Pasti Musa akan terbakar habis, bis! Itu hanya satu matahari, bagaimana bila …dua…tiga…empat… semilyar sinar matahari yang kekuatan membakarnya dijadikan satu?
Sejatinya, Tuhan adalah Dzat yang Bukan Maha Pembakar. Dia adalah Maha Lembut dan Welas Asih, sehingga akhirnya dia menyapa Musa dengan bahasa kasih sayang. Tuhan memberikan cara untuk melihat-Nya: Hai Musa, Kau harus ekstase!. Musa hanya diminta untuk tidak menyadarkan “diri” yang masih diliputi oleh tirai kemanusiaan. Diri yang belum siap untuk bertatap “MUKA” dengan-NYA.
Bagaimana sesungguhya kehebatan CAHAYA TUHAN? Dalam Kitab Suci disebutkan dengan bahasa analogi, bahasa perumpamaan, agar manusia berpikir. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan CAHAYA-NYA adalah ibarat misykat. Dalam misykat itu ada PELITA. PELITA itu ada dalam KACA. KACA itu laksana bintang berkilau. Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di Timur atau di Barat. Yang minyaknya hampir-hampir menyala dengan sendirinya, walaupun tidak ada API yang menyentuhnya. CAHAYA DI ATAS CAHAYA! ALLAH menuntun kepada CAHAYA-NYA, siapa saja yang Ia kehendaki. Dan ALLAH membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh ALLAH mengetahui segala sesuatu. (QS AN NUR, 35).
Kenapa Tuhan membuat perumpamaan dengan MISYKAT, KACA, PELITA, MINYAK DAN POHON? Jawaban ini tercantum dalam Hadits: Allah mempunyai tujuh puluh hijab (Tirai Penutup) CAHAYA dan KEGELAPAN. Seandainya DIA membukanya, niscaya CAHAYA WAJAHNYA akan membakar siapa saja yang melihatnya.
Masalah utama dalam untuk mengenali Dzat Tuhan yang tidak terbatas adalah ilmu dan pengetahuan dan akal kita sebagai manusia yang terbatas. Dia adalah wujud mutlak dari segala dimensi. Dzat-Nya, seperti ilmu, kuasa dan seluruh sifat-sifat-Nya, adalah tak terbatas. Dari sisi lain, kita dan seluruh yang bertalian dengan keberadaan kita, seperti ilmu, kuasa, hidup, ruang dan waktu, semuanya serba terbatas.
Oleh karena itu, dengan segala keterbatasan yang kita miliki, bagaimana mungkin kita dapat mengenal wujud dan sifat yang mutlak dan tak terbatas? Bagaimana mungkin ilmu kita yang terbatas dapat menyingkap wujud nir-batas? Ya, dari satu sisi, kita dapat melihat dari jauh kosmos pikiran dan memberikan isyarat global ihwal Dzat dan sifat Allah swt. Akan tetapi, untuk mencapai hakikat Dzat dan sifat-Nya secara detail adalah mustahil bagi kita.
Dari sisi lain, wujud tanpa batas dari segala dimensi ini tidak memiliki keserupaan dan kesamaan. Dan ketakterbatasan ini hanyalah TUHAN SEMESTA ALAM. Sebab, sekiranya Dia memiliki keserupaan dan persamaan, maka kedua-duanya menjadi terbatas. Sekarang bagaimana kita dapat memahami wujud yang tak memiliki kesamaan dan keserupaan?
Segala sesuatu yang kita lihat selain-Nya adalah wujud yang mungkin, sedangkan sifat- sifat wajib al-Wujud berbeda dengan sifat yang lainnya. Kita tidak berasumsi bahwa kita tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat wujud Allah, tentang ilmu, kuasa, kehendak dan hidup-Nya. Akan tetapi, kita berasumsi bahwa kita memiliki pengetahuan global tentang hakikat wujud dan sifat-sifat-Nya. Dan kedalaman serta batin seluruh hal-hal ini tidak akan pernah kita ketahui. Dan kaki akal seluruh orang-orang bijak dunia, tanpa kecuali, dalam masalah ini tampak lumpuh: Dalam hadis yang diriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s. dikatakan: “Diamlah bilamana pembahasan sampai pada Dzat Allah”. Artinya, jangan membahas ihwal Dzat Tuhan.
Dalam masalah ini, seluruh akal buntu dan tidak akan pernah mencapai tujuannya. Berpikir tentang DZAT YANG TANPA BATAS melalui akal yang terbatas adalah mustahil. Karena segala yang dirangkum oleh akal bersifat terbatas; dan terbatas bagi Tuhan adalah mustahil. Dengan ungkapan yang lebih jelas, tatkala kita menyaksikan jagad raya dan seluruh keajaiban makhluk-makhluk, dengan segenap kompleksitas dan keagungannya, atau bahkan melihat wujud diri kita sendiri, secara umum,kita memahami bahwa jagad raya ini memiliki pencipta dan Sumber Awal.
Pengetahuan ini adalah pengetahuan global yang merupakan tahapan akhir bagi kekuatan pengenalan manusia tentang Tuhan. Namun, semakin kita mengetahui rahasia-rahasia keberadaan, semakin juga kita mengenal keagungan-Nya serta jalan pengetahuan global tentang-Nya semakin kuat. Akan tetapi, ketika kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah hakikat Dia? Dan bagaimanakah Dia?
Ketika kita mengarahkan pikiran ke arah realitas DZAT TUHAN, kita tidak akan mendapatkan sesuatu selain keheranan dan rasa takjub. Kita akan mengatakan bahwa jalan untuk menuju ke arah-Nya adalah terbuka, dan jalan untuk menyentuh hakikatnya adalah tertutup. Itulan sebabnya, DZAT TUHAN dalam kitab suci hanya dipaparkan dalam bahasa perumpamaan saja. Namun perumpamaan dalam kitab suci, kita yakin bukan asal perumpamaan.
Perumpamaan ini hanya bisa bisa diinterpretasi dengan akal yang panjang dan hati nurani yang bersih, bening, tenang dan ikhlas. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana jalan atau cara untuk sampai pada pintu Tuhan, selanjutnya Bertemu dan Mampu untuk “melihat” Dzat-Nya?
Pada artikel saya terdahulu telah disebutkan bahwa jalan untuk menuju Tuhan adalah perjalanan untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit, kotoran, nafsu-nafsu kemanusiaan sehingga kita akhirnya hati kita benar-benar bersih, berkilau dan akhirnya memiliki MATA HATI YANG BISA MELIHAT DZAT-NYA. Nurani yang terkoneksi secara otomatis sehingga “KEMANA KAU MENGHADAP DISITULAH WAJAH ALLAH.”
Sekarang, marilah kita menganalisa secara lebih detail apa saja HIJAB/ PENGHALANG/ TABIR PENUTUP/ DINDING yang harus dilewati oleh para pejalan sunyi yang dengan gigih ingin bertemu, bertamu, dan melihat WAJAHNYA YANG MAHA INDAH….
70 RIBU HIJAB
Dalam Hadits disebutkan sebagai berikut: Allah mempunyai tujuh puluh (riwayat lain menyebut tujuh ribu, tujuh puluh ribu) hijab CAHAYA dan KEGELAPAN. Seandainya DIA membukanya, niscaya CAHAYA WAJAHNYA akan membakar siapa saja yang melihatnya. Berarti manusia dari awalnya berstatus MAHJUB: dalam keadaan tertutupi dinding/hijab dari Tuhan. Manusia tidak mampu melihat TAJALLI pada Dzat-Nya (Tajalli: Menyatakan diri setelah hijab-Nya terbuka/tersingkap.
Dari TUJUP PULUH HIJAB tadi, menurut Al Ghazali bisa dikategorikan menjadi TIGA. PERTAMA: YANG TERHIJAB OLEH KEGELAPAN MURNI. KEDUA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA YANG BERCAMPUR DENGAN KEGELAPAN. KETIGA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA MURNI SEMATA-MATA.
PERTAMA: YANG TERHIJAB OLEH KEGELAPAN MURNI. (1). Tidak yakin ADA Tuhan (ATEIS). (2). Yakin penyebab segala sesuatu BERASAL DARI MATERI, DAN DARI ALAM. (3). Sibuk dengan DIRI SENDIRI, tidak sempat mempertanyakan penyebab terwujudnya alam semesta. Terlena dengan HAWA NAFSU, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Hawa Nafsu adalah sesembahan yang paling dibenci oleh Allah SWT.” Ketiga hijab ini memiliki banyak varian lagi.
KEDUA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA YANG BERCAMPUR DENGAN KEGELAPAN. Kegelapan berasal dari INDERA, Kegelapan berasal dari DAYA KHAYAL, Kegelapan berasal dari RASIO/ AKAL YANG SALAH.
(1). Menyembah BERHALA hingga percaya TUHAN BERJUMLAH DUA ATAU BANYAK. Termasuk percaya alam semesta itu Tuhan Yang Maha Indah. Percaya bahwa Tuhan bisa dilihat (mahsus). Mereka yang terhijab oleh CAHAYA KETINGGIAN, KECEMERLANGAN, KEKUASAAN, yang kesemuanya memang CAHAYA-CAHAYA ALLAH SWT (seperti menyembah bintang). Percaya bahwa Tuhan itu adalah Matahari, Tuhan adalah semua hal yang bercahaya> percaya bahwa Tuhan adalah CAHAYA MUTLAK YANG MENGHIMPUN SEMUA CAHAYA. Masih banyak lagi variasi hijab tingkat ini.
(2). Menganggap Tuhan bertubuh, yakin bahwa keberadaan Tuhan BISA DITUNJUKKAN di arah tertentu misalnya DI ATAS, termasuk mereka yang percaya bahwa Tuhan berada di luar alam dunia atau di dalam dunia. Sesungguhnya mereka ini tidak mengetahui bahwa persyaratan dasar sesuatu yang dapat dicerna akal adalah kemungkinannya untuk melampaui segenap arah dan ruang.
(3). Mereka yang menyimpulkan dengan akal namun salah KESIMPULAN. Menyimpulkan bahwa Tuhan memiliki sifat mendengar, melihat, mengetahui, menghendaki sesuai dan menyetarakan dengan sifat-sifat manusiawi. Sifat Tuhan adalah sama seperti sifat manusia. Masing masing memiliki variasi hijab.
KETIGA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA MURNI SEMATA-MATA. Kategori ketiga ini berjumlah sangat banyak, namun untuk mempermudah bisa dipilah sbb:
(1). Mengetahui benar-benar sifat-sifat Allah SWT tidak sama dengan manusia,
(2). Percaya penggerak semua benda planet ini adalah malaikat yang berjumlah banyak. Percaya bahwa Ar Rabb (Tuhan Maha Pengatur dan Pemelihara) adalah Penggerak seluruh benda. Padahal, Ia wajin DINAFIKAN DARI SEGALA BENTUK KEMAJEMUKAN.
(3). Percaya bahwa Perbuatan MENGGERAKKAN BENDA-BENDA SECARA LANGSUNG sepantasnya merupakan bentuk PELAYANAN KEPADA TUHAN. Percaya bahwa TUHAN MAHA PENGATUR ini adalah memiliki penggerak utama lagi dengan cara mengeluarkan perintah bukan menangani secara langsung. Ringkasnya, mereka yang masih terliputi HIJAB TINGKAT TINGGI ini terhijab oleh CAHAYA-CAHAYA MURNI.
(4). Ini adalah hijab bagi ORANG-ORANG YANG TELAH SAMPAI DI AKHIR PERJALANAN (Al Washilun). Mereka percaya AL MUTHA (yang ditaati) ini, bagaimanapun juga masih memiliki sifat yang berlawanan dengan KEESAANNYA YANG MURNI DAN KESEMPURNAAN YANG MUTLAK. Padahal, YANG DITAATI/YANG DIPATUHI yaitu sesuatu yang menjadi penghubung antara Tuhan dengan alam semesta ini, dalam hubungannya dengan AL WUJUD AL HAQQ adalah seperti matahari dengan cahaya murni atau bara api dalam hubungannya dengan substansi api.
Ini juga hijab bagi mereka yang telah sampai di akhir perjalanan. Yaitu pemahaman bahwa TUHAN ADALAH YANG MAHA TERSUCIKAN DARI PARADIGMA KEMANUSIAAN, baik itu oleh mata maupun oleh mata hati. Mereka mengalami keadaan yang menyebabkan TERBAKARNYA SEGALA YANG PERNAH DICERAP OLEH PENGELIHATAN, lalu ia sendiri ikut larut kendati masih terus menatap KEINDAHAN dan KESUCIAN disamping menatap dirinya sendiri dalam KEINDAHAN yang diraihnya dengan telah mencapai HADRAT ILAHIYAH.
Selain itu, masih ada golongan kecil yang sebenarnya sudah sampai di akhir perjalanan spiritual namun ternyatan masih terhijab, yaitu mereka yang berada pada tingkat KHAWASUL KHAWAS (yang spesial di antara yang spesial). Mereka telah TERBAKAR oleh cahaya WAJAH-NYA dan telah TENGGELAM dalam gelombang KEAGUNGAN. Mereka tidak lagi memiliki perhatian pada diri sendiri, karena DIRI TELAH FANA! Tidak ada satupun yang ada kecuali YANG MAHA SATU DALAM KETUNGGALAN: Ini sesuai dengan Firman-Nya: SEGALA SESUATU BINASA KECUALI WAJAH-NYA.
Yang perlu diketahui, ada pula yang tidak menjalani pendakian atau MIKRAJ dengan cara setahap demi setahap untuk menyingkirkan hijab atau penghalang sebagaimana yang harus dilakoni oleh Nabi Ibrahim Khalilullah A.S. (Sahabat Tuhan). Ada yang cepat telah meraih MAKRIFAT yaitu mampu MENSUCIKAN TUHAN DENGAN CARA YANG BENAR. Mereka tiba-tiba bisa diserbu oleh TAJALLI ILAHI (Ketersingkapan Hijab di antara Tuhan dan manusia) sehingga cahaya-cahaya wajah-Nya membakar segala yang bisa dicerap oleh pengelihatan mata indera maupun mata hati sebagaimana jalan yang dilalui oleh Nabi Muhammad SAW, sang Habibullah (Kekasih Tuhan).
Sumber : Wong Alus
Dia akhirnya tersungkur, pingsan, tidak sadarkan diri, ekstase saat ingin melihat Dzat-nya yang sangat terang. Matanya nyaris buta bila dia tidak pingsan. Bahkan bisa-bisa langsung lenyap tanpa bekas. Menjadi arang bahkan debu pun saya rasa masih luar biasa.
Dialah Nabi Musa atau Moses –begitu orang Barat menyebut – saat menantang agar Tuhan menampakkan diri dalam wujud fisik. Bayangkan saja bagaimana bila kita melihat matahari dalam jarak ratusan kilometer sebagaimana jarak Musa melihat Tuhan? Pasti Musa akan terbakar habis, bis! Itu hanya satu matahari, bagaimana bila …dua…tiga…empat… semilyar sinar matahari yang kekuatan membakarnya dijadikan satu?
Sejatinya, Tuhan adalah Dzat yang Bukan Maha Pembakar. Dia adalah Maha Lembut dan Welas Asih, sehingga akhirnya dia menyapa Musa dengan bahasa kasih sayang. Tuhan memberikan cara untuk melihat-Nya: Hai Musa, Kau harus ekstase!. Musa hanya diminta untuk tidak menyadarkan “diri” yang masih diliputi oleh tirai kemanusiaan. Diri yang belum siap untuk bertatap “MUKA” dengan-NYA.
Bagaimana sesungguhya kehebatan CAHAYA TUHAN? Dalam Kitab Suci disebutkan dengan bahasa analogi, bahasa perumpamaan, agar manusia berpikir. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan CAHAYA-NYA adalah ibarat misykat. Dalam misykat itu ada PELITA. PELITA itu ada dalam KACA. KACA itu laksana bintang berkilau. Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di Timur atau di Barat. Yang minyaknya hampir-hampir menyala dengan sendirinya, walaupun tidak ada API yang menyentuhnya. CAHAYA DI ATAS CAHAYA! ALLAH menuntun kepada CAHAYA-NYA, siapa saja yang Ia kehendaki. Dan ALLAH membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh ALLAH mengetahui segala sesuatu. (QS AN NUR, 35).
Kenapa Tuhan membuat perumpamaan dengan MISYKAT, KACA, PELITA, MINYAK DAN POHON? Jawaban ini tercantum dalam Hadits: Allah mempunyai tujuh puluh hijab (Tirai Penutup) CAHAYA dan KEGELAPAN. Seandainya DIA membukanya, niscaya CAHAYA WAJAHNYA akan membakar siapa saja yang melihatnya.
Masalah utama dalam untuk mengenali Dzat Tuhan yang tidak terbatas adalah ilmu dan pengetahuan dan akal kita sebagai manusia yang terbatas. Dia adalah wujud mutlak dari segala dimensi. Dzat-Nya, seperti ilmu, kuasa dan seluruh sifat-sifat-Nya, adalah tak terbatas. Dari sisi lain, kita dan seluruh yang bertalian dengan keberadaan kita, seperti ilmu, kuasa, hidup, ruang dan waktu, semuanya serba terbatas.
Oleh karena itu, dengan segala keterbatasan yang kita miliki, bagaimana mungkin kita dapat mengenal wujud dan sifat yang mutlak dan tak terbatas? Bagaimana mungkin ilmu kita yang terbatas dapat menyingkap wujud nir-batas? Ya, dari satu sisi, kita dapat melihat dari jauh kosmos pikiran dan memberikan isyarat global ihwal Dzat dan sifat Allah swt. Akan tetapi, untuk mencapai hakikat Dzat dan sifat-Nya secara detail adalah mustahil bagi kita.
Dari sisi lain, wujud tanpa batas dari segala dimensi ini tidak memiliki keserupaan dan kesamaan. Dan ketakterbatasan ini hanyalah TUHAN SEMESTA ALAM. Sebab, sekiranya Dia memiliki keserupaan dan persamaan, maka kedua-duanya menjadi terbatas. Sekarang bagaimana kita dapat memahami wujud yang tak memiliki kesamaan dan keserupaan?
Segala sesuatu yang kita lihat selain-Nya adalah wujud yang mungkin, sedangkan sifat- sifat wajib al-Wujud berbeda dengan sifat yang lainnya. Kita tidak berasumsi bahwa kita tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat wujud Allah, tentang ilmu, kuasa, kehendak dan hidup-Nya. Akan tetapi, kita berasumsi bahwa kita memiliki pengetahuan global tentang hakikat wujud dan sifat-sifat-Nya. Dan kedalaman serta batin seluruh hal-hal ini tidak akan pernah kita ketahui. Dan kaki akal seluruh orang-orang bijak dunia, tanpa kecuali, dalam masalah ini tampak lumpuh: Dalam hadis yang diriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s. dikatakan: “Diamlah bilamana pembahasan sampai pada Dzat Allah”. Artinya, jangan membahas ihwal Dzat Tuhan.
Dalam masalah ini, seluruh akal buntu dan tidak akan pernah mencapai tujuannya. Berpikir tentang DZAT YANG TANPA BATAS melalui akal yang terbatas adalah mustahil. Karena segala yang dirangkum oleh akal bersifat terbatas; dan terbatas bagi Tuhan adalah mustahil. Dengan ungkapan yang lebih jelas, tatkala kita menyaksikan jagad raya dan seluruh keajaiban makhluk-makhluk, dengan segenap kompleksitas dan keagungannya, atau bahkan melihat wujud diri kita sendiri, secara umum,kita memahami bahwa jagad raya ini memiliki pencipta dan Sumber Awal.
Pengetahuan ini adalah pengetahuan global yang merupakan tahapan akhir bagi kekuatan pengenalan manusia tentang Tuhan. Namun, semakin kita mengetahui rahasia-rahasia keberadaan, semakin juga kita mengenal keagungan-Nya serta jalan pengetahuan global tentang-Nya semakin kuat. Akan tetapi, ketika kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah hakikat Dia? Dan bagaimanakah Dia?
Ketika kita mengarahkan pikiran ke arah realitas DZAT TUHAN, kita tidak akan mendapatkan sesuatu selain keheranan dan rasa takjub. Kita akan mengatakan bahwa jalan untuk menuju ke arah-Nya adalah terbuka, dan jalan untuk menyentuh hakikatnya adalah tertutup. Itulan sebabnya, DZAT TUHAN dalam kitab suci hanya dipaparkan dalam bahasa perumpamaan saja. Namun perumpamaan dalam kitab suci, kita yakin bukan asal perumpamaan.
Perumpamaan ini hanya bisa bisa diinterpretasi dengan akal yang panjang dan hati nurani yang bersih, bening, tenang dan ikhlas. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana jalan atau cara untuk sampai pada pintu Tuhan, selanjutnya Bertemu dan Mampu untuk “melihat” Dzat-Nya?
Pada artikel saya terdahulu telah disebutkan bahwa jalan untuk menuju Tuhan adalah perjalanan untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit, kotoran, nafsu-nafsu kemanusiaan sehingga kita akhirnya hati kita benar-benar bersih, berkilau dan akhirnya memiliki MATA HATI YANG BISA MELIHAT DZAT-NYA. Nurani yang terkoneksi secara otomatis sehingga “KEMANA KAU MENGHADAP DISITULAH WAJAH ALLAH.”
Sekarang, marilah kita menganalisa secara lebih detail apa saja HIJAB/ PENGHALANG/ TABIR PENUTUP/ DINDING yang harus dilewati oleh para pejalan sunyi yang dengan gigih ingin bertemu, bertamu, dan melihat WAJAHNYA YANG MAHA INDAH….
70 RIBU HIJAB
Dalam Hadits disebutkan sebagai berikut: Allah mempunyai tujuh puluh (riwayat lain menyebut tujuh ribu, tujuh puluh ribu) hijab CAHAYA dan KEGELAPAN. Seandainya DIA membukanya, niscaya CAHAYA WAJAHNYA akan membakar siapa saja yang melihatnya. Berarti manusia dari awalnya berstatus MAHJUB: dalam keadaan tertutupi dinding/hijab dari Tuhan. Manusia tidak mampu melihat TAJALLI pada Dzat-Nya (Tajalli: Menyatakan diri setelah hijab-Nya terbuka/tersingkap.
Dari TUJUP PULUH HIJAB tadi, menurut Al Ghazali bisa dikategorikan menjadi TIGA. PERTAMA: YANG TERHIJAB OLEH KEGELAPAN MURNI. KEDUA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA YANG BERCAMPUR DENGAN KEGELAPAN. KETIGA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA MURNI SEMATA-MATA.
PERTAMA: YANG TERHIJAB OLEH KEGELAPAN MURNI. (1). Tidak yakin ADA Tuhan (ATEIS). (2). Yakin penyebab segala sesuatu BERASAL DARI MATERI, DAN DARI ALAM. (3). Sibuk dengan DIRI SENDIRI, tidak sempat mempertanyakan penyebab terwujudnya alam semesta. Terlena dengan HAWA NAFSU, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Hawa Nafsu adalah sesembahan yang paling dibenci oleh Allah SWT.” Ketiga hijab ini memiliki banyak varian lagi.
KEDUA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA YANG BERCAMPUR DENGAN KEGELAPAN. Kegelapan berasal dari INDERA, Kegelapan berasal dari DAYA KHAYAL, Kegelapan berasal dari RASIO/ AKAL YANG SALAH.
(1). Menyembah BERHALA hingga percaya TUHAN BERJUMLAH DUA ATAU BANYAK. Termasuk percaya alam semesta itu Tuhan Yang Maha Indah. Percaya bahwa Tuhan bisa dilihat (mahsus). Mereka yang terhijab oleh CAHAYA KETINGGIAN, KECEMERLANGAN, KEKUASAAN, yang kesemuanya memang CAHAYA-CAHAYA ALLAH SWT (seperti menyembah bintang). Percaya bahwa Tuhan itu adalah Matahari, Tuhan adalah semua hal yang bercahaya> percaya bahwa Tuhan adalah CAHAYA MUTLAK YANG MENGHIMPUN SEMUA CAHAYA. Masih banyak lagi variasi hijab tingkat ini.
(2). Menganggap Tuhan bertubuh, yakin bahwa keberadaan Tuhan BISA DITUNJUKKAN di arah tertentu misalnya DI ATAS, termasuk mereka yang percaya bahwa Tuhan berada di luar alam dunia atau di dalam dunia. Sesungguhnya mereka ini tidak mengetahui bahwa persyaratan dasar sesuatu yang dapat dicerna akal adalah kemungkinannya untuk melampaui segenap arah dan ruang.
(3). Mereka yang menyimpulkan dengan akal namun salah KESIMPULAN. Menyimpulkan bahwa Tuhan memiliki sifat mendengar, melihat, mengetahui, menghendaki sesuai dan menyetarakan dengan sifat-sifat manusiawi. Sifat Tuhan adalah sama seperti sifat manusia. Masing masing memiliki variasi hijab.
KETIGA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA MURNI SEMATA-MATA. Kategori ketiga ini berjumlah sangat banyak, namun untuk mempermudah bisa dipilah sbb:
(1). Mengetahui benar-benar sifat-sifat Allah SWT tidak sama dengan manusia,
(2). Percaya penggerak semua benda planet ini adalah malaikat yang berjumlah banyak. Percaya bahwa Ar Rabb (Tuhan Maha Pengatur dan Pemelihara) adalah Penggerak seluruh benda. Padahal, Ia wajin DINAFIKAN DARI SEGALA BENTUK KEMAJEMUKAN.
(3). Percaya bahwa Perbuatan MENGGERAKKAN BENDA-BENDA SECARA LANGSUNG sepantasnya merupakan bentuk PELAYANAN KEPADA TUHAN. Percaya bahwa TUHAN MAHA PENGATUR ini adalah memiliki penggerak utama lagi dengan cara mengeluarkan perintah bukan menangani secara langsung. Ringkasnya, mereka yang masih terliputi HIJAB TINGKAT TINGGI ini terhijab oleh CAHAYA-CAHAYA MURNI.
(4). Ini adalah hijab bagi ORANG-ORANG YANG TELAH SAMPAI DI AKHIR PERJALANAN (Al Washilun). Mereka percaya AL MUTHA (yang ditaati) ini, bagaimanapun juga masih memiliki sifat yang berlawanan dengan KEESAANNYA YANG MURNI DAN KESEMPURNAAN YANG MUTLAK. Padahal, YANG DITAATI/YANG DIPATUHI yaitu sesuatu yang menjadi penghubung antara Tuhan dengan alam semesta ini, dalam hubungannya dengan AL WUJUD AL HAQQ adalah seperti matahari dengan cahaya murni atau bara api dalam hubungannya dengan substansi api.
Ini juga hijab bagi mereka yang telah sampai di akhir perjalanan. Yaitu pemahaman bahwa TUHAN ADALAH YANG MAHA TERSUCIKAN DARI PARADIGMA KEMANUSIAAN, baik itu oleh mata maupun oleh mata hati. Mereka mengalami keadaan yang menyebabkan TERBAKARNYA SEGALA YANG PERNAH DICERAP OLEH PENGELIHATAN, lalu ia sendiri ikut larut kendati masih terus menatap KEINDAHAN dan KESUCIAN disamping menatap dirinya sendiri dalam KEINDAHAN yang diraihnya dengan telah mencapai HADRAT ILAHIYAH.
Selain itu, masih ada golongan kecil yang sebenarnya sudah sampai di akhir perjalanan spiritual namun ternyatan masih terhijab, yaitu mereka yang berada pada tingkat KHAWASUL KHAWAS (yang spesial di antara yang spesial). Mereka telah TERBAKAR oleh cahaya WAJAH-NYA dan telah TENGGELAM dalam gelombang KEAGUNGAN. Mereka tidak lagi memiliki perhatian pada diri sendiri, karena DIRI TELAH FANA! Tidak ada satupun yang ada kecuali YANG MAHA SATU DALAM KETUNGGALAN: Ini sesuai dengan Firman-Nya: SEGALA SESUATU BINASA KECUALI WAJAH-NYA.
Yang perlu diketahui, ada pula yang tidak menjalani pendakian atau MIKRAJ dengan cara setahap demi setahap untuk menyingkirkan hijab atau penghalang sebagaimana yang harus dilakoni oleh Nabi Ibrahim Khalilullah A.S. (Sahabat Tuhan). Ada yang cepat telah meraih MAKRIFAT yaitu mampu MENSUCIKAN TUHAN DENGAN CARA YANG BENAR. Mereka tiba-tiba bisa diserbu oleh TAJALLI ILAHI (Ketersingkapan Hijab di antara Tuhan dan manusia) sehingga cahaya-cahaya wajah-Nya membakar segala yang bisa dicerap oleh pengelihatan mata indera maupun mata hati sebagaimana jalan yang dilalui oleh Nabi Muhammad SAW, sang Habibullah (Kekasih Tuhan).
Sumber : Wong Alus
Senin, 01 Februari 2010
NGUDI KAWRUH KASUNYATAN
Ajaran hidup menuju kesempurnaan hidup lahir batin harus terus dijalani untuk mencari kemudian menemukan pengetahuan sejati tentang kenyataan mutlak (NGUDI KAWRUH KASUNYATAN). KAWRUH KASUNYATAN itu kemudian hendaknya dihayati dalam satu kesatuan sistem pemahaman sehingga pemahaman kita tidak bercerai berai…
Apakah hakikat menuntut ilmu? Apakah hanya bermakna membolak balik dan ‘menthelengi’ buku-buku, membaca kitab-kitab (baik garing maupun teles), merenungkan fakta demi fakta yang kita alami saja? Kalau jawabannya “iya” berarti kita pikiran kita masih seperti pikirannya anak-anak.
Pikiran yang lebih maju dan lebih lengkap pasti tidak seperti itu. Harusnya kita melanjutkan pemahaman-pemahaman mitologis yang terpelihara di dalam gudang data pengetahuan di kepala kita dengan cara lebih kritis lagi.
Setelah kita membaca atau merenung harus diteruskan dengan mengolah diri. Bila membaca bersifat pasif: menerima bahan-bahan ajaran, maka mengolah diri bersifat aktif: membuktikan apakah ajaran yang disampaikan para cerdik cendekia itu memang mengandung kebenaran-kebenaran atau justeru mengandung kesalahan. Berarti seorang pencari ilmu harus berani untuk ‘nglakoni’ atau ‘memulai perjalanan laku.’
Di JAwa ada istilah GURU BAKAL dan GURU DADI. Bila GURU BAKAL menunjuk pada pelajaran-pelajaran, buku-buku, ceramah-ceramah atau data-data mentah. Maka GURU DADI-nya adalah MULATSARA DIRI (mengolah diri).
Sudah banyak dipaparkan bagaimana ajaran cara mengolah diri agar kita mampu untuk menjalani hidup ‘sangkan paraning dumadi’ mulai dari bayi, masa kanak-kanak, dewasa, masa tua. Bahkan saat menuju ajal datang pun ada ajarannya. Bahkan sudah terlalu banyak kita dijejali oleh berbagai ajaran hidup menuju kesempurnaan, tinggal apakah kita siap untuk ‘Mulatsara Diri’.
Ajaran hidup menuju kesempurnaan hidup lahir batin harus terus dijalani untuk mencari kemudian menemukan pengetahuan sejati tentang kenyataan mutlak (NGUDI KAWRUH KASUNYATAN). KAWRUH KASUNYATAN itu kemudian hendaknya dihayati dalam satu kesatuan sistem pemahaman sehingga pemahaman kita tidak bercerai berai. Kita hendaknya bisa menyusun fakta demi fakta yang kita alami dalam hidup dengan hati-hati. Ini memerlukan KEHALUSAN PERASAAN, INTENSITAS KEMAUAN dan TINGKATAN-TINGKATAN OLAH RASA.
Dalam SERAT MADU RASA karangan Ki Soedjonoredjo, ada dua tingkat olah rasa.
Tingkat pertama, MADU BASA yang meliputi sopan santun, tata cara, adat istiadat. Intinya adalah bagaimana kita menyusun pengetahuan-pengetahuan lahir atau tata ‘bahasa’ agar mendapatkan ‘kemanisan madu’
Tingkat kedua, MADU RASA yang meliputi tepa sarira, tepa palupi, unggah ungguh, eguh-tangguh, tuju-panuju, empan-papan, kala-mangsa, duga-prayuga, lambe-ati. Kemanisan rasa yang dialami pada tingkat kedua ini lebih mendalam, lebih asyik dan berlangsung dalam waktu yang lebih lama dari tingkatan kedua dan sangat-sangat menyenangkan.
Menurut Ki Soedjonoredjo, ada 13 macam ‘kesenangan’ untuk NGUDI KAWRUH yaitu:
1. Dalam hal mencari keterangan, tanda-tanda atau urusan, kesenangan yang diperolehnya sepanjang jalan seperti kesenangan agen ‘telik sandi’ yang yang mencari ‘SISIK MELIK’.
2. Terpeliharanya DAYA RASA seperti petani yang memelihara tanaman dengan penuh kegembiraan namun belum menemukan hasilnya, yaitu WATAK.
3. Dalam hal melatih PANCA INDERA, kesenangan yang kita peroleh seperti kesenangan joki saat melatih kuda atau seperti pawang melatih gajah, atau kesenangan guru mendidik anak didiknya.
4. MENABUNG DAYA GAIB; kesenangan yang diperolehnya seperti menabung uang, atau pada waktu ditemukannya pedoman-pedoman tertentu sama seperti tukang kayu memperoleh tatah, bur, jangka, penggaris.
5. MENGURAI DAN MENYUSUN DAYA BATIN. Apabila diperoleh rasa dan daya baru, rasa baru itu diolah lagi dan diperhalus lagi. Misalnya untaian ratna. Kesenangan seperti itu sama sekali tidak terhingga, kecuali oleh yang sudah mengalami.
6. MEMBAGI, MENGATUR, MENYUSUN PIKIRAN DAN DISELARASKAN DENGAN RASA dan bisa menghasilkan karya yang indah.
7. MENJUMBUHKAN RASA YANG BERMACAM-MACAM, diatur menurut urutan tingkatan, diselaraskan sehingga tercapai rasa yang indah. Seperti juru masak yang ahli meracik masakan. “Rasa kang sumingit ana layang kikidungan anggitane para linuwih apa dene kang ana ing candi, wayang, gamelan, pakem lan liya-liyane, kabeh wujud gugubahan utawa oncen-oncen (anyar) kang banget endahe. Rasa kang digubah pada maujud ana ing kaalusan, dadi rerenggan sajroning gaib, kang ora kena kinaya ngapa endahe”
8. Orang yang sedang NGELMU dengan penuh ketekunan akan merasakan dan memperhatikan kemajuan yang dicapai, selalu MENDAPAT PETUNJUK DARI PRIBADINYA SENDIRI. Kesenangannya seperti anak sekolah, rasa dan budinya seperti guru, alam semesta ini sebagai pelajaran. “Kabeh pada aweh pitutur marang kang ahli sasmita: kaya-kaya sarupaning kang tumuwuh pada muni dewe-dewe, sarta unine laras kaya gending kang banget kepenake”
9. Penuntut ngelmu akan gemar berbuat baik kepada sesama. Tumbuh niatnya seperti itu dari kehendak yang luhur dan niat itu akan memperbesar DAYA KELUHURAN. Hasilnya langsung akan mengenai diri pribadinya juga; yaitu lenyapnya penyakit watak dan tumbuhnya perasaan dan budi yang luhur.
10. Penuntut ngelmu mempunyai kesenangan seperti pengadu ayam, jangkrik, permainan. Sebab setiap hari selalu menghayati PERANGNYA ANASIR-ANASIR BAIK BURUK. Apabila yang buruk dikalahkan yang baik, kepuasannya melebihi pengadu ayam sebab ia memperoleh ganjaran berupa: DAYA HALUS. Sedangkan pemain ayam asuan hanya memperoleh uang.
11. Penuntut ngelmu yang gentur/gigih mempelajari RAHASIA KEHIDUPAN juga memiliki kesenangan yang sama dengan kesenangan raja yang berperang menaklukkan negara lain. Yaitu bila kekuatan “setan” dikalahkan oleh unsur ILAHIAH pada pribadi kita.
12. Orang yang ngelmu pelajaran kebijaksanaan hidup juga mempunyai kepuasan dan rasa bebas seperti orang yang berhasil melenyapkan KLILIP atau kotoran di pelupuk mata, atau belenggu yang mengganggu perjalanan hidup. Dia terbebas dari ikatan KECANDUAN DUNIA dan RASA BEBAS DARI KEKANGAN. Seperti anak yang tidak lagi menangis karena disapih.
13. Ahli ngelmu mengerti dengan jelas bahwa berbuat baik sangat besar manfaatnya untuk dijalankan. Misalnya kita kehilagan 2 sen dan dapat ganti 100 rupiah, menanam satu biji kelapa dapat hasil banyak dan terus-terusan bagi orang yang AHLI RASA. Mengerti saja sudah senang seperti memperoleh keuntungan yang besar, sebab kenyataannya tidak banyak orang yang menghayati kalimat-kalimat ‘mandes’ hingga ke lubuk hati:
“KANG AKEH MUNG KUMAMBANG DIANGGO KEMBANG LAMBE, ORA BISA YAKIN SAJRONING ATI. APA MANEH PANGERTI BAB RASA TRESNA MARANG DAT, DADI WOT MARANG SEGARA RAHMAT. MANUNGSA KANG BISA NGREGANI MARANG PANGERTI KANG SAMAR IKU NGRASA NEMU KANUGRAHAN GEDE, SUKA SUKURE NGUNGKULI KANG NEMU EMAS”
Sumber : Karya Cipta Karsa Adiluhung
Apakah hakikat menuntut ilmu? Apakah hanya bermakna membolak balik dan ‘menthelengi’ buku-buku, membaca kitab-kitab (baik garing maupun teles), merenungkan fakta demi fakta yang kita alami saja? Kalau jawabannya “iya” berarti kita pikiran kita masih seperti pikirannya anak-anak.
Pikiran yang lebih maju dan lebih lengkap pasti tidak seperti itu. Harusnya kita melanjutkan pemahaman-pemahaman mitologis yang terpelihara di dalam gudang data pengetahuan di kepala kita dengan cara lebih kritis lagi.
Setelah kita membaca atau merenung harus diteruskan dengan mengolah diri. Bila membaca bersifat pasif: menerima bahan-bahan ajaran, maka mengolah diri bersifat aktif: membuktikan apakah ajaran yang disampaikan para cerdik cendekia itu memang mengandung kebenaran-kebenaran atau justeru mengandung kesalahan. Berarti seorang pencari ilmu harus berani untuk ‘nglakoni’ atau ‘memulai perjalanan laku.’
Di JAwa ada istilah GURU BAKAL dan GURU DADI. Bila GURU BAKAL menunjuk pada pelajaran-pelajaran, buku-buku, ceramah-ceramah atau data-data mentah. Maka GURU DADI-nya adalah MULATSARA DIRI (mengolah diri).
Sudah banyak dipaparkan bagaimana ajaran cara mengolah diri agar kita mampu untuk menjalani hidup ‘sangkan paraning dumadi’ mulai dari bayi, masa kanak-kanak, dewasa, masa tua. Bahkan saat menuju ajal datang pun ada ajarannya. Bahkan sudah terlalu banyak kita dijejali oleh berbagai ajaran hidup menuju kesempurnaan, tinggal apakah kita siap untuk ‘Mulatsara Diri’.
Ajaran hidup menuju kesempurnaan hidup lahir batin harus terus dijalani untuk mencari kemudian menemukan pengetahuan sejati tentang kenyataan mutlak (NGUDI KAWRUH KASUNYATAN). KAWRUH KASUNYATAN itu kemudian hendaknya dihayati dalam satu kesatuan sistem pemahaman sehingga pemahaman kita tidak bercerai berai. Kita hendaknya bisa menyusun fakta demi fakta yang kita alami dalam hidup dengan hati-hati. Ini memerlukan KEHALUSAN PERASAAN, INTENSITAS KEMAUAN dan TINGKATAN-TINGKATAN OLAH RASA.
Dalam SERAT MADU RASA karangan Ki Soedjonoredjo, ada dua tingkat olah rasa.
Tingkat pertama, MADU BASA yang meliputi sopan santun, tata cara, adat istiadat. Intinya adalah bagaimana kita menyusun pengetahuan-pengetahuan lahir atau tata ‘bahasa’ agar mendapatkan ‘kemanisan madu’
Tingkat kedua, MADU RASA yang meliputi tepa sarira, tepa palupi, unggah ungguh, eguh-tangguh, tuju-panuju, empan-papan, kala-mangsa, duga-prayuga, lambe-ati. Kemanisan rasa yang dialami pada tingkat kedua ini lebih mendalam, lebih asyik dan berlangsung dalam waktu yang lebih lama dari tingkatan kedua dan sangat-sangat menyenangkan.
Menurut Ki Soedjonoredjo, ada 13 macam ‘kesenangan’ untuk NGUDI KAWRUH yaitu:
1. Dalam hal mencari keterangan, tanda-tanda atau urusan, kesenangan yang diperolehnya sepanjang jalan seperti kesenangan agen ‘telik sandi’ yang yang mencari ‘SISIK MELIK’.
2. Terpeliharanya DAYA RASA seperti petani yang memelihara tanaman dengan penuh kegembiraan namun belum menemukan hasilnya, yaitu WATAK.
3. Dalam hal melatih PANCA INDERA, kesenangan yang kita peroleh seperti kesenangan joki saat melatih kuda atau seperti pawang melatih gajah, atau kesenangan guru mendidik anak didiknya.
4. MENABUNG DAYA GAIB; kesenangan yang diperolehnya seperti menabung uang, atau pada waktu ditemukannya pedoman-pedoman tertentu sama seperti tukang kayu memperoleh tatah, bur, jangka, penggaris.
5. MENGURAI DAN MENYUSUN DAYA BATIN. Apabila diperoleh rasa dan daya baru, rasa baru itu diolah lagi dan diperhalus lagi. Misalnya untaian ratna. Kesenangan seperti itu sama sekali tidak terhingga, kecuali oleh yang sudah mengalami.
6. MEMBAGI, MENGATUR, MENYUSUN PIKIRAN DAN DISELARASKAN DENGAN RASA dan bisa menghasilkan karya yang indah.
7. MENJUMBUHKAN RASA YANG BERMACAM-MACAM, diatur menurut urutan tingkatan, diselaraskan sehingga tercapai rasa yang indah. Seperti juru masak yang ahli meracik masakan. “Rasa kang sumingit ana layang kikidungan anggitane para linuwih apa dene kang ana ing candi, wayang, gamelan, pakem lan liya-liyane, kabeh wujud gugubahan utawa oncen-oncen (anyar) kang banget endahe. Rasa kang digubah pada maujud ana ing kaalusan, dadi rerenggan sajroning gaib, kang ora kena kinaya ngapa endahe”
8. Orang yang sedang NGELMU dengan penuh ketekunan akan merasakan dan memperhatikan kemajuan yang dicapai, selalu MENDAPAT PETUNJUK DARI PRIBADINYA SENDIRI. Kesenangannya seperti anak sekolah, rasa dan budinya seperti guru, alam semesta ini sebagai pelajaran. “Kabeh pada aweh pitutur marang kang ahli sasmita: kaya-kaya sarupaning kang tumuwuh pada muni dewe-dewe, sarta unine laras kaya gending kang banget kepenake”
9. Penuntut ngelmu akan gemar berbuat baik kepada sesama. Tumbuh niatnya seperti itu dari kehendak yang luhur dan niat itu akan memperbesar DAYA KELUHURAN. Hasilnya langsung akan mengenai diri pribadinya juga; yaitu lenyapnya penyakit watak dan tumbuhnya perasaan dan budi yang luhur.
10. Penuntut ngelmu mempunyai kesenangan seperti pengadu ayam, jangkrik, permainan. Sebab setiap hari selalu menghayati PERANGNYA ANASIR-ANASIR BAIK BURUK. Apabila yang buruk dikalahkan yang baik, kepuasannya melebihi pengadu ayam sebab ia memperoleh ganjaran berupa: DAYA HALUS. Sedangkan pemain ayam asuan hanya memperoleh uang.
11. Penuntut ngelmu yang gentur/gigih mempelajari RAHASIA KEHIDUPAN juga memiliki kesenangan yang sama dengan kesenangan raja yang berperang menaklukkan negara lain. Yaitu bila kekuatan “setan” dikalahkan oleh unsur ILAHIAH pada pribadi kita.
12. Orang yang ngelmu pelajaran kebijaksanaan hidup juga mempunyai kepuasan dan rasa bebas seperti orang yang berhasil melenyapkan KLILIP atau kotoran di pelupuk mata, atau belenggu yang mengganggu perjalanan hidup. Dia terbebas dari ikatan KECANDUAN DUNIA dan RASA BEBAS DARI KEKANGAN. Seperti anak yang tidak lagi menangis karena disapih.
13. Ahli ngelmu mengerti dengan jelas bahwa berbuat baik sangat besar manfaatnya untuk dijalankan. Misalnya kita kehilagan 2 sen dan dapat ganti 100 rupiah, menanam satu biji kelapa dapat hasil banyak dan terus-terusan bagi orang yang AHLI RASA. Mengerti saja sudah senang seperti memperoleh keuntungan yang besar, sebab kenyataannya tidak banyak orang yang menghayati kalimat-kalimat ‘mandes’ hingga ke lubuk hati:
“KANG AKEH MUNG KUMAMBANG DIANGGO KEMBANG LAMBE, ORA BISA YAKIN SAJRONING ATI. APA MANEH PANGERTI BAB RASA TRESNA MARANG DAT, DADI WOT MARANG SEGARA RAHMAT. MANUNGSA KANG BISA NGREGANI MARANG PANGERTI KANG SAMAR IKU NGRASA NEMU KANUGRAHAN GEDE, SUKA SUKURE NGUNGKULI KANG NEMU EMAS”
Sumber : Karya Cipta Karsa Adiluhung
Jumat, 29 Januari 2010
Tanggung Jawab
Sebuah kata sederhana yang tolok ukurnya tidaklah sesederhana kata-katanya.
Apabila perkataan tersebut dikaitkan dengan honor yang diterima, maka kebanyakan orang akan berupaya dengan segala daya untuk merebutnya karena pasti terkait dengan jabatan, karir, gengsi dsb.
Demikian juga apabila datang keberhasilan / kesuksesan maka semuanya berusaha untuk menunjukkan bahwa itu adalah atas jasa / kerja kerasnya.
Tetapi akan sangat bertolak belakang manakala terjadi kegagalan / penyimpangan / ketidaksesuaian dengan harapan / rencana.
Bisa dikatakan mayoritas akan berupaya untuk sekuat tenaga mencari bukti bahwa kegagalan itu bukanlah disebabkan oleh dirinya. Energi, waktu dan biaya akan dikeluarkan untuk mempertahankan ketidak terlibatannya dalam kegagalan itu.
Semua itu memang manusiawi, karena memang hanya manusia yang berbuat begitu sedangkan makhluk lain (hewan) lebih jujur karena ketidakpunyaan akal budi.
Kelihatannya "wajar dan manusiawi-lah" jawaban yang paling bisa saya tulis karena belum menemukan kata lain sekarang ini.
Peace Indonesiaku
End of Week
Apabila perkataan tersebut dikaitkan dengan honor yang diterima, maka kebanyakan orang akan berupaya dengan segala daya untuk merebutnya karena pasti terkait dengan jabatan, karir, gengsi dsb.
Demikian juga apabila datang keberhasilan / kesuksesan maka semuanya berusaha untuk menunjukkan bahwa itu adalah atas jasa / kerja kerasnya.
Tetapi akan sangat bertolak belakang manakala terjadi kegagalan / penyimpangan / ketidaksesuaian dengan harapan / rencana.
Bisa dikatakan mayoritas akan berupaya untuk sekuat tenaga mencari bukti bahwa kegagalan itu bukanlah disebabkan oleh dirinya. Energi, waktu dan biaya akan dikeluarkan untuk mempertahankan ketidak terlibatannya dalam kegagalan itu.
Semua itu memang manusiawi, karena memang hanya manusia yang berbuat begitu sedangkan makhluk lain (hewan) lebih jujur karena ketidakpunyaan akal budi.
Kelihatannya "wajar dan manusiawi-lah" jawaban yang paling bisa saya tulis karena belum menemukan kata lain sekarang ini.
Peace Indonesiaku
End of Week
Minggu, 24 Januari 2010
NEGARAWAN SEJATI
“Manusia Yang Merdeka dari Hegemoni Lymbic Section”
Otak Kanan & Otak Kiri Yang Belum Merdeka
Banyak sekali buku-buku yang ditulis. Bahkan berbagai pelatihan dengan beaya mahal dan sangat ekslusif. Dipresentasikan dengan alat-alat canggih dan mengagumkan. Dengan tujuan mengasah Otak Bagian Kanan yang mengolah impuls kelembutan, keindahan, spirit, bahkan disebut sebagai bagian otak di mana terdapat titik God Spot. Seolah-olah dengan cara itu kita dapat mengembangkan peran Otak Bagian Kiri dan dapat keluar dari berbagai persoalan. Kenyataannya tidaklah semudah dan sesederhana itu, Otak Bagian Kanan (OBKa) dan Otak Bagian Kiri (OBKi) sama saja. OBKa bekerja untuk mengolah dan memikirkan data-data non eksakta : metafisis, budaya, moralitas, seni, ide, gagasan, dan kesadaran spiritual. OBKi bekerja untuk hal-hal yang bersifat eksakta. Namun berdasarkan berbagai penelitian di Eropa dan Amerika, pengembangan OBKa dan OBKi sama saja apabila masih terkendali oleh Lymbic. Lymbic merupakan insting dasar hewani. Lymbic dipelajari pada ilmu neurosains kognitif. Lymbic memiliki beberapa sistem fisiologinya. Meliputi amigdala, Sirkuit Papez, dan termasuk pula Accelerated Learning. Amigdala berasal dari bahasa latin amygdalae (bahasa Yunani αμυγδαλή, amygdalē, almond, ‘amandel’) adalah sekelompok saraf yang berbentuk kacang almond. Pada otak vertebrata terletak pada bagian medial temporal lobe, secara anatomi amigdala dianggap sebagai bagian dari basal ganglia. Amigdala dipercayai merupakan bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi. Sirkuit Papez adalah suatu jalur utama pada sistem limbik di otak besar dan berperan pada korteks otak besar untuk mengontrol emosi. Sirkuit ini pertama kali dipaparkan oleh James Papez pada 1937. Sementara itu Accelerated Learning atau efektifitas belajar dan mengolah impuls dari luar diri, dan setiap informasi yang masuk ke otak kanan dan kiri terlebih dulu melalui sistem lymbic.
Oleh sebab itu, perkembangan Otak Kanan tanpa pembersihan dari polusi lymbic hanya akan menghasilkan benda-benda kebutuhan insting dasar atau hewani, hanya saja dikemas secara lebih indah dan mewah (hedonisme) saja. Perkembangan otak kiri tanpa pembersihan dari polusi lymbic hanya akan menghasilkan pola hidup yang sangat material dan cenderung destruktif. Itulah keadaan hidup manusia yang masih sangat primitif namun terkesan sebagai manusia kesadaran spiritual tinggi, menjadi soleh dan suci.
Manunggaling “Manusia-Hewan”
Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting dasar saja, sesungguhnya kita masih menjadi binatang yang berevolusi kesadaran yang sangat lambat alias masih menjadi binatang yang berkedok jasad manusia. Perbedaannya terletak di mana binatang tidak bisa berpura-pura dan mengelabuhi dirinya sendiri (munafik), sebaliknya manusia dengan perangkat mind (otak sadar/pikiran/akal) mampu berpura-pura seolah bukanlah binatang. Kepura-puraan (sikap munafik) ini berkat pendayagunaan OBKa yang diperhalus OBKi, sehingga manusia lebih mampu memoles insting-insting hewani menjadi lebih halus dan samar. Kita lebih pandai mengelabuhi orang lain seolah telah menjadi insan kamil, manusia sejati, dengan kesadaran spiritual ultra tinggi (highest consciousness). Maka banyak kita membaca berita di koran-koran seorang rohaniawan, pemimpin, politisi, penegak hukum, intelektual melakukan pelecehan seksual, korupsi, penggelapan, tindak kriminal lainnya dsb. Inilah wajah manusia apabila OBKa dan OBKi masih dikuasai oleh sang lymbic. Perkembangan diri manusia masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri hanya menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang masih peduli memanusiakan diri sendiri.
KENAPA HARUS ADA LYMBIC
Meskipun lymbic merupakan insting dasar hewani yang terdapat dalam tubuh manusia, bukan berarti lymbic harus dimusnahkan dari dalam diri manusia, lymbic hanya perlu dikendalikan dalam batas-batas yang wajar dan manusiawi agar bermanfaat sesuai fungsinya. Lymbic berfungsi sebagai alat untuk survival, menggerakkan kebutuhan biologis atau jasadiah untuk keperluan mempertahankan kehidupan di planet bumi. Lymbic juga diperlukan untuk reproduksi, proses kelangsungan hidup seluruh makhluk agar kehidupan di bumi tidak punah. Lymbic mencerminkan kebutuhan dasar atau kebutuhan paling primitif makhluk hidup. Sementara itu kehidupan manusia bukan saja untuk memenuhi kebutuhan dasar, lebih dari itu adalah kebutuhan rohani, atau kebutuhan jiwa, sukma atau kebutuhan roh. Kebutuhan insting dasar dipahami sebagai batu loncatan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi (mulia) yakni kebutuhan jiwa atau roh tersebut. Kebutuhan dasar selalu tumbuh berganti, berubah-ubah, dan tidak langgeng. Sementara kebutuhan akan kemuliaan bersifat langgeng tan owah gingsir, yang azali abadi.
Adapun rumus-rumus dasar perubahan yang berlaku bagi kebutuhan dasar (insting dasar hewani) yang digerakkan oleh lymbic adalah sbb :
1. Tumbuh, berkembang, lalu hancur.
2. Pertama-tama lahir, hidup, lalu mati.
3. Muncul keinginan, pemenuhan keinginan, kepuasan lalu semakin lama hilanglah kepuasan itu.
Demikianlah sifat dasar dari kebutuhan lymbic, tak ada yang kekal abadi, sebab lymbic hanya mencakup dimensi jasad, atau dimensi bumi saja. Semua yang berada dalam dimensi bumi akan terkena rumus bumi, ada/lahir, tumbuh/berkembang lalu hancur/mati/sirna. Bumi merupakan mercapadha ; merca berarti panas atau rusak, padha artinya papan atau tempat. Bumi seperti halnya jasad, merupakan tempat di mana segala sesuatu akan mengalami kerusakan dan kehancuran.
Keberhasilan mengendalikan si lymbic, akan membuat kita berhasil memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi yakni kebutuhan roh. Artinya, apabila kebutuhan jasad dapat dikendalikan secara wajar justru kebutuhan sukma atau jiwa akan terpenuhi, berupa ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan kebahagiaan tertinggi (audaimonistis). Dalam falsafah Jawa, proses pengendalian lymbic ini tercermin dalam pepeling yang tampak sederhana tetapi sudah menjadi bagian dari kearifan lokal : ngono yo ngono ning ojo ngono. Maksudnya agar manusia tidak melampaui batas kewajaran dari nilai-nilai kemanusiaannya, alias tidak “ber-evolusi mundur” atau set back kembali menjadi binatang berbalut raga manusia. Berbagai teknis meredam dan mengendalikan lymbic dengan olah rasa, mengoptimalkan rasa sejati/rasa pangrasa. Sehingga akan lahir menjadi manusia ber-evolusi pesat menjadi manusia linuwih, jalma kinacek, dengan kesadaran spiritual yang tinggi. Menjadi cirikhas orang-orang yang berhasil nuruti kareping rahsa. Bukan sebaliknya nuruti rahsaning karep.
TIPE PENGUASA LYMBIC
Apabila insting-insting hewani kita dibiarkan tumbuh berkembang dalam diri, lama-lama akan mengkooptasi dan menghegemoni alam pikiran bawah sadar, di mana tersimpan nilai-nilai dasar pandangan hidup, yang setiap saat mendasari cara pandang (mind set) dan dapat menjadi nara sumber “kebenaran” yang bersifat subyektif dan palsu. Alam pikiran bawah sadar sebagai stockpile, yang terisi oleh insting dasar hewani tersebut menentukan pola-pikir (mind set), cara pandang, dan menuntun bagaimana harus bertindak. Celakanya, semua itu diartikulasi atau dimanifestasi dalam perbuatan nyata, yakni berupa perbuatan hewaniah. Kekuasaan lymbic tercermin dalam sikap ego dalam diri yang sangat tinggi. Celakanya lagi ego yang melakukan pencitraan harga diri terlalu tinggi membuat seseorang sangat mudah tersinggung, gampang murka, selalu golek menange dewe, golek butuhe dewe, golek benere dewe. Sebuah karakter yang sangat berbahaya, karena karakter muncul dari ego yang sangat kuat, yang dapat menyiksa, menganiaya, menyakiti, menghancurkan, dan memusnahkan segala hal yang tidak sesuai dengan ego-nya sementara kejahatannya itu sebagai bentuk kebenaran tak terbantahkan.
Lymbic, sepadan dengan Nafsu negatif. Hakikat nafsu dilambangkan sebagai latu murup ing telenging samudra. Nafsu merupakan setitik kekuatan “nyalanya api” di dalam air samudra yang sangat luas. Artinya, nafsu dapat menjadi sumber keburukan/angkara (nila setitik) yang dapat “menyala” di dalam dinginnya air samudra/sukma sejati nan suci (rusak susu sebelanga). Disebut pula sebagai akyanmukawiyah, (nafsu) sebagai kenyataan yang “hidup” dalam eksistensinya. Paradoks dari tugas roh, bila nafsu menundukkan roh, maka manusia hanya menjadi “tumpukan sampah” atau hawa nafsu angkara. Mengikuti rasanya keinginan (rahsaning karep). Hewan bertubuh manusia.
Lymbic bekerja membawahi akal budi. Artinya seberapapun hebat kemampuan akal, secerdas dan sejenius apapun otak manusia tetap saja berada di bawah kekuasaan lymbic. Dalam terminologi falsafah Jawa disebut latu murup ing telenging samudra. Latu atau bara api sebagai kiasan dari insting dasar (hawa nafsu). Sedangkan samudra sebagai kiasan dari jiwa yang suci.
Tipikal pemimpin yang dikuasai lymbic section atau pemimpin yang belum menjalani pengendalian lymbic dapat dilihat sebagai mana tercermin dalam beberapa karakter pemimpin di bawah ini;
1. Kagetan, gumunan. Bersifat reaksioner.
2. Ora kuat nyunggi drajat; begitu mendapat jabatan, mereka akan berubah sikap sangat drastis. Sok jaim, sok wibawa, sering salah tingkah, gagal menjalankan tanggungjawabnya sebagai pelindung dan pelayan masyarakat.
3. Sumber kewibawaan bukan berasal keluhuran budi, kualitas kerja dan karya, melainkan keibawaan identik dengan menakutkan.
4. Menjaga kehormatan diri dan kekuasaannya dengan cara intimidasi dan menebar ancaman.
5. Hilangnya kharisma yang memancar dari dalam diri. Kharisma diganti dengan wajah angker nan galak. Seram dan menakutkan. Sikap yang bukan tegas namun tega dan sadis.
6. Kepatuhan para staf dan rakyatnya hanya dikendalikan oleh rasa takut, bukan rasa welas asih dan terimakasih.
7. Mengutamakan kepentingan kelompoknya; kelompok politik, golongan, ras, suku, agama, dan faham politiknya. Sikap anti toleran, pola pikir sektarian, primordial, rasistis.
8. Lebih memilih penghancuran dan pemusnahan sebagai cara utama dan pertama yang ditempuh daripada pendekatan persuasif melalui penyadaran dan penginsyafan.
9. Kekuasaan bukan dipandang sebagai sarana, tetapi sudah menjadi tujuan utama. Bila seseorang bercita-cita menegakkan keadilan dan ingin menciptakan kemakmuran untuk negeri dan rakyatnya, tetapi meraih kekuasaan melalui cara-cara kotor, menghalalkan segala cara, mau menangnya sendiri, itulah penguasa yang dikuasai lymbic.
10. Power of law, berganti menjadi law of the power. Kekuasaan bukan lagi bersumber dari hukum atau konstitusi yang disepakati rakyat, sebaliknya kekuasaan disalahgunakan untuk merumuskan hukum yang melindungi kepentingan pribadinya.
11. Pemimpin bukan dipahami sebagai pelayan rakyat. Sebaliknya pemimpin malah menuntut rakyatnya yang harus melayaninya.
Tipikal “pemimpin lymbic”, layaknya sindrom yang mengidap sebagian politisi kita saat ini. Di mana kemauan lebih berkiblat kepada nafsu jasad atau (nuruti rahsaning karep) yang bersumber dari lymbic section, ketimbang kebutuhan roh yang bersumber dari cahaya Ilahi (nuruti kareping rahsa).
WASPADAI DIRI SENDIRI
Lymbic mendorong seseorang untuk memenuhi segala kebutuhan insting dasar hewani. Guna mewujudkan setiap keinginan hewani bilamana ada kesempatan seseorang akan menghalalkan segala cara demi mewujudkan insting primitifnya. Tindak “pelacuran otoritas” hingga pembunuhan, tindak kriminal seperti korupsi, mark up, penggelapan, perampasan hak orang lain, merupakan manifestasi dari dorongan lymbic atau insting primitif hewani.
Sementara itu akal-budi, disebut juga indera. Keberadaan nafsu menjadi wahana adanya akal-budi. Dilambangkan sebagai kudha ngerap ing pandengan, kudha nyander kang kakarungan. Akal-budi letaknya di dalam nafsu, diibaratkan sebagai “orang lumpuh mengelilingi bumi”. Adalah tugas yang amat berat bagi akal-budi; yakni menuntun hawa nafsu angkara kepada yang positif/putih (mutmainah). Sehingga diumpamakan wong lumpuh angideri jagad; orang lumpuh yang mengelilingi bumi. Dalam wilayah ilmu tasawuf disebut juga akyan-maknawiyah. Kemenangan akal-budi menuntun hawa nafsu ke arah yang positif dan tidak merusak, maka akan melahirkan nafsu baru, yakni nafsul mutmainah.
Nah, apabila lymbic dibiarkan berkembang secara simultan pada gilirannya akan menghegemoni alam pikiran bawah sadar dan setiap saat akan menjadi sumber pembenaran diri atau kebenaran subyektif. Demikianlah proses terjadinya sosok manusia super egois, hinggga mencapai titik paling ekstrim yakni timbulnya penyakit jiwa seperti megalomania, egosentrisme, psikopat hingga kegilaan permanen. Psikopat tidak selalu tindakan pembunuhan berantai seperti dalam film-film thriller. Psikopat bisa saja dengan mudah menyusup ke dalam perilaku golek menange dewe, golek butuhe dewe, golek benerew dewe. Hal ini membentuk pola pikir atau mind set yang sempit, yang menganggap diri paling bener. Lalu dengan mudahnya mencari-cari alasan pembenar untuk menganiaya lahir atau batin orang-orang yang dibenci atau yang berbeda pendapat dan keinginan dengan dirinya. Seorang psikopat mudah menyakiti dan mencelakai orang lain demi pencapaian keinginan pribadinya. Bahkan saking terbiasanya, ia dapat berbuat kejahatan kepada siapapun yang dikehendakinya, sementara ia menikmati perbuatan jahatnya itu. Bahkan dengan bangganya seorang psikopat mentertawakan kesengsaraan orang lain yang menjadi korban kejahatannya. Itulah gambaran jiwa psikopat, di mana hati nuraninya telah wafat. Kepuasannya justru terpenuhi manakala ia dapat “menari di atas bangkai” para korbannya. Lymbic yang benar-benar out of control amat sangat berbahaya, lebih berbahaya lagi apabila jiwa-jiwa psikopat disertai dengan kecerdasan otak yang relatif tinggi dengan dimilikinya kekuasaan yang legitimate. Manusia akan berubah tidak hanya sekedar binatang, namun menjadi sosok monster yang lengkap memiliki senjata pamungkas. Kenyataannya penyakit jiwa ini banyak menghinggapi penduduk bumi nusantara di masa sekarang ini. Manusia yang turun martabat dan habitatnya menjadi spesies purba dan primitif namun juga sangat ganas. Benar-benar menjelma sebagai manusia homo-hominilupus, alias binatang buas buat manusia lainnya. Apa jadinya bila sosok demikian ini berkesempatan menjadi pemimpin umat di negeri ini ? Menjadi sosok manusia yang mempunyai kesempatan dan kemampuan tinggi untuk menghancurkan bumi. Otak bagian kanan tidak difungsikan untuk menggapai kesadaran dan kecerdasan spiritualitas, sebaliknya hanya berfungsi membangun perilaku munafik, sibuk memperhalus dan menutupi kebuasannya. Selalu berkreasi untuk menjaga imej mulia dan lembut di hadapan khalayak, sementara di dalam dirinya menyimpan potensi besar insting hewani yang primitif yang siap menelan segala yang ia inginkan.
HUBUNGAN KEKUASAAN LYMBIC DENGAN KERUSAKAN ALAM SEMESTA
Negeri ini sudah terlalu carut marut, semrawut, bagaikan benang kusut. Berbagai penyakit kejiwaan akibat dominasi kekuasaan lymbic telah menjangkiti seluruh sendi kehidupan negeri. Tindakan yang sangat mendesak untuk segera dilakukan, adalah ; jati diri palsu bangsa ini harus segera dikoreksi dan diselamatkan dengan cara menselaraskan antara keseimbangan mikrokosmos dengan keseimbangan makrokosmos. Sebagaimana telah dikatakan oleh seorang filsuf Socrates pada 500 th SM, serta terdapat dalam berbagai kitab suci, kita harus mengenali jati diri terlebih dahulu, barulah kita akan mengenali Tuhan. Maka jati diri bangsa ini harus digali dan dikenali lagi. Untuk sebuah gerakan penyadaran jati diri bangsa, akan lebih efektif apabila dimulai oleh para pemimpin dengan menjalani lakuning urip secara pas dan pener. Biarpun kekacauan multidimensi negeri saat ini tampak sudah sangat akut, namun hendaknya kita tetap optimis. Sebab masih ada satu celah dengan cara menghayati nilai-nilai luhur kearifan lokal. Hal ini bukan sekedar latah, karena nilai kearifan lokal adalah nilai yang merepresentasikan jati diri bangsa apa adanya, alamiah dan manusiawi. Dimulai dari diri kita masing-masing, kemudian meningkat dalam lingkup otoritas daerah, selanjutnya hingga ke pusat secara bottom up. Tentu saja untuk sebuah misi mulia itu masing-masing pribadi harus memerdekakan diri dari hegemoni insting primitif hewani terlebih dulu. Sebab untuk menjadi pamomong bagi banyak orang seyogyanya kita lebih dulu harus sukses ngemong diri sendiri.
KENAPA HARUS DI MULAI DARI DIRI KITA PRIBADI ?
Karena kegelisahan, kegundahan, sifat mudah panik, kalut, ela-elu, anut grubyuk, yang merambah dalam diri kita bukanlah disebabkan oleh orang lain atau faktor eksternal. Namun disebabkan oleh mekanisme ketidakseimbangan (disharmoni) dalam diri kita sendiri. Berawal dari terjadinya disharmoni, lalu terjadi disintegritas jati diri kita yang menghasilkan hormon dan adrenalin secara berlebihan. Kelebihan produksi hormon itu dapat mengganggu kestabilan dan kesehatan jiwa raga alias stress dan depress. Terjadilah imbal balik, di mana stres dan depresi, akan mengacaukan kesimbangam dalam diri yang berujung memperdalam terjadinya disintegritas jati diri. Di saat inilah manusia turun drajat menjadi binatang, jika tidak ya sepadan dengan manusia setengah gila.
Carut marut negeri ini berasal dari keadaan mental diri kita sendiri. Mental generasi penerus bangsa yang kehilangan jati dirinya. Tak kenal dan tak selaras lagi dengan karakter lingkungan sosial dan lingkungan alam sekitarnya. Hilangnya jati diri melahirkan tindakan-tindakan melawan kodrat alam. Hal itu meretas kegelisahan dan kebingungan, kepanikan dan kebuntuan dalam mengambil sikap hidup. Semuanya jadi serba salah kaprah & salah tingkah. Banyak hal-hal esensial menjadi serba terbalik maknanya. Inilah yang dimaksud dengan tanda-tanda wolak-waliking jaman seperti pernah diperingatkan oleh para pujangga masa lalu. Yang saat ini ternyata benar-benar terjadi.
Penebangan hutan secara liar, ekploitasi pertambangan alam yang tidak lagi peduli dengan kaidah alamiah dan manusiawiah, cut and fill kontur tanah yang tidak memperhatikan hukum-hukum geografis dan geologis, demi alasan pembangunan nasional sungai-sungai dirombak alur dan irama alamnya menjadi irama nafsu lymbic. Lembah-lembah hijau tempat serapan air dirubah menjadi resapan penghasil fulus dengan ijin “ilegal” mendirikan bangunan rumah disekitar bantaran dan lembah sungai. Mata air digusur, hutannya dibabat habis, gunung-gunung sebagai tampungan air telah digempur diratakan. Akibat dari semua itu adalah banjir, kekeringan, salah mongso, iklim yang kacau, suhu yang berubah-ubah drastis, lempeng bumi terjadi rongga-rongga karena kadar air semakin berkurang, lempeng bumi terjadi pelapukan dan pergeseran lebih cepat. Akibat lebih lanjut adalah terjadi berbagai gempa bumi, kekurangan air tanah, kelembaban udara menurun drastis, mengakibatkan baksil dan bakteri berkembang biak, wabah penyakit dan hama tanaman menjadi sangat variatif dan sulit diatasi.
Itulah gambaran dalam dimensi luas hubungan antara manusia (jagad alit) dengan lingkungan alam (jagad besar) yang tidak lagi selaras, seiring dan sejalan. Untuk itu para pemimpin perlu segera mengupayakan usaha-usaha pemerdekaan diri bagi generasi penerus bangsa dari penjajahan lymbic section. Kembali kepada jati diri bangsa, menggapai kesadaran tinggi (highest consciousness) yang tidak terjajah oleh lymbic, yakni kesadaran rahsa sejati. Usaha itu harus diawali dengan membangun keseimbangan dalam diri kita pribadi. Dimulai dari pribadi-pribadi peduli yang tinggal di “wilayah TIMUR”. Sebagaimana terungkap dalam kitab kuno jongko-joyoboyo. Dan di sinilah tempatnya yang tepat. Dimulai dari kota lumpur Sidoarjo tempat di mana para putra Sang Fajar mulai menyingsing dari ufuk timur. Njejegake soko guru bangsa, yang akan membuka jalan bagi kembalinya kejayaan bumi nusantara. Dan para putra sang fajar itu adalah Anda yang hadir di sini dalam pertemuan ini. Sebagai pemimpin, apabila anda melakukan start lebih awal, anda bersama rakyat akan lebih dulu meraih dan merasakan anugrah agung yakni, indahnya kemuliaan, kehormatan dan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Yang melibatkan kesejahteraan lahir dan batin. Namun anugrah agung itu tentunya tidaklah GRATIS, karena masyarakat bersama para pemimpin di wilayah Sidoarjo harus menebus anugrah agung dengan musibah dan penderitaan panjang. Semakin tabah menjalaninya, semakin besar pula “uang tebusan” yang anda kumpulkan. Berati semakin besar pula anugrah yang akan diperoleh.
TIPIKAL NEGARAWAN SEJATI
Sementara itu gambaran kejiwaan negarawan sejati, mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak hanya memiliki kesadaran theolgis, lebih dari itu memiliki kesadaran kosmik. Kesadaran yang selaras dan seimbang antara jagad kecil (mikrokosmos) dan jagad besar (makrokosmos), keselarasan antara rakyat dengan pemimpinnya (manunggaling kawula kalawan gusti), dan keselarasan jiwa manusia dengan nilai ketuhanan (manunggaling kawula Gusti atau roroning atunggil/dwi tunggal). Pencapaian keadaan itu dapat dirasakan sebagai suasana yang tenang, damai, riang, bahagia. Saling memberi, saling menebarkan aura kasih-sayang. Terpancarlah nilai-nilai kebaikan dalam setiap sendi-sendi kehidupan. Kebaikan akan meretas kebaikan pula. Dalam diri pribadi, keadaan positif ini memicu produksi hormon-hormon melatonin & endorfin, yang bekerja untuk melipatgandakan ketenangan, ketrentaman dan kebahagiaan. Begitulah seterusnya. Hiup menjadi lebih tenang, tidak kelebihan hormon adrenalin yang akan membawa kepada sikap kagetan dan gumunan, raksioner dan frontal, gelisah, geram dan emosional.
Tipikal seorang negarawan sejati yakni merdeka dari pengaruh hegemoni lymbic. Saya sebut pula sebagai pemimpin yang nuruti kareping rahsa. Dalam terminologi falsafah Jawa disebut sebagai kodok kinemulan ing leng, atau wit ing sajroning wiji. Jiwa yang tuntun oleh sukma-sejati/roh kudus/ruh al kuds, dibimbing oleh rasa sejati/sirulah, disinari oleh cahyo sejati/nurullah, dan pada akhirnya menjadi jiwa raga yang dihidupkan oleh atma sejati/chayyu/kayun yakni energi yang menghidupkan. Mereka itulah adalah sosok negarawan sejati. Pribadi yang tidak lagi terkooptasi oleh kelompok kepentingannya sendiri. Tidak mewakili dan mengatasnamakan kepentingan dan warna politik, golongan, dan kelompok tertentu. Negarawan mengatasi kepentingan seluruh warga bangsa, atau mengutamakan kepentingan umum. Perilaku dan perbuatan pribadi negarawan sejati tidaklah egois, sebaliknya bersikap altruis mempersembahkan hidupnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsanya di atas kepentingan-kepentingan lainnya (berkah bagi alam/rahmatan lil alamin). Kursi kekuasaan bukan menjadi tujuan, melainkan sebagai sarana atau alat menciptakan kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan bersama. Biarpun tidak sedang menduduki jabatan, seorang yang berjiwa negarawan sejati memiliki tabiat perilaku yang konsisten. Arif dan bijaksana, mampu ngemong diri pribadi sebelum bertanggungjawab ngemong orang banyak sehingga tak ada bedanya saat sebelum dan sesudah menduduki tampuk kekuasaan. Kehidupan ini dijalani dengan sikap profan apa adanya, tidak mengada-ada, antara solah atau perilaku badan dengan bawa atau perilaku batin tidak berbenturan satu sama lain (munafik). Selalu eling akan sangkan paraning dumadi, dan waspada atas segala hal yang dapat menjadi penghalang kemuliaan dirinya. Seorang negarawan sejati berani sugih tanpa bondo, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Menjalankan tanggungjawab kepemimpinannya dengan dasar rasa welas asih, welas tanpo alis, belas kasih kepada siapa saja tanpa pilih kasih, dan tanpa pamrih kecuali sebagai bentuk netepi titahing Gusti, mengikuti afngal atau sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang tanpa pernah pilih kasih !! Negarawan memanfaatkan kewenangannya sebagai alat atau sarana laku prihatin yakni dengan tapa ngrame. Laku tapa, tapaking hyang suksma. Menjadi pribadi kosmologis, perilakunya selaras, harmoni dan sinergi dengan kodrat alam. Kesadarannya bukan hanya kesadaran theologis dogmatis saja, namun sudah menggapai kesadaran kosmologis yang berada dalam wilayah kesadaran hakekat.
Pastilah berkah Tuhan akan selalu berlimpah ruah, sumrambah dateng tiyang kathah, mampu merubah segala musibah menjadi anugrah. Kalis ing rubeda, nir ing sambekala. Itulah konsep keadilan dan kemakmuran suatu negeri, akan datang bilamana pemimpinnya adalah sosok pribadi yang jumeneng satria pinandita sinisihan wahyu. Siapapun bisa melakukan asal memiliki kehendak (political will) dan bertekat bulat ibarat melakukan semedi di “alas ketangga” (keketeg ing hangga) yakni dengan tekat bulat meliputi jiwa dan raga.
Figur negarawan sejati, menjadikan dirinya seperti medan magnet positif yang akan menebarkan dan menarik segala hal yang positif, dan rumus ini berlaku pula sebaliknya. oleh sebab itu tidaklah sulit bagi negarawan sejati, bila selama masa kepemimpinannya akan menyebarkan benih-benih kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya. Menjadikan rakyatnya merasa benar-benar menjadi tuan di istananya sendiri. Bagi negarawan sejati, apa yang diucap akan terwujud (sabda pandita ratu), dan apa yang diucapkan segera terlaksana (idu geni). Siapapun dapat menghayati dan membuktikan sendiri. Karena Negarawan sejati bukan hanya monopoli seorang presiden, raja, atau perdana menteri saja. Tetapi bisa dilakukan oleh siapapun orangnya ; gubernur, bupati, camat, lurah, ketua RW/RT. Setiap orang pada dasarnya adalah pemimpin, minimal menjadi pemimpin buat dirinya sendiri, dan keluarganya.
Kiranya tidaklah mengada-ada, apabila telah diisyaratkan oleh para leluhur kita di masa lampau, bahwa negeri ini akan mencapai kejayaannya kembali, menjadi negeri yang adil, makmur, gemah ripah loh jinawi, hanya pada saat mana dipimpin oleh figur Ratu Adil. Berarti pula memiliki kiasan sebagai pribadi-pribadi yang gandrung keadilan dan sistem ekonomi-politik yang adil. Dan siapapun anda bisa menjadi figur ratu adil apabila anda memiliki kemauan sungguh-sungguh yang anda tetapkan mulai hari ini.
TEKNIK PENGENDALIAN LYMBIC
Kita harus melakukan berbagai usaha untuk meredam kekuasaan lymbic dalam diri kita. Banyak cara dapat ditempuh, misalnya dengan berolahraga dan berolah-batin, misalnya olah meditasi, semedi, mesu budi, maladihening hingga tradisi jazirah dengan cara berzikir, i’tikaf dsb. Semua tujuannya sama, menggali getaran nurani sebagai terminal getaran energi Tuhan Yang Maha Menghidupkan. Energi yang hidup abadi yang ada dalam diri kita. Lebih dekat dari urat leher. Itulah Tuhan yang bersembunyi di dalam hati kita. Persoalannya adalah ; bagaimana kita mampu untuk mengolah rasa menggapai kesadaran tinggi (highest consiousness) ?! Menjadi diri sejati, menjadi negarawan sejati, yang memiliki sipat kandel, winasis sebagai pribadi yang trewaca, waskita dan permana.
Sumber : Ki Sabda
Otak Kanan & Otak Kiri Yang Belum Merdeka
Banyak sekali buku-buku yang ditulis. Bahkan berbagai pelatihan dengan beaya mahal dan sangat ekslusif. Dipresentasikan dengan alat-alat canggih dan mengagumkan. Dengan tujuan mengasah Otak Bagian Kanan yang mengolah impuls kelembutan, keindahan, spirit, bahkan disebut sebagai bagian otak di mana terdapat titik God Spot. Seolah-olah dengan cara itu kita dapat mengembangkan peran Otak Bagian Kiri dan dapat keluar dari berbagai persoalan. Kenyataannya tidaklah semudah dan sesederhana itu, Otak Bagian Kanan (OBKa) dan Otak Bagian Kiri (OBKi) sama saja. OBKa bekerja untuk mengolah dan memikirkan data-data non eksakta : metafisis, budaya, moralitas, seni, ide, gagasan, dan kesadaran spiritual. OBKi bekerja untuk hal-hal yang bersifat eksakta. Namun berdasarkan berbagai penelitian di Eropa dan Amerika, pengembangan OBKa dan OBKi sama saja apabila masih terkendali oleh Lymbic. Lymbic merupakan insting dasar hewani. Lymbic dipelajari pada ilmu neurosains kognitif. Lymbic memiliki beberapa sistem fisiologinya. Meliputi amigdala, Sirkuit Papez, dan termasuk pula Accelerated Learning. Amigdala berasal dari bahasa latin amygdalae (bahasa Yunani αμυγδαλή, amygdalē, almond, ‘amandel’) adalah sekelompok saraf yang berbentuk kacang almond. Pada otak vertebrata terletak pada bagian medial temporal lobe, secara anatomi amigdala dianggap sebagai bagian dari basal ganglia. Amigdala dipercayai merupakan bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi. Sirkuit Papez adalah suatu jalur utama pada sistem limbik di otak besar dan berperan pada korteks otak besar untuk mengontrol emosi. Sirkuit ini pertama kali dipaparkan oleh James Papez pada 1937. Sementara itu Accelerated Learning atau efektifitas belajar dan mengolah impuls dari luar diri, dan setiap informasi yang masuk ke otak kanan dan kiri terlebih dulu melalui sistem lymbic.
Oleh sebab itu, perkembangan Otak Kanan tanpa pembersihan dari polusi lymbic hanya akan menghasilkan benda-benda kebutuhan insting dasar atau hewani, hanya saja dikemas secara lebih indah dan mewah (hedonisme) saja. Perkembangan otak kiri tanpa pembersihan dari polusi lymbic hanya akan menghasilkan pola hidup yang sangat material dan cenderung destruktif. Itulah keadaan hidup manusia yang masih sangat primitif namun terkesan sebagai manusia kesadaran spiritual tinggi, menjadi soleh dan suci.
Manunggaling “Manusia-Hewan”
Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting dasar saja, sesungguhnya kita masih menjadi binatang yang berevolusi kesadaran yang sangat lambat alias masih menjadi binatang yang berkedok jasad manusia. Perbedaannya terletak di mana binatang tidak bisa berpura-pura dan mengelabuhi dirinya sendiri (munafik), sebaliknya manusia dengan perangkat mind (otak sadar/pikiran/akal) mampu berpura-pura seolah bukanlah binatang. Kepura-puraan (sikap munafik) ini berkat pendayagunaan OBKa yang diperhalus OBKi, sehingga manusia lebih mampu memoles insting-insting hewani menjadi lebih halus dan samar. Kita lebih pandai mengelabuhi orang lain seolah telah menjadi insan kamil, manusia sejati, dengan kesadaran spiritual ultra tinggi (highest consciousness). Maka banyak kita membaca berita di koran-koran seorang rohaniawan, pemimpin, politisi, penegak hukum, intelektual melakukan pelecehan seksual, korupsi, penggelapan, tindak kriminal lainnya dsb. Inilah wajah manusia apabila OBKa dan OBKi masih dikuasai oleh sang lymbic. Perkembangan diri manusia masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri hanya menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang masih peduli memanusiakan diri sendiri.
KENAPA HARUS ADA LYMBIC
Meskipun lymbic merupakan insting dasar hewani yang terdapat dalam tubuh manusia, bukan berarti lymbic harus dimusnahkan dari dalam diri manusia, lymbic hanya perlu dikendalikan dalam batas-batas yang wajar dan manusiawi agar bermanfaat sesuai fungsinya. Lymbic berfungsi sebagai alat untuk survival, menggerakkan kebutuhan biologis atau jasadiah untuk keperluan mempertahankan kehidupan di planet bumi. Lymbic juga diperlukan untuk reproduksi, proses kelangsungan hidup seluruh makhluk agar kehidupan di bumi tidak punah. Lymbic mencerminkan kebutuhan dasar atau kebutuhan paling primitif makhluk hidup. Sementara itu kehidupan manusia bukan saja untuk memenuhi kebutuhan dasar, lebih dari itu adalah kebutuhan rohani, atau kebutuhan jiwa, sukma atau kebutuhan roh. Kebutuhan insting dasar dipahami sebagai batu loncatan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi (mulia) yakni kebutuhan jiwa atau roh tersebut. Kebutuhan dasar selalu tumbuh berganti, berubah-ubah, dan tidak langgeng. Sementara kebutuhan akan kemuliaan bersifat langgeng tan owah gingsir, yang azali abadi.
Adapun rumus-rumus dasar perubahan yang berlaku bagi kebutuhan dasar (insting dasar hewani) yang digerakkan oleh lymbic adalah sbb :
1. Tumbuh, berkembang, lalu hancur.
2. Pertama-tama lahir, hidup, lalu mati.
3. Muncul keinginan, pemenuhan keinginan, kepuasan lalu semakin lama hilanglah kepuasan itu.
Demikianlah sifat dasar dari kebutuhan lymbic, tak ada yang kekal abadi, sebab lymbic hanya mencakup dimensi jasad, atau dimensi bumi saja. Semua yang berada dalam dimensi bumi akan terkena rumus bumi, ada/lahir, tumbuh/berkembang lalu hancur/mati/sirna. Bumi merupakan mercapadha ; merca berarti panas atau rusak, padha artinya papan atau tempat. Bumi seperti halnya jasad, merupakan tempat di mana segala sesuatu akan mengalami kerusakan dan kehancuran.
Keberhasilan mengendalikan si lymbic, akan membuat kita berhasil memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi yakni kebutuhan roh. Artinya, apabila kebutuhan jasad dapat dikendalikan secara wajar justru kebutuhan sukma atau jiwa akan terpenuhi, berupa ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan kebahagiaan tertinggi (audaimonistis). Dalam falsafah Jawa, proses pengendalian lymbic ini tercermin dalam pepeling yang tampak sederhana tetapi sudah menjadi bagian dari kearifan lokal : ngono yo ngono ning ojo ngono. Maksudnya agar manusia tidak melampaui batas kewajaran dari nilai-nilai kemanusiaannya, alias tidak “ber-evolusi mundur” atau set back kembali menjadi binatang berbalut raga manusia. Berbagai teknis meredam dan mengendalikan lymbic dengan olah rasa, mengoptimalkan rasa sejati/rasa pangrasa. Sehingga akan lahir menjadi manusia ber-evolusi pesat menjadi manusia linuwih, jalma kinacek, dengan kesadaran spiritual yang tinggi. Menjadi cirikhas orang-orang yang berhasil nuruti kareping rahsa. Bukan sebaliknya nuruti rahsaning karep.
TIPE PENGUASA LYMBIC
Apabila insting-insting hewani kita dibiarkan tumbuh berkembang dalam diri, lama-lama akan mengkooptasi dan menghegemoni alam pikiran bawah sadar, di mana tersimpan nilai-nilai dasar pandangan hidup, yang setiap saat mendasari cara pandang (mind set) dan dapat menjadi nara sumber “kebenaran” yang bersifat subyektif dan palsu. Alam pikiran bawah sadar sebagai stockpile, yang terisi oleh insting dasar hewani tersebut menentukan pola-pikir (mind set), cara pandang, dan menuntun bagaimana harus bertindak. Celakanya, semua itu diartikulasi atau dimanifestasi dalam perbuatan nyata, yakni berupa perbuatan hewaniah. Kekuasaan lymbic tercermin dalam sikap ego dalam diri yang sangat tinggi. Celakanya lagi ego yang melakukan pencitraan harga diri terlalu tinggi membuat seseorang sangat mudah tersinggung, gampang murka, selalu golek menange dewe, golek butuhe dewe, golek benere dewe. Sebuah karakter yang sangat berbahaya, karena karakter muncul dari ego yang sangat kuat, yang dapat menyiksa, menganiaya, menyakiti, menghancurkan, dan memusnahkan segala hal yang tidak sesuai dengan ego-nya sementara kejahatannya itu sebagai bentuk kebenaran tak terbantahkan.
Lymbic, sepadan dengan Nafsu negatif. Hakikat nafsu dilambangkan sebagai latu murup ing telenging samudra. Nafsu merupakan setitik kekuatan “nyalanya api” di dalam air samudra yang sangat luas. Artinya, nafsu dapat menjadi sumber keburukan/angkara (nila setitik) yang dapat “menyala” di dalam dinginnya air samudra/sukma sejati nan suci (rusak susu sebelanga). Disebut pula sebagai akyanmukawiyah, (nafsu) sebagai kenyataan yang “hidup” dalam eksistensinya. Paradoks dari tugas roh, bila nafsu menundukkan roh, maka manusia hanya menjadi “tumpukan sampah” atau hawa nafsu angkara. Mengikuti rasanya keinginan (rahsaning karep). Hewan bertubuh manusia.
Lymbic bekerja membawahi akal budi. Artinya seberapapun hebat kemampuan akal, secerdas dan sejenius apapun otak manusia tetap saja berada di bawah kekuasaan lymbic. Dalam terminologi falsafah Jawa disebut latu murup ing telenging samudra. Latu atau bara api sebagai kiasan dari insting dasar (hawa nafsu). Sedangkan samudra sebagai kiasan dari jiwa yang suci.
Tipikal pemimpin yang dikuasai lymbic section atau pemimpin yang belum menjalani pengendalian lymbic dapat dilihat sebagai mana tercermin dalam beberapa karakter pemimpin di bawah ini;
1. Kagetan, gumunan. Bersifat reaksioner.
2. Ora kuat nyunggi drajat; begitu mendapat jabatan, mereka akan berubah sikap sangat drastis. Sok jaim, sok wibawa, sering salah tingkah, gagal menjalankan tanggungjawabnya sebagai pelindung dan pelayan masyarakat.
3. Sumber kewibawaan bukan berasal keluhuran budi, kualitas kerja dan karya, melainkan keibawaan identik dengan menakutkan.
4. Menjaga kehormatan diri dan kekuasaannya dengan cara intimidasi dan menebar ancaman.
5. Hilangnya kharisma yang memancar dari dalam diri. Kharisma diganti dengan wajah angker nan galak. Seram dan menakutkan. Sikap yang bukan tegas namun tega dan sadis.
6. Kepatuhan para staf dan rakyatnya hanya dikendalikan oleh rasa takut, bukan rasa welas asih dan terimakasih.
7. Mengutamakan kepentingan kelompoknya; kelompok politik, golongan, ras, suku, agama, dan faham politiknya. Sikap anti toleran, pola pikir sektarian, primordial, rasistis.
8. Lebih memilih penghancuran dan pemusnahan sebagai cara utama dan pertama yang ditempuh daripada pendekatan persuasif melalui penyadaran dan penginsyafan.
9. Kekuasaan bukan dipandang sebagai sarana, tetapi sudah menjadi tujuan utama. Bila seseorang bercita-cita menegakkan keadilan dan ingin menciptakan kemakmuran untuk negeri dan rakyatnya, tetapi meraih kekuasaan melalui cara-cara kotor, menghalalkan segala cara, mau menangnya sendiri, itulah penguasa yang dikuasai lymbic.
10. Power of law, berganti menjadi law of the power. Kekuasaan bukan lagi bersumber dari hukum atau konstitusi yang disepakati rakyat, sebaliknya kekuasaan disalahgunakan untuk merumuskan hukum yang melindungi kepentingan pribadinya.
11. Pemimpin bukan dipahami sebagai pelayan rakyat. Sebaliknya pemimpin malah menuntut rakyatnya yang harus melayaninya.
Tipikal “pemimpin lymbic”, layaknya sindrom yang mengidap sebagian politisi kita saat ini. Di mana kemauan lebih berkiblat kepada nafsu jasad atau (nuruti rahsaning karep) yang bersumber dari lymbic section, ketimbang kebutuhan roh yang bersumber dari cahaya Ilahi (nuruti kareping rahsa).
WASPADAI DIRI SENDIRI
Lymbic mendorong seseorang untuk memenuhi segala kebutuhan insting dasar hewani. Guna mewujudkan setiap keinginan hewani bilamana ada kesempatan seseorang akan menghalalkan segala cara demi mewujudkan insting primitifnya. Tindak “pelacuran otoritas” hingga pembunuhan, tindak kriminal seperti korupsi, mark up, penggelapan, perampasan hak orang lain, merupakan manifestasi dari dorongan lymbic atau insting primitif hewani.
Sementara itu akal-budi, disebut juga indera. Keberadaan nafsu menjadi wahana adanya akal-budi. Dilambangkan sebagai kudha ngerap ing pandengan, kudha nyander kang kakarungan. Akal-budi letaknya di dalam nafsu, diibaratkan sebagai “orang lumpuh mengelilingi bumi”. Adalah tugas yang amat berat bagi akal-budi; yakni menuntun hawa nafsu angkara kepada yang positif/putih (mutmainah). Sehingga diumpamakan wong lumpuh angideri jagad; orang lumpuh yang mengelilingi bumi. Dalam wilayah ilmu tasawuf disebut juga akyan-maknawiyah. Kemenangan akal-budi menuntun hawa nafsu ke arah yang positif dan tidak merusak, maka akan melahirkan nafsu baru, yakni nafsul mutmainah.
Nah, apabila lymbic dibiarkan berkembang secara simultan pada gilirannya akan menghegemoni alam pikiran bawah sadar dan setiap saat akan menjadi sumber pembenaran diri atau kebenaran subyektif. Demikianlah proses terjadinya sosok manusia super egois, hinggga mencapai titik paling ekstrim yakni timbulnya penyakit jiwa seperti megalomania, egosentrisme, psikopat hingga kegilaan permanen. Psikopat tidak selalu tindakan pembunuhan berantai seperti dalam film-film thriller. Psikopat bisa saja dengan mudah menyusup ke dalam perilaku golek menange dewe, golek butuhe dewe, golek benerew dewe. Hal ini membentuk pola pikir atau mind set yang sempit, yang menganggap diri paling bener. Lalu dengan mudahnya mencari-cari alasan pembenar untuk menganiaya lahir atau batin orang-orang yang dibenci atau yang berbeda pendapat dan keinginan dengan dirinya. Seorang psikopat mudah menyakiti dan mencelakai orang lain demi pencapaian keinginan pribadinya. Bahkan saking terbiasanya, ia dapat berbuat kejahatan kepada siapapun yang dikehendakinya, sementara ia menikmati perbuatan jahatnya itu. Bahkan dengan bangganya seorang psikopat mentertawakan kesengsaraan orang lain yang menjadi korban kejahatannya. Itulah gambaran jiwa psikopat, di mana hati nuraninya telah wafat. Kepuasannya justru terpenuhi manakala ia dapat “menari di atas bangkai” para korbannya. Lymbic yang benar-benar out of control amat sangat berbahaya, lebih berbahaya lagi apabila jiwa-jiwa psikopat disertai dengan kecerdasan otak yang relatif tinggi dengan dimilikinya kekuasaan yang legitimate. Manusia akan berubah tidak hanya sekedar binatang, namun menjadi sosok monster yang lengkap memiliki senjata pamungkas. Kenyataannya penyakit jiwa ini banyak menghinggapi penduduk bumi nusantara di masa sekarang ini. Manusia yang turun martabat dan habitatnya menjadi spesies purba dan primitif namun juga sangat ganas. Benar-benar menjelma sebagai manusia homo-hominilupus, alias binatang buas buat manusia lainnya. Apa jadinya bila sosok demikian ini berkesempatan menjadi pemimpin umat di negeri ini ? Menjadi sosok manusia yang mempunyai kesempatan dan kemampuan tinggi untuk menghancurkan bumi. Otak bagian kanan tidak difungsikan untuk menggapai kesadaran dan kecerdasan spiritualitas, sebaliknya hanya berfungsi membangun perilaku munafik, sibuk memperhalus dan menutupi kebuasannya. Selalu berkreasi untuk menjaga imej mulia dan lembut di hadapan khalayak, sementara di dalam dirinya menyimpan potensi besar insting hewani yang primitif yang siap menelan segala yang ia inginkan.
HUBUNGAN KEKUASAAN LYMBIC DENGAN KERUSAKAN ALAM SEMESTA
Negeri ini sudah terlalu carut marut, semrawut, bagaikan benang kusut. Berbagai penyakit kejiwaan akibat dominasi kekuasaan lymbic telah menjangkiti seluruh sendi kehidupan negeri. Tindakan yang sangat mendesak untuk segera dilakukan, adalah ; jati diri palsu bangsa ini harus segera dikoreksi dan diselamatkan dengan cara menselaraskan antara keseimbangan mikrokosmos dengan keseimbangan makrokosmos. Sebagaimana telah dikatakan oleh seorang filsuf Socrates pada 500 th SM, serta terdapat dalam berbagai kitab suci, kita harus mengenali jati diri terlebih dahulu, barulah kita akan mengenali Tuhan. Maka jati diri bangsa ini harus digali dan dikenali lagi. Untuk sebuah gerakan penyadaran jati diri bangsa, akan lebih efektif apabila dimulai oleh para pemimpin dengan menjalani lakuning urip secara pas dan pener. Biarpun kekacauan multidimensi negeri saat ini tampak sudah sangat akut, namun hendaknya kita tetap optimis. Sebab masih ada satu celah dengan cara menghayati nilai-nilai luhur kearifan lokal. Hal ini bukan sekedar latah, karena nilai kearifan lokal adalah nilai yang merepresentasikan jati diri bangsa apa adanya, alamiah dan manusiawi. Dimulai dari diri kita masing-masing, kemudian meningkat dalam lingkup otoritas daerah, selanjutnya hingga ke pusat secara bottom up. Tentu saja untuk sebuah misi mulia itu masing-masing pribadi harus memerdekakan diri dari hegemoni insting primitif hewani terlebih dulu. Sebab untuk menjadi pamomong bagi banyak orang seyogyanya kita lebih dulu harus sukses ngemong diri sendiri.
KENAPA HARUS DI MULAI DARI DIRI KITA PRIBADI ?
Karena kegelisahan, kegundahan, sifat mudah panik, kalut, ela-elu, anut grubyuk, yang merambah dalam diri kita bukanlah disebabkan oleh orang lain atau faktor eksternal. Namun disebabkan oleh mekanisme ketidakseimbangan (disharmoni) dalam diri kita sendiri. Berawal dari terjadinya disharmoni, lalu terjadi disintegritas jati diri kita yang menghasilkan hormon dan adrenalin secara berlebihan. Kelebihan produksi hormon itu dapat mengganggu kestabilan dan kesehatan jiwa raga alias stress dan depress. Terjadilah imbal balik, di mana stres dan depresi, akan mengacaukan kesimbangam dalam diri yang berujung memperdalam terjadinya disintegritas jati diri. Di saat inilah manusia turun drajat menjadi binatang, jika tidak ya sepadan dengan manusia setengah gila.
Carut marut negeri ini berasal dari keadaan mental diri kita sendiri. Mental generasi penerus bangsa yang kehilangan jati dirinya. Tak kenal dan tak selaras lagi dengan karakter lingkungan sosial dan lingkungan alam sekitarnya. Hilangnya jati diri melahirkan tindakan-tindakan melawan kodrat alam. Hal itu meretas kegelisahan dan kebingungan, kepanikan dan kebuntuan dalam mengambil sikap hidup. Semuanya jadi serba salah kaprah & salah tingkah. Banyak hal-hal esensial menjadi serba terbalik maknanya. Inilah yang dimaksud dengan tanda-tanda wolak-waliking jaman seperti pernah diperingatkan oleh para pujangga masa lalu. Yang saat ini ternyata benar-benar terjadi.
Penebangan hutan secara liar, ekploitasi pertambangan alam yang tidak lagi peduli dengan kaidah alamiah dan manusiawiah, cut and fill kontur tanah yang tidak memperhatikan hukum-hukum geografis dan geologis, demi alasan pembangunan nasional sungai-sungai dirombak alur dan irama alamnya menjadi irama nafsu lymbic. Lembah-lembah hijau tempat serapan air dirubah menjadi resapan penghasil fulus dengan ijin “ilegal” mendirikan bangunan rumah disekitar bantaran dan lembah sungai. Mata air digusur, hutannya dibabat habis, gunung-gunung sebagai tampungan air telah digempur diratakan. Akibat dari semua itu adalah banjir, kekeringan, salah mongso, iklim yang kacau, suhu yang berubah-ubah drastis, lempeng bumi terjadi rongga-rongga karena kadar air semakin berkurang, lempeng bumi terjadi pelapukan dan pergeseran lebih cepat. Akibat lebih lanjut adalah terjadi berbagai gempa bumi, kekurangan air tanah, kelembaban udara menurun drastis, mengakibatkan baksil dan bakteri berkembang biak, wabah penyakit dan hama tanaman menjadi sangat variatif dan sulit diatasi.
Itulah gambaran dalam dimensi luas hubungan antara manusia (jagad alit) dengan lingkungan alam (jagad besar) yang tidak lagi selaras, seiring dan sejalan. Untuk itu para pemimpin perlu segera mengupayakan usaha-usaha pemerdekaan diri bagi generasi penerus bangsa dari penjajahan lymbic section. Kembali kepada jati diri bangsa, menggapai kesadaran tinggi (highest consciousness) yang tidak terjajah oleh lymbic, yakni kesadaran rahsa sejati. Usaha itu harus diawali dengan membangun keseimbangan dalam diri kita pribadi. Dimulai dari pribadi-pribadi peduli yang tinggal di “wilayah TIMUR”. Sebagaimana terungkap dalam kitab kuno jongko-joyoboyo. Dan di sinilah tempatnya yang tepat. Dimulai dari kota lumpur Sidoarjo tempat di mana para putra Sang Fajar mulai menyingsing dari ufuk timur. Njejegake soko guru bangsa, yang akan membuka jalan bagi kembalinya kejayaan bumi nusantara. Dan para putra sang fajar itu adalah Anda yang hadir di sini dalam pertemuan ini. Sebagai pemimpin, apabila anda melakukan start lebih awal, anda bersama rakyat akan lebih dulu meraih dan merasakan anugrah agung yakni, indahnya kemuliaan, kehormatan dan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Yang melibatkan kesejahteraan lahir dan batin. Namun anugrah agung itu tentunya tidaklah GRATIS, karena masyarakat bersama para pemimpin di wilayah Sidoarjo harus menebus anugrah agung dengan musibah dan penderitaan panjang. Semakin tabah menjalaninya, semakin besar pula “uang tebusan” yang anda kumpulkan. Berati semakin besar pula anugrah yang akan diperoleh.
TIPIKAL NEGARAWAN SEJATI
Sementara itu gambaran kejiwaan negarawan sejati, mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak hanya memiliki kesadaran theolgis, lebih dari itu memiliki kesadaran kosmik. Kesadaran yang selaras dan seimbang antara jagad kecil (mikrokosmos) dan jagad besar (makrokosmos), keselarasan antara rakyat dengan pemimpinnya (manunggaling kawula kalawan gusti), dan keselarasan jiwa manusia dengan nilai ketuhanan (manunggaling kawula Gusti atau roroning atunggil/dwi tunggal). Pencapaian keadaan itu dapat dirasakan sebagai suasana yang tenang, damai, riang, bahagia. Saling memberi, saling menebarkan aura kasih-sayang. Terpancarlah nilai-nilai kebaikan dalam setiap sendi-sendi kehidupan. Kebaikan akan meretas kebaikan pula. Dalam diri pribadi, keadaan positif ini memicu produksi hormon-hormon melatonin & endorfin, yang bekerja untuk melipatgandakan ketenangan, ketrentaman dan kebahagiaan. Begitulah seterusnya. Hiup menjadi lebih tenang, tidak kelebihan hormon adrenalin yang akan membawa kepada sikap kagetan dan gumunan, raksioner dan frontal, gelisah, geram dan emosional.
Tipikal seorang negarawan sejati yakni merdeka dari pengaruh hegemoni lymbic. Saya sebut pula sebagai pemimpin yang nuruti kareping rahsa. Dalam terminologi falsafah Jawa disebut sebagai kodok kinemulan ing leng, atau wit ing sajroning wiji. Jiwa yang tuntun oleh sukma-sejati/roh kudus/ruh al kuds, dibimbing oleh rasa sejati/sirulah, disinari oleh cahyo sejati/nurullah, dan pada akhirnya menjadi jiwa raga yang dihidupkan oleh atma sejati/chayyu/kayun yakni energi yang menghidupkan. Mereka itulah adalah sosok negarawan sejati. Pribadi yang tidak lagi terkooptasi oleh kelompok kepentingannya sendiri. Tidak mewakili dan mengatasnamakan kepentingan dan warna politik, golongan, dan kelompok tertentu. Negarawan mengatasi kepentingan seluruh warga bangsa, atau mengutamakan kepentingan umum. Perilaku dan perbuatan pribadi negarawan sejati tidaklah egois, sebaliknya bersikap altruis mempersembahkan hidupnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsanya di atas kepentingan-kepentingan lainnya (berkah bagi alam/rahmatan lil alamin). Kursi kekuasaan bukan menjadi tujuan, melainkan sebagai sarana atau alat menciptakan kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan bersama. Biarpun tidak sedang menduduki jabatan, seorang yang berjiwa negarawan sejati memiliki tabiat perilaku yang konsisten. Arif dan bijaksana, mampu ngemong diri pribadi sebelum bertanggungjawab ngemong orang banyak sehingga tak ada bedanya saat sebelum dan sesudah menduduki tampuk kekuasaan. Kehidupan ini dijalani dengan sikap profan apa adanya, tidak mengada-ada, antara solah atau perilaku badan dengan bawa atau perilaku batin tidak berbenturan satu sama lain (munafik). Selalu eling akan sangkan paraning dumadi, dan waspada atas segala hal yang dapat menjadi penghalang kemuliaan dirinya. Seorang negarawan sejati berani sugih tanpa bondo, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Menjalankan tanggungjawab kepemimpinannya dengan dasar rasa welas asih, welas tanpo alis, belas kasih kepada siapa saja tanpa pilih kasih, dan tanpa pamrih kecuali sebagai bentuk netepi titahing Gusti, mengikuti afngal atau sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang tanpa pernah pilih kasih !! Negarawan memanfaatkan kewenangannya sebagai alat atau sarana laku prihatin yakni dengan tapa ngrame. Laku tapa, tapaking hyang suksma. Menjadi pribadi kosmologis, perilakunya selaras, harmoni dan sinergi dengan kodrat alam. Kesadarannya bukan hanya kesadaran theologis dogmatis saja, namun sudah menggapai kesadaran kosmologis yang berada dalam wilayah kesadaran hakekat.
Pastilah berkah Tuhan akan selalu berlimpah ruah, sumrambah dateng tiyang kathah, mampu merubah segala musibah menjadi anugrah. Kalis ing rubeda, nir ing sambekala. Itulah konsep keadilan dan kemakmuran suatu negeri, akan datang bilamana pemimpinnya adalah sosok pribadi yang jumeneng satria pinandita sinisihan wahyu. Siapapun bisa melakukan asal memiliki kehendak (political will) dan bertekat bulat ibarat melakukan semedi di “alas ketangga” (keketeg ing hangga) yakni dengan tekat bulat meliputi jiwa dan raga.
Figur negarawan sejati, menjadikan dirinya seperti medan magnet positif yang akan menebarkan dan menarik segala hal yang positif, dan rumus ini berlaku pula sebaliknya. oleh sebab itu tidaklah sulit bagi negarawan sejati, bila selama masa kepemimpinannya akan menyebarkan benih-benih kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya. Menjadikan rakyatnya merasa benar-benar menjadi tuan di istananya sendiri. Bagi negarawan sejati, apa yang diucap akan terwujud (sabda pandita ratu), dan apa yang diucapkan segera terlaksana (idu geni). Siapapun dapat menghayati dan membuktikan sendiri. Karena Negarawan sejati bukan hanya monopoli seorang presiden, raja, atau perdana menteri saja. Tetapi bisa dilakukan oleh siapapun orangnya ; gubernur, bupati, camat, lurah, ketua RW/RT. Setiap orang pada dasarnya adalah pemimpin, minimal menjadi pemimpin buat dirinya sendiri, dan keluarganya.
Kiranya tidaklah mengada-ada, apabila telah diisyaratkan oleh para leluhur kita di masa lampau, bahwa negeri ini akan mencapai kejayaannya kembali, menjadi negeri yang adil, makmur, gemah ripah loh jinawi, hanya pada saat mana dipimpin oleh figur Ratu Adil. Berarti pula memiliki kiasan sebagai pribadi-pribadi yang gandrung keadilan dan sistem ekonomi-politik yang adil. Dan siapapun anda bisa menjadi figur ratu adil apabila anda memiliki kemauan sungguh-sungguh yang anda tetapkan mulai hari ini.
TEKNIK PENGENDALIAN LYMBIC
Kita harus melakukan berbagai usaha untuk meredam kekuasaan lymbic dalam diri kita. Banyak cara dapat ditempuh, misalnya dengan berolahraga dan berolah-batin, misalnya olah meditasi, semedi, mesu budi, maladihening hingga tradisi jazirah dengan cara berzikir, i’tikaf dsb. Semua tujuannya sama, menggali getaran nurani sebagai terminal getaran energi Tuhan Yang Maha Menghidupkan. Energi yang hidup abadi yang ada dalam diri kita. Lebih dekat dari urat leher. Itulah Tuhan yang bersembunyi di dalam hati kita. Persoalannya adalah ; bagaimana kita mampu untuk mengolah rasa menggapai kesadaran tinggi (highest consiousness) ?! Menjadi diri sejati, menjadi negarawan sejati, yang memiliki sipat kandel, winasis sebagai pribadi yang trewaca, waskita dan permana.
Sumber : Ki Sabda
Langganan:
Postingan (Atom)