Kamis, 25 November 2010

KUMPULAN RENUNGAN “GEDE PRAMA”

Salon yang Mempercantik Jiwa

Menyusul derasnya jumlah bencana yang menghadang di depan mata, dari tsunami, gunung meletus, bom teroris, lumpur panas, banjir, tanah longsor lengkap dengan jumlah korbannya yang tidak terhitung, tidak sedikit manusia yang bertanya: apakah Tuhan sedang marah? Sebuah pertanyaan sederhana, sekaligus menjadi warna dominan banyak wacana. Dan sebagaimana biasa, jawaban pun terbelah dua: ada yang menjawab positif, ada yang menjawab negatif.
Di Timur telah lama terdengar pendapat, kalau Tuhan penari maka alam adalah tarianNya. Bila demikian, adakah alam yang murka di mata pikiran manusia mencerminkan kemarahan Tuhan?. Entahlah, yang jelas pertanyaan terakhir mengingatkan pada cerita seorang sahabat pastur tentang seorang Ibu yang permennya dicuri puteranya Rio. Melihat puteranya mencuri, Ibu ini bertanya: ‘Rio, tidakkah kamu melihat Tuhan ketika mencuri permen mama?’. Dengan polos Rio menjawab: ‘lihat ma!’. Mendengar jawaban seperti ini, mamanya tambah marah, dan diikuti pertanyaan yang lebih emosi: ‘Tuhan bilang apa sama kamu Rio?’. Dasar seorang anak polos, Rio menjawab jujur: ‘boleh ambil dua!’.
Tentu saja ini cerita yang terbuka dari penafsiran. Dari salah satu sudut pandang terlihat, wajah Tuhan di kepala kita teramat tergantung pada kebersihan batin kita masing-masing. Dalam batin bersih seorang anak polos dan jujur seperti Rio, Tuhan berwajah pemaaf dan pemurah. Dalam batin yang mudah emosi dan curiga seperti mama Rio, wajah Tuhan menjadi pemarah dan penghukum. Hal serupa juga terjadi dalam cara Indonesia memandang bencana.
Tanpa menggunakan kerangka baik-buruk, benar-salah, suci-kotor, tinggi-rendah, banyak guru mengajarkan kalau manusia berada pada tingkat pertumbuhan masing-masing. Dimanapun tingkatannya, semua punya tugas yang sama: bertumbuh!. Tidak disarankan yang sudah sampai tingkatan SMU misalnya kemudian menghina yang baru sampai SD. Tidak juga disarankan kalau yang baru sampai SMP kemudian minder berlebihan pada mereka yang sudah sampai perguruan tinggi. Semuanya bertumbuh. Tidak ada jaminan yang sekarang SMA pasti lebih cepat sampai dibandingkan dengan yang sekarang baru SD misalnya.
Dengan spirit seperti ini, izinkanlah tulisan ini membagi pertumbuhan ke dalam empat pertumbuhan jiwa. Pertama mereka yang menjadi pedagang kehidupan dan pedagang doa. Jangankan dengan Tuhan, dengan siapa saja ia berdagang. Kalau permohonan tercapai maka Tuhan berwajah baik, kalau tidak dipenuhi apa lagi dihadang bencana maka Tuhan disebut marah. Dan dalam pandangan kelompok ini, bencana tidak lain hanyalah Tuhan yang murka pada ulah manusia. Tidak salah tentunya, karena ini bagian dari proses pertumbuhan.
Kelompok kedua adalah pencinta tingkat remaja. Ciri kelompok ini adalah rasa memiliki yang tinggi. Tidak boleh ada orang lain, hanya dia yang boleh dekat dan dicintai Tuhan. Cinta bagi kelompok ini, tidak ada pilihan lain kecuali menyayangi, memaafkan, membebaskan. Tidak dibolehkan. ada ekspresi dari cinta Tuhan selain menyayangi, memaafkan dan membebaskan. Begitu ada wajah cinta yang lain (lebih-lebih berwajah bencana), maka mudah ditebak kemana kehidupan bergerak: benci tapi rindu!. Ini asal muasal pertanyaan sejumlah sahabat yang luka ketika bencana, kemudian bertanya: Tuhan, masihkah Engkau menyayangiku?
Kelompok ketiga adalah pencinta tingkat dewasa. Cinta tidak lagi diikuti kebencian. Cinta adalah cinta. Ia tidak berlawankan kebencian. Lebih dari itu, berbeda dengan kelompok kedua yang menempatkan dicintai lebih indah dibandingkan dengan mencintai, pada tingkat ini terbalik: mencintai lebih indah dibandingkan dicintai. Sehingga bencana, bagi jiwa yang sudah sampai di sini, tidak ditempatkan sebagai hukuman, melainkan masukan tentang segi-segi di dalam diri yang perlu diperbaiki. Dengan kata lain, bencana adalah vitamin bagi bertumbuhnhya jiwa.
Kelompok keempat adalah jiwa yang tidak lagi mencari apa-apa. Bukan karena marah apalagi frustrasi. Sekali lagi bukan. Namun karena melalui rasa berkecukupan, ikhlas dan syukur yang mendalam kemudian dibimbing, kalau semuanya sudah sempurna. Sehat sempurna, sakit juga sempurna. Bukankah sakit yang mengajari menghargai kesehatan secara baik? Sukses sempurna, gagal juga sempurna. Bukankah kegagalan membimbing kita pada puncak kehidupan yang bernama tahu diri? Kehidupan sempurna, kematian juga sempurna. Bukankah kematian adalah mitra makna kehidupan yang membukakan pengertian kehidupan yang jauh lebih dalam? Kaya sempurna, miskin juga sempurna. Bukankah kemiskinan adalah pendidikan untuk tidak sombong dan senantiasa rendah hati? Sehingga dalam jiwa-jiwa yang sudah sampai di sini, tidak ada kamus bencana. Apapun yang terjadi diberi judul sama: sempurna!. 0rang Buddha menyebut ini Nirvana. Sebagian sahabat Islam dan Nasrani menyebutnya surga sebelum kematian. Sebagian orang Hindu menyebutnya maha samadhi. Dalam bahasa Confucius: ‘Bila bertemu orang baik tauladanilah. Jika bertemu orang jahat periksalah pikiran Anda sendiri’.
Kembali ke cerita awal tentang bencana dan Tuhan yang sedang marah, pilihan sikap yang diambil memang cermin pertumbuhan jiwa masing-masing. Seperti disebut sebelumnya, semuanya sedang bertumbuh. Penghakiman terhadap orang lain hanya menghambat pertumbuhan kita sendiri. Menyebut diri lebih baik, menempatkan orang kurang baik, hanya kesibukan ego yang meracuni pertumbuhan jiwa kemudian.
Dan bagi siapa saja yang sudah tumbuh menjadi pencinta tingkat dewasa, lebih-lebih sudah menjadi jiwa yang tidak lagi mencari, Indonesia tidak lagi berwajah negara bencana. Indonesia adalah salon yang mempercantik jiwa. Tanpa cobaan, bukankah kehidupan hanya berputar-putar di luar dan mudah terasa hambar? Bukankah dalam cobaan, dalam godaan, dalam guncangan, semua jiwa sedang digerakkan masuk ke dalam? Bukankah hanya di dalam sini jiwa bisa dibuat indah dan cantik? Seperti seorang wanita yang segar bugar keluar dari ruang olah raga, bukankah kesediaan untuk lelah sebentar (baca: digoda bencana sebentar) yang membuatnya jadi bugar? Maafkanlah tulisan ini ditutup dengan pertanyaan.

Kematian Juga Menawan

Sebelum Mahatma Gandhi berpidato di salah satu forum internasional di London, pendampingnya berpisik pelan sopan: “Mahatma, Anda belum menulis teks pidato”. Dengan senyum khas Gandhi menjawab: “My life is my true speech”. Hidupku adalah pidatoku yang sesungguhnya. Membaca pemberitaan meletusnya gunung Merapi 26-10-2010, alam seperti sedang berpidato ke kita semua. Dan diantara demikian banyak pesan Merapi, tidak ada yang lebih menyentuh hati ketika mengetahui juru kunci Merapi Mbah Maridjan wafat dalam posisi sujud.
Bila benar bahwa kematian adalah “pertempuran” spiritual menentukan, Mbah Maridjan terang benderang memperlihatkan bahwa beliau telah mengalami kemenangan spiritual. Disebut kemenangan karena kematian adalah simbolik alam yang paling ditakuti, bila ada yang bisa sujud hormat di depan kematian, sungguh ia menjadi kemenangan yang mengagumkan.
Kematian Sealami Daun jatuh
Bagi nyaris semua orang, kematian berwajah mengerikan. Perpisahan, kengerian, kesalahan itulah wajah yang digambar manusia kebanyakan tentang kematian. Amat manusiawi tentunya. Namun, di tangan pencari spiritual yang serius, tidak ada guru kehidupan yang lebih agung dari kematian. Karena ada kematian kemudian manusia belajar ikhlas, jauh dari kesombongan dan kecongkakan. Itu sebabnya, praktisi meditasi yang mendalam setiap hari melakukan meditasi kematian. Sebelum bangun dari meditasi, menyaksikan unsur tanah, air, api, udara dari tubuh ini kembali ke tempat asalnya melayani semua mahluk. Unsur tanah dari tubuh menyatu dengan tanah kemudian menghasilkan makanan buat para mahluk. Unsur air menyatu dengan air kemudian membuat para mahluk bisa minum.
Dalam logika sederhana, hari ketika manusia keluar dari kandungan Ibu sesungguhnya bukan awal kehidupan. Beberapa bulan sebelumnya manusia sudah lahir dalam bentuk pembuahan di kandungan Ibu. Sebelum pembuahan terjadi, sebagian dari diri kita ada di Ayah, sebagian lagi ada di Ibu. Sebelum Ayah dan Ibu lahir, keduanya ada dalam diri kakek dan nenek, dan seterusnya.
Bila hari kelahiran layak dipertanyakan sebagai awal, ia sama layaknya bila bertanya: apakah kematian adalah akhir?. Serupa dengan daun jatuh, ia memang mati sebagai daun namun melanjutkan tugas berikutnya sebagai pupuk. Dan beberapa waktu kemudian akan terlahir sebagai daun kembali. Mirip dengan gumpalan awan gelap, ketika hujan turun ia memang mati sebagai awan terlahir sebagai air. Namun di suatu waktu ia akan terlahir kembali sebagai awan.
Penderitaan terjadi ketika daun yang putaran waktunya sudah jatuh memaksa tetap bertahan di pohon, awan yang sudah saatnya berubah menjadi air ngotot bertahan sebagai awan. Tatkala putaran waktunya bencana menggoda, sebagian besar manusia ngotot kaku harus bahagia. Ini yang kerap disebut sebagai ketidakjernihan sebagai akar penderitaan.
Makanya, dalam meditasi pencapain diukur melalui tiga tingkatan pikiran: concentrated mind, unified mind, non-abiding mind. Pertama, pikiran mulai terkonsentrasi rapi. Bagi yang suka menggunakan obyek, pikiran seperti dipaku di satu tempat. Bagi yang menyenangi tanpa obyek, hanya senyum-senyum lembut pada setiap pengalaman yang muncul. Tanpa penghakiman, tanpa rasa bersalah. Kedua, ia yang lama istirahat dalam konsentrasi yang rapi suatu saat akan mengalami pengalaman kebersatuan. Sederhananya, bisa melihat dirinya di mana-mana. Di pohon, binatang, mineral, manusial, dll. Sesampai di sini, praktisi menjadi berhenti total menyakiti, amat rindu menyayangi. Karena ketika menyakiti orang sesungguhnya sedang menyakiti diri sendiri, saat menyayangi mahluk lain sesungguhnya sedang menyayangi diri sendiri.
Dan setelah lama menyatu, baru sadar ternyata tidak tersisa apa-apa (non-abiding mind). Anehnya, bila keheningan sebagaimana dimengerti orang kebanyakan menyisakan kebingungan (sepi, takut), di tingkatan ini keheningan itu mengagumkan. Serupa ruang, ia sepertinya tiada namun melimpahkan kasih sayang secara tidak terbatas. Terutama karena memberikan tempat pada apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh. Guru seperti Mbah Maridjan mengajarkan, ia yang bisa sujud di depan kematian batinnya sudah seluas ruang. Bila bisa memberikan ruang pada kematian, maka pasti bisa memberikan ruang pada yang lain. Inilah kematian yang menawan. Tanpa perlawanan, tanpa keluhan, tanpa ketakutan. Ia sealami daun jatuh, senatural awan yang berubah menjadi hujan.
Puncak Doa
Ada berbagai jenis manusia dalam berdoa. Apa pun bentuknya, semua berdoa untuk keselamatan, kesehatan, kebahagiaan. Namun, sudah menjadi sejarah doa sejak dulu, tidak semua doa terpenuhi. Kendati berdoa untuk keselamatan, sebagian manusia tidak selamat. Belajar dari sini, pencari sejati menghentikan segala bentuk doa yang dipenuhi permintaan. Pertama, ia sejenis perdagangan yang kotor dari keinginan. Kedua, cara doa seperti ini membuat subyek doa dan obyeknya terpisah. Ketiga, karena masih dua (belum menyatu, apa lagi lebur dalam keheningan), maka kemungkinan doa ini banyak kecewanya.
Untuk itu, penekun spiritual serius kemudian mendekati doa secara berbeda. Titik berangkatnya sederhana, manusia ada di dalam Tuhan, Tuhan ada di dalam manusia. Buddha menjadi yang disembah, sekaligus menjadi yang menyembah. Dari sini, doa mengingatkan kita tentang kualitas-kualitas mulya yang sudah bersemayam di dalam. Ada Tuhan, ada Buddha di dalam sehingga sangat hati-hati dalam keseharian. Jangankan berkata-kata kasar, menghina orang, berjalan di bawah jemuran saja rasanya tidak rela.
Berbekalkan ini, tubuh, kata-kata, pikiran sebagai kendaraan doa kemudian disatukan (bukannya terpencar) melalui praktek kesadaran. Kesadaran adalah sejenis cahaya terang di dalam. Tatkala cahaya di dalam berjumpa cahaya di luar sebagai tanda munculnya guru rahasia, kegelapan ketidakjernihan, keserakahan, kedengkian lenyap. Akibatnya, kegelapan ketakutan (termasuk ketakutan akan kematian) menghilang, menyisakan hanya kerinduan berbagi kasih sayang.
Dalam terang pemahaman ini, mudah dipahami bila Milarepa pernah berpesan death is not death for a yogi, it’s just a little enlightenment. Di tangan pencari tingkat tinggi seperti Milarepa dan Mbah Maridjan, kematian tidak diikuti oleh ketakutan. Kematian hanya pengalaman kecil yang mencerahkan. Inilah puncak doa. Mungkin itu sebabnya Mbah Maridjan mengungkapkan kasih sayangnya di saat kematian melalui sebuah pesan simbolik : “wafat dalam posisi bersujud”. Dengan mengucapkan maaf mendalam (deep bow) kepada seluruh sahabat yang marah serta tersinggung oleh wafatnya Mbah Maridjan, izinkan babu seperti saya mengucapkan hormat sambil merunduk: “Matur nuwun sanget Mbah, semoga semua mahluk berbahagia”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar