Musim/jaman sudah semakin komplit
Kosa katapun sudah semakin kompleks sarat dengan ribuan makna yang selalu berkembang.
Olah pikir, cipta karsa manusiapun semakin canggih
Rasa Ke -AKUAN - pun semakin terbentuk
Pepatah : WONG JOWO ILANG JAWANE yo wis memper.
Wong wis ora rikuh pakewuh (banyak yg menilai negatif rikuh pakewuh) tetapi dengan hilangnya rikuh pakewuh maka orang akan senang bila dikatakan yang "PALING".
Sebagian besar wis merasa "SING PALING" (Bener, Pinter, Cerdas, Bersih.... dst)
Padahal jelas-jelas Menungsa (manusia) --> tempatnya salah dan lupa.
====== Sang Penciptalah sang Maha Segala Maha (ora ono sing nglewihi)========
Tapi apa yang terjadi, rata-rata sudah lupa dengan point di atas.
Monggo tambahan untuk renungan.
Rabu, 09 Februari 2011
Minggu, 02 Januari 2011
Menjadi Manusia yang Pandai Bersyukur
Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham
Ketika kita menggemakan takbir-terutama saat berhari raya-tersirat pemahaman bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah Mahabesar, sementara kita yang diciptakannya adalah kecil. Kita hina dan tak punya daya dan kekuatan untuk berkiprah, kecuali karena kemurahan dan kebesaran Allah. Karena itu, ketika kita telah merampungkan sebuah perjuangan (baca; Ramadhan), maka perbanyaklah takbir.
“Dan hendaklah bertakbir atas anugerah yang telah Allah berikan. Semoga kalian menjadi hamba-Nya yang bersyukur.” (QS al-Baqarah [2]: 185). Ayat ini merupakan satu rangkaian dengan perintah puasa (QS [2]: 183).
Ramadhan mencetak kita menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Dan orang yang bertakwa, akan senantiasa mengingat kebesaran Allah, termasuk semua nikmat yang telah diberikan kepadanya.
Di lidah ia mengucapkan kalimat takbir, dalam amal perbuatan ia menerjemahkannya dengan rasa syukur. Karena itu, menjadi pribadi yang bertakwa belum cukup bila tidak dibarengi dengan pribadi yang bersyukur. Kenapa? Karena maqam syukur lebih tinggi dari maqam takwa. Sebab, syukur menjadi maqam-nya para nabi dan rasul. Karenanya, Allah menegaskan, hanya sedikit dari hamba-Nya yang pandai bersukur (QS Saba [34]: 13).
Syukur merupakan satu stasiun hati yang akan menarik seseorang pada zona damai, tenteram, dan bahagia. Ia juga akan mendapatkan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat, sekaligus mendapatkan insentif pahala dan kenikmatan yang terus bertambah dari Allah SWT (QS Ibrahim [14:] 7).
Rasul SAW adalah manusia yang pandai bersyukur. Suatu ketika, beliau pernah ditanya Bilal, “Apakah yang menyebabkan baginda menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa baginda, baik yang dahulu maupun yang akan datang?” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau suka aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”
Dzunnun al-Mishri memberi tiga gambaran tentang manifestasi syukur dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, kepada yang lebih tinggi urutan dan kedudukannya, maka ia senantiasa menaatinya (bit-tha’ah). “Hai orang-orang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara kalian …” (QS an-Nisa [4]: 59).
Kedua, kepada yang setara, kita mengejawantahnya dengan bil-hadiyyah. Saling tukar pemberian. Kita harus sering-sering memberi hadiah kepada istri atau suami, saudara, teman seperjuangan, sejawat dan relasi. Dengan cara itu, maka akan ada saling cinta dan kasih.
Ketiga, kepada yang lebih bawah dan rendah dari kita, rasa syukur dimanifestasikan dengan bil-ihsan. Selalu memberi dan berbuat yang terbaik. Kepada anak, adik-adik, anak didik, para pegawai, buruh, pembantu di rumah dan semua yang stratanya di bawah kita, haruslah kita beri sesuatu yang lebih baik. Jalinlah komunikasi dan berinteraksilah dengan baik, dan kalau hendak men-tasharuf-kan rezeki, berikan dengan sesuatu yang baik (QS as-Syu’ara [26]: 215 dan al-Baqarah [2]:195). Wallahu a’lam
Ketika kita menggemakan takbir-terutama saat berhari raya-tersirat pemahaman bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah Mahabesar, sementara kita yang diciptakannya adalah kecil. Kita hina dan tak punya daya dan kekuatan untuk berkiprah, kecuali karena kemurahan dan kebesaran Allah. Karena itu, ketika kita telah merampungkan sebuah perjuangan (baca; Ramadhan), maka perbanyaklah takbir.
“Dan hendaklah bertakbir atas anugerah yang telah Allah berikan. Semoga kalian menjadi hamba-Nya yang bersyukur.” (QS al-Baqarah [2]: 185). Ayat ini merupakan satu rangkaian dengan perintah puasa (QS [2]: 183).
Ramadhan mencetak kita menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Dan orang yang bertakwa, akan senantiasa mengingat kebesaran Allah, termasuk semua nikmat yang telah diberikan kepadanya.
Di lidah ia mengucapkan kalimat takbir, dalam amal perbuatan ia menerjemahkannya dengan rasa syukur. Karena itu, menjadi pribadi yang bertakwa belum cukup bila tidak dibarengi dengan pribadi yang bersyukur. Kenapa? Karena maqam syukur lebih tinggi dari maqam takwa. Sebab, syukur menjadi maqam-nya para nabi dan rasul. Karenanya, Allah menegaskan, hanya sedikit dari hamba-Nya yang pandai bersukur (QS Saba [34]: 13).
Syukur merupakan satu stasiun hati yang akan menarik seseorang pada zona damai, tenteram, dan bahagia. Ia juga akan mendapatkan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat, sekaligus mendapatkan insentif pahala dan kenikmatan yang terus bertambah dari Allah SWT (QS Ibrahim [14:] 7).
Rasul SAW adalah manusia yang pandai bersyukur. Suatu ketika, beliau pernah ditanya Bilal, “Apakah yang menyebabkan baginda menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa baginda, baik yang dahulu maupun yang akan datang?” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau suka aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”
Dzunnun al-Mishri memberi tiga gambaran tentang manifestasi syukur dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, kepada yang lebih tinggi urutan dan kedudukannya, maka ia senantiasa menaatinya (bit-tha’ah). “Hai orang-orang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara kalian …” (QS an-Nisa [4]: 59).
Kedua, kepada yang setara, kita mengejawantahnya dengan bil-hadiyyah. Saling tukar pemberian. Kita harus sering-sering memberi hadiah kepada istri atau suami, saudara, teman seperjuangan, sejawat dan relasi. Dengan cara itu, maka akan ada saling cinta dan kasih.
Ketiga, kepada yang lebih bawah dan rendah dari kita, rasa syukur dimanifestasikan dengan bil-ihsan. Selalu memberi dan berbuat yang terbaik. Kepada anak, adik-adik, anak didik, para pegawai, buruh, pembantu di rumah dan semua yang stratanya di bawah kita, haruslah kita beri sesuatu yang lebih baik. Jalinlah komunikasi dan berinteraksilah dengan baik, dan kalau hendak men-tasharuf-kan rezeki, berikan dengan sesuatu yang baik (QS as-Syu’ara [26]: 215 dan al-Baqarah [2]:195). Wallahu a’lam
Jadilah Engkau Ahlul Mujahadah
Ibnu Qayyim Al-Jauzi mengatakan, orang-orang yang berhak mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ itu, tidak mudah. Tentu untuk mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ itu memerlukan mujahadah dan tajarrud (totalitas). Mujahadah dengan segala jiwa dan raganya agar mencapai maqam yang hendak dituju. Tidak mungkin hanya dapat dicapai dengan bentuk raganya, tanpa jiwa dan bathinnya ikut bermujahadah.
Diantaranya, golongan pertama yang berpendapat, bahwa ibadah yang paling utama dan paling bermanfaat, ialah yang paling berat dan paling sulit atas jiwa. “Karena ia paling jauh dari hawa nafsu, dan merupakan hakikat ta’abud. Pahala diberikan berdasarkan kadar kesulitannya.” Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadist, “Amal yang paling utama ialah yang paling sulit dan paling melarat.”
Mereka ini adalah ahlul mujahadah dan orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Di tengah-tengah beratnya godaan, yang terus-menerus dialami dengan segala bentuknya, dan mereka dapat selamat dari semua godaan, tanpa sedikitpun tersentuh oleh godaan dan hawa nafsu yang datang dari setan. Golongan ini, berkata, “Sesungguhnya jiwa hanya dapat lurus dengan ibadah yang sulit dan berat, karena jiwa mempunyai karakter malas, dan menyukai kerendahan dan kehinaan. Ia tidak dapat menjadi lurus, kecuali dengan melakukan hal-hal yang berat dan memikul kesulitan.”
Meninggalkan segala kenikmatan, kemewahan, angan-angan akan keindahan dunia, harta yang banyak , semuanya harus dipupus. Selain itu, harus meninggalkan orang-orang yang selalu menawarkan kenikmatan, keindahan, pangkat, serta buaian wanita-wanita yang cantik, dan dengan segala bujukan keindahan dan kenikmatan yang selalu ditawarkannya. Semuanya itu hanyalah akan mendera jiwa dan bathinnya,dan tak akan dapat membuat dirinya mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budi wa Iyyaka Nata’in”.
Tidak mungkin dapat mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ bagi jiwa dan bathin orang-orang yang terus menerus hidupnya dipenuhi dengan khayalan dan dikotori oleh kehidupan dunia, yang tidak pernah henti-henti. Kehidupan dunia hanyalah ambisi orang-orang yang lalai, dan tidak menyukai maqam ‘Iyyaka Na’budu”, karena hakikatnya mereka tidak lagi mempercayai janji dari Allah Azza Wa Jalla. Mereka ini hanyalah menjadi budak dunia, dan kemudian berwala’ (memberikan loyalitasnya) kepada hamba-hamba setan.
Bagi mereka yang menginginkan maqam ‘Iyyaka Na’budu’, hanya dapat dicapai dengan melakukan hal-hal yang berat dan memikul kesulitan. Kesulitan dan beban berat yang harus dipikul, pasti akan bermunculan dalam kehidupan ini, terutama bagi mereka yang ingin mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’, karena tantangan dalam kehidupan jahiliyah, yang tak lagi mengenal batas-batas, yang sudah ditetapkan dalam Qur’an dan Sunnah. Kencintaan pada hawa nafsunya telah membawa mereka meninggalkan segala kebaikan yang bersifat fitrah yang diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla kepada mereka.
Bagi mereka yang ingin menggapai maqam ‘Iyyaka Na’budu”, orientasi hidup mereka hanyalah mencari ridho Allah. Tidak mencari ridho makhluk termasuk manusia. Ketika, ibadah utama di masa jihad adalah mengutamakan jihad, dan meninggalkan wirid-wirid, seperti shalat malam, dan puasa sunah pada siang hari, bahkan sampai meninggalkan kesempurnaan shalat fardhu seperti dalam kondisi aman. Mereka pergi berjihad di jalan Allah Rabbul Alamin.
Karena mereka tahu bagi mereka yang memiliki maqam ‘Iyyaka Na’budu’, nilai berjihad itu lebih utama, dan akan janji Allah Azza Wa Jalla, di mana akan memasukkan ke dalam surga-Nya, tanpa melalui hisab, bagi mereka yang mati syahid. Betapa indahnya kehidupan bakal digapai kelak di akhirat.
Bagi mereka yang ingin mendapatkan maqam ‘Iyyaka Na’budi’, lebih menyukai bangun malam, melakukan shalatul lail, membaca Qur’an, berdo’a, berdzikir, beristighfar, meninggalkan segala urusan saat datangnya adzan, melaksanakan shalat fardhu dengan penuh ikhlas, dan pergi ke masjid-masjid shalat berjamaah. Mereka tetap shalat berjamaah dalam kondisi apapun. Tidak sekali-kali masbukh. Masjid sebagai ‘Baitullah’ lebih utama dari segalanya. Tidak berarti apapun baginya, kecuali hanya masjid yang berharga bagi kehidupannya, di mana setiap saat sesuai dengan ketentuan Rabbnya, dan selalu melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.
Saat orang-orang membutuhkan pertolongan baik jabatan, fisik, maupun harta, maka ia akan segera memberikan pertolongan, dan berpikir panjang tentang pribadinya, dan mensegerakan kepentingan dari saudaranya yang tertimpa musibah.
Ketika membaca Qur’an, tak ada lagi yang diingatnya, karena Qur’an itu adalah ‘Kalamullah’, dan membaca dengan sepenuh hati, memahami makna-maknanya, dan berjanji melaksanakan semua perintah-Nya. Seperti generasi Salaf, yang terus melaksanakan apa saja, yang diperintahkan oleh Allah Azza Wa Jalla, sehingga mereka mendapatkan kemuliaan dan kejayaan.
Ketika, menjelang hari terakhir di bulan Ramadhan, ia tinggalkan semunya, dan beri’tikaf di masjid-masjid, dan hanya mengharapkan datangnya maghfirah dari Rabbnya. Tidak lagi menyibukkan diri dengan kehidupan dunia, yang justru akan merusak hari terakhir puasa, yang akan membawanya kepada golongan muttaqin.
Mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ sebuah perjuangan yang sangat berat bagi manusia. Karena manusia selalu digoda oleh hawa nafsunya, dan sifat malasnya untuk melakukan kebaikan dan mencintai Rabbnya.
Manusia jahiliyah hidupnya hanyalah dipenuhi dengan berebut sekerat kehidupan dunia, yang diakhirat menjadikan mereka golongan yang merugi. Wallahu’alam.
~ Ustadz Mashadi ~ sumber: eramuslim.com
Diantaranya, golongan pertama yang berpendapat, bahwa ibadah yang paling utama dan paling bermanfaat, ialah yang paling berat dan paling sulit atas jiwa. “Karena ia paling jauh dari hawa nafsu, dan merupakan hakikat ta’abud. Pahala diberikan berdasarkan kadar kesulitannya.” Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadist, “Amal yang paling utama ialah yang paling sulit dan paling melarat.”
Mereka ini adalah ahlul mujahadah dan orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Di tengah-tengah beratnya godaan, yang terus-menerus dialami dengan segala bentuknya, dan mereka dapat selamat dari semua godaan, tanpa sedikitpun tersentuh oleh godaan dan hawa nafsu yang datang dari setan. Golongan ini, berkata, “Sesungguhnya jiwa hanya dapat lurus dengan ibadah yang sulit dan berat, karena jiwa mempunyai karakter malas, dan menyukai kerendahan dan kehinaan. Ia tidak dapat menjadi lurus, kecuali dengan melakukan hal-hal yang berat dan memikul kesulitan.”
Meninggalkan segala kenikmatan, kemewahan, angan-angan akan keindahan dunia, harta yang banyak , semuanya harus dipupus. Selain itu, harus meninggalkan orang-orang yang selalu menawarkan kenikmatan, keindahan, pangkat, serta buaian wanita-wanita yang cantik, dan dengan segala bujukan keindahan dan kenikmatan yang selalu ditawarkannya. Semuanya itu hanyalah akan mendera jiwa dan bathinnya,dan tak akan dapat membuat dirinya mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budi wa Iyyaka Nata’in”.
Tidak mungkin dapat mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ bagi jiwa dan bathin orang-orang yang terus menerus hidupnya dipenuhi dengan khayalan dan dikotori oleh kehidupan dunia, yang tidak pernah henti-henti. Kehidupan dunia hanyalah ambisi orang-orang yang lalai, dan tidak menyukai maqam ‘Iyyaka Na’budu”, karena hakikatnya mereka tidak lagi mempercayai janji dari Allah Azza Wa Jalla. Mereka ini hanyalah menjadi budak dunia, dan kemudian berwala’ (memberikan loyalitasnya) kepada hamba-hamba setan.
Bagi mereka yang menginginkan maqam ‘Iyyaka Na’budu’, hanya dapat dicapai dengan melakukan hal-hal yang berat dan memikul kesulitan. Kesulitan dan beban berat yang harus dipikul, pasti akan bermunculan dalam kehidupan ini, terutama bagi mereka yang ingin mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’, karena tantangan dalam kehidupan jahiliyah, yang tak lagi mengenal batas-batas, yang sudah ditetapkan dalam Qur’an dan Sunnah. Kencintaan pada hawa nafsunya telah membawa mereka meninggalkan segala kebaikan yang bersifat fitrah yang diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla kepada mereka.
Bagi mereka yang ingin menggapai maqam ‘Iyyaka Na’budu”, orientasi hidup mereka hanyalah mencari ridho Allah. Tidak mencari ridho makhluk termasuk manusia. Ketika, ibadah utama di masa jihad adalah mengutamakan jihad, dan meninggalkan wirid-wirid, seperti shalat malam, dan puasa sunah pada siang hari, bahkan sampai meninggalkan kesempurnaan shalat fardhu seperti dalam kondisi aman. Mereka pergi berjihad di jalan Allah Rabbul Alamin.
Karena mereka tahu bagi mereka yang memiliki maqam ‘Iyyaka Na’budu’, nilai berjihad itu lebih utama, dan akan janji Allah Azza Wa Jalla, di mana akan memasukkan ke dalam surga-Nya, tanpa melalui hisab, bagi mereka yang mati syahid. Betapa indahnya kehidupan bakal digapai kelak di akhirat.
Bagi mereka yang ingin mendapatkan maqam ‘Iyyaka Na’budi’, lebih menyukai bangun malam, melakukan shalatul lail, membaca Qur’an, berdo’a, berdzikir, beristighfar, meninggalkan segala urusan saat datangnya adzan, melaksanakan shalat fardhu dengan penuh ikhlas, dan pergi ke masjid-masjid shalat berjamaah. Mereka tetap shalat berjamaah dalam kondisi apapun. Tidak sekali-kali masbukh. Masjid sebagai ‘Baitullah’ lebih utama dari segalanya. Tidak berarti apapun baginya, kecuali hanya masjid yang berharga bagi kehidupannya, di mana setiap saat sesuai dengan ketentuan Rabbnya, dan selalu melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.
Saat orang-orang membutuhkan pertolongan baik jabatan, fisik, maupun harta, maka ia akan segera memberikan pertolongan, dan berpikir panjang tentang pribadinya, dan mensegerakan kepentingan dari saudaranya yang tertimpa musibah.
Ketika membaca Qur’an, tak ada lagi yang diingatnya, karena Qur’an itu adalah ‘Kalamullah’, dan membaca dengan sepenuh hati, memahami makna-maknanya, dan berjanji melaksanakan semua perintah-Nya. Seperti generasi Salaf, yang terus melaksanakan apa saja, yang diperintahkan oleh Allah Azza Wa Jalla, sehingga mereka mendapatkan kemuliaan dan kejayaan.
Ketika, menjelang hari terakhir di bulan Ramadhan, ia tinggalkan semunya, dan beri’tikaf di masjid-masjid, dan hanya mengharapkan datangnya maghfirah dari Rabbnya. Tidak lagi menyibukkan diri dengan kehidupan dunia, yang justru akan merusak hari terakhir puasa, yang akan membawanya kepada golongan muttaqin.
Mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ sebuah perjuangan yang sangat berat bagi manusia. Karena manusia selalu digoda oleh hawa nafsunya, dan sifat malasnya untuk melakukan kebaikan dan mencintai Rabbnya.
Manusia jahiliyah hidupnya hanyalah dipenuhi dengan berebut sekerat kehidupan dunia, yang diakhirat menjadikan mereka golongan yang merugi. Wallahu’alam.
~ Ustadz Mashadi ~ sumber: eramuslim.com
Selasa, 28 Desember 2010
Kehidupan nyanyian
Karena tahu bahaya dikacaukan pikiran, penekun kejernihan memilih terserap dalam-dalam (menyatu) dengan kekinian, kemudian mendengarkan kehidupan sebagai nyanyian (”0lala”). Nyanyian kehidupan serupa langit, ada saatnya terang benderang cerah bercahaya (baca: bersih jernih). Ada kala kelam ditutupi awan gelap (kesedihan). Di waktu lain, langit dibungkus awan putih (kebahagiaan). Namun, awan gelap tak membuat langit jadi hitam. Awan putih tak membuat langit jadi putih. Apa pun yang terjadi, langit tetap biru. Dalam meditasi, ini disebut pencerahan.
Ciri pertama, batin sudah bangun dari tidur panjang (the awakened mind). Terlalu lama batin tidur lelap bersama gonjang-ganjing pikiran. Seolah-olah gonjang-ganjing pikiran itulah kehidupan. Ciri kedua, muncul rasa lapar untuk berbakti kepada yang di atas (devotion), serta berbagi welas asih kepada semua makhluk (infinite compassion). Bagi yang telah sampai di sini mengerti, kebahagiaan tak melakukan penambahan, kesedihan tak melakukan pengurangan. Demi kasih sayang kepada semua makhluk, nyanyian suci kehidupan tetap harus didendangkan.
Jalalludin Rumi punya puisi bagus sekali: ”Kehidupan serupa tinggal di losmen. Setiap hari tamunya berganti. Tapi siapa pun tamunya, jangan lupa selalu tersenyum”. Thich Nhat Hanh menyebut keadaan batin seperti ini present moment wonderful moment. Bila manusia kebanyakan hanya berbahagia jika menjadi majikan, Santo Fransiscus dari Asisi justru damai tatkala menjadi pelayan. Dalam bahasa kebanyakan, orang-orang seperti ini disebut ”berkorban”. Namun, bagi yang melaksanakan, mereka merasa damai sekali menjaga keseimbangan alam. Kadang disebut menyatu dengan nyanyian alam. Di tengah miliaran manusia yang hanya mau menang, harus ada yang mengambil kekalahan. Dalam arus zaman yang mengagungkan kemewahan, harus ada yang mengenakan baju kesederhanaan. Ketika kehidupan bergejolak seperti samudra keriuhan, mesti ada yang istirahat dalam keheningan.
Inti jalan ini hanya satu, melihat, melakoni, mengakhiri kehidupan dengan keindahan. Inilah kehidupan sebagai kidung (nyanyian) suci. Siapa saja yang senantiasa terserap jadi satu ke dalam kekinian, ia akan melihat keindahan di mana-mana.
Makanya tetua Jawa (ditiru tetua Bali) di pekarangan rumahnya sering menanam sawo kecik. Dalam bahasa Bali diterjemahkan menjadi sarwa becik (semuanya baik). Harapannya agar setiap manusia yang bertumbuh di rumah bisa melihat bahwa semuanya baik. Karena demikianlah, orang-orang yang memperlakukan kehidupan sebagai nyanyian suci mengisi kesehariannya dengan praktik kesadaran dan keindahan. Bangun tidur sebagai contoh, dimulai dengan bergumam pelan: ”Hidup adalah sebuah pilihan lengkap dengan konsekuensinya. Bila memilih kemarahan, penderitaan akibatnya. Jika mengisi kehidupan dengan welas asih, maka kebahagiaan hadiahnya”.
Membuka pintu sebagai contoh lain, kelompok ini akan melafalkan renungan: ”Pikiran berisi terlalu banyak burung riuh bernyanyi. Tuhan ditabrakkan dengan setan, orang baik dimusuhkan dengan orang munafik. Dengan membuka pintu ini, biarlah burung-burung riuh itu lepas ke angkasa. Menyisakan batin sunyi-sepi yang menyentuh hati”. Bila dilanda sial, ia akan memanggil guru di dalam diri: ”Guru terima kasih terus-menerus membimbing. Dalam sukacita guru sedang memotivasi. Dalam dukacita guru sedang mengajarkan untuk selalu rendah hati”.
Dalam kehidupan yang diisi praktik kesadaran mendalam, semua tempat jadi tempat suci. Semua suara (termasuk pujian dan cacian) jadi mantra suci. Semua ciptaan jadi makhluk suci.
Sebagai hasil dari praktik mendalam seperti ini, manusia tak saja bisa tersenyum dengan bibir, juga bisa tersenyum dengan mata (baca: memandang semua dengan senyuman). Kadang ada yang menyebutnya memandang kehidupan dengan pandangan mendalam karena penuh pengertian dan permakluman. Hidup sesungguhnya serangkaian kidung suci. Cuma, semakin lama semakin sedikit yang menyanyikan kidung suci kehidupan. Dan di tengah hamparan samudra tangisan di mana-mana (bencana alam, bom teroris, bunuh diri, kriminalitas, korupsi, dan lain-lain), alangkah menyejukkan bila sebagian pojokan kehidupan mendendangkan nyanyian.
http://gedeprama.blogdetik.com/2010/10/01/pencerahan-dalam-perjalanan/
Oleh: Gede Prama
Ciri pertama, batin sudah bangun dari tidur panjang (the awakened mind). Terlalu lama batin tidur lelap bersama gonjang-ganjing pikiran. Seolah-olah gonjang-ganjing pikiran itulah kehidupan. Ciri kedua, muncul rasa lapar untuk berbakti kepada yang di atas (devotion), serta berbagi welas asih kepada semua makhluk (infinite compassion). Bagi yang telah sampai di sini mengerti, kebahagiaan tak melakukan penambahan, kesedihan tak melakukan pengurangan. Demi kasih sayang kepada semua makhluk, nyanyian suci kehidupan tetap harus didendangkan.
Jalalludin Rumi punya puisi bagus sekali: ”Kehidupan serupa tinggal di losmen. Setiap hari tamunya berganti. Tapi siapa pun tamunya, jangan lupa selalu tersenyum”. Thich Nhat Hanh menyebut keadaan batin seperti ini present moment wonderful moment. Bila manusia kebanyakan hanya berbahagia jika menjadi majikan, Santo Fransiscus dari Asisi justru damai tatkala menjadi pelayan. Dalam bahasa kebanyakan, orang-orang seperti ini disebut ”berkorban”. Namun, bagi yang melaksanakan, mereka merasa damai sekali menjaga keseimbangan alam. Kadang disebut menyatu dengan nyanyian alam. Di tengah miliaran manusia yang hanya mau menang, harus ada yang mengambil kekalahan. Dalam arus zaman yang mengagungkan kemewahan, harus ada yang mengenakan baju kesederhanaan. Ketika kehidupan bergejolak seperti samudra keriuhan, mesti ada yang istirahat dalam keheningan.
Inti jalan ini hanya satu, melihat, melakoni, mengakhiri kehidupan dengan keindahan. Inilah kehidupan sebagai kidung (nyanyian) suci. Siapa saja yang senantiasa terserap jadi satu ke dalam kekinian, ia akan melihat keindahan di mana-mana.
Makanya tetua Jawa (ditiru tetua Bali) di pekarangan rumahnya sering menanam sawo kecik. Dalam bahasa Bali diterjemahkan menjadi sarwa becik (semuanya baik). Harapannya agar setiap manusia yang bertumbuh di rumah bisa melihat bahwa semuanya baik. Karena demikianlah, orang-orang yang memperlakukan kehidupan sebagai nyanyian suci mengisi kesehariannya dengan praktik kesadaran dan keindahan. Bangun tidur sebagai contoh, dimulai dengan bergumam pelan: ”Hidup adalah sebuah pilihan lengkap dengan konsekuensinya. Bila memilih kemarahan, penderitaan akibatnya. Jika mengisi kehidupan dengan welas asih, maka kebahagiaan hadiahnya”.
Membuka pintu sebagai contoh lain, kelompok ini akan melafalkan renungan: ”Pikiran berisi terlalu banyak burung riuh bernyanyi. Tuhan ditabrakkan dengan setan, orang baik dimusuhkan dengan orang munafik. Dengan membuka pintu ini, biarlah burung-burung riuh itu lepas ke angkasa. Menyisakan batin sunyi-sepi yang menyentuh hati”. Bila dilanda sial, ia akan memanggil guru di dalam diri: ”Guru terima kasih terus-menerus membimbing. Dalam sukacita guru sedang memotivasi. Dalam dukacita guru sedang mengajarkan untuk selalu rendah hati”.
Dalam kehidupan yang diisi praktik kesadaran mendalam, semua tempat jadi tempat suci. Semua suara (termasuk pujian dan cacian) jadi mantra suci. Semua ciptaan jadi makhluk suci.
Sebagai hasil dari praktik mendalam seperti ini, manusia tak saja bisa tersenyum dengan bibir, juga bisa tersenyum dengan mata (baca: memandang semua dengan senyuman). Kadang ada yang menyebutnya memandang kehidupan dengan pandangan mendalam karena penuh pengertian dan permakluman. Hidup sesungguhnya serangkaian kidung suci. Cuma, semakin lama semakin sedikit yang menyanyikan kidung suci kehidupan. Dan di tengah hamparan samudra tangisan di mana-mana (bencana alam, bom teroris, bunuh diri, kriminalitas, korupsi, dan lain-lain), alangkah menyejukkan bila sebagian pojokan kehidupan mendendangkan nyanyian.
http://gedeprama.blogdetik.com/2010/10/01/pencerahan-dalam-perjalanan/
Oleh: Gede Prama
Kamis, 25 November 2010
KUMPULAN RENUNGAN “GEDE PRAMA”
Salon yang Mempercantik Jiwa
Menyusul derasnya jumlah bencana yang menghadang di depan mata, dari tsunami, gunung meletus, bom teroris, lumpur panas, banjir, tanah longsor lengkap dengan jumlah korbannya yang tidak terhitung, tidak sedikit manusia yang bertanya: apakah Tuhan sedang marah? Sebuah pertanyaan sederhana, sekaligus menjadi warna dominan banyak wacana. Dan sebagaimana biasa, jawaban pun terbelah dua: ada yang menjawab positif, ada yang menjawab negatif.
Di Timur telah lama terdengar pendapat, kalau Tuhan penari maka alam adalah tarianNya. Bila demikian, adakah alam yang murka di mata pikiran manusia mencerminkan kemarahan Tuhan?. Entahlah, yang jelas pertanyaan terakhir mengingatkan pada cerita seorang sahabat pastur tentang seorang Ibu yang permennya dicuri puteranya Rio. Melihat puteranya mencuri, Ibu ini bertanya: ‘Rio, tidakkah kamu melihat Tuhan ketika mencuri permen mama?’. Dengan polos Rio menjawab: ‘lihat ma!’. Mendengar jawaban seperti ini, mamanya tambah marah, dan diikuti pertanyaan yang lebih emosi: ‘Tuhan bilang apa sama kamu Rio?’. Dasar seorang anak polos, Rio menjawab jujur: ‘boleh ambil dua!’.
Tentu saja ini cerita yang terbuka dari penafsiran. Dari salah satu sudut pandang terlihat, wajah Tuhan di kepala kita teramat tergantung pada kebersihan batin kita masing-masing. Dalam batin bersih seorang anak polos dan jujur seperti Rio, Tuhan berwajah pemaaf dan pemurah. Dalam batin yang mudah emosi dan curiga seperti mama Rio, wajah Tuhan menjadi pemarah dan penghukum. Hal serupa juga terjadi dalam cara Indonesia memandang bencana.
Tanpa menggunakan kerangka baik-buruk, benar-salah, suci-kotor, tinggi-rendah, banyak guru mengajarkan kalau manusia berada pada tingkat pertumbuhan masing-masing. Dimanapun tingkatannya, semua punya tugas yang sama: bertumbuh!. Tidak disarankan yang sudah sampai tingkatan SMU misalnya kemudian menghina yang baru sampai SD. Tidak juga disarankan kalau yang baru sampai SMP kemudian minder berlebihan pada mereka yang sudah sampai perguruan tinggi. Semuanya bertumbuh. Tidak ada jaminan yang sekarang SMA pasti lebih cepat sampai dibandingkan dengan yang sekarang baru SD misalnya.
Dengan spirit seperti ini, izinkanlah tulisan ini membagi pertumbuhan ke dalam empat pertumbuhan jiwa. Pertama mereka yang menjadi pedagang kehidupan dan pedagang doa. Jangankan dengan Tuhan, dengan siapa saja ia berdagang. Kalau permohonan tercapai maka Tuhan berwajah baik, kalau tidak dipenuhi apa lagi dihadang bencana maka Tuhan disebut marah. Dan dalam pandangan kelompok ini, bencana tidak lain hanyalah Tuhan yang murka pada ulah manusia. Tidak salah tentunya, karena ini bagian dari proses pertumbuhan.
Kelompok kedua adalah pencinta tingkat remaja. Ciri kelompok ini adalah rasa memiliki yang tinggi. Tidak boleh ada orang lain, hanya dia yang boleh dekat dan dicintai Tuhan. Cinta bagi kelompok ini, tidak ada pilihan lain kecuali menyayangi, memaafkan, membebaskan. Tidak dibolehkan. ada ekspresi dari cinta Tuhan selain menyayangi, memaafkan dan membebaskan. Begitu ada wajah cinta yang lain (lebih-lebih berwajah bencana), maka mudah ditebak kemana kehidupan bergerak: benci tapi rindu!. Ini asal muasal pertanyaan sejumlah sahabat yang luka ketika bencana, kemudian bertanya: Tuhan, masihkah Engkau menyayangiku?
Kelompok ketiga adalah pencinta tingkat dewasa. Cinta tidak lagi diikuti kebencian. Cinta adalah cinta. Ia tidak berlawankan kebencian. Lebih dari itu, berbeda dengan kelompok kedua yang menempatkan dicintai lebih indah dibandingkan dengan mencintai, pada tingkat ini terbalik: mencintai lebih indah dibandingkan dicintai. Sehingga bencana, bagi jiwa yang sudah sampai di sini, tidak ditempatkan sebagai hukuman, melainkan masukan tentang segi-segi di dalam diri yang perlu diperbaiki. Dengan kata lain, bencana adalah vitamin bagi bertumbuhnhya jiwa.
Kelompok keempat adalah jiwa yang tidak lagi mencari apa-apa. Bukan karena marah apalagi frustrasi. Sekali lagi bukan. Namun karena melalui rasa berkecukupan, ikhlas dan syukur yang mendalam kemudian dibimbing, kalau semuanya sudah sempurna. Sehat sempurna, sakit juga sempurna. Bukankah sakit yang mengajari menghargai kesehatan secara baik? Sukses sempurna, gagal juga sempurna. Bukankah kegagalan membimbing kita pada puncak kehidupan yang bernama tahu diri? Kehidupan sempurna, kematian juga sempurna. Bukankah kematian adalah mitra makna kehidupan yang membukakan pengertian kehidupan yang jauh lebih dalam? Kaya sempurna, miskin juga sempurna. Bukankah kemiskinan adalah pendidikan untuk tidak sombong dan senantiasa rendah hati? Sehingga dalam jiwa-jiwa yang sudah sampai di sini, tidak ada kamus bencana. Apapun yang terjadi diberi judul sama: sempurna!. 0rang Buddha menyebut ini Nirvana. Sebagian sahabat Islam dan Nasrani menyebutnya surga sebelum kematian. Sebagian orang Hindu menyebutnya maha samadhi. Dalam bahasa Confucius: ‘Bila bertemu orang baik tauladanilah. Jika bertemu orang jahat periksalah pikiran Anda sendiri’.
Kembali ke cerita awal tentang bencana dan Tuhan yang sedang marah, pilihan sikap yang diambil memang cermin pertumbuhan jiwa masing-masing. Seperti disebut sebelumnya, semuanya sedang bertumbuh. Penghakiman terhadap orang lain hanya menghambat pertumbuhan kita sendiri. Menyebut diri lebih baik, menempatkan orang kurang baik, hanya kesibukan ego yang meracuni pertumbuhan jiwa kemudian.
Dan bagi siapa saja yang sudah tumbuh menjadi pencinta tingkat dewasa, lebih-lebih sudah menjadi jiwa yang tidak lagi mencari, Indonesia tidak lagi berwajah negara bencana. Indonesia adalah salon yang mempercantik jiwa. Tanpa cobaan, bukankah kehidupan hanya berputar-putar di luar dan mudah terasa hambar? Bukankah dalam cobaan, dalam godaan, dalam guncangan, semua jiwa sedang digerakkan masuk ke dalam? Bukankah hanya di dalam sini jiwa bisa dibuat indah dan cantik? Seperti seorang wanita yang segar bugar keluar dari ruang olah raga, bukankah kesediaan untuk lelah sebentar (baca: digoda bencana sebentar) yang membuatnya jadi bugar? Maafkanlah tulisan ini ditutup dengan pertanyaan.
Kematian Juga Menawan
Sebelum Mahatma Gandhi berpidato di salah satu forum internasional di London, pendampingnya berpisik pelan sopan: “Mahatma, Anda belum menulis teks pidato”. Dengan senyum khas Gandhi menjawab: “My life is my true speech”. Hidupku adalah pidatoku yang sesungguhnya. Membaca pemberitaan meletusnya gunung Merapi 26-10-2010, alam seperti sedang berpidato ke kita semua. Dan diantara demikian banyak pesan Merapi, tidak ada yang lebih menyentuh hati ketika mengetahui juru kunci Merapi Mbah Maridjan wafat dalam posisi sujud.
Bila benar bahwa kematian adalah “pertempuran” spiritual menentukan, Mbah Maridjan terang benderang memperlihatkan bahwa beliau telah mengalami kemenangan spiritual. Disebut kemenangan karena kematian adalah simbolik alam yang paling ditakuti, bila ada yang bisa sujud hormat di depan kematian, sungguh ia menjadi kemenangan yang mengagumkan.
Kematian Sealami Daun jatuh
Bagi nyaris semua orang, kematian berwajah mengerikan. Perpisahan, kengerian, kesalahan itulah wajah yang digambar manusia kebanyakan tentang kematian. Amat manusiawi tentunya. Namun, di tangan pencari spiritual yang serius, tidak ada guru kehidupan yang lebih agung dari kematian. Karena ada kematian kemudian manusia belajar ikhlas, jauh dari kesombongan dan kecongkakan. Itu sebabnya, praktisi meditasi yang mendalam setiap hari melakukan meditasi kematian. Sebelum bangun dari meditasi, menyaksikan unsur tanah, air, api, udara dari tubuh ini kembali ke tempat asalnya melayani semua mahluk. Unsur tanah dari tubuh menyatu dengan tanah kemudian menghasilkan makanan buat para mahluk. Unsur air menyatu dengan air kemudian membuat para mahluk bisa minum.
Dalam logika sederhana, hari ketika manusia keluar dari kandungan Ibu sesungguhnya bukan awal kehidupan. Beberapa bulan sebelumnya manusia sudah lahir dalam bentuk pembuahan di kandungan Ibu. Sebelum pembuahan terjadi, sebagian dari diri kita ada di Ayah, sebagian lagi ada di Ibu. Sebelum Ayah dan Ibu lahir, keduanya ada dalam diri kakek dan nenek, dan seterusnya.
Bila hari kelahiran layak dipertanyakan sebagai awal, ia sama layaknya bila bertanya: apakah kematian adalah akhir?. Serupa dengan daun jatuh, ia memang mati sebagai daun namun melanjutkan tugas berikutnya sebagai pupuk. Dan beberapa waktu kemudian akan terlahir sebagai daun kembali. Mirip dengan gumpalan awan gelap, ketika hujan turun ia memang mati sebagai awan terlahir sebagai air. Namun di suatu waktu ia akan terlahir kembali sebagai awan.
Penderitaan terjadi ketika daun yang putaran waktunya sudah jatuh memaksa tetap bertahan di pohon, awan yang sudah saatnya berubah menjadi air ngotot bertahan sebagai awan. Tatkala putaran waktunya bencana menggoda, sebagian besar manusia ngotot kaku harus bahagia. Ini yang kerap disebut sebagai ketidakjernihan sebagai akar penderitaan.
Makanya, dalam meditasi pencapain diukur melalui tiga tingkatan pikiran: concentrated mind, unified mind, non-abiding mind. Pertama, pikiran mulai terkonsentrasi rapi. Bagi yang suka menggunakan obyek, pikiran seperti dipaku di satu tempat. Bagi yang menyenangi tanpa obyek, hanya senyum-senyum lembut pada setiap pengalaman yang muncul. Tanpa penghakiman, tanpa rasa bersalah. Kedua, ia yang lama istirahat dalam konsentrasi yang rapi suatu saat akan mengalami pengalaman kebersatuan. Sederhananya, bisa melihat dirinya di mana-mana. Di pohon, binatang, mineral, manusial, dll. Sesampai di sini, praktisi menjadi berhenti total menyakiti, amat rindu menyayangi. Karena ketika menyakiti orang sesungguhnya sedang menyakiti diri sendiri, saat menyayangi mahluk lain sesungguhnya sedang menyayangi diri sendiri.
Dan setelah lama menyatu, baru sadar ternyata tidak tersisa apa-apa (non-abiding mind). Anehnya, bila keheningan sebagaimana dimengerti orang kebanyakan menyisakan kebingungan (sepi, takut), di tingkatan ini keheningan itu mengagumkan. Serupa ruang, ia sepertinya tiada namun melimpahkan kasih sayang secara tidak terbatas. Terutama karena memberikan tempat pada apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh. Guru seperti Mbah Maridjan mengajarkan, ia yang bisa sujud di depan kematian batinnya sudah seluas ruang. Bila bisa memberikan ruang pada kematian, maka pasti bisa memberikan ruang pada yang lain. Inilah kematian yang menawan. Tanpa perlawanan, tanpa keluhan, tanpa ketakutan. Ia sealami daun jatuh, senatural awan yang berubah menjadi hujan.
Puncak Doa
Ada berbagai jenis manusia dalam berdoa. Apa pun bentuknya, semua berdoa untuk keselamatan, kesehatan, kebahagiaan. Namun, sudah menjadi sejarah doa sejak dulu, tidak semua doa terpenuhi. Kendati berdoa untuk keselamatan, sebagian manusia tidak selamat. Belajar dari sini, pencari sejati menghentikan segala bentuk doa yang dipenuhi permintaan. Pertama, ia sejenis perdagangan yang kotor dari keinginan. Kedua, cara doa seperti ini membuat subyek doa dan obyeknya terpisah. Ketiga, karena masih dua (belum menyatu, apa lagi lebur dalam keheningan), maka kemungkinan doa ini banyak kecewanya.
Untuk itu, penekun spiritual serius kemudian mendekati doa secara berbeda. Titik berangkatnya sederhana, manusia ada di dalam Tuhan, Tuhan ada di dalam manusia. Buddha menjadi yang disembah, sekaligus menjadi yang menyembah. Dari sini, doa mengingatkan kita tentang kualitas-kualitas mulya yang sudah bersemayam di dalam. Ada Tuhan, ada Buddha di dalam sehingga sangat hati-hati dalam keseharian. Jangankan berkata-kata kasar, menghina orang, berjalan di bawah jemuran saja rasanya tidak rela.
Berbekalkan ini, tubuh, kata-kata, pikiran sebagai kendaraan doa kemudian disatukan (bukannya terpencar) melalui praktek kesadaran. Kesadaran adalah sejenis cahaya terang di dalam. Tatkala cahaya di dalam berjumpa cahaya di luar sebagai tanda munculnya guru rahasia, kegelapan ketidakjernihan, keserakahan, kedengkian lenyap. Akibatnya, kegelapan ketakutan (termasuk ketakutan akan kematian) menghilang, menyisakan hanya kerinduan berbagi kasih sayang.
Dalam terang pemahaman ini, mudah dipahami bila Milarepa pernah berpesan death is not death for a yogi, it’s just a little enlightenment. Di tangan pencari tingkat tinggi seperti Milarepa dan Mbah Maridjan, kematian tidak diikuti oleh ketakutan. Kematian hanya pengalaman kecil yang mencerahkan. Inilah puncak doa. Mungkin itu sebabnya Mbah Maridjan mengungkapkan kasih sayangnya di saat kematian melalui sebuah pesan simbolik : “wafat dalam posisi bersujud”. Dengan mengucapkan maaf mendalam (deep bow) kepada seluruh sahabat yang marah serta tersinggung oleh wafatnya Mbah Maridjan, izinkan babu seperti saya mengucapkan hormat sambil merunduk: “Matur nuwun sanget Mbah, semoga semua mahluk berbahagia”.
Menyusul derasnya jumlah bencana yang menghadang di depan mata, dari tsunami, gunung meletus, bom teroris, lumpur panas, banjir, tanah longsor lengkap dengan jumlah korbannya yang tidak terhitung, tidak sedikit manusia yang bertanya: apakah Tuhan sedang marah? Sebuah pertanyaan sederhana, sekaligus menjadi warna dominan banyak wacana. Dan sebagaimana biasa, jawaban pun terbelah dua: ada yang menjawab positif, ada yang menjawab negatif.
Di Timur telah lama terdengar pendapat, kalau Tuhan penari maka alam adalah tarianNya. Bila demikian, adakah alam yang murka di mata pikiran manusia mencerminkan kemarahan Tuhan?. Entahlah, yang jelas pertanyaan terakhir mengingatkan pada cerita seorang sahabat pastur tentang seorang Ibu yang permennya dicuri puteranya Rio. Melihat puteranya mencuri, Ibu ini bertanya: ‘Rio, tidakkah kamu melihat Tuhan ketika mencuri permen mama?’. Dengan polos Rio menjawab: ‘lihat ma!’. Mendengar jawaban seperti ini, mamanya tambah marah, dan diikuti pertanyaan yang lebih emosi: ‘Tuhan bilang apa sama kamu Rio?’. Dasar seorang anak polos, Rio menjawab jujur: ‘boleh ambil dua!’.
Tentu saja ini cerita yang terbuka dari penafsiran. Dari salah satu sudut pandang terlihat, wajah Tuhan di kepala kita teramat tergantung pada kebersihan batin kita masing-masing. Dalam batin bersih seorang anak polos dan jujur seperti Rio, Tuhan berwajah pemaaf dan pemurah. Dalam batin yang mudah emosi dan curiga seperti mama Rio, wajah Tuhan menjadi pemarah dan penghukum. Hal serupa juga terjadi dalam cara Indonesia memandang bencana.
Tanpa menggunakan kerangka baik-buruk, benar-salah, suci-kotor, tinggi-rendah, banyak guru mengajarkan kalau manusia berada pada tingkat pertumbuhan masing-masing. Dimanapun tingkatannya, semua punya tugas yang sama: bertumbuh!. Tidak disarankan yang sudah sampai tingkatan SMU misalnya kemudian menghina yang baru sampai SD. Tidak juga disarankan kalau yang baru sampai SMP kemudian minder berlebihan pada mereka yang sudah sampai perguruan tinggi. Semuanya bertumbuh. Tidak ada jaminan yang sekarang SMA pasti lebih cepat sampai dibandingkan dengan yang sekarang baru SD misalnya.
Dengan spirit seperti ini, izinkanlah tulisan ini membagi pertumbuhan ke dalam empat pertumbuhan jiwa. Pertama mereka yang menjadi pedagang kehidupan dan pedagang doa. Jangankan dengan Tuhan, dengan siapa saja ia berdagang. Kalau permohonan tercapai maka Tuhan berwajah baik, kalau tidak dipenuhi apa lagi dihadang bencana maka Tuhan disebut marah. Dan dalam pandangan kelompok ini, bencana tidak lain hanyalah Tuhan yang murka pada ulah manusia. Tidak salah tentunya, karena ini bagian dari proses pertumbuhan.
Kelompok kedua adalah pencinta tingkat remaja. Ciri kelompok ini adalah rasa memiliki yang tinggi. Tidak boleh ada orang lain, hanya dia yang boleh dekat dan dicintai Tuhan. Cinta bagi kelompok ini, tidak ada pilihan lain kecuali menyayangi, memaafkan, membebaskan. Tidak dibolehkan. ada ekspresi dari cinta Tuhan selain menyayangi, memaafkan dan membebaskan. Begitu ada wajah cinta yang lain (lebih-lebih berwajah bencana), maka mudah ditebak kemana kehidupan bergerak: benci tapi rindu!. Ini asal muasal pertanyaan sejumlah sahabat yang luka ketika bencana, kemudian bertanya: Tuhan, masihkah Engkau menyayangiku?
Kelompok ketiga adalah pencinta tingkat dewasa. Cinta tidak lagi diikuti kebencian. Cinta adalah cinta. Ia tidak berlawankan kebencian. Lebih dari itu, berbeda dengan kelompok kedua yang menempatkan dicintai lebih indah dibandingkan dengan mencintai, pada tingkat ini terbalik: mencintai lebih indah dibandingkan dicintai. Sehingga bencana, bagi jiwa yang sudah sampai di sini, tidak ditempatkan sebagai hukuman, melainkan masukan tentang segi-segi di dalam diri yang perlu diperbaiki. Dengan kata lain, bencana adalah vitamin bagi bertumbuhnhya jiwa.
Kelompok keempat adalah jiwa yang tidak lagi mencari apa-apa. Bukan karena marah apalagi frustrasi. Sekali lagi bukan. Namun karena melalui rasa berkecukupan, ikhlas dan syukur yang mendalam kemudian dibimbing, kalau semuanya sudah sempurna. Sehat sempurna, sakit juga sempurna. Bukankah sakit yang mengajari menghargai kesehatan secara baik? Sukses sempurna, gagal juga sempurna. Bukankah kegagalan membimbing kita pada puncak kehidupan yang bernama tahu diri? Kehidupan sempurna, kematian juga sempurna. Bukankah kematian adalah mitra makna kehidupan yang membukakan pengertian kehidupan yang jauh lebih dalam? Kaya sempurna, miskin juga sempurna. Bukankah kemiskinan adalah pendidikan untuk tidak sombong dan senantiasa rendah hati? Sehingga dalam jiwa-jiwa yang sudah sampai di sini, tidak ada kamus bencana. Apapun yang terjadi diberi judul sama: sempurna!. 0rang Buddha menyebut ini Nirvana. Sebagian sahabat Islam dan Nasrani menyebutnya surga sebelum kematian. Sebagian orang Hindu menyebutnya maha samadhi. Dalam bahasa Confucius: ‘Bila bertemu orang baik tauladanilah. Jika bertemu orang jahat periksalah pikiran Anda sendiri’.
Kembali ke cerita awal tentang bencana dan Tuhan yang sedang marah, pilihan sikap yang diambil memang cermin pertumbuhan jiwa masing-masing. Seperti disebut sebelumnya, semuanya sedang bertumbuh. Penghakiman terhadap orang lain hanya menghambat pertumbuhan kita sendiri. Menyebut diri lebih baik, menempatkan orang kurang baik, hanya kesibukan ego yang meracuni pertumbuhan jiwa kemudian.
Dan bagi siapa saja yang sudah tumbuh menjadi pencinta tingkat dewasa, lebih-lebih sudah menjadi jiwa yang tidak lagi mencari, Indonesia tidak lagi berwajah negara bencana. Indonesia adalah salon yang mempercantik jiwa. Tanpa cobaan, bukankah kehidupan hanya berputar-putar di luar dan mudah terasa hambar? Bukankah dalam cobaan, dalam godaan, dalam guncangan, semua jiwa sedang digerakkan masuk ke dalam? Bukankah hanya di dalam sini jiwa bisa dibuat indah dan cantik? Seperti seorang wanita yang segar bugar keluar dari ruang olah raga, bukankah kesediaan untuk lelah sebentar (baca: digoda bencana sebentar) yang membuatnya jadi bugar? Maafkanlah tulisan ini ditutup dengan pertanyaan.
Kematian Juga Menawan
Sebelum Mahatma Gandhi berpidato di salah satu forum internasional di London, pendampingnya berpisik pelan sopan: “Mahatma, Anda belum menulis teks pidato”. Dengan senyum khas Gandhi menjawab: “My life is my true speech”. Hidupku adalah pidatoku yang sesungguhnya. Membaca pemberitaan meletusnya gunung Merapi 26-10-2010, alam seperti sedang berpidato ke kita semua. Dan diantara demikian banyak pesan Merapi, tidak ada yang lebih menyentuh hati ketika mengetahui juru kunci Merapi Mbah Maridjan wafat dalam posisi sujud.
Bila benar bahwa kematian adalah “pertempuran” spiritual menentukan, Mbah Maridjan terang benderang memperlihatkan bahwa beliau telah mengalami kemenangan spiritual. Disebut kemenangan karena kematian adalah simbolik alam yang paling ditakuti, bila ada yang bisa sujud hormat di depan kematian, sungguh ia menjadi kemenangan yang mengagumkan.
Kematian Sealami Daun jatuh
Bagi nyaris semua orang, kematian berwajah mengerikan. Perpisahan, kengerian, kesalahan itulah wajah yang digambar manusia kebanyakan tentang kematian. Amat manusiawi tentunya. Namun, di tangan pencari spiritual yang serius, tidak ada guru kehidupan yang lebih agung dari kematian. Karena ada kematian kemudian manusia belajar ikhlas, jauh dari kesombongan dan kecongkakan. Itu sebabnya, praktisi meditasi yang mendalam setiap hari melakukan meditasi kematian. Sebelum bangun dari meditasi, menyaksikan unsur tanah, air, api, udara dari tubuh ini kembali ke tempat asalnya melayani semua mahluk. Unsur tanah dari tubuh menyatu dengan tanah kemudian menghasilkan makanan buat para mahluk. Unsur air menyatu dengan air kemudian membuat para mahluk bisa minum.
Dalam logika sederhana, hari ketika manusia keluar dari kandungan Ibu sesungguhnya bukan awal kehidupan. Beberapa bulan sebelumnya manusia sudah lahir dalam bentuk pembuahan di kandungan Ibu. Sebelum pembuahan terjadi, sebagian dari diri kita ada di Ayah, sebagian lagi ada di Ibu. Sebelum Ayah dan Ibu lahir, keduanya ada dalam diri kakek dan nenek, dan seterusnya.
Bila hari kelahiran layak dipertanyakan sebagai awal, ia sama layaknya bila bertanya: apakah kematian adalah akhir?. Serupa dengan daun jatuh, ia memang mati sebagai daun namun melanjutkan tugas berikutnya sebagai pupuk. Dan beberapa waktu kemudian akan terlahir sebagai daun kembali. Mirip dengan gumpalan awan gelap, ketika hujan turun ia memang mati sebagai awan terlahir sebagai air. Namun di suatu waktu ia akan terlahir kembali sebagai awan.
Penderitaan terjadi ketika daun yang putaran waktunya sudah jatuh memaksa tetap bertahan di pohon, awan yang sudah saatnya berubah menjadi air ngotot bertahan sebagai awan. Tatkala putaran waktunya bencana menggoda, sebagian besar manusia ngotot kaku harus bahagia. Ini yang kerap disebut sebagai ketidakjernihan sebagai akar penderitaan.
Makanya, dalam meditasi pencapain diukur melalui tiga tingkatan pikiran: concentrated mind, unified mind, non-abiding mind. Pertama, pikiran mulai terkonsentrasi rapi. Bagi yang suka menggunakan obyek, pikiran seperti dipaku di satu tempat. Bagi yang menyenangi tanpa obyek, hanya senyum-senyum lembut pada setiap pengalaman yang muncul. Tanpa penghakiman, tanpa rasa bersalah. Kedua, ia yang lama istirahat dalam konsentrasi yang rapi suatu saat akan mengalami pengalaman kebersatuan. Sederhananya, bisa melihat dirinya di mana-mana. Di pohon, binatang, mineral, manusial, dll. Sesampai di sini, praktisi menjadi berhenti total menyakiti, amat rindu menyayangi. Karena ketika menyakiti orang sesungguhnya sedang menyakiti diri sendiri, saat menyayangi mahluk lain sesungguhnya sedang menyayangi diri sendiri.
Dan setelah lama menyatu, baru sadar ternyata tidak tersisa apa-apa (non-abiding mind). Anehnya, bila keheningan sebagaimana dimengerti orang kebanyakan menyisakan kebingungan (sepi, takut), di tingkatan ini keheningan itu mengagumkan. Serupa ruang, ia sepertinya tiada namun melimpahkan kasih sayang secara tidak terbatas. Terutama karena memberikan tempat pada apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh. Guru seperti Mbah Maridjan mengajarkan, ia yang bisa sujud di depan kematian batinnya sudah seluas ruang. Bila bisa memberikan ruang pada kematian, maka pasti bisa memberikan ruang pada yang lain. Inilah kematian yang menawan. Tanpa perlawanan, tanpa keluhan, tanpa ketakutan. Ia sealami daun jatuh, senatural awan yang berubah menjadi hujan.
Puncak Doa
Ada berbagai jenis manusia dalam berdoa. Apa pun bentuknya, semua berdoa untuk keselamatan, kesehatan, kebahagiaan. Namun, sudah menjadi sejarah doa sejak dulu, tidak semua doa terpenuhi. Kendati berdoa untuk keselamatan, sebagian manusia tidak selamat. Belajar dari sini, pencari sejati menghentikan segala bentuk doa yang dipenuhi permintaan. Pertama, ia sejenis perdagangan yang kotor dari keinginan. Kedua, cara doa seperti ini membuat subyek doa dan obyeknya terpisah. Ketiga, karena masih dua (belum menyatu, apa lagi lebur dalam keheningan), maka kemungkinan doa ini banyak kecewanya.
Untuk itu, penekun spiritual serius kemudian mendekati doa secara berbeda. Titik berangkatnya sederhana, manusia ada di dalam Tuhan, Tuhan ada di dalam manusia. Buddha menjadi yang disembah, sekaligus menjadi yang menyembah. Dari sini, doa mengingatkan kita tentang kualitas-kualitas mulya yang sudah bersemayam di dalam. Ada Tuhan, ada Buddha di dalam sehingga sangat hati-hati dalam keseharian. Jangankan berkata-kata kasar, menghina orang, berjalan di bawah jemuran saja rasanya tidak rela.
Berbekalkan ini, tubuh, kata-kata, pikiran sebagai kendaraan doa kemudian disatukan (bukannya terpencar) melalui praktek kesadaran. Kesadaran adalah sejenis cahaya terang di dalam. Tatkala cahaya di dalam berjumpa cahaya di luar sebagai tanda munculnya guru rahasia, kegelapan ketidakjernihan, keserakahan, kedengkian lenyap. Akibatnya, kegelapan ketakutan (termasuk ketakutan akan kematian) menghilang, menyisakan hanya kerinduan berbagi kasih sayang.
Dalam terang pemahaman ini, mudah dipahami bila Milarepa pernah berpesan death is not death for a yogi, it’s just a little enlightenment. Di tangan pencari tingkat tinggi seperti Milarepa dan Mbah Maridjan, kematian tidak diikuti oleh ketakutan. Kematian hanya pengalaman kecil yang mencerahkan. Inilah puncak doa. Mungkin itu sebabnya Mbah Maridjan mengungkapkan kasih sayangnya di saat kematian melalui sebuah pesan simbolik : “wafat dalam posisi bersujud”. Dengan mengucapkan maaf mendalam (deep bow) kepada seluruh sahabat yang marah serta tersinggung oleh wafatnya Mbah Maridjan, izinkan babu seperti saya mengucapkan hormat sambil merunduk: “Matur nuwun sanget Mbah, semoga semua mahluk berbahagia”.
Renungan
Memberi Kado Setiap Hari
"Gede Prama"
Banyak orang bertanya, apa sesungguhnya yang paling membuat orang kaya berbahagia? Uang untuk hidup tentu saja bukan masalah. Kesenangan yang bisa dibeli dengan uang, juga tidak masalah. Liburan ke berbagai tempat, ia sesederhana memerintahkan sekretaris.
Di tengah gelimang materi ini, ada yang mengira kehidupan orang kaya hanya berisi kebahagiaan dan kebahagiaan. Dan ternyata tidak. Dalam limpahan uang maupun utang, kebahagiaan itu hanya tamu yang datang dan pergi. Serupa matahari, paginya terbit sorenya terbenam. Melawan bahwa matahari hanya boleh terbit dan tidak boleh tenggelam, hanya akan membuat seseorang menjadi dua korban: korban canda sekaligus korban kecewa.
Sudah banyak korban dalam hal ini.Yang baru naik pangkat mengira bahwa kenaikan pangkat akan berlangsung selamanya. 0rang kaya menduga kalau kekayaan akan selama-lamanya. Dan alam bertutur sederhana: tidak ada yang kekal.
Itu sebabnya orang bijaksana mendidik dirinya untuk mengalir bersama aliran-aliran kehidupan. Bekerja, berusaha, berdoa tentu saja dilakukan. Namun berapa pun kehidupan menghadiahkan hasil, sambutlah semuanya dengan senyuman. Naik jabatan itu indah karena memberi tanda sedang dipercaya. Turun jabatan juga indah, terutama karena terbuka kesempatan untuk mendidik diri agar ikhlas. Dalam bahasa orang suci, keikhlasanlah yang membuat kehidupan istirahat dalam keabadian.
Salah satu sahabat Direktur Utama Bank pernah bercerita di bandara Bali tentang betapa bahagianya memiliki anak yang diwisuda. Bagi mereka yang sudah punya putera-puteri yang sudah dewasa, mendengar anak lulus sarjana mungkin sesuatu yang biasa. Namun bagi yang baru saja memiliki putera pertama diwisuda, itu sungguh sebuah kebahagiaan.
Berbagai macam gambar indah yang muncul di kepala. Melihat anak mengenakan baju wisuda, toga, namanya dipanggil ke depan, kemudian petinggi Universitas menyalaminya sampai tepuk tangan gemuruh banyak orang. Ringkasnya, indah, indah dan indah. Setiap sahabat yang sudah membuang penyakit iri di dalam dirinya akan ikut tersenyum merasakan kebahagiaan ini.
Namun kembali ke tanda-tanda alam di awal, semuanya tunduk pada hukum ketidakkekalan. Setiap hal yang datang akan pergi. Itu sebabnya, banyak pejalan kaki ke dalam diri mulai menyadari, hanya persahabatan dengan kehidupan yang menyejukkan. Bersahabat dengan karir yang lagi menanjak itu mudah. Namun bersahabat dengan cacian orang, hanya orang bijaksana yang bisa melakukannya. Dalam bahasa seorang guru: happiness and unhappiness come from your unbalance mind. Kebahagiaan, kesedihan datang dari batin yang belum sepenuhnya seimbang.
Itu sebabnya seorang sahabat di Bali menghabiskan sebagian waktunya untuk menyapu dan mengepel. Bukan karena tidak bisa membayar pembantu. Namun sedang mendidik diri bersahabat dengan kehidupan di bawah.
Sekali, dua kali, tiga kali ia tidak membawa dampak apa-apa. Namun seperti menetesi batu dengan air, setelah sekian lama batunya berlubang. Demikian juga dengan latihan menjadi rendah hati. Ia seyogyanya dilakukan secara tekun terus menerus. Baru bisa memberi dampak perubahan.
Serupa dengan para sahabat yang pernah duduk di kursi-kursi tinggi baik di dunia korporasi maupun birokrasi, kekuasaan kerap memaksa kita mengenakan topeng-topeng keangkuhan, kesombongan, kemarahan. Baik karena dalih wibawa maupun karena alasan efektifitas kekuasaan.
Namun karena dilakukan bertahun-tahun, topeng-topeng itu kemudian menyatu dengan diri kita sendiri. Ini serupa dengan memelihara macan dalam kamar, lama-lama kita dimakan oleh macan kesombongan, sekaligus dibuat menderita. Di titik inilah manusia memerlukan kerendahah hati untuk kembali ke bawah.
Menyapu, mengepel, membersihkan taman, membantu isteri merapikan piring-piring kotor, membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah, itulah rangkaian hal sepele namun menyejukkan. Tidak saja kita bahagia, isteri juga bahagia, anak-anak bertumbuh, tetangga tidak pernah mendengar umpatan dari rumah kita. Dan dalam setiap lingkungan yang ditandai oleh sedikit kemarahan dan perselisihan, alam akan berbicara dengan bahasa-bahasa kosmik berupa datangnya kupu-kupu, bernyanyinya kodok sampai dengan mekarnya bunga di mana-mana.
Mungkin itu sebabnya Lama Zopa Rinpoche menulis dalam How to be happy: The sun of real happiness shines in your life only when you start to cherish others. Cahaya kebahagiaan yang sesungguhnya mulai menyala ketika seseorang menemukan kebahagiaan dalam membahagiakan orang lain. 0rang-orang yang tekun di jalan ini akan merasakan kesejukan dan keteduhan sesungguhnya dalam setiap pelayanan yang diberikan pada orang lain.
Makanya di halaman lain buku Lama Zopa Rinpoche, ia berpesan: If you want to be loved, love others first. Siapa saja yang mau dicintai, belajarlah mencintai orang lain terlebih dahulu. Sejuk, teduh, lembut, dan indah itulah buah dari kehidupan jenis ini.
Sebagaimana terjadi di setiap putaran kehidupan, tidak semua orang tertarik belajar keteduhan dan kesejukan. Seperti sungai, selalu ada air yang lembut sekaligus batu yang keras. Dan keduanya hadir bersama-sama melukis keindahan.
Bagi para sahabat yang belum sampai di sini, lebih-lebih masih didikte habis oleh topeng-topeng kekuasaan, akan mudah menduga sahabat yang suka menyapu dan mengepel sebagai ketua dewan pembina ISDI (Ikatan Suami Diinjak-injak Istri). Dan ini pun layak dihormati. Namun ketika kita tidak marah, tidak menyakiti, sebaliknya malah menyayangi dan melayani, sesungguhnya sedang memberi kado setiap hari pada orang-orang yang kita cintai.
Sumber:http://gedeprama.blogdetik.com/2010/11/24/renungan-minggu-ini-241110/?991102866
"Gede Prama"
Banyak orang bertanya, apa sesungguhnya yang paling membuat orang kaya berbahagia? Uang untuk hidup tentu saja bukan masalah. Kesenangan yang bisa dibeli dengan uang, juga tidak masalah. Liburan ke berbagai tempat, ia sesederhana memerintahkan sekretaris.
Di tengah gelimang materi ini, ada yang mengira kehidupan orang kaya hanya berisi kebahagiaan dan kebahagiaan. Dan ternyata tidak. Dalam limpahan uang maupun utang, kebahagiaan itu hanya tamu yang datang dan pergi. Serupa matahari, paginya terbit sorenya terbenam. Melawan bahwa matahari hanya boleh terbit dan tidak boleh tenggelam, hanya akan membuat seseorang menjadi dua korban: korban canda sekaligus korban kecewa.
Sudah banyak korban dalam hal ini.Yang baru naik pangkat mengira bahwa kenaikan pangkat akan berlangsung selamanya. 0rang kaya menduga kalau kekayaan akan selama-lamanya. Dan alam bertutur sederhana: tidak ada yang kekal.
Itu sebabnya orang bijaksana mendidik dirinya untuk mengalir bersama aliran-aliran kehidupan. Bekerja, berusaha, berdoa tentu saja dilakukan. Namun berapa pun kehidupan menghadiahkan hasil, sambutlah semuanya dengan senyuman. Naik jabatan itu indah karena memberi tanda sedang dipercaya. Turun jabatan juga indah, terutama karena terbuka kesempatan untuk mendidik diri agar ikhlas. Dalam bahasa orang suci, keikhlasanlah yang membuat kehidupan istirahat dalam keabadian.
Salah satu sahabat Direktur Utama Bank pernah bercerita di bandara Bali tentang betapa bahagianya memiliki anak yang diwisuda. Bagi mereka yang sudah punya putera-puteri yang sudah dewasa, mendengar anak lulus sarjana mungkin sesuatu yang biasa. Namun bagi yang baru saja memiliki putera pertama diwisuda, itu sungguh sebuah kebahagiaan.
Berbagai macam gambar indah yang muncul di kepala. Melihat anak mengenakan baju wisuda, toga, namanya dipanggil ke depan, kemudian petinggi Universitas menyalaminya sampai tepuk tangan gemuruh banyak orang. Ringkasnya, indah, indah dan indah. Setiap sahabat yang sudah membuang penyakit iri di dalam dirinya akan ikut tersenyum merasakan kebahagiaan ini.
Namun kembali ke tanda-tanda alam di awal, semuanya tunduk pada hukum ketidakkekalan. Setiap hal yang datang akan pergi. Itu sebabnya, banyak pejalan kaki ke dalam diri mulai menyadari, hanya persahabatan dengan kehidupan yang menyejukkan. Bersahabat dengan karir yang lagi menanjak itu mudah. Namun bersahabat dengan cacian orang, hanya orang bijaksana yang bisa melakukannya. Dalam bahasa seorang guru: happiness and unhappiness come from your unbalance mind. Kebahagiaan, kesedihan datang dari batin yang belum sepenuhnya seimbang.
Itu sebabnya seorang sahabat di Bali menghabiskan sebagian waktunya untuk menyapu dan mengepel. Bukan karena tidak bisa membayar pembantu. Namun sedang mendidik diri bersahabat dengan kehidupan di bawah.
Sekali, dua kali, tiga kali ia tidak membawa dampak apa-apa. Namun seperti menetesi batu dengan air, setelah sekian lama batunya berlubang. Demikian juga dengan latihan menjadi rendah hati. Ia seyogyanya dilakukan secara tekun terus menerus. Baru bisa memberi dampak perubahan.
Serupa dengan para sahabat yang pernah duduk di kursi-kursi tinggi baik di dunia korporasi maupun birokrasi, kekuasaan kerap memaksa kita mengenakan topeng-topeng keangkuhan, kesombongan, kemarahan. Baik karena dalih wibawa maupun karena alasan efektifitas kekuasaan.
Namun karena dilakukan bertahun-tahun, topeng-topeng itu kemudian menyatu dengan diri kita sendiri. Ini serupa dengan memelihara macan dalam kamar, lama-lama kita dimakan oleh macan kesombongan, sekaligus dibuat menderita. Di titik inilah manusia memerlukan kerendahah hati untuk kembali ke bawah.
Menyapu, mengepel, membersihkan taman, membantu isteri merapikan piring-piring kotor, membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah, itulah rangkaian hal sepele namun menyejukkan. Tidak saja kita bahagia, isteri juga bahagia, anak-anak bertumbuh, tetangga tidak pernah mendengar umpatan dari rumah kita. Dan dalam setiap lingkungan yang ditandai oleh sedikit kemarahan dan perselisihan, alam akan berbicara dengan bahasa-bahasa kosmik berupa datangnya kupu-kupu, bernyanyinya kodok sampai dengan mekarnya bunga di mana-mana.
Mungkin itu sebabnya Lama Zopa Rinpoche menulis dalam How to be happy: The sun of real happiness shines in your life only when you start to cherish others. Cahaya kebahagiaan yang sesungguhnya mulai menyala ketika seseorang menemukan kebahagiaan dalam membahagiakan orang lain. 0rang-orang yang tekun di jalan ini akan merasakan kesejukan dan keteduhan sesungguhnya dalam setiap pelayanan yang diberikan pada orang lain.
Makanya di halaman lain buku Lama Zopa Rinpoche, ia berpesan: If you want to be loved, love others first. Siapa saja yang mau dicintai, belajarlah mencintai orang lain terlebih dahulu. Sejuk, teduh, lembut, dan indah itulah buah dari kehidupan jenis ini.
Sebagaimana terjadi di setiap putaran kehidupan, tidak semua orang tertarik belajar keteduhan dan kesejukan. Seperti sungai, selalu ada air yang lembut sekaligus batu yang keras. Dan keduanya hadir bersama-sama melukis keindahan.
Bagi para sahabat yang belum sampai di sini, lebih-lebih masih didikte habis oleh topeng-topeng kekuasaan, akan mudah menduga sahabat yang suka menyapu dan mengepel sebagai ketua dewan pembina ISDI (Ikatan Suami Diinjak-injak Istri). Dan ini pun layak dihormati. Namun ketika kita tidak marah, tidak menyakiti, sebaliknya malah menyayangi dan melayani, sesungguhnya sedang memberi kado setiap hari pada orang-orang yang kita cintai.
Sumber:http://gedeprama.blogdetik.com/2010/11/24/renungan-minggu-ini-241110/?991102866
Jumat, 19 November 2010
APA BEDANYA CALO TKI, PJTKI DAN PERDAGANGAN MANUSIA.
Tanpa bermaksud mengolok atau mencela, penulis merasa sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa Saudara TKI.
Penulis bahkan melihat mulai dari level yang paling bawah (para calo) yang mencari para calon TKI sampai dengan instansi yang menangani(regulator) kelihatannya tidak ada bedanya.
Di level bawah para calo membantu calon TKI mulai dari memalsukan dokumen, sampai kepada iming-iming air surga menjadi TKI, tanpa melihat calon TKI tersebut memenuhi syarat atau tidak yang penting mereka akan mendapatkan sejumlah komisi atas setiap TKI yang mereka dapatkan, ditambah lagi uang-uang capek membantu calon TKI yang sebenarnya tidak memenuhi syarat agar bisa tetap berangkat.
continue...
Penulis bahkan melihat mulai dari level yang paling bawah (para calo) yang mencari para calon TKI sampai dengan instansi yang menangani(regulator) kelihatannya tidak ada bedanya.
Di level bawah para calo membantu calon TKI mulai dari memalsukan dokumen, sampai kepada iming-iming air surga menjadi TKI, tanpa melihat calon TKI tersebut memenuhi syarat atau tidak yang penting mereka akan mendapatkan sejumlah komisi atas setiap TKI yang mereka dapatkan, ditambah lagi uang-uang capek membantu calon TKI yang sebenarnya tidak memenuhi syarat agar bisa tetap berangkat.
continue...
Langganan:
Postingan (Atom)