Kurang menguntungkan sekiranya latah yang tidak alami, seperti latah berbisnis dan latah mengomentari issue.
Dalam dunia usaha latah untuk meniru suatu bisnis yang kelihatannya menjanjikan, padahal dari sisi-sisi yang lain sama sekali tidak pernah diperhitungkan, sehingga pelaku usaha hanya melihat suatu bisnis dari proyeksi keuntungan semata, padahal pelaku usaha tersebut tidak / belum menguasai keilmuannya. Ini mungkin juga merupakan hasil dari metode pendidikan / keberhasilan sang motivator untuk membuat orang ingin menjadi the number one, tanpa melihat kapabilitasnya.
Demikian juga sang komentator mengenai suatu issue, bahkan issue yang seharusnya tidak perlu dikomentari saja kadang dilakukan penilaian walaupun sebenarnya bukan merupakan kapasitas yang bersangkutan, bahkan sebenarnya akan merendahkannya, karena kepandaian sang pewawancara diapun berkomentar mengenai issue yang sebenarnya tidak dikuasainya atau sebenarnya tidak perlu dikomentari.
Mohon maaf kepada yang mempunyai sifat latah, selama alami itu berarti karunia Sang Khalik, asal jangan dibuat-buat.
Dunia telekomunikasi dan informasi serta pelakunya memegang peranan penting terhadap perkembangan suatu tingkat kecerdasan masyarakat yang masing gampang sekali dibingungkan oleh suatu informasi karena kaburnya sang Nara Sumber, mana yang bisa dijadikan referensi.
Bahkan sebuah konferensi pers-pun ternyata bisa kalah oleh hiruk pikuknya pemberitaan dan komentar-komentar di luar.
Mudah-mudahan sisi-sisi moralitas, kemaslahatan dan nilai manfaat bisa dikedepankan ketimbang selalu mengedepankan sisi-sisi bisnis yang kadang kala berbenturan dengan norma-noram maupun nilai-nilai religi.
Peace Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar