Minggu, 29 November 2020
attaqwa putra
Pondok Pesantren Attaqwa adalah pondok pesantren tertua di Bekasi. Adalah saksi sejarah perjuangan sang pendirinya, yaitu Almaghfurlah Bapak KH. Noer Alie. Hampir semua orang Bekasi hafal diluar kepala dimana pesantren itu berada. Maklum Almagfurlah Bapak KH. Noer Alie bagaikan Bapak Spiritual Warga Bekasi, sampai-sampai namanya sendiri, lebih di kenal di banding nama pesantren yang dibangunnya, yaitu Pondok Pesantren Attaqwa.
Berawal dari sebuah masjid disamping rumah KH Noer Alie, kini Pondok Pesantren Attaqwa terbentang seluas 24 HA. 16 HA untuk santri putra dan 8 HA untuk santri Putri, antara Pondok Putra dengan Pondok Putri berjarak kurang lebih 300M, dengan lokasi yang terpisah dan dewan guru yang berbeda, hal ini dimaksudkan agar, para santri baik putra dan putri mendapatkan perhatian yang optimal dari pengurus pondoknya masing-masing.Pondok Pesantren Attaqwa Putra yang berusia lebih dari setengah abad ini telah banyak berkiprah dalam pembinaan ummat khususnya pendidikan. Sepeninggal Almaghfurlah Bapak KH. Noer Alie, Pondok Pesantren Attaqwa Putra diasuh oleh putranya yang kelima, yakni Abuya KH Nurul Anwar, beliau tidak hanya terjun membina para santri, tapi juga mengabdikan dirinya pada masyarakat, memimpin pengajian di beberapa majlis taklim atau masjid yang berada di Bekasi dan sekitarnya.
KH. Noer Alie sebagai pendiri Pesantren ini, menginginkan para santrinya menjadi ummat yang Benar, Pintar dan Terampil, dan kemudian ini dijadikan visi dan misi Attaqwa, sehingga dalam metode pendidikan di Pesantren ini di kenal dengan kolaburasi system kurikulum Timur Tengah dan kurikulum dalam negri.
Dan untuk penanganan para santri secara maksimal, maka pada tahun 1998, Pondok Pesantren Attaqwa Putra di bagi menjadi dua lembaga, yaitu Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Juga pada awal tahun 2016, Pondok Pesantren Attaqwa Putra membuka Lembaga Tahfidzul Qur’an.
Profil Pondok Pesantren Attaqwa Putra
Bicara soal Pondok Pesantren Attaqwa tentu kita mengenang nama Ujungmalang (dahulunya Ujungharapan) dan KH. Noer Alie. Bagaimana sejarah singkatnya?
Berawal dari sebuah kampung di pinggir Utara Bekasi, yang bernama Ujungmalang. Sebagai cikal-bakal Ujungharapan, sebuah daerah yang sejuk dan damai, keramah-tamahan masyarakatnya terlihat jelas dari kehidupan sehari-hari penduduknya. Di antara sekian banyak penduduk yang tinggal di kampung tersebut, terdapat sebuah keluarga yang sangat harmonis, rukun dan taat beragama, dari keluarga inilah lahir seorang anak yang kelak akan menjadi seorang tokoh kharismatik, seorang ulama yang juga sekaligus sebagai pejuang kemerdekaan “Noer Ali” namanya, seorang anak yang memiliki tekad kuat, untuk menciptakan kampung Ujungmalang menjadi “Kampung Syurga”.
Ia dilahirkan pada tanggal 15 Juni 1913 dan merupakan anak ke empat dari pasangan H. Anwar bin H.Layu dan Hj. Maimunah binti Tarbin. Noer Alie kecil tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak lain pada umumnya. Sejak kecil, ia sudah memiliki kelebihan-kelebihan di banding anak-anak lain seusianya. Sejak kecil ia sudah gemar belajar ilmu-ilmu agama dan pada usianya yang ketujuh atau sekitar tahun 1921 ia belajar pada guru H. Ma’sum di Ujungmalang sampai tahun 1923, kemudian pada tahun 1923-1929 ia belajar pada KH. Mughni, dari KH. Mughni inilah ia mengenal KH. Ahmad Marzukih di daerah Cipinang Jakarta Timur dan belajar kepada beliau pada tahun 1929-1933. Di tempat inilah Noer Alie mengenal sejumlah teman, yang kelak menjadi ulama terkenal di bilangan Jabotabek, diantaranya adalah Abdullah Syafi’ie, Abdurahamn Sodri, Mukhtar Thabrani, Hasbialloh dan lain-lain. Bakat kepemimpinan Noer Alie memang sudah menonjol sejak kecil, ia tak mau berada di belakang di saat bermain, sehingga dalam sebuah kesempatan ia senantiasa menjadi pemimpin.
Sabtu, 17 November 2012
DIJUAL MURAH - KOSONGIN GUDANG
Dijual cepat :
1. Antena Omni 2.4GHz 15dBi Hyperlink HG2415U-PRO - Rp. 650.000 (second)
2. Mesin Press Pin Talent 3 moulding 44, 58, dan 75 Rp. 2.000.000 (second - baru dipake bikin 500 buah pin)
Harga belum termasuk ongkos kirim.
Posisi barang di Bekasi
Yang serius hubungi :
WIJO BUDI PRASAJA
085286445590
YM/email : boemen74@yahoo.com
Jumat, 11 Maret 2011
" NGALAH LUHUR WEKASANE "
Itu nasehat yang penulis sering dengar di waktu kecil, tapi belum begitu bisa meresap secara hakiki.
Nafsu masih kekeuh untuk menyatakan sayalah yang benar (karena secara fakta dan realita memang benar adanya).
Tetapi manakala berhubungan persoalan dengan sesama kadang tidak sedikit tidak semua orang bisa menyadari kesalahan sehingga kalau diteruskanpun akan muncul yang namanya berantem.
Kadang emosi tentu akan selalu mengajak untuk mempertahankan karena memang benar adanya.
Tetapi ada juga pepatah jawa yang mengatakan NGALAH LUHUR WEKASANE iku mau tapi kok ya belum bisa ikhlas benar rasanya.
Rasa apa..... yang didapat seandainya berani "MENGALAH".
Renungan Sabtu..
Nafsu masih kekeuh untuk menyatakan sayalah yang benar (karena secara fakta dan realita memang benar adanya).
Tetapi manakala berhubungan persoalan dengan sesama kadang tidak sedikit tidak semua orang bisa menyadari kesalahan sehingga kalau diteruskanpun akan muncul yang namanya berantem.
Kadang emosi tentu akan selalu mengajak untuk mempertahankan karena memang benar adanya.
Tetapi ada juga pepatah jawa yang mengatakan NGALAH LUHUR WEKASANE iku mau tapi kok ya belum bisa ikhlas benar rasanya.
Rasa apa..... yang didapat seandainya berani "MENGALAH".
Renungan Sabtu..
Rabu, 09 Februari 2011
REBUTAN BENER
Musim/jaman sudah semakin komplit
Kosa katapun sudah semakin kompleks sarat dengan ribuan makna yang selalu berkembang.
Olah pikir, cipta karsa manusiapun semakin canggih
Rasa Ke -AKUAN - pun semakin terbentuk
Pepatah : WONG JOWO ILANG JAWANE yo wis memper.
Wong wis ora rikuh pakewuh (banyak yg menilai negatif rikuh pakewuh) tetapi dengan hilangnya rikuh pakewuh maka orang akan senang bila dikatakan yang "PALING".
Sebagian besar wis merasa "SING PALING" (Bener, Pinter, Cerdas, Bersih.... dst)
Padahal jelas-jelas Menungsa (manusia) --> tempatnya salah dan lupa.
====== Sang Penciptalah sang Maha Segala Maha (ora ono sing nglewihi)========
Tapi apa yang terjadi, rata-rata sudah lupa dengan point di atas.
Monggo tambahan untuk renungan.
Kosa katapun sudah semakin kompleks sarat dengan ribuan makna yang selalu berkembang.
Olah pikir, cipta karsa manusiapun semakin canggih
Rasa Ke -AKUAN - pun semakin terbentuk
Pepatah : WONG JOWO ILANG JAWANE yo wis memper.
Wong wis ora rikuh pakewuh (banyak yg menilai negatif rikuh pakewuh) tetapi dengan hilangnya rikuh pakewuh maka orang akan senang bila dikatakan yang "PALING".
Sebagian besar wis merasa "SING PALING" (Bener, Pinter, Cerdas, Bersih.... dst)
Padahal jelas-jelas Menungsa (manusia) --> tempatnya salah dan lupa.
====== Sang Penciptalah sang Maha Segala Maha (ora ono sing nglewihi)========
Tapi apa yang terjadi, rata-rata sudah lupa dengan point di atas.
Monggo tambahan untuk renungan.
Minggu, 02 Januari 2011
Menjadi Manusia yang Pandai Bersyukur
Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham
Ketika kita menggemakan takbir-terutama saat berhari raya-tersirat pemahaman bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah Mahabesar, sementara kita yang diciptakannya adalah kecil. Kita hina dan tak punya daya dan kekuatan untuk berkiprah, kecuali karena kemurahan dan kebesaran Allah. Karena itu, ketika kita telah merampungkan sebuah perjuangan (baca; Ramadhan), maka perbanyaklah takbir.
“Dan hendaklah bertakbir atas anugerah yang telah Allah berikan. Semoga kalian menjadi hamba-Nya yang bersyukur.” (QS al-Baqarah [2]: 185). Ayat ini merupakan satu rangkaian dengan perintah puasa (QS [2]: 183).
Ramadhan mencetak kita menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Dan orang yang bertakwa, akan senantiasa mengingat kebesaran Allah, termasuk semua nikmat yang telah diberikan kepadanya.
Di lidah ia mengucapkan kalimat takbir, dalam amal perbuatan ia menerjemahkannya dengan rasa syukur. Karena itu, menjadi pribadi yang bertakwa belum cukup bila tidak dibarengi dengan pribadi yang bersyukur. Kenapa? Karena maqam syukur lebih tinggi dari maqam takwa. Sebab, syukur menjadi maqam-nya para nabi dan rasul. Karenanya, Allah menegaskan, hanya sedikit dari hamba-Nya yang pandai bersukur (QS Saba [34]: 13).
Syukur merupakan satu stasiun hati yang akan menarik seseorang pada zona damai, tenteram, dan bahagia. Ia juga akan mendapatkan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat, sekaligus mendapatkan insentif pahala dan kenikmatan yang terus bertambah dari Allah SWT (QS Ibrahim [14:] 7).
Rasul SAW adalah manusia yang pandai bersyukur. Suatu ketika, beliau pernah ditanya Bilal, “Apakah yang menyebabkan baginda menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa baginda, baik yang dahulu maupun yang akan datang?” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau suka aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”
Dzunnun al-Mishri memberi tiga gambaran tentang manifestasi syukur dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, kepada yang lebih tinggi urutan dan kedudukannya, maka ia senantiasa menaatinya (bit-tha’ah). “Hai orang-orang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara kalian …” (QS an-Nisa [4]: 59).
Kedua, kepada yang setara, kita mengejawantahnya dengan bil-hadiyyah. Saling tukar pemberian. Kita harus sering-sering memberi hadiah kepada istri atau suami, saudara, teman seperjuangan, sejawat dan relasi. Dengan cara itu, maka akan ada saling cinta dan kasih.
Ketiga, kepada yang lebih bawah dan rendah dari kita, rasa syukur dimanifestasikan dengan bil-ihsan. Selalu memberi dan berbuat yang terbaik. Kepada anak, adik-adik, anak didik, para pegawai, buruh, pembantu di rumah dan semua yang stratanya di bawah kita, haruslah kita beri sesuatu yang lebih baik. Jalinlah komunikasi dan berinteraksilah dengan baik, dan kalau hendak men-tasharuf-kan rezeki, berikan dengan sesuatu yang baik (QS as-Syu’ara [26]: 215 dan al-Baqarah [2]:195). Wallahu a’lam
Ketika kita menggemakan takbir-terutama saat berhari raya-tersirat pemahaman bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah Mahabesar, sementara kita yang diciptakannya adalah kecil. Kita hina dan tak punya daya dan kekuatan untuk berkiprah, kecuali karena kemurahan dan kebesaran Allah. Karena itu, ketika kita telah merampungkan sebuah perjuangan (baca; Ramadhan), maka perbanyaklah takbir.
“Dan hendaklah bertakbir atas anugerah yang telah Allah berikan. Semoga kalian menjadi hamba-Nya yang bersyukur.” (QS al-Baqarah [2]: 185). Ayat ini merupakan satu rangkaian dengan perintah puasa (QS [2]: 183).
Ramadhan mencetak kita menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Dan orang yang bertakwa, akan senantiasa mengingat kebesaran Allah, termasuk semua nikmat yang telah diberikan kepadanya.
Di lidah ia mengucapkan kalimat takbir, dalam amal perbuatan ia menerjemahkannya dengan rasa syukur. Karena itu, menjadi pribadi yang bertakwa belum cukup bila tidak dibarengi dengan pribadi yang bersyukur. Kenapa? Karena maqam syukur lebih tinggi dari maqam takwa. Sebab, syukur menjadi maqam-nya para nabi dan rasul. Karenanya, Allah menegaskan, hanya sedikit dari hamba-Nya yang pandai bersukur (QS Saba [34]: 13).
Syukur merupakan satu stasiun hati yang akan menarik seseorang pada zona damai, tenteram, dan bahagia. Ia juga akan mendapatkan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat, sekaligus mendapatkan insentif pahala dan kenikmatan yang terus bertambah dari Allah SWT (QS Ibrahim [14:] 7).
Rasul SAW adalah manusia yang pandai bersyukur. Suatu ketika, beliau pernah ditanya Bilal, “Apakah yang menyebabkan baginda menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa baginda, baik yang dahulu maupun yang akan datang?” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau suka aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”
Dzunnun al-Mishri memberi tiga gambaran tentang manifestasi syukur dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, kepada yang lebih tinggi urutan dan kedudukannya, maka ia senantiasa menaatinya (bit-tha’ah). “Hai orang-orang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara kalian …” (QS an-Nisa [4]: 59).
Kedua, kepada yang setara, kita mengejawantahnya dengan bil-hadiyyah. Saling tukar pemberian. Kita harus sering-sering memberi hadiah kepada istri atau suami, saudara, teman seperjuangan, sejawat dan relasi. Dengan cara itu, maka akan ada saling cinta dan kasih.
Ketiga, kepada yang lebih bawah dan rendah dari kita, rasa syukur dimanifestasikan dengan bil-ihsan. Selalu memberi dan berbuat yang terbaik. Kepada anak, adik-adik, anak didik, para pegawai, buruh, pembantu di rumah dan semua yang stratanya di bawah kita, haruslah kita beri sesuatu yang lebih baik. Jalinlah komunikasi dan berinteraksilah dengan baik, dan kalau hendak men-tasharuf-kan rezeki, berikan dengan sesuatu yang baik (QS as-Syu’ara [26]: 215 dan al-Baqarah [2]:195). Wallahu a’lam
Jadilah Engkau Ahlul Mujahadah
Ibnu Qayyim Al-Jauzi mengatakan, orang-orang yang berhak mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ itu, tidak mudah. Tentu untuk mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ itu memerlukan mujahadah dan tajarrud (totalitas). Mujahadah dengan segala jiwa dan raganya agar mencapai maqam yang hendak dituju. Tidak mungkin hanya dapat dicapai dengan bentuk raganya, tanpa jiwa dan bathinnya ikut bermujahadah.
Diantaranya, golongan pertama yang berpendapat, bahwa ibadah yang paling utama dan paling bermanfaat, ialah yang paling berat dan paling sulit atas jiwa. “Karena ia paling jauh dari hawa nafsu, dan merupakan hakikat ta’abud. Pahala diberikan berdasarkan kadar kesulitannya.” Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadist, “Amal yang paling utama ialah yang paling sulit dan paling melarat.”
Mereka ini adalah ahlul mujahadah dan orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Di tengah-tengah beratnya godaan, yang terus-menerus dialami dengan segala bentuknya, dan mereka dapat selamat dari semua godaan, tanpa sedikitpun tersentuh oleh godaan dan hawa nafsu yang datang dari setan. Golongan ini, berkata, “Sesungguhnya jiwa hanya dapat lurus dengan ibadah yang sulit dan berat, karena jiwa mempunyai karakter malas, dan menyukai kerendahan dan kehinaan. Ia tidak dapat menjadi lurus, kecuali dengan melakukan hal-hal yang berat dan memikul kesulitan.”
Meninggalkan segala kenikmatan, kemewahan, angan-angan akan keindahan dunia, harta yang banyak , semuanya harus dipupus. Selain itu, harus meninggalkan orang-orang yang selalu menawarkan kenikmatan, keindahan, pangkat, serta buaian wanita-wanita yang cantik, dan dengan segala bujukan keindahan dan kenikmatan yang selalu ditawarkannya. Semuanya itu hanyalah akan mendera jiwa dan bathinnya,dan tak akan dapat membuat dirinya mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budi wa Iyyaka Nata’in”.
Tidak mungkin dapat mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ bagi jiwa dan bathin orang-orang yang terus menerus hidupnya dipenuhi dengan khayalan dan dikotori oleh kehidupan dunia, yang tidak pernah henti-henti. Kehidupan dunia hanyalah ambisi orang-orang yang lalai, dan tidak menyukai maqam ‘Iyyaka Na’budu”, karena hakikatnya mereka tidak lagi mempercayai janji dari Allah Azza Wa Jalla. Mereka ini hanyalah menjadi budak dunia, dan kemudian berwala’ (memberikan loyalitasnya) kepada hamba-hamba setan.
Bagi mereka yang menginginkan maqam ‘Iyyaka Na’budu’, hanya dapat dicapai dengan melakukan hal-hal yang berat dan memikul kesulitan. Kesulitan dan beban berat yang harus dipikul, pasti akan bermunculan dalam kehidupan ini, terutama bagi mereka yang ingin mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’, karena tantangan dalam kehidupan jahiliyah, yang tak lagi mengenal batas-batas, yang sudah ditetapkan dalam Qur’an dan Sunnah. Kencintaan pada hawa nafsunya telah membawa mereka meninggalkan segala kebaikan yang bersifat fitrah yang diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla kepada mereka.
Bagi mereka yang ingin menggapai maqam ‘Iyyaka Na’budu”, orientasi hidup mereka hanyalah mencari ridho Allah. Tidak mencari ridho makhluk termasuk manusia. Ketika, ibadah utama di masa jihad adalah mengutamakan jihad, dan meninggalkan wirid-wirid, seperti shalat malam, dan puasa sunah pada siang hari, bahkan sampai meninggalkan kesempurnaan shalat fardhu seperti dalam kondisi aman. Mereka pergi berjihad di jalan Allah Rabbul Alamin.
Karena mereka tahu bagi mereka yang memiliki maqam ‘Iyyaka Na’budu’, nilai berjihad itu lebih utama, dan akan janji Allah Azza Wa Jalla, di mana akan memasukkan ke dalam surga-Nya, tanpa melalui hisab, bagi mereka yang mati syahid. Betapa indahnya kehidupan bakal digapai kelak di akhirat.
Bagi mereka yang ingin mendapatkan maqam ‘Iyyaka Na’budi’, lebih menyukai bangun malam, melakukan shalatul lail, membaca Qur’an, berdo’a, berdzikir, beristighfar, meninggalkan segala urusan saat datangnya adzan, melaksanakan shalat fardhu dengan penuh ikhlas, dan pergi ke masjid-masjid shalat berjamaah. Mereka tetap shalat berjamaah dalam kondisi apapun. Tidak sekali-kali masbukh. Masjid sebagai ‘Baitullah’ lebih utama dari segalanya. Tidak berarti apapun baginya, kecuali hanya masjid yang berharga bagi kehidupannya, di mana setiap saat sesuai dengan ketentuan Rabbnya, dan selalu melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.
Saat orang-orang membutuhkan pertolongan baik jabatan, fisik, maupun harta, maka ia akan segera memberikan pertolongan, dan berpikir panjang tentang pribadinya, dan mensegerakan kepentingan dari saudaranya yang tertimpa musibah.
Ketika membaca Qur’an, tak ada lagi yang diingatnya, karena Qur’an itu adalah ‘Kalamullah’, dan membaca dengan sepenuh hati, memahami makna-maknanya, dan berjanji melaksanakan semua perintah-Nya. Seperti generasi Salaf, yang terus melaksanakan apa saja, yang diperintahkan oleh Allah Azza Wa Jalla, sehingga mereka mendapatkan kemuliaan dan kejayaan.
Ketika, menjelang hari terakhir di bulan Ramadhan, ia tinggalkan semunya, dan beri’tikaf di masjid-masjid, dan hanya mengharapkan datangnya maghfirah dari Rabbnya. Tidak lagi menyibukkan diri dengan kehidupan dunia, yang justru akan merusak hari terakhir puasa, yang akan membawanya kepada golongan muttaqin.
Mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ sebuah perjuangan yang sangat berat bagi manusia. Karena manusia selalu digoda oleh hawa nafsunya, dan sifat malasnya untuk melakukan kebaikan dan mencintai Rabbnya.
Manusia jahiliyah hidupnya hanyalah dipenuhi dengan berebut sekerat kehidupan dunia, yang diakhirat menjadikan mereka golongan yang merugi. Wallahu’alam.
~ Ustadz Mashadi ~ sumber: eramuslim.com
Diantaranya, golongan pertama yang berpendapat, bahwa ibadah yang paling utama dan paling bermanfaat, ialah yang paling berat dan paling sulit atas jiwa. “Karena ia paling jauh dari hawa nafsu, dan merupakan hakikat ta’abud. Pahala diberikan berdasarkan kadar kesulitannya.” Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadist, “Amal yang paling utama ialah yang paling sulit dan paling melarat.”
Mereka ini adalah ahlul mujahadah dan orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Di tengah-tengah beratnya godaan, yang terus-menerus dialami dengan segala bentuknya, dan mereka dapat selamat dari semua godaan, tanpa sedikitpun tersentuh oleh godaan dan hawa nafsu yang datang dari setan. Golongan ini, berkata, “Sesungguhnya jiwa hanya dapat lurus dengan ibadah yang sulit dan berat, karena jiwa mempunyai karakter malas, dan menyukai kerendahan dan kehinaan. Ia tidak dapat menjadi lurus, kecuali dengan melakukan hal-hal yang berat dan memikul kesulitan.”
Meninggalkan segala kenikmatan, kemewahan, angan-angan akan keindahan dunia, harta yang banyak , semuanya harus dipupus. Selain itu, harus meninggalkan orang-orang yang selalu menawarkan kenikmatan, keindahan, pangkat, serta buaian wanita-wanita yang cantik, dan dengan segala bujukan keindahan dan kenikmatan yang selalu ditawarkannya. Semuanya itu hanyalah akan mendera jiwa dan bathinnya,dan tak akan dapat membuat dirinya mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budi wa Iyyaka Nata’in”.
Tidak mungkin dapat mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ bagi jiwa dan bathin orang-orang yang terus menerus hidupnya dipenuhi dengan khayalan dan dikotori oleh kehidupan dunia, yang tidak pernah henti-henti. Kehidupan dunia hanyalah ambisi orang-orang yang lalai, dan tidak menyukai maqam ‘Iyyaka Na’budu”, karena hakikatnya mereka tidak lagi mempercayai janji dari Allah Azza Wa Jalla. Mereka ini hanyalah menjadi budak dunia, dan kemudian berwala’ (memberikan loyalitasnya) kepada hamba-hamba setan.
Bagi mereka yang menginginkan maqam ‘Iyyaka Na’budu’, hanya dapat dicapai dengan melakukan hal-hal yang berat dan memikul kesulitan. Kesulitan dan beban berat yang harus dipikul, pasti akan bermunculan dalam kehidupan ini, terutama bagi mereka yang ingin mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’, karena tantangan dalam kehidupan jahiliyah, yang tak lagi mengenal batas-batas, yang sudah ditetapkan dalam Qur’an dan Sunnah. Kencintaan pada hawa nafsunya telah membawa mereka meninggalkan segala kebaikan yang bersifat fitrah yang diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla kepada mereka.
Bagi mereka yang ingin menggapai maqam ‘Iyyaka Na’budu”, orientasi hidup mereka hanyalah mencari ridho Allah. Tidak mencari ridho makhluk termasuk manusia. Ketika, ibadah utama di masa jihad adalah mengutamakan jihad, dan meninggalkan wirid-wirid, seperti shalat malam, dan puasa sunah pada siang hari, bahkan sampai meninggalkan kesempurnaan shalat fardhu seperti dalam kondisi aman. Mereka pergi berjihad di jalan Allah Rabbul Alamin.
Karena mereka tahu bagi mereka yang memiliki maqam ‘Iyyaka Na’budu’, nilai berjihad itu lebih utama, dan akan janji Allah Azza Wa Jalla, di mana akan memasukkan ke dalam surga-Nya, tanpa melalui hisab, bagi mereka yang mati syahid. Betapa indahnya kehidupan bakal digapai kelak di akhirat.
Bagi mereka yang ingin mendapatkan maqam ‘Iyyaka Na’budi’, lebih menyukai bangun malam, melakukan shalatul lail, membaca Qur’an, berdo’a, berdzikir, beristighfar, meninggalkan segala urusan saat datangnya adzan, melaksanakan shalat fardhu dengan penuh ikhlas, dan pergi ke masjid-masjid shalat berjamaah. Mereka tetap shalat berjamaah dalam kondisi apapun. Tidak sekali-kali masbukh. Masjid sebagai ‘Baitullah’ lebih utama dari segalanya. Tidak berarti apapun baginya, kecuali hanya masjid yang berharga bagi kehidupannya, di mana setiap saat sesuai dengan ketentuan Rabbnya, dan selalu melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.
Saat orang-orang membutuhkan pertolongan baik jabatan, fisik, maupun harta, maka ia akan segera memberikan pertolongan, dan berpikir panjang tentang pribadinya, dan mensegerakan kepentingan dari saudaranya yang tertimpa musibah.
Ketika membaca Qur’an, tak ada lagi yang diingatnya, karena Qur’an itu adalah ‘Kalamullah’, dan membaca dengan sepenuh hati, memahami makna-maknanya, dan berjanji melaksanakan semua perintah-Nya. Seperti generasi Salaf, yang terus melaksanakan apa saja, yang diperintahkan oleh Allah Azza Wa Jalla, sehingga mereka mendapatkan kemuliaan dan kejayaan.
Ketika, menjelang hari terakhir di bulan Ramadhan, ia tinggalkan semunya, dan beri’tikaf di masjid-masjid, dan hanya mengharapkan datangnya maghfirah dari Rabbnya. Tidak lagi menyibukkan diri dengan kehidupan dunia, yang justru akan merusak hari terakhir puasa, yang akan membawanya kepada golongan muttaqin.
Mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ sebuah perjuangan yang sangat berat bagi manusia. Karena manusia selalu digoda oleh hawa nafsunya, dan sifat malasnya untuk melakukan kebaikan dan mencintai Rabbnya.
Manusia jahiliyah hidupnya hanyalah dipenuhi dengan berebut sekerat kehidupan dunia, yang diakhirat menjadikan mereka golongan yang merugi. Wallahu’alam.
~ Ustadz Mashadi ~ sumber: eramuslim.com
Selasa, 28 Desember 2010
Kehidupan nyanyian
Karena tahu bahaya dikacaukan pikiran, penekun kejernihan memilih terserap dalam-dalam (menyatu) dengan kekinian, kemudian mendengarkan kehidupan sebagai nyanyian (”0lala”). Nyanyian kehidupan serupa langit, ada saatnya terang benderang cerah bercahaya (baca: bersih jernih). Ada kala kelam ditutupi awan gelap (kesedihan). Di waktu lain, langit dibungkus awan putih (kebahagiaan). Namun, awan gelap tak membuat langit jadi hitam. Awan putih tak membuat langit jadi putih. Apa pun yang terjadi, langit tetap biru. Dalam meditasi, ini disebut pencerahan.
Ciri pertama, batin sudah bangun dari tidur panjang (the awakened mind). Terlalu lama batin tidur lelap bersama gonjang-ganjing pikiran. Seolah-olah gonjang-ganjing pikiran itulah kehidupan. Ciri kedua, muncul rasa lapar untuk berbakti kepada yang di atas (devotion), serta berbagi welas asih kepada semua makhluk (infinite compassion). Bagi yang telah sampai di sini mengerti, kebahagiaan tak melakukan penambahan, kesedihan tak melakukan pengurangan. Demi kasih sayang kepada semua makhluk, nyanyian suci kehidupan tetap harus didendangkan.
Jalalludin Rumi punya puisi bagus sekali: ”Kehidupan serupa tinggal di losmen. Setiap hari tamunya berganti. Tapi siapa pun tamunya, jangan lupa selalu tersenyum”. Thich Nhat Hanh menyebut keadaan batin seperti ini present moment wonderful moment. Bila manusia kebanyakan hanya berbahagia jika menjadi majikan, Santo Fransiscus dari Asisi justru damai tatkala menjadi pelayan. Dalam bahasa kebanyakan, orang-orang seperti ini disebut ”berkorban”. Namun, bagi yang melaksanakan, mereka merasa damai sekali menjaga keseimbangan alam. Kadang disebut menyatu dengan nyanyian alam. Di tengah miliaran manusia yang hanya mau menang, harus ada yang mengambil kekalahan. Dalam arus zaman yang mengagungkan kemewahan, harus ada yang mengenakan baju kesederhanaan. Ketika kehidupan bergejolak seperti samudra keriuhan, mesti ada yang istirahat dalam keheningan.
Inti jalan ini hanya satu, melihat, melakoni, mengakhiri kehidupan dengan keindahan. Inilah kehidupan sebagai kidung (nyanyian) suci. Siapa saja yang senantiasa terserap jadi satu ke dalam kekinian, ia akan melihat keindahan di mana-mana.
Makanya tetua Jawa (ditiru tetua Bali) di pekarangan rumahnya sering menanam sawo kecik. Dalam bahasa Bali diterjemahkan menjadi sarwa becik (semuanya baik). Harapannya agar setiap manusia yang bertumbuh di rumah bisa melihat bahwa semuanya baik. Karena demikianlah, orang-orang yang memperlakukan kehidupan sebagai nyanyian suci mengisi kesehariannya dengan praktik kesadaran dan keindahan. Bangun tidur sebagai contoh, dimulai dengan bergumam pelan: ”Hidup adalah sebuah pilihan lengkap dengan konsekuensinya. Bila memilih kemarahan, penderitaan akibatnya. Jika mengisi kehidupan dengan welas asih, maka kebahagiaan hadiahnya”.
Membuka pintu sebagai contoh lain, kelompok ini akan melafalkan renungan: ”Pikiran berisi terlalu banyak burung riuh bernyanyi. Tuhan ditabrakkan dengan setan, orang baik dimusuhkan dengan orang munafik. Dengan membuka pintu ini, biarlah burung-burung riuh itu lepas ke angkasa. Menyisakan batin sunyi-sepi yang menyentuh hati”. Bila dilanda sial, ia akan memanggil guru di dalam diri: ”Guru terima kasih terus-menerus membimbing. Dalam sukacita guru sedang memotivasi. Dalam dukacita guru sedang mengajarkan untuk selalu rendah hati”.
Dalam kehidupan yang diisi praktik kesadaran mendalam, semua tempat jadi tempat suci. Semua suara (termasuk pujian dan cacian) jadi mantra suci. Semua ciptaan jadi makhluk suci.
Sebagai hasil dari praktik mendalam seperti ini, manusia tak saja bisa tersenyum dengan bibir, juga bisa tersenyum dengan mata (baca: memandang semua dengan senyuman). Kadang ada yang menyebutnya memandang kehidupan dengan pandangan mendalam karena penuh pengertian dan permakluman. Hidup sesungguhnya serangkaian kidung suci. Cuma, semakin lama semakin sedikit yang menyanyikan kidung suci kehidupan. Dan di tengah hamparan samudra tangisan di mana-mana (bencana alam, bom teroris, bunuh diri, kriminalitas, korupsi, dan lain-lain), alangkah menyejukkan bila sebagian pojokan kehidupan mendendangkan nyanyian.
http://gedeprama.blogdetik.com/2010/10/01/pencerahan-dalam-perjalanan/
Oleh: Gede Prama
Ciri pertama, batin sudah bangun dari tidur panjang (the awakened mind). Terlalu lama batin tidur lelap bersama gonjang-ganjing pikiran. Seolah-olah gonjang-ganjing pikiran itulah kehidupan. Ciri kedua, muncul rasa lapar untuk berbakti kepada yang di atas (devotion), serta berbagi welas asih kepada semua makhluk (infinite compassion). Bagi yang telah sampai di sini mengerti, kebahagiaan tak melakukan penambahan, kesedihan tak melakukan pengurangan. Demi kasih sayang kepada semua makhluk, nyanyian suci kehidupan tetap harus didendangkan.
Jalalludin Rumi punya puisi bagus sekali: ”Kehidupan serupa tinggal di losmen. Setiap hari tamunya berganti. Tapi siapa pun tamunya, jangan lupa selalu tersenyum”. Thich Nhat Hanh menyebut keadaan batin seperti ini present moment wonderful moment. Bila manusia kebanyakan hanya berbahagia jika menjadi majikan, Santo Fransiscus dari Asisi justru damai tatkala menjadi pelayan. Dalam bahasa kebanyakan, orang-orang seperti ini disebut ”berkorban”. Namun, bagi yang melaksanakan, mereka merasa damai sekali menjaga keseimbangan alam. Kadang disebut menyatu dengan nyanyian alam. Di tengah miliaran manusia yang hanya mau menang, harus ada yang mengambil kekalahan. Dalam arus zaman yang mengagungkan kemewahan, harus ada yang mengenakan baju kesederhanaan. Ketika kehidupan bergejolak seperti samudra keriuhan, mesti ada yang istirahat dalam keheningan.
Inti jalan ini hanya satu, melihat, melakoni, mengakhiri kehidupan dengan keindahan. Inilah kehidupan sebagai kidung (nyanyian) suci. Siapa saja yang senantiasa terserap jadi satu ke dalam kekinian, ia akan melihat keindahan di mana-mana.
Makanya tetua Jawa (ditiru tetua Bali) di pekarangan rumahnya sering menanam sawo kecik. Dalam bahasa Bali diterjemahkan menjadi sarwa becik (semuanya baik). Harapannya agar setiap manusia yang bertumbuh di rumah bisa melihat bahwa semuanya baik. Karena demikianlah, orang-orang yang memperlakukan kehidupan sebagai nyanyian suci mengisi kesehariannya dengan praktik kesadaran dan keindahan. Bangun tidur sebagai contoh, dimulai dengan bergumam pelan: ”Hidup adalah sebuah pilihan lengkap dengan konsekuensinya. Bila memilih kemarahan, penderitaan akibatnya. Jika mengisi kehidupan dengan welas asih, maka kebahagiaan hadiahnya”.
Membuka pintu sebagai contoh lain, kelompok ini akan melafalkan renungan: ”Pikiran berisi terlalu banyak burung riuh bernyanyi. Tuhan ditabrakkan dengan setan, orang baik dimusuhkan dengan orang munafik. Dengan membuka pintu ini, biarlah burung-burung riuh itu lepas ke angkasa. Menyisakan batin sunyi-sepi yang menyentuh hati”. Bila dilanda sial, ia akan memanggil guru di dalam diri: ”Guru terima kasih terus-menerus membimbing. Dalam sukacita guru sedang memotivasi. Dalam dukacita guru sedang mengajarkan untuk selalu rendah hati”.
Dalam kehidupan yang diisi praktik kesadaran mendalam, semua tempat jadi tempat suci. Semua suara (termasuk pujian dan cacian) jadi mantra suci. Semua ciptaan jadi makhluk suci.
Sebagai hasil dari praktik mendalam seperti ini, manusia tak saja bisa tersenyum dengan bibir, juga bisa tersenyum dengan mata (baca: memandang semua dengan senyuman). Kadang ada yang menyebutnya memandang kehidupan dengan pandangan mendalam karena penuh pengertian dan permakluman. Hidup sesungguhnya serangkaian kidung suci. Cuma, semakin lama semakin sedikit yang menyanyikan kidung suci kehidupan. Dan di tengah hamparan samudra tangisan di mana-mana (bencana alam, bom teroris, bunuh diri, kriminalitas, korupsi, dan lain-lain), alangkah menyejukkan bila sebagian pojokan kehidupan mendendangkan nyanyian.
http://gedeprama.blogdetik.com/2010/10/01/pencerahan-dalam-perjalanan/
Oleh: Gede Prama
Kamis, 25 November 2010
KUMPULAN RENUNGAN “GEDE PRAMA”
Salon yang Mempercantik Jiwa
Menyusul derasnya jumlah bencana yang menghadang di depan mata, dari tsunami, gunung meletus, bom teroris, lumpur panas, banjir, tanah longsor lengkap dengan jumlah korbannya yang tidak terhitung, tidak sedikit manusia yang bertanya: apakah Tuhan sedang marah? Sebuah pertanyaan sederhana, sekaligus menjadi warna dominan banyak wacana. Dan sebagaimana biasa, jawaban pun terbelah dua: ada yang menjawab positif, ada yang menjawab negatif.
Di Timur telah lama terdengar pendapat, kalau Tuhan penari maka alam adalah tarianNya. Bila demikian, adakah alam yang murka di mata pikiran manusia mencerminkan kemarahan Tuhan?. Entahlah, yang jelas pertanyaan terakhir mengingatkan pada cerita seorang sahabat pastur tentang seorang Ibu yang permennya dicuri puteranya Rio. Melihat puteranya mencuri, Ibu ini bertanya: ‘Rio, tidakkah kamu melihat Tuhan ketika mencuri permen mama?’. Dengan polos Rio menjawab: ‘lihat ma!’. Mendengar jawaban seperti ini, mamanya tambah marah, dan diikuti pertanyaan yang lebih emosi: ‘Tuhan bilang apa sama kamu Rio?’. Dasar seorang anak polos, Rio menjawab jujur: ‘boleh ambil dua!’.
Tentu saja ini cerita yang terbuka dari penafsiran. Dari salah satu sudut pandang terlihat, wajah Tuhan di kepala kita teramat tergantung pada kebersihan batin kita masing-masing. Dalam batin bersih seorang anak polos dan jujur seperti Rio, Tuhan berwajah pemaaf dan pemurah. Dalam batin yang mudah emosi dan curiga seperti mama Rio, wajah Tuhan menjadi pemarah dan penghukum. Hal serupa juga terjadi dalam cara Indonesia memandang bencana.
Tanpa menggunakan kerangka baik-buruk, benar-salah, suci-kotor, tinggi-rendah, banyak guru mengajarkan kalau manusia berada pada tingkat pertumbuhan masing-masing. Dimanapun tingkatannya, semua punya tugas yang sama: bertumbuh!. Tidak disarankan yang sudah sampai tingkatan SMU misalnya kemudian menghina yang baru sampai SD. Tidak juga disarankan kalau yang baru sampai SMP kemudian minder berlebihan pada mereka yang sudah sampai perguruan tinggi. Semuanya bertumbuh. Tidak ada jaminan yang sekarang SMA pasti lebih cepat sampai dibandingkan dengan yang sekarang baru SD misalnya.
Dengan spirit seperti ini, izinkanlah tulisan ini membagi pertumbuhan ke dalam empat pertumbuhan jiwa. Pertama mereka yang menjadi pedagang kehidupan dan pedagang doa. Jangankan dengan Tuhan, dengan siapa saja ia berdagang. Kalau permohonan tercapai maka Tuhan berwajah baik, kalau tidak dipenuhi apa lagi dihadang bencana maka Tuhan disebut marah. Dan dalam pandangan kelompok ini, bencana tidak lain hanyalah Tuhan yang murka pada ulah manusia. Tidak salah tentunya, karena ini bagian dari proses pertumbuhan.
Kelompok kedua adalah pencinta tingkat remaja. Ciri kelompok ini adalah rasa memiliki yang tinggi. Tidak boleh ada orang lain, hanya dia yang boleh dekat dan dicintai Tuhan. Cinta bagi kelompok ini, tidak ada pilihan lain kecuali menyayangi, memaafkan, membebaskan. Tidak dibolehkan. ada ekspresi dari cinta Tuhan selain menyayangi, memaafkan dan membebaskan. Begitu ada wajah cinta yang lain (lebih-lebih berwajah bencana), maka mudah ditebak kemana kehidupan bergerak: benci tapi rindu!. Ini asal muasal pertanyaan sejumlah sahabat yang luka ketika bencana, kemudian bertanya: Tuhan, masihkah Engkau menyayangiku?
Kelompok ketiga adalah pencinta tingkat dewasa. Cinta tidak lagi diikuti kebencian. Cinta adalah cinta. Ia tidak berlawankan kebencian. Lebih dari itu, berbeda dengan kelompok kedua yang menempatkan dicintai lebih indah dibandingkan dengan mencintai, pada tingkat ini terbalik: mencintai lebih indah dibandingkan dicintai. Sehingga bencana, bagi jiwa yang sudah sampai di sini, tidak ditempatkan sebagai hukuman, melainkan masukan tentang segi-segi di dalam diri yang perlu diperbaiki. Dengan kata lain, bencana adalah vitamin bagi bertumbuhnhya jiwa.
Kelompok keempat adalah jiwa yang tidak lagi mencari apa-apa. Bukan karena marah apalagi frustrasi. Sekali lagi bukan. Namun karena melalui rasa berkecukupan, ikhlas dan syukur yang mendalam kemudian dibimbing, kalau semuanya sudah sempurna. Sehat sempurna, sakit juga sempurna. Bukankah sakit yang mengajari menghargai kesehatan secara baik? Sukses sempurna, gagal juga sempurna. Bukankah kegagalan membimbing kita pada puncak kehidupan yang bernama tahu diri? Kehidupan sempurna, kematian juga sempurna. Bukankah kematian adalah mitra makna kehidupan yang membukakan pengertian kehidupan yang jauh lebih dalam? Kaya sempurna, miskin juga sempurna. Bukankah kemiskinan adalah pendidikan untuk tidak sombong dan senantiasa rendah hati? Sehingga dalam jiwa-jiwa yang sudah sampai di sini, tidak ada kamus bencana. Apapun yang terjadi diberi judul sama: sempurna!. 0rang Buddha menyebut ini Nirvana. Sebagian sahabat Islam dan Nasrani menyebutnya surga sebelum kematian. Sebagian orang Hindu menyebutnya maha samadhi. Dalam bahasa Confucius: ‘Bila bertemu orang baik tauladanilah. Jika bertemu orang jahat periksalah pikiran Anda sendiri’.
Kembali ke cerita awal tentang bencana dan Tuhan yang sedang marah, pilihan sikap yang diambil memang cermin pertumbuhan jiwa masing-masing. Seperti disebut sebelumnya, semuanya sedang bertumbuh. Penghakiman terhadap orang lain hanya menghambat pertumbuhan kita sendiri. Menyebut diri lebih baik, menempatkan orang kurang baik, hanya kesibukan ego yang meracuni pertumbuhan jiwa kemudian.
Dan bagi siapa saja yang sudah tumbuh menjadi pencinta tingkat dewasa, lebih-lebih sudah menjadi jiwa yang tidak lagi mencari, Indonesia tidak lagi berwajah negara bencana. Indonesia adalah salon yang mempercantik jiwa. Tanpa cobaan, bukankah kehidupan hanya berputar-putar di luar dan mudah terasa hambar? Bukankah dalam cobaan, dalam godaan, dalam guncangan, semua jiwa sedang digerakkan masuk ke dalam? Bukankah hanya di dalam sini jiwa bisa dibuat indah dan cantik? Seperti seorang wanita yang segar bugar keluar dari ruang olah raga, bukankah kesediaan untuk lelah sebentar (baca: digoda bencana sebentar) yang membuatnya jadi bugar? Maafkanlah tulisan ini ditutup dengan pertanyaan.
Kematian Juga Menawan
Sebelum Mahatma Gandhi berpidato di salah satu forum internasional di London, pendampingnya berpisik pelan sopan: “Mahatma, Anda belum menulis teks pidato”. Dengan senyum khas Gandhi menjawab: “My life is my true speech”. Hidupku adalah pidatoku yang sesungguhnya. Membaca pemberitaan meletusnya gunung Merapi 26-10-2010, alam seperti sedang berpidato ke kita semua. Dan diantara demikian banyak pesan Merapi, tidak ada yang lebih menyentuh hati ketika mengetahui juru kunci Merapi Mbah Maridjan wafat dalam posisi sujud.
Bila benar bahwa kematian adalah “pertempuran” spiritual menentukan, Mbah Maridjan terang benderang memperlihatkan bahwa beliau telah mengalami kemenangan spiritual. Disebut kemenangan karena kematian adalah simbolik alam yang paling ditakuti, bila ada yang bisa sujud hormat di depan kematian, sungguh ia menjadi kemenangan yang mengagumkan.
Kematian Sealami Daun jatuh
Bagi nyaris semua orang, kematian berwajah mengerikan. Perpisahan, kengerian, kesalahan itulah wajah yang digambar manusia kebanyakan tentang kematian. Amat manusiawi tentunya. Namun, di tangan pencari spiritual yang serius, tidak ada guru kehidupan yang lebih agung dari kematian. Karena ada kematian kemudian manusia belajar ikhlas, jauh dari kesombongan dan kecongkakan. Itu sebabnya, praktisi meditasi yang mendalam setiap hari melakukan meditasi kematian. Sebelum bangun dari meditasi, menyaksikan unsur tanah, air, api, udara dari tubuh ini kembali ke tempat asalnya melayani semua mahluk. Unsur tanah dari tubuh menyatu dengan tanah kemudian menghasilkan makanan buat para mahluk. Unsur air menyatu dengan air kemudian membuat para mahluk bisa minum.
Dalam logika sederhana, hari ketika manusia keluar dari kandungan Ibu sesungguhnya bukan awal kehidupan. Beberapa bulan sebelumnya manusia sudah lahir dalam bentuk pembuahan di kandungan Ibu. Sebelum pembuahan terjadi, sebagian dari diri kita ada di Ayah, sebagian lagi ada di Ibu. Sebelum Ayah dan Ibu lahir, keduanya ada dalam diri kakek dan nenek, dan seterusnya.
Bila hari kelahiran layak dipertanyakan sebagai awal, ia sama layaknya bila bertanya: apakah kematian adalah akhir?. Serupa dengan daun jatuh, ia memang mati sebagai daun namun melanjutkan tugas berikutnya sebagai pupuk. Dan beberapa waktu kemudian akan terlahir sebagai daun kembali. Mirip dengan gumpalan awan gelap, ketika hujan turun ia memang mati sebagai awan terlahir sebagai air. Namun di suatu waktu ia akan terlahir kembali sebagai awan.
Penderitaan terjadi ketika daun yang putaran waktunya sudah jatuh memaksa tetap bertahan di pohon, awan yang sudah saatnya berubah menjadi air ngotot bertahan sebagai awan. Tatkala putaran waktunya bencana menggoda, sebagian besar manusia ngotot kaku harus bahagia. Ini yang kerap disebut sebagai ketidakjernihan sebagai akar penderitaan.
Makanya, dalam meditasi pencapain diukur melalui tiga tingkatan pikiran: concentrated mind, unified mind, non-abiding mind. Pertama, pikiran mulai terkonsentrasi rapi. Bagi yang suka menggunakan obyek, pikiran seperti dipaku di satu tempat. Bagi yang menyenangi tanpa obyek, hanya senyum-senyum lembut pada setiap pengalaman yang muncul. Tanpa penghakiman, tanpa rasa bersalah. Kedua, ia yang lama istirahat dalam konsentrasi yang rapi suatu saat akan mengalami pengalaman kebersatuan. Sederhananya, bisa melihat dirinya di mana-mana. Di pohon, binatang, mineral, manusial, dll. Sesampai di sini, praktisi menjadi berhenti total menyakiti, amat rindu menyayangi. Karena ketika menyakiti orang sesungguhnya sedang menyakiti diri sendiri, saat menyayangi mahluk lain sesungguhnya sedang menyayangi diri sendiri.
Dan setelah lama menyatu, baru sadar ternyata tidak tersisa apa-apa (non-abiding mind). Anehnya, bila keheningan sebagaimana dimengerti orang kebanyakan menyisakan kebingungan (sepi, takut), di tingkatan ini keheningan itu mengagumkan. Serupa ruang, ia sepertinya tiada namun melimpahkan kasih sayang secara tidak terbatas. Terutama karena memberikan tempat pada apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh. Guru seperti Mbah Maridjan mengajarkan, ia yang bisa sujud di depan kematian batinnya sudah seluas ruang. Bila bisa memberikan ruang pada kematian, maka pasti bisa memberikan ruang pada yang lain. Inilah kematian yang menawan. Tanpa perlawanan, tanpa keluhan, tanpa ketakutan. Ia sealami daun jatuh, senatural awan yang berubah menjadi hujan.
Puncak Doa
Ada berbagai jenis manusia dalam berdoa. Apa pun bentuknya, semua berdoa untuk keselamatan, kesehatan, kebahagiaan. Namun, sudah menjadi sejarah doa sejak dulu, tidak semua doa terpenuhi. Kendati berdoa untuk keselamatan, sebagian manusia tidak selamat. Belajar dari sini, pencari sejati menghentikan segala bentuk doa yang dipenuhi permintaan. Pertama, ia sejenis perdagangan yang kotor dari keinginan. Kedua, cara doa seperti ini membuat subyek doa dan obyeknya terpisah. Ketiga, karena masih dua (belum menyatu, apa lagi lebur dalam keheningan), maka kemungkinan doa ini banyak kecewanya.
Untuk itu, penekun spiritual serius kemudian mendekati doa secara berbeda. Titik berangkatnya sederhana, manusia ada di dalam Tuhan, Tuhan ada di dalam manusia. Buddha menjadi yang disembah, sekaligus menjadi yang menyembah. Dari sini, doa mengingatkan kita tentang kualitas-kualitas mulya yang sudah bersemayam di dalam. Ada Tuhan, ada Buddha di dalam sehingga sangat hati-hati dalam keseharian. Jangankan berkata-kata kasar, menghina orang, berjalan di bawah jemuran saja rasanya tidak rela.
Berbekalkan ini, tubuh, kata-kata, pikiran sebagai kendaraan doa kemudian disatukan (bukannya terpencar) melalui praktek kesadaran. Kesadaran adalah sejenis cahaya terang di dalam. Tatkala cahaya di dalam berjumpa cahaya di luar sebagai tanda munculnya guru rahasia, kegelapan ketidakjernihan, keserakahan, kedengkian lenyap. Akibatnya, kegelapan ketakutan (termasuk ketakutan akan kematian) menghilang, menyisakan hanya kerinduan berbagi kasih sayang.
Dalam terang pemahaman ini, mudah dipahami bila Milarepa pernah berpesan death is not death for a yogi, it’s just a little enlightenment. Di tangan pencari tingkat tinggi seperti Milarepa dan Mbah Maridjan, kematian tidak diikuti oleh ketakutan. Kematian hanya pengalaman kecil yang mencerahkan. Inilah puncak doa. Mungkin itu sebabnya Mbah Maridjan mengungkapkan kasih sayangnya di saat kematian melalui sebuah pesan simbolik : “wafat dalam posisi bersujud”. Dengan mengucapkan maaf mendalam (deep bow) kepada seluruh sahabat yang marah serta tersinggung oleh wafatnya Mbah Maridjan, izinkan babu seperti saya mengucapkan hormat sambil merunduk: “Matur nuwun sanget Mbah, semoga semua mahluk berbahagia”.
Menyusul derasnya jumlah bencana yang menghadang di depan mata, dari tsunami, gunung meletus, bom teroris, lumpur panas, banjir, tanah longsor lengkap dengan jumlah korbannya yang tidak terhitung, tidak sedikit manusia yang bertanya: apakah Tuhan sedang marah? Sebuah pertanyaan sederhana, sekaligus menjadi warna dominan banyak wacana. Dan sebagaimana biasa, jawaban pun terbelah dua: ada yang menjawab positif, ada yang menjawab negatif.
Di Timur telah lama terdengar pendapat, kalau Tuhan penari maka alam adalah tarianNya. Bila demikian, adakah alam yang murka di mata pikiran manusia mencerminkan kemarahan Tuhan?. Entahlah, yang jelas pertanyaan terakhir mengingatkan pada cerita seorang sahabat pastur tentang seorang Ibu yang permennya dicuri puteranya Rio. Melihat puteranya mencuri, Ibu ini bertanya: ‘Rio, tidakkah kamu melihat Tuhan ketika mencuri permen mama?’. Dengan polos Rio menjawab: ‘lihat ma!’. Mendengar jawaban seperti ini, mamanya tambah marah, dan diikuti pertanyaan yang lebih emosi: ‘Tuhan bilang apa sama kamu Rio?’. Dasar seorang anak polos, Rio menjawab jujur: ‘boleh ambil dua!’.
Tentu saja ini cerita yang terbuka dari penafsiran. Dari salah satu sudut pandang terlihat, wajah Tuhan di kepala kita teramat tergantung pada kebersihan batin kita masing-masing. Dalam batin bersih seorang anak polos dan jujur seperti Rio, Tuhan berwajah pemaaf dan pemurah. Dalam batin yang mudah emosi dan curiga seperti mama Rio, wajah Tuhan menjadi pemarah dan penghukum. Hal serupa juga terjadi dalam cara Indonesia memandang bencana.
Tanpa menggunakan kerangka baik-buruk, benar-salah, suci-kotor, tinggi-rendah, banyak guru mengajarkan kalau manusia berada pada tingkat pertumbuhan masing-masing. Dimanapun tingkatannya, semua punya tugas yang sama: bertumbuh!. Tidak disarankan yang sudah sampai tingkatan SMU misalnya kemudian menghina yang baru sampai SD. Tidak juga disarankan kalau yang baru sampai SMP kemudian minder berlebihan pada mereka yang sudah sampai perguruan tinggi. Semuanya bertumbuh. Tidak ada jaminan yang sekarang SMA pasti lebih cepat sampai dibandingkan dengan yang sekarang baru SD misalnya.
Dengan spirit seperti ini, izinkanlah tulisan ini membagi pertumbuhan ke dalam empat pertumbuhan jiwa. Pertama mereka yang menjadi pedagang kehidupan dan pedagang doa. Jangankan dengan Tuhan, dengan siapa saja ia berdagang. Kalau permohonan tercapai maka Tuhan berwajah baik, kalau tidak dipenuhi apa lagi dihadang bencana maka Tuhan disebut marah. Dan dalam pandangan kelompok ini, bencana tidak lain hanyalah Tuhan yang murka pada ulah manusia. Tidak salah tentunya, karena ini bagian dari proses pertumbuhan.
Kelompok kedua adalah pencinta tingkat remaja. Ciri kelompok ini adalah rasa memiliki yang tinggi. Tidak boleh ada orang lain, hanya dia yang boleh dekat dan dicintai Tuhan. Cinta bagi kelompok ini, tidak ada pilihan lain kecuali menyayangi, memaafkan, membebaskan. Tidak dibolehkan. ada ekspresi dari cinta Tuhan selain menyayangi, memaafkan dan membebaskan. Begitu ada wajah cinta yang lain (lebih-lebih berwajah bencana), maka mudah ditebak kemana kehidupan bergerak: benci tapi rindu!. Ini asal muasal pertanyaan sejumlah sahabat yang luka ketika bencana, kemudian bertanya: Tuhan, masihkah Engkau menyayangiku?
Kelompok ketiga adalah pencinta tingkat dewasa. Cinta tidak lagi diikuti kebencian. Cinta adalah cinta. Ia tidak berlawankan kebencian. Lebih dari itu, berbeda dengan kelompok kedua yang menempatkan dicintai lebih indah dibandingkan dengan mencintai, pada tingkat ini terbalik: mencintai lebih indah dibandingkan dicintai. Sehingga bencana, bagi jiwa yang sudah sampai di sini, tidak ditempatkan sebagai hukuman, melainkan masukan tentang segi-segi di dalam diri yang perlu diperbaiki. Dengan kata lain, bencana adalah vitamin bagi bertumbuhnhya jiwa.
Kelompok keempat adalah jiwa yang tidak lagi mencari apa-apa. Bukan karena marah apalagi frustrasi. Sekali lagi bukan. Namun karena melalui rasa berkecukupan, ikhlas dan syukur yang mendalam kemudian dibimbing, kalau semuanya sudah sempurna. Sehat sempurna, sakit juga sempurna. Bukankah sakit yang mengajari menghargai kesehatan secara baik? Sukses sempurna, gagal juga sempurna. Bukankah kegagalan membimbing kita pada puncak kehidupan yang bernama tahu diri? Kehidupan sempurna, kematian juga sempurna. Bukankah kematian adalah mitra makna kehidupan yang membukakan pengertian kehidupan yang jauh lebih dalam? Kaya sempurna, miskin juga sempurna. Bukankah kemiskinan adalah pendidikan untuk tidak sombong dan senantiasa rendah hati? Sehingga dalam jiwa-jiwa yang sudah sampai di sini, tidak ada kamus bencana. Apapun yang terjadi diberi judul sama: sempurna!. 0rang Buddha menyebut ini Nirvana. Sebagian sahabat Islam dan Nasrani menyebutnya surga sebelum kematian. Sebagian orang Hindu menyebutnya maha samadhi. Dalam bahasa Confucius: ‘Bila bertemu orang baik tauladanilah. Jika bertemu orang jahat periksalah pikiran Anda sendiri’.
Kembali ke cerita awal tentang bencana dan Tuhan yang sedang marah, pilihan sikap yang diambil memang cermin pertumbuhan jiwa masing-masing. Seperti disebut sebelumnya, semuanya sedang bertumbuh. Penghakiman terhadap orang lain hanya menghambat pertumbuhan kita sendiri. Menyebut diri lebih baik, menempatkan orang kurang baik, hanya kesibukan ego yang meracuni pertumbuhan jiwa kemudian.
Dan bagi siapa saja yang sudah tumbuh menjadi pencinta tingkat dewasa, lebih-lebih sudah menjadi jiwa yang tidak lagi mencari, Indonesia tidak lagi berwajah negara bencana. Indonesia adalah salon yang mempercantik jiwa. Tanpa cobaan, bukankah kehidupan hanya berputar-putar di luar dan mudah terasa hambar? Bukankah dalam cobaan, dalam godaan, dalam guncangan, semua jiwa sedang digerakkan masuk ke dalam? Bukankah hanya di dalam sini jiwa bisa dibuat indah dan cantik? Seperti seorang wanita yang segar bugar keluar dari ruang olah raga, bukankah kesediaan untuk lelah sebentar (baca: digoda bencana sebentar) yang membuatnya jadi bugar? Maafkanlah tulisan ini ditutup dengan pertanyaan.
Kematian Juga Menawan
Sebelum Mahatma Gandhi berpidato di salah satu forum internasional di London, pendampingnya berpisik pelan sopan: “Mahatma, Anda belum menulis teks pidato”. Dengan senyum khas Gandhi menjawab: “My life is my true speech”. Hidupku adalah pidatoku yang sesungguhnya. Membaca pemberitaan meletusnya gunung Merapi 26-10-2010, alam seperti sedang berpidato ke kita semua. Dan diantara demikian banyak pesan Merapi, tidak ada yang lebih menyentuh hati ketika mengetahui juru kunci Merapi Mbah Maridjan wafat dalam posisi sujud.
Bila benar bahwa kematian adalah “pertempuran” spiritual menentukan, Mbah Maridjan terang benderang memperlihatkan bahwa beliau telah mengalami kemenangan spiritual. Disebut kemenangan karena kematian adalah simbolik alam yang paling ditakuti, bila ada yang bisa sujud hormat di depan kematian, sungguh ia menjadi kemenangan yang mengagumkan.
Kematian Sealami Daun jatuh
Bagi nyaris semua orang, kematian berwajah mengerikan. Perpisahan, kengerian, kesalahan itulah wajah yang digambar manusia kebanyakan tentang kematian. Amat manusiawi tentunya. Namun, di tangan pencari spiritual yang serius, tidak ada guru kehidupan yang lebih agung dari kematian. Karena ada kematian kemudian manusia belajar ikhlas, jauh dari kesombongan dan kecongkakan. Itu sebabnya, praktisi meditasi yang mendalam setiap hari melakukan meditasi kematian. Sebelum bangun dari meditasi, menyaksikan unsur tanah, air, api, udara dari tubuh ini kembali ke tempat asalnya melayani semua mahluk. Unsur tanah dari tubuh menyatu dengan tanah kemudian menghasilkan makanan buat para mahluk. Unsur air menyatu dengan air kemudian membuat para mahluk bisa minum.
Dalam logika sederhana, hari ketika manusia keluar dari kandungan Ibu sesungguhnya bukan awal kehidupan. Beberapa bulan sebelumnya manusia sudah lahir dalam bentuk pembuahan di kandungan Ibu. Sebelum pembuahan terjadi, sebagian dari diri kita ada di Ayah, sebagian lagi ada di Ibu. Sebelum Ayah dan Ibu lahir, keduanya ada dalam diri kakek dan nenek, dan seterusnya.
Bila hari kelahiran layak dipertanyakan sebagai awal, ia sama layaknya bila bertanya: apakah kematian adalah akhir?. Serupa dengan daun jatuh, ia memang mati sebagai daun namun melanjutkan tugas berikutnya sebagai pupuk. Dan beberapa waktu kemudian akan terlahir sebagai daun kembali. Mirip dengan gumpalan awan gelap, ketika hujan turun ia memang mati sebagai awan terlahir sebagai air. Namun di suatu waktu ia akan terlahir kembali sebagai awan.
Penderitaan terjadi ketika daun yang putaran waktunya sudah jatuh memaksa tetap bertahan di pohon, awan yang sudah saatnya berubah menjadi air ngotot bertahan sebagai awan. Tatkala putaran waktunya bencana menggoda, sebagian besar manusia ngotot kaku harus bahagia. Ini yang kerap disebut sebagai ketidakjernihan sebagai akar penderitaan.
Makanya, dalam meditasi pencapain diukur melalui tiga tingkatan pikiran: concentrated mind, unified mind, non-abiding mind. Pertama, pikiran mulai terkonsentrasi rapi. Bagi yang suka menggunakan obyek, pikiran seperti dipaku di satu tempat. Bagi yang menyenangi tanpa obyek, hanya senyum-senyum lembut pada setiap pengalaman yang muncul. Tanpa penghakiman, tanpa rasa bersalah. Kedua, ia yang lama istirahat dalam konsentrasi yang rapi suatu saat akan mengalami pengalaman kebersatuan. Sederhananya, bisa melihat dirinya di mana-mana. Di pohon, binatang, mineral, manusial, dll. Sesampai di sini, praktisi menjadi berhenti total menyakiti, amat rindu menyayangi. Karena ketika menyakiti orang sesungguhnya sedang menyakiti diri sendiri, saat menyayangi mahluk lain sesungguhnya sedang menyayangi diri sendiri.
Dan setelah lama menyatu, baru sadar ternyata tidak tersisa apa-apa (non-abiding mind). Anehnya, bila keheningan sebagaimana dimengerti orang kebanyakan menyisakan kebingungan (sepi, takut), di tingkatan ini keheningan itu mengagumkan. Serupa ruang, ia sepertinya tiada namun melimpahkan kasih sayang secara tidak terbatas. Terutama karena memberikan tempat pada apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh. Guru seperti Mbah Maridjan mengajarkan, ia yang bisa sujud di depan kematian batinnya sudah seluas ruang. Bila bisa memberikan ruang pada kematian, maka pasti bisa memberikan ruang pada yang lain. Inilah kematian yang menawan. Tanpa perlawanan, tanpa keluhan, tanpa ketakutan. Ia sealami daun jatuh, senatural awan yang berubah menjadi hujan.
Puncak Doa
Ada berbagai jenis manusia dalam berdoa. Apa pun bentuknya, semua berdoa untuk keselamatan, kesehatan, kebahagiaan. Namun, sudah menjadi sejarah doa sejak dulu, tidak semua doa terpenuhi. Kendati berdoa untuk keselamatan, sebagian manusia tidak selamat. Belajar dari sini, pencari sejati menghentikan segala bentuk doa yang dipenuhi permintaan. Pertama, ia sejenis perdagangan yang kotor dari keinginan. Kedua, cara doa seperti ini membuat subyek doa dan obyeknya terpisah. Ketiga, karena masih dua (belum menyatu, apa lagi lebur dalam keheningan), maka kemungkinan doa ini banyak kecewanya.
Untuk itu, penekun spiritual serius kemudian mendekati doa secara berbeda. Titik berangkatnya sederhana, manusia ada di dalam Tuhan, Tuhan ada di dalam manusia. Buddha menjadi yang disembah, sekaligus menjadi yang menyembah. Dari sini, doa mengingatkan kita tentang kualitas-kualitas mulya yang sudah bersemayam di dalam. Ada Tuhan, ada Buddha di dalam sehingga sangat hati-hati dalam keseharian. Jangankan berkata-kata kasar, menghina orang, berjalan di bawah jemuran saja rasanya tidak rela.
Berbekalkan ini, tubuh, kata-kata, pikiran sebagai kendaraan doa kemudian disatukan (bukannya terpencar) melalui praktek kesadaran. Kesadaran adalah sejenis cahaya terang di dalam. Tatkala cahaya di dalam berjumpa cahaya di luar sebagai tanda munculnya guru rahasia, kegelapan ketidakjernihan, keserakahan, kedengkian lenyap. Akibatnya, kegelapan ketakutan (termasuk ketakutan akan kematian) menghilang, menyisakan hanya kerinduan berbagi kasih sayang.
Dalam terang pemahaman ini, mudah dipahami bila Milarepa pernah berpesan death is not death for a yogi, it’s just a little enlightenment. Di tangan pencari tingkat tinggi seperti Milarepa dan Mbah Maridjan, kematian tidak diikuti oleh ketakutan. Kematian hanya pengalaman kecil yang mencerahkan. Inilah puncak doa. Mungkin itu sebabnya Mbah Maridjan mengungkapkan kasih sayangnya di saat kematian melalui sebuah pesan simbolik : “wafat dalam posisi bersujud”. Dengan mengucapkan maaf mendalam (deep bow) kepada seluruh sahabat yang marah serta tersinggung oleh wafatnya Mbah Maridjan, izinkan babu seperti saya mengucapkan hormat sambil merunduk: “Matur nuwun sanget Mbah, semoga semua mahluk berbahagia”.
Renungan
Memberi Kado Setiap Hari
"Gede Prama"
Banyak orang bertanya, apa sesungguhnya yang paling membuat orang kaya berbahagia? Uang untuk hidup tentu saja bukan masalah. Kesenangan yang bisa dibeli dengan uang, juga tidak masalah. Liburan ke berbagai tempat, ia sesederhana memerintahkan sekretaris.
Di tengah gelimang materi ini, ada yang mengira kehidupan orang kaya hanya berisi kebahagiaan dan kebahagiaan. Dan ternyata tidak. Dalam limpahan uang maupun utang, kebahagiaan itu hanya tamu yang datang dan pergi. Serupa matahari, paginya terbit sorenya terbenam. Melawan bahwa matahari hanya boleh terbit dan tidak boleh tenggelam, hanya akan membuat seseorang menjadi dua korban: korban canda sekaligus korban kecewa.
Sudah banyak korban dalam hal ini.Yang baru naik pangkat mengira bahwa kenaikan pangkat akan berlangsung selamanya. 0rang kaya menduga kalau kekayaan akan selama-lamanya. Dan alam bertutur sederhana: tidak ada yang kekal.
Itu sebabnya orang bijaksana mendidik dirinya untuk mengalir bersama aliran-aliran kehidupan. Bekerja, berusaha, berdoa tentu saja dilakukan. Namun berapa pun kehidupan menghadiahkan hasil, sambutlah semuanya dengan senyuman. Naik jabatan itu indah karena memberi tanda sedang dipercaya. Turun jabatan juga indah, terutama karena terbuka kesempatan untuk mendidik diri agar ikhlas. Dalam bahasa orang suci, keikhlasanlah yang membuat kehidupan istirahat dalam keabadian.
Salah satu sahabat Direktur Utama Bank pernah bercerita di bandara Bali tentang betapa bahagianya memiliki anak yang diwisuda. Bagi mereka yang sudah punya putera-puteri yang sudah dewasa, mendengar anak lulus sarjana mungkin sesuatu yang biasa. Namun bagi yang baru saja memiliki putera pertama diwisuda, itu sungguh sebuah kebahagiaan.
Berbagai macam gambar indah yang muncul di kepala. Melihat anak mengenakan baju wisuda, toga, namanya dipanggil ke depan, kemudian petinggi Universitas menyalaminya sampai tepuk tangan gemuruh banyak orang. Ringkasnya, indah, indah dan indah. Setiap sahabat yang sudah membuang penyakit iri di dalam dirinya akan ikut tersenyum merasakan kebahagiaan ini.
Namun kembali ke tanda-tanda alam di awal, semuanya tunduk pada hukum ketidakkekalan. Setiap hal yang datang akan pergi. Itu sebabnya, banyak pejalan kaki ke dalam diri mulai menyadari, hanya persahabatan dengan kehidupan yang menyejukkan. Bersahabat dengan karir yang lagi menanjak itu mudah. Namun bersahabat dengan cacian orang, hanya orang bijaksana yang bisa melakukannya. Dalam bahasa seorang guru: happiness and unhappiness come from your unbalance mind. Kebahagiaan, kesedihan datang dari batin yang belum sepenuhnya seimbang.
Itu sebabnya seorang sahabat di Bali menghabiskan sebagian waktunya untuk menyapu dan mengepel. Bukan karena tidak bisa membayar pembantu. Namun sedang mendidik diri bersahabat dengan kehidupan di bawah.
Sekali, dua kali, tiga kali ia tidak membawa dampak apa-apa. Namun seperti menetesi batu dengan air, setelah sekian lama batunya berlubang. Demikian juga dengan latihan menjadi rendah hati. Ia seyogyanya dilakukan secara tekun terus menerus. Baru bisa memberi dampak perubahan.
Serupa dengan para sahabat yang pernah duduk di kursi-kursi tinggi baik di dunia korporasi maupun birokrasi, kekuasaan kerap memaksa kita mengenakan topeng-topeng keangkuhan, kesombongan, kemarahan. Baik karena dalih wibawa maupun karena alasan efektifitas kekuasaan.
Namun karena dilakukan bertahun-tahun, topeng-topeng itu kemudian menyatu dengan diri kita sendiri. Ini serupa dengan memelihara macan dalam kamar, lama-lama kita dimakan oleh macan kesombongan, sekaligus dibuat menderita. Di titik inilah manusia memerlukan kerendahah hati untuk kembali ke bawah.
Menyapu, mengepel, membersihkan taman, membantu isteri merapikan piring-piring kotor, membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah, itulah rangkaian hal sepele namun menyejukkan. Tidak saja kita bahagia, isteri juga bahagia, anak-anak bertumbuh, tetangga tidak pernah mendengar umpatan dari rumah kita. Dan dalam setiap lingkungan yang ditandai oleh sedikit kemarahan dan perselisihan, alam akan berbicara dengan bahasa-bahasa kosmik berupa datangnya kupu-kupu, bernyanyinya kodok sampai dengan mekarnya bunga di mana-mana.
Mungkin itu sebabnya Lama Zopa Rinpoche menulis dalam How to be happy: The sun of real happiness shines in your life only when you start to cherish others. Cahaya kebahagiaan yang sesungguhnya mulai menyala ketika seseorang menemukan kebahagiaan dalam membahagiakan orang lain. 0rang-orang yang tekun di jalan ini akan merasakan kesejukan dan keteduhan sesungguhnya dalam setiap pelayanan yang diberikan pada orang lain.
Makanya di halaman lain buku Lama Zopa Rinpoche, ia berpesan: If you want to be loved, love others first. Siapa saja yang mau dicintai, belajarlah mencintai orang lain terlebih dahulu. Sejuk, teduh, lembut, dan indah itulah buah dari kehidupan jenis ini.
Sebagaimana terjadi di setiap putaran kehidupan, tidak semua orang tertarik belajar keteduhan dan kesejukan. Seperti sungai, selalu ada air yang lembut sekaligus batu yang keras. Dan keduanya hadir bersama-sama melukis keindahan.
Bagi para sahabat yang belum sampai di sini, lebih-lebih masih didikte habis oleh topeng-topeng kekuasaan, akan mudah menduga sahabat yang suka menyapu dan mengepel sebagai ketua dewan pembina ISDI (Ikatan Suami Diinjak-injak Istri). Dan ini pun layak dihormati. Namun ketika kita tidak marah, tidak menyakiti, sebaliknya malah menyayangi dan melayani, sesungguhnya sedang memberi kado setiap hari pada orang-orang yang kita cintai.
Sumber:http://gedeprama.blogdetik.com/2010/11/24/renungan-minggu-ini-241110/?991102866
"Gede Prama"
Banyak orang bertanya, apa sesungguhnya yang paling membuat orang kaya berbahagia? Uang untuk hidup tentu saja bukan masalah. Kesenangan yang bisa dibeli dengan uang, juga tidak masalah. Liburan ke berbagai tempat, ia sesederhana memerintahkan sekretaris.
Di tengah gelimang materi ini, ada yang mengira kehidupan orang kaya hanya berisi kebahagiaan dan kebahagiaan. Dan ternyata tidak. Dalam limpahan uang maupun utang, kebahagiaan itu hanya tamu yang datang dan pergi. Serupa matahari, paginya terbit sorenya terbenam. Melawan bahwa matahari hanya boleh terbit dan tidak boleh tenggelam, hanya akan membuat seseorang menjadi dua korban: korban canda sekaligus korban kecewa.
Sudah banyak korban dalam hal ini.Yang baru naik pangkat mengira bahwa kenaikan pangkat akan berlangsung selamanya. 0rang kaya menduga kalau kekayaan akan selama-lamanya. Dan alam bertutur sederhana: tidak ada yang kekal.
Itu sebabnya orang bijaksana mendidik dirinya untuk mengalir bersama aliran-aliran kehidupan. Bekerja, berusaha, berdoa tentu saja dilakukan. Namun berapa pun kehidupan menghadiahkan hasil, sambutlah semuanya dengan senyuman. Naik jabatan itu indah karena memberi tanda sedang dipercaya. Turun jabatan juga indah, terutama karena terbuka kesempatan untuk mendidik diri agar ikhlas. Dalam bahasa orang suci, keikhlasanlah yang membuat kehidupan istirahat dalam keabadian.
Salah satu sahabat Direktur Utama Bank pernah bercerita di bandara Bali tentang betapa bahagianya memiliki anak yang diwisuda. Bagi mereka yang sudah punya putera-puteri yang sudah dewasa, mendengar anak lulus sarjana mungkin sesuatu yang biasa. Namun bagi yang baru saja memiliki putera pertama diwisuda, itu sungguh sebuah kebahagiaan.
Berbagai macam gambar indah yang muncul di kepala. Melihat anak mengenakan baju wisuda, toga, namanya dipanggil ke depan, kemudian petinggi Universitas menyalaminya sampai tepuk tangan gemuruh banyak orang. Ringkasnya, indah, indah dan indah. Setiap sahabat yang sudah membuang penyakit iri di dalam dirinya akan ikut tersenyum merasakan kebahagiaan ini.
Namun kembali ke tanda-tanda alam di awal, semuanya tunduk pada hukum ketidakkekalan. Setiap hal yang datang akan pergi. Itu sebabnya, banyak pejalan kaki ke dalam diri mulai menyadari, hanya persahabatan dengan kehidupan yang menyejukkan. Bersahabat dengan karir yang lagi menanjak itu mudah. Namun bersahabat dengan cacian orang, hanya orang bijaksana yang bisa melakukannya. Dalam bahasa seorang guru: happiness and unhappiness come from your unbalance mind. Kebahagiaan, kesedihan datang dari batin yang belum sepenuhnya seimbang.
Itu sebabnya seorang sahabat di Bali menghabiskan sebagian waktunya untuk menyapu dan mengepel. Bukan karena tidak bisa membayar pembantu. Namun sedang mendidik diri bersahabat dengan kehidupan di bawah.
Sekali, dua kali, tiga kali ia tidak membawa dampak apa-apa. Namun seperti menetesi batu dengan air, setelah sekian lama batunya berlubang. Demikian juga dengan latihan menjadi rendah hati. Ia seyogyanya dilakukan secara tekun terus menerus. Baru bisa memberi dampak perubahan.
Serupa dengan para sahabat yang pernah duduk di kursi-kursi tinggi baik di dunia korporasi maupun birokrasi, kekuasaan kerap memaksa kita mengenakan topeng-topeng keangkuhan, kesombongan, kemarahan. Baik karena dalih wibawa maupun karena alasan efektifitas kekuasaan.
Namun karena dilakukan bertahun-tahun, topeng-topeng itu kemudian menyatu dengan diri kita sendiri. Ini serupa dengan memelihara macan dalam kamar, lama-lama kita dimakan oleh macan kesombongan, sekaligus dibuat menderita. Di titik inilah manusia memerlukan kerendahah hati untuk kembali ke bawah.
Menyapu, mengepel, membersihkan taman, membantu isteri merapikan piring-piring kotor, membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah, itulah rangkaian hal sepele namun menyejukkan. Tidak saja kita bahagia, isteri juga bahagia, anak-anak bertumbuh, tetangga tidak pernah mendengar umpatan dari rumah kita. Dan dalam setiap lingkungan yang ditandai oleh sedikit kemarahan dan perselisihan, alam akan berbicara dengan bahasa-bahasa kosmik berupa datangnya kupu-kupu, bernyanyinya kodok sampai dengan mekarnya bunga di mana-mana.
Mungkin itu sebabnya Lama Zopa Rinpoche menulis dalam How to be happy: The sun of real happiness shines in your life only when you start to cherish others. Cahaya kebahagiaan yang sesungguhnya mulai menyala ketika seseorang menemukan kebahagiaan dalam membahagiakan orang lain. 0rang-orang yang tekun di jalan ini akan merasakan kesejukan dan keteduhan sesungguhnya dalam setiap pelayanan yang diberikan pada orang lain.
Makanya di halaman lain buku Lama Zopa Rinpoche, ia berpesan: If you want to be loved, love others first. Siapa saja yang mau dicintai, belajarlah mencintai orang lain terlebih dahulu. Sejuk, teduh, lembut, dan indah itulah buah dari kehidupan jenis ini.
Sebagaimana terjadi di setiap putaran kehidupan, tidak semua orang tertarik belajar keteduhan dan kesejukan. Seperti sungai, selalu ada air yang lembut sekaligus batu yang keras. Dan keduanya hadir bersama-sama melukis keindahan.
Bagi para sahabat yang belum sampai di sini, lebih-lebih masih didikte habis oleh topeng-topeng kekuasaan, akan mudah menduga sahabat yang suka menyapu dan mengepel sebagai ketua dewan pembina ISDI (Ikatan Suami Diinjak-injak Istri). Dan ini pun layak dihormati. Namun ketika kita tidak marah, tidak menyakiti, sebaliknya malah menyayangi dan melayani, sesungguhnya sedang memberi kado setiap hari pada orang-orang yang kita cintai.
Sumber:http://gedeprama.blogdetik.com/2010/11/24/renungan-minggu-ini-241110/?991102866
Jumat, 19 November 2010
APA BEDANYA CALO TKI, PJTKI DAN PERDAGANGAN MANUSIA.
Tanpa bermaksud mengolok atau mencela, penulis merasa sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa Saudara TKI.
Penulis bahkan melihat mulai dari level yang paling bawah (para calo) yang mencari para calon TKI sampai dengan instansi yang menangani(regulator) kelihatannya tidak ada bedanya.
Di level bawah para calo membantu calon TKI mulai dari memalsukan dokumen, sampai kepada iming-iming air surga menjadi TKI, tanpa melihat calon TKI tersebut memenuhi syarat atau tidak yang penting mereka akan mendapatkan sejumlah komisi atas setiap TKI yang mereka dapatkan, ditambah lagi uang-uang capek membantu calon TKI yang sebenarnya tidak memenuhi syarat agar bisa tetap berangkat.
continue...
Penulis bahkan melihat mulai dari level yang paling bawah (para calo) yang mencari para calon TKI sampai dengan instansi yang menangani(regulator) kelihatannya tidak ada bedanya.
Di level bawah para calo membantu calon TKI mulai dari memalsukan dokumen, sampai kepada iming-iming air surga menjadi TKI, tanpa melihat calon TKI tersebut memenuhi syarat atau tidak yang penting mereka akan mendapatkan sejumlah komisi atas setiap TKI yang mereka dapatkan, ditambah lagi uang-uang capek membantu calon TKI yang sebenarnya tidak memenuhi syarat agar bisa tetap berangkat.
continue...
Selasa, 16 November 2010
Ayat-ayat Alam
Betapapun isi kandungan ayat kitab suci harus diterima secara utuh, tanpa harus memilih berdasarkan suka dan tidak suka atau menguntungkan atau tidak.
Demikian juga dengan ayat-ayat alam berupa : kemudahan-kesulitan, hitam-putih, untung-rugi, bencana-anugerah, dipuji-dicela dan sebagainya.
Kearifan akan sudut pandang terhadap setiap yang terjadi menjadi titik awal bagaimana akan bisa menerima semua itu secara utuh.
ORA USAH GUMUNAN, KAGETAN
Demikian juga dengan ayat-ayat alam berupa : kemudahan-kesulitan, hitam-putih, untung-rugi, bencana-anugerah, dipuji-dicela dan sebagainya.
Kearifan akan sudut pandang terhadap setiap yang terjadi menjadi titik awal bagaimana akan bisa menerima semua itu secara utuh.
ORA USAH GUMUNAN, KAGETAN
Kamis, 11 November 2010
"ORA DENGER ISIN" - TIDAK TAHU MALU
Itu kata-kata yang saat penulis kecil kenal manakala ada orang yang tidak sepantasnya atau melakukan kesalahan tetapi selalu menyangkal, tidak terima walaupun bukti-buktinya sudah sangat nyata, dan tetap melakukan perbuatannya, bukan menginsyafin
Kita menyadari dalam tatanan jawa ada kasta / tingkatan berdasarkan level dalam ekomoni maupun dalam jabatan.
Seiring perjalanan waktu dan berkembangnya ajaran persamaan hak (hak asasi) maka seolah ajaran jawa yang mengenal kasta sedikit banyak telah ditentang oleh hampir semua generasi modern saat ini.
Wong ora nduwe ora isin ngango barang mewah walaupun mencuri....
Wong Rakyat jelata... ora isin... nganggo penganggon bangsawan....
Kasta dalam masyarakat jangan diartikan secara negatif... tapi lebih kepada introspeksi tanpa embel-embel politis apalagi.... kegengsian..
Kita menyadari dalam tatanan jawa ada kasta / tingkatan berdasarkan level dalam ekomoni maupun dalam jabatan.
Seiring perjalanan waktu dan berkembangnya ajaran persamaan hak (hak asasi) maka seolah ajaran jawa yang mengenal kasta sedikit banyak telah ditentang oleh hampir semua generasi modern saat ini.
Wong ora nduwe ora isin ngango barang mewah walaupun mencuri....
Wong Rakyat jelata... ora isin... nganggo penganggon bangsawan....
Kasta dalam masyarakat jangan diartikan secara negatif... tapi lebih kepada introspeksi tanpa embel-embel politis apalagi.... kegengsian..
Kamis, 04 November 2010
MERAPI ORA GELEM DI "EMONG" dan DI "OMONG" (ORA GELEM DIRASANI)

Nuwun sewu,
Barangkali, Merapi sedang bandol (bandel) ora gelem dimong, monggo kang kawogan supaya goleki sratine, kareben ora kedlarung-dlarung.
Sing momong yo wis diamuk, wis ora ono sing digugu, mulane padha semingkiro dhisit, ojo dicedaki, ojo diledek, ojo dilawan, pada sumingkiro ora usah diitung-itung kekuatane.... wis sumingkiro.
Senin, 11 Oktober 2010
AJARAN LUHUR
PIWULANG LUHUR
1. Yen gelem nalusuri, sejatine ora sethithik piwulang lan pitutur becik kang malah kita tampa saka wong-wong kang gawene nacad marga ora seneng marang kita, katimbang saka kanca raket kang tansah ngalembana. Awit elinga, panacad iku bisa nggugah kita nglempengake laku, dene pangalembana kepara njalari kelalen.
Kalau mau menelusuri, sebetulnya tidak sedikit pelajaran dan petuah bijak yang kita dapatkan dari orang-orang yang pekerjaannya nyacad (menghina) sebab tidak suka dengan kita, dari pada teman dekat yang selalu memuja/menyanjung. Maka ingatlah penghinaan itu bisa membangkitkan kita untuk meluruskan perjalanan hidup, sedangkan dipuja/disanjung dapat mengakibatkan kita terlena.
2. Samangsane kowe diclathu wong kanthi sengak, aja kok bales sak nalika kanthi tembung kang uga sengak. Prayoga tanggapana mawa pakarti kang alus lan sareh. Jer ya klawan laku kang kaya mangkono iku kowe bisa ngendhalekake watak kang panasbaran, ngasorake sifat kang lagi kasinungan iblis.
Sewaktu kamu dimarahi orang dengan sengit (jelek), jangan dibalas seketika dengan ucapan jelek. Lebih baik tanggapi dengan perbuatan yang baik dan sabar. Sebab dengan perbuatan yang seperti itu kamu bisa mengendalikan watak yang emosional, mengalahkan sifat iblis dalam diri kita.
3. Ing endi dununge pemarem lan katentreman? Saking angele mapanake rasa, nganti meh ora ana wong kang bisa rumangsa marem lan tentrem uripe. Mula kita kudu tlaten ngalah budi. Dhahana rasa meri lan drengki, amrih gorehing pikir bisa tansah sumingkir.
Dimana tempatnya rasa puas dan ketentraman? Sangat sulit menempatkan rasa, sampai tidak ada orang yang bisa merasakan puas dan tentram dalam hidupnya. Maka dari itu kita harus selalu bersabar. Jangan pernah ada rasa iri dan dengki, supaya pikiran jelek bisa selalu tersingkirkan.
4. Menawa kowe durung mangerteni marang bab kok anggep ora becik aja kesusu ngatonake rasa sengitmu, gedhene nganti maoni lan nglairake panacad. Awit kawruhana yen pikiran manungsa iku tansah mobah mosik lan molak-malik. Apa kang kok kira ala lan kok gethingi iku ing tembe buri bisa malih dadi kok senengi, kepara malah bisa dadi gantungane uripmu.
Seumpama kamu belum mengerti dengan permasalahan dianggap tidak baik , jangan dahulu memperlihatkan rasa bencimu, besarnya sampai membalas ucapannya dan mengeluarkan kata-kata menghina. Pertama ketahuilah bahwa pikiran manusia selalu berfikir dan berubah-ubah. Apa yang kamu kira jelek dan kamu benci itu suatu saat bisa berubah jadi kamu senangi, dan bisa berbalik jadi tempat untuk menggantungkan hidupmu.
5. Karepe wong nyatur alane liyan iku beteke mung arep nuduhake becike awake dhewe. Yen sing dijak nyatur wong kemplu, pamrih sing kaya mangkono mesthi katekane. Nanging tumraping wong mursid wong kang ngumbang rereged ing awake sarana migunakake banyu peceren malah saya nuduhake blentang-blentonge pambegan.
Maksudnya membicarakan kejelekan orang tetapi sebenarnya hanya untuk memperlihatkan kebaikan dirinya sendiri. Yang diajak berbicara orang bodoh, keinginan yang seperti itu pasti terlaksana. Tetapi untuk seorang mursid (guru) orang yang membersihkan diri dengan sarana mengunakan air yang kotor malah semakin menunjukkan aibnya.
6. Aja sok ngendel-endelake samubarang kaluwihanmu, apa maneh mamerake kasuguhan lan kapinteranmu. Yen anggonmu ngongasake dhiri mau mung winates ing lathi tanpa bukti, dhonge enggon awakmu dadi ora aji. Luwih prayoga turuten pralambange “pari dadi” kang saya isi lan mentes malah sangsaya ndhungkluk. Pari kang ndhangak nudhuhake nek kothong blong tanpa isi.
Jangan pernah menunjuk-nunjukkan semua kelebihanmu, apalagi menunjukkan ketekunan dan kepandaiaanmu. Kalau kamu dalam menunjukkan kepandaian diri hanya sebatas di mulut tanpa bukti, suatu saat dirimu jadi tidak ada harganya. Lebih baik ikuti simbolnya “padi” yang semakin isi dan berisi semakin merunduk. Padi yang menengadah menunjukkan kalau kosong momplong tanpa isi.
7. Kahanan ndonya iki ora langgeng, tansah mobah mosik. Yen sira nemahi ketunggon bandha lan kasinungan pangkat, aja banjur rumangsa “Sapa Sira Sapa Ingsun” (SSSI) kang tansah ngendelake panguwasane tumindak deksura marang sapadha-padha. Elinga yen bandha iku gampang sirna. Pangkat bisa oncat ing saben wayah.
Kedaaan dunia ini tidak pernah tetap, selalu berubah-ubah. Kalau kita lagi ditungguhi kekayaan dan pangkat derajat, jangan pernah merasa “Siapa Kamu Siapa Saya” yang selalu menunjukkan kekuasaannya bertindak semaunya pada sesamanya. Ingatlah kalau harta itu mudah habis. Kedudukan (pangkat) bisa lepas sewaktu-waktu.
8. Saiba becike samangsa wong kang lagi kasinungan begja lan kabungahan iku tansah eling, gedhene asung syukur marang kang Peparing. Awit elinga yen tumindak kaya mangkono mau kajaba bisa ngilangi watak jubriya uga mletikake rasa rumangsa yen wong dilahirake ing donya iku sejatine mung dadi lelantaran melu urun-urun, tetulung marang sapadha-padha ning titah, mbengkas kasangsaran, munggahe nggayuh hayuning jagad.
Betapa indahnya sewaktu orang yang lagi mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan haruslah selalu ingat, besarnya selalu bersyukur kepada yang selalu memberi. Maka ingatlah kalau prilaku seperti itu selain bisa mengingatkan watak curiga juga melatih rasa menyadari kalau orang dilahirkan didunia ini sebenarnya hanya jadi perantara ikut berbagi, untuk mencapai kelestarian bumi.
9. “Rumangsa sarwa duwe” lan “Sarwa duwe rumangsa” iku tinulis genah mung diwolak-walik. Nanging surasane jebul kaya bumi klawan langit. Sing kapisan nuduhake watak ngedir-edirake, wengis satindak lakune, asosial, yen nggayuh pepinginan ora maelu laku dudu samubarang pakarti nistha ditrajang wani. Dene sing kapindho, pakartine tansah kebak welas asih, wicaksana ing saben laku, rumangsa dosa samangsa gawe kapitunane liyan.
“Merasa serba ada” dan “Serba ada perasaan” itu jelas tertulis hanya dibalak-balik. Artinya sebernya seperti bumi dan langit. Yang pertama menunjukkan watak mengagung-agungkan diri, bengis setiap langkahnya, kikir, dan kalau ingin meraih keinginan tidak memperhatikan prilaku jelek semuanya dilanggar. Dan yang kedua, perbuatannya selalu penuh dengan welas asih, bijaksana di setiap langkah, merasa berdosa sewaktu berbuat merugikan orang.
10. Memitran, paseduluran nganti tumekaning jejodhowan iku yen siji lan sijine bisa emong kinemong, istingarah bisa sempulur becik. Yen anaa padudon sepisan pindho iku wis aran lumrah, bisa nambahi raketing sesambungan. Nanging suwalike yen padha angel ngenggoni sifat emong kinemong mau genah bakal langka langgenge, malah bedaning panemu sithik wae bisa marakake dahuru.
Berteman, persaudaraan sampai datangnya perjodohan itu kalau satu dan satunya bisa saling asuh-mengasuh, istiqaroh bisa semakin baik. Kalaupun ada perselisihan sekali dua kali itu sudah biasa, bisa menambah eratnya pertalian persaudaraan. Tetapi sebaliknya kalau sama-sama susah menempatkan sifat saling asuh-mengasuh itu jelas bakal langka kelanjutannya, berbeda pendapat sedikit saja bisa membuat perselisihan.
11. Tepa slira lan mawas dhiri iku dadi oboring laku nggayuh rahayu, minangka jimat paripih tumraping ngaurip, munggahe bisa nyedhakake rasa asih lan ngedohake watak drengki lan daksiya marang sapepadhane. Sregep mawas dhiri ateges bakal weruh marang kekurangan lan cacade dhewe, saengga wusanane thukul greged ndandani murih apike.
Tenggang rasa dan intropeksi itu jadi penerang jalan dalam mengapai keselamatan, sebagai pusaka (benteng diri) hidup kita, dapat mendekatkan pada rasa kasih sayang dan menjauhkan watak iri dan sewenang-wenang pada sesama. Selalu intropeksi artinya tahu akan kekurangan dan cela diri kita, sehingga akhirnya tumbuh keinginan memperbaiki bagaimana baiknya.
12. Wong kang ora nate nandhang prihatin ora bakal kasinungan rasa pangrasa kang njalari tekane rasa trenyuh lan welas lahir batine. Wong kang wis nate ketaman ing prihatin, luwih bisa ngrasakake penandange wong liya. Mula adhakane luwih gelem aweh pitulungan marang kang kasusahan.
Orang yang tidak pernah merasakan prihatin (kesusahan) tidak akan ketempatan rasa sejati yang menimbulkan datangnya rasa iba dan kasih sayang lahir batin. Orang yang sudah pernah merasakan prihatin (kesusahan), lebih dapat merasakan penderitaan orang lain. Maka biasanya lebih mengerti dan suka memberi pertolongan yang lagi mendapat kesusahan.
13. Tembung kang kurang prayoga kang kalair mung marga kadereng dening dayaning hawa nafsu iku pancen sakala iku bisa aweh rasa pemarem. Nanging sawise iku bakal aweh rasa getun lan panutuh marang dhiri pribadhi, kang satemah tansah bisa ngrubeda marang katentremaning pikir lan ati. Guneman sethithik nanging memikir akeh iku kang tumrape manungsa bisa aweh katentreman lan rasa marem kang gedhe dhewe.
Ucapan yang kurang baik yang terucap hanya suatu sebab desakkan kekuatan hawa nafsu itu, memang seketika bisa membuat rasa puas. Tetapi setelah itu dapat memberi rasa menyesal dan menyalahkan pada diri sendiri, yang selalu menganggu ketentraman pikiran dan hati. Berbicara sedikit tetapi berfikir luas, maka sebagai manusia telah bisa memberi ketentraman dan rasa sangat puas yang besar.
14. Kita iki kejaba ndarbeni badan wadhag lan pancadriya, siji maneh kita uga darbe osiking ati. Darbe kita iki ora kasat mata, ora kena ginrayang, nanging tansah ajeg elik-elik marang bebener yen lagi nandhang pletiking pakarti lan cipta ala, munggahe katuwuhan krenteg tumindak laku ngiwa. Mula poma dipoma, tansah bisoa ngrungokake osiking atimu, awit iku kang ngajak sak paripolahmu tumuju menyang karahayuning urip.
Kita ini selain mempunyai badan jasmani dan pancaindriya, satu lagi kita juga mempunyai hatinurani. Kepunyaan kita ini tidak dapat dilihat, tidak bisa diraba, tetapi selalu mengingatkan kepada kebenaran kalau sedang mengalami kealpaan dan angan-angan yang kurang baik, jikalau diteruskan mempunyai keinginan melakukan perbuatan kurang baik. Maka berhati-hatilah, harus bisa mendengarkan suara hatimu, sebab itu yang mengajak setiap prilakumu menuju jalan keselamatan hidup.
15. Kawruh lan ilmu pengetahuan iku mung bisa digayuh lan dikuwasani kanthi laku kang laras karo apa kang diwulangake. Lire ajaran teorine kudu bisa dicakake lan ditrapake kanggo karaharjaning bebrayan. Wondene lakune mono kudu sinartan tekad kang gilig lan kekarepan kang tulus lan mantep kinanthenan kateguhaning iman, kanggo ngadhepi sakehing panggodha sarta nyingkiri sikep laku kang sarwa dudu.
Pengatahuan dan ilmu pengetahuan itu hanya bisa diraih dan dikuasai dengan laku yang selaras dengan apa yang diajarkan. Intinya adalah pelajaran teori harus bisa dilaksanakan dan dipratekkan untuk kemuliaan kehidupan. Oleh sebab itu caranya harus dibarengi tekad yang bulat dan keinginan yang tulus dan mantap serta dengan berbekal keteguhan iman, untuk menghadapi semua godaan serta menyingkirkan sikap perbuatan yang tidak pada tempatnya.
16. Siji-sijine dalan amrih kaleksanan ing gegayuhan, yaiku makarti kang sinartan kapercayaan lan keyakinan menawa apa kang sinedya mesthi dadi. Yen mung kandheg ing gagasan lan kukuhing karep wae, tanpa tumandang lan makarya minangka sarana panebuse, wohe ya ora beda kaya dene wong ngimpi. Cilakane maneh yen selagine nganggit-anggit mau wis kaselak ngrasakake kanikmatane ing pengangen-angen, wusanane dadi lumuh ing gawe lan wedi ing kewuh.
Satu-satunya jalan supaya tercapainya sebuah keinginan, yaitu bekerja yang dibekali dengan kepercayaan dan keyakinan bahwa apa yang diharapkan pasti jadi. Kalau hanya berhenti pada gagasan/ide dan kuatnya keinginan saja, tanpa berbuat dan bekerja sebagai sarana pengganti, hasilnya juga tidak berbeda seperti orang yang bermimpi. Celakanya lagi kalau hanya mengarang-arang, akhirnya jadi malas bekerja dan takut merepotkan.
17. Ora ana penggawe luwih dening mulya kejaba dedana sing uga ateges mbiyantu nyampeti kekuranganing kabutuhane liyan. Dedana marang sapepadha iku ateges uga mitulungi awake dhewe nglelantih marang rasa lila legawa kang uga ateges angabekti marang Pangeran Kang Maha Welas Asih. Pancen pangabekti mono wis aran pasrah, dadi kita ora ngajab marang baline sumbangsih kita. Kabeh iku sing kagungan mung Pangeran Kang Maha Kuwaos, kita ora wenang ngajab wohing pangabekti kanggo kita dhewe. Nindakake kabecikan kanthi dedana kita pancen wajib nanging ngundhuh wohing kautaman kita ora wenang.
Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia selain beramal yang juga bisa berarti membantu mencukupi kekurangan kebutuhan orang lain. Bersedekah pada sesama itu berarti juga membantu diri sendiri melatih pada rasa tulus dan ikhlas yang juga berarti berbakti pada Tuhan Yang Maha Penyayang. Memang berbakti sudah berarti pasrah, jadi jangan pernah berharap kembali apa yang telah kita sumbangkan. Semua itu milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita tidak kuasa berharap buahnya persembahan untuk diri kita pribadi. Berbuat kebaikan dengan beramal hukumnya wajib tetapi memetik buahnya kebaikan kita tidak berhak.
18. Nggayuh kaluhuran mono ateges ngupaya tataraning urip kang luwih dhuwur. Ya dhuwur ing lahir ya uga ing batin. Lire sing murakabi kanggo dhiri pribadi, sumarambah tumrap bebrayan agung. Sapa kang mung mligi nggayuh kaluhuraning lahir, ateges mung mburu drajat, semat lan pangkat, durung aran jejeg uripe. Suprandene sapa kang mung ngemungake kaluhuran batin, ateges ora nuhoni jejering manungsa ing alam donya iku kang kudu tumandang gawe kanggo donyane.
Mengapai kemulian berarti berusaha mencapai tahapan hidup yang lebih tinggi. Ya tinggi di lahir dan juga di batin. Intinya yang bermanfaat untuk diri pribadi, dan juga untuk semua kehidupan. Siapa yang hanya mengapai kemuliaan lahiriah, berarti hanya memburu derajat/pangkat, belum bisa dikatakan lurus hidupnya. Demikian halnya siapa yang hanya mengapai keutamaan batin, berarti tidak sesungguhnya tampil sebagai manusia di alam dunia yang harus bekerja untuk kelestarian alam.
19. Sarupaning wewadi sing ala lan sing becik yen isih kok gembol lan mbok keket kanthi remit ing ati salawase isih tetep dadi baturmu. Nanging yen wis mbok ketokake sathithik wae bakal dadi bendaramu kang ngidak-idak sirahmu. Selagine mung nyimpen wewadine dhewe wae wis abot, apa maneh yen nganti pinracaya nggegem wewadine liyan. Mula saka iku ojo sok dhemen lan kepengin meruhi wewadine liyan. Sing wis cetha mung bakal nambahi sanggan sing sejatine dudu wajibmu melu open-open.
Segala macam rahasia yang jelek dan baik kalau masih kamu simpan dan disembunyikan dengan rahasia di dalam hati selamanya masih tetap menjadi temanmu. Akan tetapi kalau sudah kamu perlihatkan sedikit saja akan jadi tuanmu yang menginjak-injak kepalamu. Seandainya hanya menyimpan rahasia kita sendiri itu sudah berat, apa lagi kalau dipercaya menyimpan rahasianya orang lain. Yang sudah jelas akan menambahi beban yang sebenarnya bukan merupakan kewajiban kita untuk ikut memelihara.
20. Sok sopoa bakal nduweni rasa kurmat marang wong kang tansah katon bingar lan padhang polatane, nadyan ta wong mau nembe wae nandhang susah utawa nemoni pepalang ing panguripane. Kosokbaline, wong kang tansah katon suntrut kerep ngrundel lan grenengan, merga ora ketekan sedyane iku, cetha bakal kaoncatan kekuwatan ing batin lan tenagane, tangeh lamun entuka pitulungan kepara malah dadi sesirikaning mitra karuhe.
Siapapun akan mempunyai rasa hormat pada orang yang selalu kelihatan bersuka cita dan terang perangainya, meskipun orang itu baru saja mengalami kesusahan atau mendapatkan cobaan hidup. Sebaliknya, orang yang selalu kelihatan susah sering ngomel dan mengumpat, sebab tidak tercapai keinginannya, jelas akan kehilangan kekuatan batin dan tenaganya, jangan berharap mendapatkan pertolongan malah akan di jauhi teman dan kerabat.
Copy Paste dari @@K.
1. Yen gelem nalusuri, sejatine ora sethithik piwulang lan pitutur becik kang malah kita tampa saka wong-wong kang gawene nacad marga ora seneng marang kita, katimbang saka kanca raket kang tansah ngalembana. Awit elinga, panacad iku bisa nggugah kita nglempengake laku, dene pangalembana kepara njalari kelalen.
Kalau mau menelusuri, sebetulnya tidak sedikit pelajaran dan petuah bijak yang kita dapatkan dari orang-orang yang pekerjaannya nyacad (menghina) sebab tidak suka dengan kita, dari pada teman dekat yang selalu memuja/menyanjung. Maka ingatlah penghinaan itu bisa membangkitkan kita untuk meluruskan perjalanan hidup, sedangkan dipuja/disanjung dapat mengakibatkan kita terlena.
2. Samangsane kowe diclathu wong kanthi sengak, aja kok bales sak nalika kanthi tembung kang uga sengak. Prayoga tanggapana mawa pakarti kang alus lan sareh. Jer ya klawan laku kang kaya mangkono iku kowe bisa ngendhalekake watak kang panasbaran, ngasorake sifat kang lagi kasinungan iblis.
Sewaktu kamu dimarahi orang dengan sengit (jelek), jangan dibalas seketika dengan ucapan jelek. Lebih baik tanggapi dengan perbuatan yang baik dan sabar. Sebab dengan perbuatan yang seperti itu kamu bisa mengendalikan watak yang emosional, mengalahkan sifat iblis dalam diri kita.
3. Ing endi dununge pemarem lan katentreman? Saking angele mapanake rasa, nganti meh ora ana wong kang bisa rumangsa marem lan tentrem uripe. Mula kita kudu tlaten ngalah budi. Dhahana rasa meri lan drengki, amrih gorehing pikir bisa tansah sumingkir.
Dimana tempatnya rasa puas dan ketentraman? Sangat sulit menempatkan rasa, sampai tidak ada orang yang bisa merasakan puas dan tentram dalam hidupnya. Maka dari itu kita harus selalu bersabar. Jangan pernah ada rasa iri dan dengki, supaya pikiran jelek bisa selalu tersingkirkan.
4. Menawa kowe durung mangerteni marang bab kok anggep ora becik aja kesusu ngatonake rasa sengitmu, gedhene nganti maoni lan nglairake panacad. Awit kawruhana yen pikiran manungsa iku tansah mobah mosik lan molak-malik. Apa kang kok kira ala lan kok gethingi iku ing tembe buri bisa malih dadi kok senengi, kepara malah bisa dadi gantungane uripmu.
Seumpama kamu belum mengerti dengan permasalahan dianggap tidak baik , jangan dahulu memperlihatkan rasa bencimu, besarnya sampai membalas ucapannya dan mengeluarkan kata-kata menghina. Pertama ketahuilah bahwa pikiran manusia selalu berfikir dan berubah-ubah. Apa yang kamu kira jelek dan kamu benci itu suatu saat bisa berubah jadi kamu senangi, dan bisa berbalik jadi tempat untuk menggantungkan hidupmu.
5. Karepe wong nyatur alane liyan iku beteke mung arep nuduhake becike awake dhewe. Yen sing dijak nyatur wong kemplu, pamrih sing kaya mangkono mesthi katekane. Nanging tumraping wong mursid wong kang ngumbang rereged ing awake sarana migunakake banyu peceren malah saya nuduhake blentang-blentonge pambegan.
Maksudnya membicarakan kejelekan orang tetapi sebenarnya hanya untuk memperlihatkan kebaikan dirinya sendiri. Yang diajak berbicara orang bodoh, keinginan yang seperti itu pasti terlaksana. Tetapi untuk seorang mursid (guru) orang yang membersihkan diri dengan sarana mengunakan air yang kotor malah semakin menunjukkan aibnya.
6. Aja sok ngendel-endelake samubarang kaluwihanmu, apa maneh mamerake kasuguhan lan kapinteranmu. Yen anggonmu ngongasake dhiri mau mung winates ing lathi tanpa bukti, dhonge enggon awakmu dadi ora aji. Luwih prayoga turuten pralambange “pari dadi” kang saya isi lan mentes malah sangsaya ndhungkluk. Pari kang ndhangak nudhuhake nek kothong blong tanpa isi.
Jangan pernah menunjuk-nunjukkan semua kelebihanmu, apalagi menunjukkan ketekunan dan kepandaiaanmu. Kalau kamu dalam menunjukkan kepandaian diri hanya sebatas di mulut tanpa bukti, suatu saat dirimu jadi tidak ada harganya. Lebih baik ikuti simbolnya “padi” yang semakin isi dan berisi semakin merunduk. Padi yang menengadah menunjukkan kalau kosong momplong tanpa isi.
7. Kahanan ndonya iki ora langgeng, tansah mobah mosik. Yen sira nemahi ketunggon bandha lan kasinungan pangkat, aja banjur rumangsa “Sapa Sira Sapa Ingsun” (SSSI) kang tansah ngendelake panguwasane tumindak deksura marang sapadha-padha. Elinga yen bandha iku gampang sirna. Pangkat bisa oncat ing saben wayah.
Kedaaan dunia ini tidak pernah tetap, selalu berubah-ubah. Kalau kita lagi ditungguhi kekayaan dan pangkat derajat, jangan pernah merasa “Siapa Kamu Siapa Saya” yang selalu menunjukkan kekuasaannya bertindak semaunya pada sesamanya. Ingatlah kalau harta itu mudah habis. Kedudukan (pangkat) bisa lepas sewaktu-waktu.
8. Saiba becike samangsa wong kang lagi kasinungan begja lan kabungahan iku tansah eling, gedhene asung syukur marang kang Peparing. Awit elinga yen tumindak kaya mangkono mau kajaba bisa ngilangi watak jubriya uga mletikake rasa rumangsa yen wong dilahirake ing donya iku sejatine mung dadi lelantaran melu urun-urun, tetulung marang sapadha-padha ning titah, mbengkas kasangsaran, munggahe nggayuh hayuning jagad.
Betapa indahnya sewaktu orang yang lagi mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan haruslah selalu ingat, besarnya selalu bersyukur kepada yang selalu memberi. Maka ingatlah kalau prilaku seperti itu selain bisa mengingatkan watak curiga juga melatih rasa menyadari kalau orang dilahirkan didunia ini sebenarnya hanya jadi perantara ikut berbagi, untuk mencapai kelestarian bumi.
9. “Rumangsa sarwa duwe” lan “Sarwa duwe rumangsa” iku tinulis genah mung diwolak-walik. Nanging surasane jebul kaya bumi klawan langit. Sing kapisan nuduhake watak ngedir-edirake, wengis satindak lakune, asosial, yen nggayuh pepinginan ora maelu laku dudu samubarang pakarti nistha ditrajang wani. Dene sing kapindho, pakartine tansah kebak welas asih, wicaksana ing saben laku, rumangsa dosa samangsa gawe kapitunane liyan.
“Merasa serba ada” dan “Serba ada perasaan” itu jelas tertulis hanya dibalak-balik. Artinya sebernya seperti bumi dan langit. Yang pertama menunjukkan watak mengagung-agungkan diri, bengis setiap langkahnya, kikir, dan kalau ingin meraih keinginan tidak memperhatikan prilaku jelek semuanya dilanggar. Dan yang kedua, perbuatannya selalu penuh dengan welas asih, bijaksana di setiap langkah, merasa berdosa sewaktu berbuat merugikan orang.
10. Memitran, paseduluran nganti tumekaning jejodhowan iku yen siji lan sijine bisa emong kinemong, istingarah bisa sempulur becik. Yen anaa padudon sepisan pindho iku wis aran lumrah, bisa nambahi raketing sesambungan. Nanging suwalike yen padha angel ngenggoni sifat emong kinemong mau genah bakal langka langgenge, malah bedaning panemu sithik wae bisa marakake dahuru.
Berteman, persaudaraan sampai datangnya perjodohan itu kalau satu dan satunya bisa saling asuh-mengasuh, istiqaroh bisa semakin baik. Kalaupun ada perselisihan sekali dua kali itu sudah biasa, bisa menambah eratnya pertalian persaudaraan. Tetapi sebaliknya kalau sama-sama susah menempatkan sifat saling asuh-mengasuh itu jelas bakal langka kelanjutannya, berbeda pendapat sedikit saja bisa membuat perselisihan.
11. Tepa slira lan mawas dhiri iku dadi oboring laku nggayuh rahayu, minangka jimat paripih tumraping ngaurip, munggahe bisa nyedhakake rasa asih lan ngedohake watak drengki lan daksiya marang sapepadhane. Sregep mawas dhiri ateges bakal weruh marang kekurangan lan cacade dhewe, saengga wusanane thukul greged ndandani murih apike.
Tenggang rasa dan intropeksi itu jadi penerang jalan dalam mengapai keselamatan, sebagai pusaka (benteng diri) hidup kita, dapat mendekatkan pada rasa kasih sayang dan menjauhkan watak iri dan sewenang-wenang pada sesama. Selalu intropeksi artinya tahu akan kekurangan dan cela diri kita, sehingga akhirnya tumbuh keinginan memperbaiki bagaimana baiknya.
12. Wong kang ora nate nandhang prihatin ora bakal kasinungan rasa pangrasa kang njalari tekane rasa trenyuh lan welas lahir batine. Wong kang wis nate ketaman ing prihatin, luwih bisa ngrasakake penandange wong liya. Mula adhakane luwih gelem aweh pitulungan marang kang kasusahan.
Orang yang tidak pernah merasakan prihatin (kesusahan) tidak akan ketempatan rasa sejati yang menimbulkan datangnya rasa iba dan kasih sayang lahir batin. Orang yang sudah pernah merasakan prihatin (kesusahan), lebih dapat merasakan penderitaan orang lain. Maka biasanya lebih mengerti dan suka memberi pertolongan yang lagi mendapat kesusahan.
13. Tembung kang kurang prayoga kang kalair mung marga kadereng dening dayaning hawa nafsu iku pancen sakala iku bisa aweh rasa pemarem. Nanging sawise iku bakal aweh rasa getun lan panutuh marang dhiri pribadhi, kang satemah tansah bisa ngrubeda marang katentremaning pikir lan ati. Guneman sethithik nanging memikir akeh iku kang tumrape manungsa bisa aweh katentreman lan rasa marem kang gedhe dhewe.
Ucapan yang kurang baik yang terucap hanya suatu sebab desakkan kekuatan hawa nafsu itu, memang seketika bisa membuat rasa puas. Tetapi setelah itu dapat memberi rasa menyesal dan menyalahkan pada diri sendiri, yang selalu menganggu ketentraman pikiran dan hati. Berbicara sedikit tetapi berfikir luas, maka sebagai manusia telah bisa memberi ketentraman dan rasa sangat puas yang besar.
14. Kita iki kejaba ndarbeni badan wadhag lan pancadriya, siji maneh kita uga darbe osiking ati. Darbe kita iki ora kasat mata, ora kena ginrayang, nanging tansah ajeg elik-elik marang bebener yen lagi nandhang pletiking pakarti lan cipta ala, munggahe katuwuhan krenteg tumindak laku ngiwa. Mula poma dipoma, tansah bisoa ngrungokake osiking atimu, awit iku kang ngajak sak paripolahmu tumuju menyang karahayuning urip.
Kita ini selain mempunyai badan jasmani dan pancaindriya, satu lagi kita juga mempunyai hatinurani. Kepunyaan kita ini tidak dapat dilihat, tidak bisa diraba, tetapi selalu mengingatkan kepada kebenaran kalau sedang mengalami kealpaan dan angan-angan yang kurang baik, jikalau diteruskan mempunyai keinginan melakukan perbuatan kurang baik. Maka berhati-hatilah, harus bisa mendengarkan suara hatimu, sebab itu yang mengajak setiap prilakumu menuju jalan keselamatan hidup.
15. Kawruh lan ilmu pengetahuan iku mung bisa digayuh lan dikuwasani kanthi laku kang laras karo apa kang diwulangake. Lire ajaran teorine kudu bisa dicakake lan ditrapake kanggo karaharjaning bebrayan. Wondene lakune mono kudu sinartan tekad kang gilig lan kekarepan kang tulus lan mantep kinanthenan kateguhaning iman, kanggo ngadhepi sakehing panggodha sarta nyingkiri sikep laku kang sarwa dudu.
Pengatahuan dan ilmu pengetahuan itu hanya bisa diraih dan dikuasai dengan laku yang selaras dengan apa yang diajarkan. Intinya adalah pelajaran teori harus bisa dilaksanakan dan dipratekkan untuk kemuliaan kehidupan. Oleh sebab itu caranya harus dibarengi tekad yang bulat dan keinginan yang tulus dan mantap serta dengan berbekal keteguhan iman, untuk menghadapi semua godaan serta menyingkirkan sikap perbuatan yang tidak pada tempatnya.
16. Siji-sijine dalan amrih kaleksanan ing gegayuhan, yaiku makarti kang sinartan kapercayaan lan keyakinan menawa apa kang sinedya mesthi dadi. Yen mung kandheg ing gagasan lan kukuhing karep wae, tanpa tumandang lan makarya minangka sarana panebuse, wohe ya ora beda kaya dene wong ngimpi. Cilakane maneh yen selagine nganggit-anggit mau wis kaselak ngrasakake kanikmatane ing pengangen-angen, wusanane dadi lumuh ing gawe lan wedi ing kewuh.
Satu-satunya jalan supaya tercapainya sebuah keinginan, yaitu bekerja yang dibekali dengan kepercayaan dan keyakinan bahwa apa yang diharapkan pasti jadi. Kalau hanya berhenti pada gagasan/ide dan kuatnya keinginan saja, tanpa berbuat dan bekerja sebagai sarana pengganti, hasilnya juga tidak berbeda seperti orang yang bermimpi. Celakanya lagi kalau hanya mengarang-arang, akhirnya jadi malas bekerja dan takut merepotkan.
17. Ora ana penggawe luwih dening mulya kejaba dedana sing uga ateges mbiyantu nyampeti kekuranganing kabutuhane liyan. Dedana marang sapepadha iku ateges uga mitulungi awake dhewe nglelantih marang rasa lila legawa kang uga ateges angabekti marang Pangeran Kang Maha Welas Asih. Pancen pangabekti mono wis aran pasrah, dadi kita ora ngajab marang baline sumbangsih kita. Kabeh iku sing kagungan mung Pangeran Kang Maha Kuwaos, kita ora wenang ngajab wohing pangabekti kanggo kita dhewe. Nindakake kabecikan kanthi dedana kita pancen wajib nanging ngundhuh wohing kautaman kita ora wenang.
Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia selain beramal yang juga bisa berarti membantu mencukupi kekurangan kebutuhan orang lain. Bersedekah pada sesama itu berarti juga membantu diri sendiri melatih pada rasa tulus dan ikhlas yang juga berarti berbakti pada Tuhan Yang Maha Penyayang. Memang berbakti sudah berarti pasrah, jadi jangan pernah berharap kembali apa yang telah kita sumbangkan. Semua itu milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita tidak kuasa berharap buahnya persembahan untuk diri kita pribadi. Berbuat kebaikan dengan beramal hukumnya wajib tetapi memetik buahnya kebaikan kita tidak berhak.
18. Nggayuh kaluhuran mono ateges ngupaya tataraning urip kang luwih dhuwur. Ya dhuwur ing lahir ya uga ing batin. Lire sing murakabi kanggo dhiri pribadi, sumarambah tumrap bebrayan agung. Sapa kang mung mligi nggayuh kaluhuraning lahir, ateges mung mburu drajat, semat lan pangkat, durung aran jejeg uripe. Suprandene sapa kang mung ngemungake kaluhuran batin, ateges ora nuhoni jejering manungsa ing alam donya iku kang kudu tumandang gawe kanggo donyane.
Mengapai kemulian berarti berusaha mencapai tahapan hidup yang lebih tinggi. Ya tinggi di lahir dan juga di batin. Intinya yang bermanfaat untuk diri pribadi, dan juga untuk semua kehidupan. Siapa yang hanya mengapai kemuliaan lahiriah, berarti hanya memburu derajat/pangkat, belum bisa dikatakan lurus hidupnya. Demikian halnya siapa yang hanya mengapai keutamaan batin, berarti tidak sesungguhnya tampil sebagai manusia di alam dunia yang harus bekerja untuk kelestarian alam.
19. Sarupaning wewadi sing ala lan sing becik yen isih kok gembol lan mbok keket kanthi remit ing ati salawase isih tetep dadi baturmu. Nanging yen wis mbok ketokake sathithik wae bakal dadi bendaramu kang ngidak-idak sirahmu. Selagine mung nyimpen wewadine dhewe wae wis abot, apa maneh yen nganti pinracaya nggegem wewadine liyan. Mula saka iku ojo sok dhemen lan kepengin meruhi wewadine liyan. Sing wis cetha mung bakal nambahi sanggan sing sejatine dudu wajibmu melu open-open.
Segala macam rahasia yang jelek dan baik kalau masih kamu simpan dan disembunyikan dengan rahasia di dalam hati selamanya masih tetap menjadi temanmu. Akan tetapi kalau sudah kamu perlihatkan sedikit saja akan jadi tuanmu yang menginjak-injak kepalamu. Seandainya hanya menyimpan rahasia kita sendiri itu sudah berat, apa lagi kalau dipercaya menyimpan rahasianya orang lain. Yang sudah jelas akan menambahi beban yang sebenarnya bukan merupakan kewajiban kita untuk ikut memelihara.
20. Sok sopoa bakal nduweni rasa kurmat marang wong kang tansah katon bingar lan padhang polatane, nadyan ta wong mau nembe wae nandhang susah utawa nemoni pepalang ing panguripane. Kosokbaline, wong kang tansah katon suntrut kerep ngrundel lan grenengan, merga ora ketekan sedyane iku, cetha bakal kaoncatan kekuwatan ing batin lan tenagane, tangeh lamun entuka pitulungan kepara malah dadi sesirikaning mitra karuhe.
Siapapun akan mempunyai rasa hormat pada orang yang selalu kelihatan bersuka cita dan terang perangainya, meskipun orang itu baru saja mengalami kesusahan atau mendapatkan cobaan hidup. Sebaliknya, orang yang selalu kelihatan susah sering ngomel dan mengumpat, sebab tidak tercapai keinginannya, jelas akan kehilangan kekuatan batin dan tenaganya, jangan berharap mendapatkan pertolongan malah akan di jauhi teman dan kerabat.
Copy Paste dari @@K.
Sabtu, 09 Oktober 2010
KALO PENJARA "BERUBAH IMAGE"
..... ? ...... ? 2010 ?
Penjara Menjadi Kontrakan Kelas SuperVVIP dengan tarif termahal.
Bahkan dilengkapi dengan Tenaga penjaga (sang ...)
Penghuninya gak main-main (milyarder)
Penjara seakan bukan tempat "AIB" melainkan kebanggaan.
Yang dipenjara lebih bisa mengatur daripada yang memenjarakan.
Zaman.. zaman
Penjara Menjadi Kontrakan Kelas SuperVVIP dengan tarif termahal.
Bahkan dilengkapi dengan Tenaga penjaga (sang ...)
Penghuninya gak main-main (milyarder)
Penjara seakan bukan tempat "AIB" melainkan kebanggaan.
Yang dipenjara lebih bisa mengatur daripada yang memenjarakan.
Zaman.. zaman
Kamis, 19 Agustus 2010
Bahayanya "Wadi" yang dipublikasikan
Seiring dengan perkembangan jaman, teknologi, bisnis dan sebangsanya maka banyak urusan yang sifatnya "WADI" (jawa) atawa "PAMALI" (sunda) dipublikasikan secara blak-blakan dengan alasan era keterbukaan dll.
Padahal ibarat sebuah jurus maka dengan dipublikasikannya maka dia tidak akan menjadi andalan bahkan sebaliknya akan menimbulkan keresahan.
Untuk hal-hal yang sifatnya "WADI" tidak semua orang bisa / mampu dan sudah mumpuni untuk mengetahui atau menjalankannya, sehingga manakala sudah diumbar dan dipublikasikan maka jangan heran jika ada yang NYLENEH-NYLENEH terjadi di kehidupan berbangsa dan bermasyarakat secara luas.
Yang bisa salah tidak hanya preman dan wong cilik saja, penguasa, kyai, pejabat dan presiden sekalipun bisa kecletut( keseleo ).
Orang Jawa punya warisan yang terkenal dengan istilah UMPAN PAPAN.
Padahal ibarat sebuah jurus maka dengan dipublikasikannya maka dia tidak akan menjadi andalan bahkan sebaliknya akan menimbulkan keresahan.
Untuk hal-hal yang sifatnya "WADI" tidak semua orang bisa / mampu dan sudah mumpuni untuk mengetahui atau menjalankannya, sehingga manakala sudah diumbar dan dipublikasikan maka jangan heran jika ada yang NYLENEH-NYLENEH terjadi di kehidupan berbangsa dan bermasyarakat secara luas.
Yang bisa salah tidak hanya preman dan wong cilik saja, penguasa, kyai, pejabat dan presiden sekalipun bisa kecletut( keseleo ).
Orang Jawa punya warisan yang terkenal dengan istilah UMPAN PAPAN.
Selasa, 17 Agustus 2010
AGUSTUSAN ATAU 17-AN

Kira-kira itulah kata yang bisa mewakili peringatan Hari Kemerdekaan Negera Indonesia di benak Penulis Kecil saat itu.
Bentuk kegiatanpun tidak jauh berbeda dulu dan sekarang, kecuali rasa dan pemahaman penulis sendiri terhadap Peringatan itu yang berbeda seiring perjalanan umur dan waktu tentunya.
.............M e r d e k a Indonesiaku .................
Sabtu, 14 Agustus 2010
Selasa, 13 Juli 2010
BAB REZEKI
“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan (bagi siapa yang Dia kehendaki)…”. (QS. Ar-Ra’d [13]: 26).
Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasi dengan nalar manusia. Se-ringkali ia bergerak diluar jangkauan nalar. Itulah yang disebut dengan rezeki tidak disangka-sangka. Al-Qur’an mengatakan, “Wayarzuqhu min haitsu lâ yahtasib.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 3).
Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Setiap manusia yang terlahir ke dunia sudah dilengkapi dengan rezekinya masing-masing. Oleh karena itu, selayaknyalah kita tidak perlu cemas mengenai rezeki. Persoalan rezeki sudah diatur oleh Allah Swt.Hal penting yang perlu dilakukan adalah sempurnakan ikhtiar, perkuat dengan doa, dan tawakal secara total kepada Allah. Biarlah Allah yang Maha Mengatur rezeki yang menentukan. Insya Allah, jika ikhtiar dan doa kita optimal serta tawakal kita total, kita akan diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Allah akan mengaruniakan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Hakikat Rezeki
Oleh : Abdullah Gymnastiar
BERAPA banyak binatang melata yang tidak sanggup membawa rezekinya (makanan kebutuhannya), Allahlah yang menjamin rezekinya, juga terhadapmu.(Q.S. Al Ankabuut 29: 60).
Pada Bulan Ramadhan, pintu-pintu keberkahan Allah dibuka lebar-lebar, karenanya ada yang menyebut Ramadhan sebagai syahrul mubarak, bulan yang penuh keberkahan. Rizki dimudahkan, urusan-urusan dilancarkan, kegembiraan-kegembiraan senantiasa diiringkan. Itu semua benar-benar kita rasakan.
Dalam soal rezeki, pesona Ramadhan sangat berbeda. Rata-rata, seiring kewajiban ibadah puasa, standar belanja masyarakat biasanya meningkat. Di bulan puasa yang harusnya berdampak penghematan, kebutuhan belanja justru meningkat. Tapi semua itu bisa terpenuhi dengan baik.
Hampir tidak kita temui orang yang ikhlas menjalankan ibadah puasa di bulan ini sepanjang waktu berurai air mata karena tidak kebagian rezeki untuk sahur maupun berbuka. Tidak, semua orang bisa menikmati semua itu dengan memadai.
Saudaraku, berbicara soal rezeki, tampaknya sangat penting bagi kita untuk mencoba menelaah hakikat rezeki. Sederhananya begini, ada seorang majikan menyuruh hamba sahayanya untuk menimba, tidak mungkin majikan ini lupa memberi makan kepada hamba sahayanya. Karena kalau lupa maka hamba sahayanya ini tidak akan bisa bekerja.
Semakin bagus kerjanya, akan dicukupi pakaiannya atau kebutuhan lainnya. Lalu, bagaimana mungkin Allah yang memerintahkan kita ibadah dan kalau kita ibadah tidak dicukupi. Contoh, kita diperintahkan untuk shalat dan shalat itu harus menutupi aurat. Pasti kita akan dicukupi rezeki menutup aurat karena yang menyuruh menutup aurat adalah Allah.
Allah memerintahkan kita untuk bersedekah, lalu bagaimana mungkin kita bisa sedekah kalau kita tidak diberi rezeki sementara itu yang memberi rezeki adalah Allah. Kita pasti diberi makan, karena bagaimana mungkin kita bisa menolong orang, bagaimana kita bisa ibadah, kalau kita tidak diberi makan. Jadi, andai saja kita tahu kewajiban kita dan kita tunaikan dengan baik maka insya Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakannya.
Maka saudaraku, kewajiban kita yang pertama adalah husnudzan (berbaik sangka) bahwa Allah adalah Maha Penjamin rezeki. Karena Allah berfirman dalam hadits qudsi: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku pada-Ku. Yang kedua. Ikhtiar dijalan yang Allah sukai itu baik.
Kalau Allah menyuruh kita jujur, jujur saja, mengapa enggan? Mungkin kita pernah dengar ungkapan ini, dari rezeki tidak jujur saja susah, apalagi kalau jujur. Maka tak mungkin Allah yang menyuruh kita jujur, terus Allah tidak memberinya. Kita disuruh membayar zakat, bayarkan saja. Toh, uangnya juga milik Allah. Kalau Dia mau mangambilnya kembali kita tidak bisa menolak. Kita tidak mau bayar zakat, misalnya, tiba-tiba mobilnya tabrakan atau rumahnya kebakaran atau usahanya bangkrut; kita tidak bisa berbuat apa-apa. Atau kita diberi penyakit oleh Allah dan harus operasi.
Tak mungkin kita tidak mau berobat karena mau tidak mau keluar uang juga. Pasti, uang itu akan keluar. Maka daripada dipaksa oleh Allah agar uang keluar, lebih baik tunaikan segera zakatnya.
Sudah saatnya berangkat haji, bayarkan saja ongkos haji. Toh, uangnya juga milik Allah, kenapa mesti pusing-pusing cari alasan. Allahlah yang Maha mengatur lalu lintas rezeki setiap hamba-Nya. Maka sebetulnya, hidup ini akan enak kalau kita sudah tahu rumusnya. Sayangnya kita lebih sibuk memikirkan apa yang dijanjikan Allah daripada apa yang menjadi kewajiban kita.
Nah, begitulah kurang lebih hakikat rezeki kita. Yang utama tunaikan kewajiban kita lebih dahulu maka rezeki akan terpenuhi. Mudahan-mudahan uraian di bulan suci ini mendapat barokah dari-Nya. Wallahu alam. (Sumber : http://www.indomedia.com/sripo)
Cara Menjemput Rezeki
Banyak jalan yang bisa ditempuh untuk menjemput rezeki. Berikut sepuluh diantaranya..
1. Taqwa
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya,” (QS ath-Thalaq: 2-3).
2. Tawakal
Nabi s.a.w. bersabda: “Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.)
3. Shalat
Firman Allah dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya." (Riwayat al-Hakim dan Thabrani)
4. Istighfar
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai" (QS Nuh: 10-12).
“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka,” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim).
5. Silaturahmi
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaknyalah ia menyambung (tali) silaturahim.”
6. Sedekah
Sabda Nabi s.a.w.: “Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan kerana orang-orang lemah di kalangan kamu.” (Riwayat Bukhari)
7. Berbuat Kebaikan
"Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS Alqashash:84)
Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah tdk akan zalim pd hambanya yg berbuat kebaikan.Dia akan dibalas dengan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat.(HR. Ahmad)
8. Berdagang
Dan Nabi SAW bersabda: “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan” (Riwayat Ahmad)
9. Bangun Pagi
Fatimah (putri Rasulullah) berkata bahwa saat Rasulullah ( S.A.W.) melihatnya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari, beliau (S.A.W.) mengatakan kepadanya, "Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan-hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu antara mulainya subuh sampai terbitnya matahari. ( H.R. Al-Baihaqi)
Aisyah juga meceritakan sebuah hadits yang hampir sama maknanya, yang mana Rasulullah (S.A.W.) bersabda, "Bangunlah pagi-pagi untuk mencari rezekimu dan melakukan tugasmu, karena hal itu membawa berkah dan kesuksesan. (H.R. At-Tabarani)
10. Bersyukur
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim:7)
Kumpulan berbagai sumber
Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasi dengan nalar manusia. Se-ringkali ia bergerak diluar jangkauan nalar. Itulah yang disebut dengan rezeki tidak disangka-sangka. Al-Qur’an mengatakan, “Wayarzuqhu min haitsu lâ yahtasib.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 3).
Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Setiap manusia yang terlahir ke dunia sudah dilengkapi dengan rezekinya masing-masing. Oleh karena itu, selayaknyalah kita tidak perlu cemas mengenai rezeki. Persoalan rezeki sudah diatur oleh Allah Swt.Hal penting yang perlu dilakukan adalah sempurnakan ikhtiar, perkuat dengan doa, dan tawakal secara total kepada Allah. Biarlah Allah yang Maha Mengatur rezeki yang menentukan. Insya Allah, jika ikhtiar dan doa kita optimal serta tawakal kita total, kita akan diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Allah akan mengaruniakan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Hakikat Rezeki
Oleh : Abdullah Gymnastiar
BERAPA banyak binatang melata yang tidak sanggup membawa rezekinya (makanan kebutuhannya), Allahlah yang menjamin rezekinya, juga terhadapmu.(Q.S. Al Ankabuut 29: 60).
Pada Bulan Ramadhan, pintu-pintu keberkahan Allah dibuka lebar-lebar, karenanya ada yang menyebut Ramadhan sebagai syahrul mubarak, bulan yang penuh keberkahan. Rizki dimudahkan, urusan-urusan dilancarkan, kegembiraan-kegembiraan senantiasa diiringkan. Itu semua benar-benar kita rasakan.
Dalam soal rezeki, pesona Ramadhan sangat berbeda. Rata-rata, seiring kewajiban ibadah puasa, standar belanja masyarakat biasanya meningkat. Di bulan puasa yang harusnya berdampak penghematan, kebutuhan belanja justru meningkat. Tapi semua itu bisa terpenuhi dengan baik.
Hampir tidak kita temui orang yang ikhlas menjalankan ibadah puasa di bulan ini sepanjang waktu berurai air mata karena tidak kebagian rezeki untuk sahur maupun berbuka. Tidak, semua orang bisa menikmati semua itu dengan memadai.
Saudaraku, berbicara soal rezeki, tampaknya sangat penting bagi kita untuk mencoba menelaah hakikat rezeki. Sederhananya begini, ada seorang majikan menyuruh hamba sahayanya untuk menimba, tidak mungkin majikan ini lupa memberi makan kepada hamba sahayanya. Karena kalau lupa maka hamba sahayanya ini tidak akan bisa bekerja.
Semakin bagus kerjanya, akan dicukupi pakaiannya atau kebutuhan lainnya. Lalu, bagaimana mungkin Allah yang memerintahkan kita ibadah dan kalau kita ibadah tidak dicukupi. Contoh, kita diperintahkan untuk shalat dan shalat itu harus menutupi aurat. Pasti kita akan dicukupi rezeki menutup aurat karena yang menyuruh menutup aurat adalah Allah.
Allah memerintahkan kita untuk bersedekah, lalu bagaimana mungkin kita bisa sedekah kalau kita tidak diberi rezeki sementara itu yang memberi rezeki adalah Allah. Kita pasti diberi makan, karena bagaimana mungkin kita bisa menolong orang, bagaimana kita bisa ibadah, kalau kita tidak diberi makan. Jadi, andai saja kita tahu kewajiban kita dan kita tunaikan dengan baik maka insya Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakannya.
Maka saudaraku, kewajiban kita yang pertama adalah husnudzan (berbaik sangka) bahwa Allah adalah Maha Penjamin rezeki. Karena Allah berfirman dalam hadits qudsi: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku pada-Ku. Yang kedua. Ikhtiar dijalan yang Allah sukai itu baik.
Kalau Allah menyuruh kita jujur, jujur saja, mengapa enggan? Mungkin kita pernah dengar ungkapan ini, dari rezeki tidak jujur saja susah, apalagi kalau jujur. Maka tak mungkin Allah yang menyuruh kita jujur, terus Allah tidak memberinya. Kita disuruh membayar zakat, bayarkan saja. Toh, uangnya juga milik Allah. Kalau Dia mau mangambilnya kembali kita tidak bisa menolak. Kita tidak mau bayar zakat, misalnya, tiba-tiba mobilnya tabrakan atau rumahnya kebakaran atau usahanya bangkrut; kita tidak bisa berbuat apa-apa. Atau kita diberi penyakit oleh Allah dan harus operasi.
Tak mungkin kita tidak mau berobat karena mau tidak mau keluar uang juga. Pasti, uang itu akan keluar. Maka daripada dipaksa oleh Allah agar uang keluar, lebih baik tunaikan segera zakatnya.
Sudah saatnya berangkat haji, bayarkan saja ongkos haji. Toh, uangnya juga milik Allah, kenapa mesti pusing-pusing cari alasan. Allahlah yang Maha mengatur lalu lintas rezeki setiap hamba-Nya. Maka sebetulnya, hidup ini akan enak kalau kita sudah tahu rumusnya. Sayangnya kita lebih sibuk memikirkan apa yang dijanjikan Allah daripada apa yang menjadi kewajiban kita.
Nah, begitulah kurang lebih hakikat rezeki kita. Yang utama tunaikan kewajiban kita lebih dahulu maka rezeki akan terpenuhi. Mudahan-mudahan uraian di bulan suci ini mendapat barokah dari-Nya. Wallahu alam. (Sumber : http://www.indomedia.com/sripo)
Cara Menjemput Rezeki
Banyak jalan yang bisa ditempuh untuk menjemput rezeki. Berikut sepuluh diantaranya..
1. Taqwa
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya,” (QS ath-Thalaq: 2-3).
2. Tawakal
Nabi s.a.w. bersabda: “Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.)
3. Shalat
Firman Allah dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya." (Riwayat al-Hakim dan Thabrani)
4. Istighfar
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai" (QS Nuh: 10-12).
“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka,” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim).
5. Silaturahmi
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaknyalah ia menyambung (tali) silaturahim.”
6. Sedekah
Sabda Nabi s.a.w.: “Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan kerana orang-orang lemah di kalangan kamu.” (Riwayat Bukhari)
7. Berbuat Kebaikan
"Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS Alqashash:84)
Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah tdk akan zalim pd hambanya yg berbuat kebaikan.Dia akan dibalas dengan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat.(HR. Ahmad)
8. Berdagang
Dan Nabi SAW bersabda: “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan” (Riwayat Ahmad)
9. Bangun Pagi
Fatimah (putri Rasulullah) berkata bahwa saat Rasulullah ( S.A.W.) melihatnya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari, beliau (S.A.W.) mengatakan kepadanya, "Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan-hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu antara mulainya subuh sampai terbitnya matahari. ( H.R. Al-Baihaqi)
Aisyah juga meceritakan sebuah hadits yang hampir sama maknanya, yang mana Rasulullah (S.A.W.) bersabda, "Bangunlah pagi-pagi untuk mencari rezekimu dan melakukan tugasmu, karena hal itu membawa berkah dan kesuksesan. (H.R. At-Tabarani)
10. Bersyukur
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim:7)
Kumpulan berbagai sumber
Sabtu, 10 Juli 2010
DEMOKRASI
Ibarat buah simalakama... menerima istilah ini berarti boleh dikatakan apapun yang berbeda akan diterjemahkan demi DEMOKRASI.
Sampai ada pendapat/ide untuk melegalkan perjudian/judi dengan sekian banyak argumentasi baik yang bersifat ini itu.. dan lain-lain.
Kiranya mungkin itu konsekuensi pilihan BERDEMOKRASI walaupun secara jelas dan gamblang dari sisi religi tak satupun Agama yang ada di negeri ini memperbolehkan adanya judi.
Mungkinkah atas nama demokrasi ide dan gagasan tersebut diajukan dan mungkin saja diterima karena bak layaknya UU Pornografi/Pornoaksi saja yang jelas-jelas akan melindungi umat ini dari hal-hal di atas ada juga yang menentang bahkan kecenderungannya justru memenangkannya untuk menolak bahkan sebagian kaum HAWA yang notabene menurut penulis akan lebih dijunjung martabatnya kok malah menolak... piye to.
Mudah-mudahan ada yang mempunyai kajian-kajian yang bisa merontokkan ide/gagasan dilegalkannya judi di negeri ini terutama yang punya power dan perlengkapannya tentunya(duit.. jabatan...de el el).
Oh Negeri, Bangsa dan Tanah Airku Indonesia.
Wong cilik cuma bisa menonton,,, geleng kepala.... dan turut prihatin.
Mudah-mudahan Negeri Bangsa dan Tanah Airku akan selalu dilindungi-Nya.
Ku serahkan harapan untuk Negeri, Bangsa dan Tanah airku pada MU Sang Pemilik Kehidupan.... Engkau adalah sebaik-baik pengatur, Seadil-adil Pemberi, Sang Maha Perkasa atas segala sesuatu.
Peace Indonesiaku
Amien.
Sampai ada pendapat/ide untuk melegalkan perjudian/judi dengan sekian banyak argumentasi baik yang bersifat ini itu.. dan lain-lain.
Kiranya mungkin itu konsekuensi pilihan BERDEMOKRASI walaupun secara jelas dan gamblang dari sisi religi tak satupun Agama yang ada di negeri ini memperbolehkan adanya judi.
Mungkinkah atas nama demokrasi ide dan gagasan tersebut diajukan dan mungkin saja diterima karena bak layaknya UU Pornografi/Pornoaksi saja yang jelas-jelas akan melindungi umat ini dari hal-hal di atas ada juga yang menentang bahkan kecenderungannya justru memenangkannya untuk menolak bahkan sebagian kaum HAWA yang notabene menurut penulis akan lebih dijunjung martabatnya kok malah menolak... piye to.
Mudah-mudahan ada yang mempunyai kajian-kajian yang bisa merontokkan ide/gagasan dilegalkannya judi di negeri ini terutama yang punya power dan perlengkapannya tentunya(duit.. jabatan...de el el).
Oh Negeri, Bangsa dan Tanah Airku Indonesia.
Wong cilik cuma bisa menonton,,, geleng kepala.... dan turut prihatin.
Mudah-mudahan Negeri Bangsa dan Tanah Airku akan selalu dilindungi-Nya.
Ku serahkan harapan untuk Negeri, Bangsa dan Tanah airku pada MU Sang Pemilik Kehidupan.... Engkau adalah sebaik-baik pengatur, Seadil-adil Pemberi, Sang Maha Perkasa atas segala sesuatu.
Peace Indonesiaku
Amien.
Langganan:
Postingan (Atom)