“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan (bagi siapa yang Dia kehendaki)…”. (QS. Ar-Ra’d [13]: 26).
Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasi dengan nalar manusia. Se-ringkali ia bergerak diluar jangkauan nalar. Itulah yang disebut dengan rezeki tidak disangka-sangka. Al-Qur’an mengatakan, “Wayarzuqhu min haitsu lâ yahtasib.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 3).
Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Setiap manusia yang terlahir ke dunia sudah dilengkapi dengan rezekinya masing-masing. Oleh karena itu, selayaknyalah kita tidak perlu cemas mengenai rezeki. Persoalan rezeki sudah diatur oleh Allah Swt.Hal penting yang perlu dilakukan adalah sempurnakan ikhtiar, perkuat dengan doa, dan tawakal secara total kepada Allah. Biarlah Allah yang Maha Mengatur rezeki yang menentukan. Insya Allah, jika ikhtiar dan doa kita optimal serta tawakal kita total, kita akan diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Allah akan mengaruniakan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Hakikat Rezeki
Oleh : Abdullah Gymnastiar
BERAPA banyak binatang melata yang tidak sanggup membawa rezekinya (makanan kebutuhannya), Allahlah yang menjamin rezekinya, juga terhadapmu.(Q.S. Al Ankabuut 29: 60).
Pada Bulan Ramadhan, pintu-pintu keberkahan Allah dibuka lebar-lebar, karenanya ada yang menyebut Ramadhan sebagai syahrul mubarak, bulan yang penuh keberkahan. Rizki dimudahkan, urusan-urusan dilancarkan, kegembiraan-kegembiraan senantiasa diiringkan. Itu semua benar-benar kita rasakan.
Dalam soal rezeki, pesona Ramadhan sangat berbeda. Rata-rata, seiring kewajiban ibadah puasa, standar belanja masyarakat biasanya meningkat. Di bulan puasa yang harusnya berdampak penghematan, kebutuhan belanja justru meningkat. Tapi semua itu bisa terpenuhi dengan baik.
Hampir tidak kita temui orang yang ikhlas menjalankan ibadah puasa di bulan ini sepanjang waktu berurai air mata karena tidak kebagian rezeki untuk sahur maupun berbuka. Tidak, semua orang bisa menikmati semua itu dengan memadai.
Saudaraku, berbicara soal rezeki, tampaknya sangat penting bagi kita untuk mencoba menelaah hakikat rezeki. Sederhananya begini, ada seorang majikan menyuruh hamba sahayanya untuk menimba, tidak mungkin majikan ini lupa memberi makan kepada hamba sahayanya. Karena kalau lupa maka hamba sahayanya ini tidak akan bisa bekerja.
Semakin bagus kerjanya, akan dicukupi pakaiannya atau kebutuhan lainnya. Lalu, bagaimana mungkin Allah yang memerintahkan kita ibadah dan kalau kita ibadah tidak dicukupi. Contoh, kita diperintahkan untuk shalat dan shalat itu harus menutupi aurat. Pasti kita akan dicukupi rezeki menutup aurat karena yang menyuruh menutup aurat adalah Allah.
Allah memerintahkan kita untuk bersedekah, lalu bagaimana mungkin kita bisa sedekah kalau kita tidak diberi rezeki sementara itu yang memberi rezeki adalah Allah. Kita pasti diberi makan, karena bagaimana mungkin kita bisa menolong orang, bagaimana kita bisa ibadah, kalau kita tidak diberi makan. Jadi, andai saja kita tahu kewajiban kita dan kita tunaikan dengan baik maka insya Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakannya.
Maka saudaraku, kewajiban kita yang pertama adalah husnudzan (berbaik sangka) bahwa Allah adalah Maha Penjamin rezeki. Karena Allah berfirman dalam hadits qudsi: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku pada-Ku. Yang kedua. Ikhtiar dijalan yang Allah sukai itu baik.
Kalau Allah menyuruh kita jujur, jujur saja, mengapa enggan? Mungkin kita pernah dengar ungkapan ini, dari rezeki tidak jujur saja susah, apalagi kalau jujur. Maka tak mungkin Allah yang menyuruh kita jujur, terus Allah tidak memberinya. Kita disuruh membayar zakat, bayarkan saja. Toh, uangnya juga milik Allah. Kalau Dia mau mangambilnya kembali kita tidak bisa menolak. Kita tidak mau bayar zakat, misalnya, tiba-tiba mobilnya tabrakan atau rumahnya kebakaran atau usahanya bangkrut; kita tidak bisa berbuat apa-apa. Atau kita diberi penyakit oleh Allah dan harus operasi.
Tak mungkin kita tidak mau berobat karena mau tidak mau keluar uang juga. Pasti, uang itu akan keluar. Maka daripada dipaksa oleh Allah agar uang keluar, lebih baik tunaikan segera zakatnya.
Sudah saatnya berangkat haji, bayarkan saja ongkos haji. Toh, uangnya juga milik Allah, kenapa mesti pusing-pusing cari alasan. Allahlah yang Maha mengatur lalu lintas rezeki setiap hamba-Nya. Maka sebetulnya, hidup ini akan enak kalau kita sudah tahu rumusnya. Sayangnya kita lebih sibuk memikirkan apa yang dijanjikan Allah daripada apa yang menjadi kewajiban kita.
Nah, begitulah kurang lebih hakikat rezeki kita. Yang utama tunaikan kewajiban kita lebih dahulu maka rezeki akan terpenuhi. Mudahan-mudahan uraian di bulan suci ini mendapat barokah dari-Nya. Wallahu alam. (Sumber : http://www.indomedia.com/sripo)
Cara Menjemput Rezeki
Banyak jalan yang bisa ditempuh untuk menjemput rezeki. Berikut sepuluh diantaranya..
1. Taqwa
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya,” (QS ath-Thalaq: 2-3).
2. Tawakal
Nabi s.a.w. bersabda: “Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.)
3. Shalat
Firman Allah dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya." (Riwayat al-Hakim dan Thabrani)
4. Istighfar
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai" (QS Nuh: 10-12).
“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka,” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim).
5. Silaturahmi
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaknyalah ia menyambung (tali) silaturahim.”
6. Sedekah
Sabda Nabi s.a.w.: “Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan kerana orang-orang lemah di kalangan kamu.” (Riwayat Bukhari)
7. Berbuat Kebaikan
"Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS Alqashash:84)
Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah tdk akan zalim pd hambanya yg berbuat kebaikan.Dia akan dibalas dengan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat.(HR. Ahmad)
8. Berdagang
Dan Nabi SAW bersabda: “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan” (Riwayat Ahmad)
9. Bangun Pagi
Fatimah (putri Rasulullah) berkata bahwa saat Rasulullah ( S.A.W.) melihatnya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari, beliau (S.A.W.) mengatakan kepadanya, "Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan-hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu antara mulainya subuh sampai terbitnya matahari. ( H.R. Al-Baihaqi)
Aisyah juga meceritakan sebuah hadits yang hampir sama maknanya, yang mana Rasulullah (S.A.W.) bersabda, "Bangunlah pagi-pagi untuk mencari rezekimu dan melakukan tugasmu, karena hal itu membawa berkah dan kesuksesan. (H.R. At-Tabarani)
10. Bersyukur
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim:7)
Kumpulan berbagai sumber
Selasa, 13 Juli 2010
Sabtu, 10 Juli 2010
DEMOKRASI
Ibarat buah simalakama... menerima istilah ini berarti boleh dikatakan apapun yang berbeda akan diterjemahkan demi DEMOKRASI.
Sampai ada pendapat/ide untuk melegalkan perjudian/judi dengan sekian banyak argumentasi baik yang bersifat ini itu.. dan lain-lain.
Kiranya mungkin itu konsekuensi pilihan BERDEMOKRASI walaupun secara jelas dan gamblang dari sisi religi tak satupun Agama yang ada di negeri ini memperbolehkan adanya judi.
Mungkinkah atas nama demokrasi ide dan gagasan tersebut diajukan dan mungkin saja diterima karena bak layaknya UU Pornografi/Pornoaksi saja yang jelas-jelas akan melindungi umat ini dari hal-hal di atas ada juga yang menentang bahkan kecenderungannya justru memenangkannya untuk menolak bahkan sebagian kaum HAWA yang notabene menurut penulis akan lebih dijunjung martabatnya kok malah menolak... piye to.
Mudah-mudahan ada yang mempunyai kajian-kajian yang bisa merontokkan ide/gagasan dilegalkannya judi di negeri ini terutama yang punya power dan perlengkapannya tentunya(duit.. jabatan...de el el).
Oh Negeri, Bangsa dan Tanah Airku Indonesia.
Wong cilik cuma bisa menonton,,, geleng kepala.... dan turut prihatin.
Mudah-mudahan Negeri Bangsa dan Tanah Airku akan selalu dilindungi-Nya.
Ku serahkan harapan untuk Negeri, Bangsa dan Tanah airku pada MU Sang Pemilik Kehidupan.... Engkau adalah sebaik-baik pengatur, Seadil-adil Pemberi, Sang Maha Perkasa atas segala sesuatu.
Peace Indonesiaku
Amien.
Sampai ada pendapat/ide untuk melegalkan perjudian/judi dengan sekian banyak argumentasi baik yang bersifat ini itu.. dan lain-lain.
Kiranya mungkin itu konsekuensi pilihan BERDEMOKRASI walaupun secara jelas dan gamblang dari sisi religi tak satupun Agama yang ada di negeri ini memperbolehkan adanya judi.
Mungkinkah atas nama demokrasi ide dan gagasan tersebut diajukan dan mungkin saja diterima karena bak layaknya UU Pornografi/Pornoaksi saja yang jelas-jelas akan melindungi umat ini dari hal-hal di atas ada juga yang menentang bahkan kecenderungannya justru memenangkannya untuk menolak bahkan sebagian kaum HAWA yang notabene menurut penulis akan lebih dijunjung martabatnya kok malah menolak... piye to.
Mudah-mudahan ada yang mempunyai kajian-kajian yang bisa merontokkan ide/gagasan dilegalkannya judi di negeri ini terutama yang punya power dan perlengkapannya tentunya(duit.. jabatan...de el el).
Oh Negeri, Bangsa dan Tanah Airku Indonesia.
Wong cilik cuma bisa menonton,,, geleng kepala.... dan turut prihatin.
Mudah-mudahan Negeri Bangsa dan Tanah Airku akan selalu dilindungi-Nya.
Ku serahkan harapan untuk Negeri, Bangsa dan Tanah airku pada MU Sang Pemilik Kehidupan.... Engkau adalah sebaik-baik pengatur, Seadil-adil Pemberi, Sang Maha Perkasa atas segala sesuatu.
Peace Indonesiaku
Amien.
Jumat, 02 Juli 2010
Lattah Yang Tidak Alami
Kurang menguntungkan sekiranya latah yang tidak alami, seperti latah berbisnis dan latah mengomentari issue.
Dalam dunia usaha latah untuk meniru suatu bisnis yang kelihatannya menjanjikan, padahal dari sisi-sisi yang lain sama sekali tidak pernah diperhitungkan, sehingga pelaku usaha hanya melihat suatu bisnis dari proyeksi keuntungan semata, padahal pelaku usaha tersebut tidak / belum menguasai keilmuannya. Ini mungkin juga merupakan hasil dari metode pendidikan / keberhasilan sang motivator untuk membuat orang ingin menjadi the number one, tanpa melihat kapabilitasnya.
Demikian juga sang komentator mengenai suatu issue, bahkan issue yang seharusnya tidak perlu dikomentari saja kadang dilakukan penilaian walaupun sebenarnya bukan merupakan kapasitas yang bersangkutan, bahkan sebenarnya akan merendahkannya, karena kepandaian sang pewawancara diapun berkomentar mengenai issue yang sebenarnya tidak dikuasainya atau sebenarnya tidak perlu dikomentari.
Mohon maaf kepada yang mempunyai sifat latah, selama alami itu berarti karunia Sang Khalik, asal jangan dibuat-buat.
Dunia telekomunikasi dan informasi serta pelakunya memegang peranan penting terhadap perkembangan suatu tingkat kecerdasan masyarakat yang masing gampang sekali dibingungkan oleh suatu informasi karena kaburnya sang Nara Sumber, mana yang bisa dijadikan referensi.
Bahkan sebuah konferensi pers-pun ternyata bisa kalah oleh hiruk pikuknya pemberitaan dan komentar-komentar di luar.
Mudah-mudahan sisi-sisi moralitas, kemaslahatan dan nilai manfaat bisa dikedepankan ketimbang selalu mengedepankan sisi-sisi bisnis yang kadang kala berbenturan dengan norma-noram maupun nilai-nilai religi.
Peace Indonesia
Dalam dunia usaha latah untuk meniru suatu bisnis yang kelihatannya menjanjikan, padahal dari sisi-sisi yang lain sama sekali tidak pernah diperhitungkan, sehingga pelaku usaha hanya melihat suatu bisnis dari proyeksi keuntungan semata, padahal pelaku usaha tersebut tidak / belum menguasai keilmuannya. Ini mungkin juga merupakan hasil dari metode pendidikan / keberhasilan sang motivator untuk membuat orang ingin menjadi the number one, tanpa melihat kapabilitasnya.
Demikian juga sang komentator mengenai suatu issue, bahkan issue yang seharusnya tidak perlu dikomentari saja kadang dilakukan penilaian walaupun sebenarnya bukan merupakan kapasitas yang bersangkutan, bahkan sebenarnya akan merendahkannya, karena kepandaian sang pewawancara diapun berkomentar mengenai issue yang sebenarnya tidak dikuasainya atau sebenarnya tidak perlu dikomentari.
Mohon maaf kepada yang mempunyai sifat latah, selama alami itu berarti karunia Sang Khalik, asal jangan dibuat-buat.
Dunia telekomunikasi dan informasi serta pelakunya memegang peranan penting terhadap perkembangan suatu tingkat kecerdasan masyarakat yang masing gampang sekali dibingungkan oleh suatu informasi karena kaburnya sang Nara Sumber, mana yang bisa dijadikan referensi.
Bahkan sebuah konferensi pers-pun ternyata bisa kalah oleh hiruk pikuknya pemberitaan dan komentar-komentar di luar.
Mudah-mudahan sisi-sisi moralitas, kemaslahatan dan nilai manfaat bisa dikedepankan ketimbang selalu mengedepankan sisi-sisi bisnis yang kadang kala berbenturan dengan norma-noram maupun nilai-nilai religi.
Peace Indonesia
Senin, 10 Mei 2010
Rezeki Itu Datang
Banyak manusia merasa khawatir dalam mencari rezeki karunia Allah SWT. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang rela menggadai diri dan menghinakan martabat.
Kondisi dunia modern yang sarat persaingan dan pergulatan menuntut mereka untuk lebih berjibaku dalam mencari nafkah berupa karunia Tuhan. Betapa banyak setiap pagi di belahan bumi manapun di dapati wajah-wajah penuh ketegangan dan kepanikan yang memancarkan rona khawatir dalam mengais rezeki di pagi hari.
Seolah, mereka tidak memiliki Tuhan yang Maha Kaya Yang Mampu menjamin rezeki setiap hambaNya. Dialah Allah, Ar Razzaq Sang Pemberi Rezeki.
Hal yang sering luput dari diri manusia zaman modern ini adalah keimanan dan keyakinan bahwa Allah SWT telah menjamin rezeki dan nafkah setiap hambaNya. Karena keyakinan ini semakin memudar, maka setiap individu bergulat dan berkutat dalam kehidupan dunia demi memenuhi kebutuhan hidup belaka.
Dalam kitab Mirqaat al Mafatiih, terdapat kutipan pernyataan Al Qusyairi yang mengatakan; “Seseorang yang mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pemberi Rezeki, berarti ia telah menyandarkan tujuan kepadaNya dan mendekatkan diri dengan terus bertawakal kepadaNya.”
Pernyataan Al Qusyairi ini penting untuk diyakini bahwa memang kunci mendapatkan rezeki adalah dengan mendatangi Sang Pemilik rezeki yaitu Ar Razzaq! Sebab dengan mendatanginya maka segala hal kebutuhan akan terpenuhi.
Apakah kita belum pernah mendengar hadits yang amat masyhur ini: “Hai manusia, jika dari generasi pertama sampai terakhir, baik jin dan manusia berkumpul dalam satu tempat untuk meminta kepadaKu, lalu masing-masing orang meminta untuk tidak mengurangi kebutuhannya, niscaya hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun dari kekuasaanKu, kecuali hanya seperti jarum yang dicelupkan di laut.” (HR. Muslim).
Ini semua bukanlah demi menafikan sebuah ikhtiar mencari nafkah atau bekerja. Tetap saja bekerja sebuah prasyarat mulia untuk mendapatkan nafkah, dan para Nabi; manusia terhormatpun tetap melakukannya.
Namun tekanan yang terpenting dalam mencari rezeki dan nafkah adalah ketaatan kepada Allah Sang Pemberi rezeki.
Dalam Kitab Shahih Al Jami’ disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang berbunyi: “Sesungguhnya malaikat Jibril menghembuskan ke dalam hatiku bahwasanya jiwa hanya akan mati sampai tiba masanya dan memperoleh rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah, carilah nafkah yang baik, jangan bermalas-malasan dalam mencari rezeki, terlebih mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya Allah tidak akan memberikan apa yang dicarinya kecuali dengan taat kepadaNya.”
Sebab itu, usahlah panik dalam mencari karunia Allah SWT berupa rezeki. Yakinilah bahwa rezeki itu datang, bahkan kedatangannya menghampiri diri kita begitu cepat.
“Sesungguhnya rezeki itu akan mencari seseorang dan bergerak lebih cepat daripada ajalnya.” (HR. Thabrani)
Semoga Allah memberkahi rezeki & hidup kita bersama. Amien
Bobby Herbibowo
Kondisi dunia modern yang sarat persaingan dan pergulatan menuntut mereka untuk lebih berjibaku dalam mencari nafkah berupa karunia Tuhan. Betapa banyak setiap pagi di belahan bumi manapun di dapati wajah-wajah penuh ketegangan dan kepanikan yang memancarkan rona khawatir dalam mengais rezeki di pagi hari.
Seolah, mereka tidak memiliki Tuhan yang Maha Kaya Yang Mampu menjamin rezeki setiap hambaNya. Dialah Allah, Ar Razzaq Sang Pemberi Rezeki.
Hal yang sering luput dari diri manusia zaman modern ini adalah keimanan dan keyakinan bahwa Allah SWT telah menjamin rezeki dan nafkah setiap hambaNya. Karena keyakinan ini semakin memudar, maka setiap individu bergulat dan berkutat dalam kehidupan dunia demi memenuhi kebutuhan hidup belaka.
Dalam kitab Mirqaat al Mafatiih, terdapat kutipan pernyataan Al Qusyairi yang mengatakan; “Seseorang yang mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pemberi Rezeki, berarti ia telah menyandarkan tujuan kepadaNya dan mendekatkan diri dengan terus bertawakal kepadaNya.”
Pernyataan Al Qusyairi ini penting untuk diyakini bahwa memang kunci mendapatkan rezeki adalah dengan mendatangi Sang Pemilik rezeki yaitu Ar Razzaq! Sebab dengan mendatanginya maka segala hal kebutuhan akan terpenuhi.
Apakah kita belum pernah mendengar hadits yang amat masyhur ini: “Hai manusia, jika dari generasi pertama sampai terakhir, baik jin dan manusia berkumpul dalam satu tempat untuk meminta kepadaKu, lalu masing-masing orang meminta untuk tidak mengurangi kebutuhannya, niscaya hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun dari kekuasaanKu, kecuali hanya seperti jarum yang dicelupkan di laut.” (HR. Muslim).
Ini semua bukanlah demi menafikan sebuah ikhtiar mencari nafkah atau bekerja. Tetap saja bekerja sebuah prasyarat mulia untuk mendapatkan nafkah, dan para Nabi; manusia terhormatpun tetap melakukannya.
Namun tekanan yang terpenting dalam mencari rezeki dan nafkah adalah ketaatan kepada Allah Sang Pemberi rezeki.
Dalam Kitab Shahih Al Jami’ disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang berbunyi: “Sesungguhnya malaikat Jibril menghembuskan ke dalam hatiku bahwasanya jiwa hanya akan mati sampai tiba masanya dan memperoleh rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah, carilah nafkah yang baik, jangan bermalas-malasan dalam mencari rezeki, terlebih mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya Allah tidak akan memberikan apa yang dicarinya kecuali dengan taat kepadaNya.”
Sebab itu, usahlah panik dalam mencari karunia Allah SWT berupa rezeki. Yakinilah bahwa rezeki itu datang, bahkan kedatangannya menghampiri diri kita begitu cepat.
“Sesungguhnya rezeki itu akan mencari seseorang dan bergerak lebih cepat daripada ajalnya.” (HR. Thabrani)
Semoga Allah memberkahi rezeki & hidup kita bersama. Amien
Bobby Herbibowo
USAHA DAN REZEKI
Muhammad Ali Al-Hasan
Kalau kita perhatikan definisi rezeki, maka jelaslah bagi kita kesalahan yang telah tersebar, bahwa usaha itu adalah penyebab datangnya rezeki. Asumsi yang seperti ini, adalah asumsi yang salah sama sekali. Karena kita masih banyak menyaksikan orang yang dengan gigih berusaha untuk mendapatkan rezeki yang ia inginkan, namun rezeki itu tidak kunjung datang. Kita juga masih banyak melihat orang yang tidak berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan rezeki, namun rezeki itu datang kepadanya dengan tanpa disangka-sangka. Di dalam Alquran juga telah ada tuntunan yang dapat memperkokoh pendapat ini. Allah Swt telah menceritakan kepada kita, tentang sebuah kejadian antara Nabi Musa as, dengan seorang hamba yang saleh dan telah diberi ilmu pengetahuan oleh Allah Swt. sebagaimana firman-Nya:
"Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya seorang yang shaleh, maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya, dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."(QS. Al-Kahfi: 82).
Harta simpanan orang saleh tersebut berada di sebuah kota, di mana penduduknya sangat kikir, dan tidak mau memberi makan terhadap Nabi Musa as dan Nabi Khidhir as., sementara bangunan yang di bawahnya terdapat sebuah simpanan harta benda yang hampir roboh. Kemudian Nabi Khidhir as. membangunnya kembali, sehingga bangunan itu tidak roboh, kecuali setelah kedua anak itu dewasa dan dapat menjaga harta simpanan itu dengan sebaik-baiknya. Padahal kalau kita berpikir sejenak, maukah kita membangun sebuah bangunan dengan tanpa ongkos atau upah? Namun ternyata Nabi Khidhir ini membangun sebuah bangunan dengan tanpa mengharapkan ongkos dan upah sama sekali, atas perintah Allah Swt, agar harta simpanan kedua anak itu dapat terjaga dengan baik. Harta simpanan itu sendiri merupakan rezeki bagi orang-orang miskin yang berada di tengah-tengah penduduk yang kikir itu.
Kisah yang dipetik dari Alquran tersebut, maupun kisah-kisah nyata lainnya yang terjadi di tengah-tengah kita, dapat memberi kejelasan bagi kita, bahwa usaha itu bukanlah penyebab datangnya rezeki. Karena sebuah sebab dapat memberikan nilai terhadap musabab. Kita dapat menyaksikan Alquran menceritakan kisah tersebut, kemudian diperkuat dengan kejadian-kejadian yang terpampang di depan mata kita, bahwa ada orang yang tidak berusaha, namun dia mendapatkan rezeki. Maka hal ini dapat memperkokoh keyakinan kita, bahwa usaha itu bukanlah penyebab datangnya rezeki. Namun dapat kita katakan, bahwa usaha itu merupakan keadaan dan hiasan serta pembungkus yang dapat memberikan nilai tersendiri terhadap rezeki. Sebab rezeki itu sendiri tidak datang dari usaha [kita semata-mata].
Jadi rezeki merupakan cakupan keagungan Allah Swt, yang di dalamnya terdapat hikmah yang sempurna, namun kita masih belum memahaminya.1 Kita lihat bahwa rezeki itu tidak datang dengan adanya usaha kita, dan dia juga tidak hilang dengan keinginan kita. Di dalam suatu kesempatan, kita dapat melihat beberapa kasus tentang nilai sebuah usaha terhadap eksistensi rezeki. Di dalam kesempatan lain kita juga melihat beberapa kasus, di mana sebuah usaha kita tidak mempunyai nilai sama sekali terhadap eksistensi rezeki. Beberapa kasus yang dapat kita lihat tersebut, dapat memberikan pelajaran kepada kita bahwa di balik usaha itu terdapat sebuah kekuatan yang dapat mengatur perjalanan dan eksistensi rezeki itu sendiri. Kekuatan itu dapat diketahui melalui perasaan, dan eksistensinya dapat diketahui dengan adanya tanda-tanda yang ditimbulkannya. Sebagaimana kita mengetahui bahwa Allah Swt itu ada, dengan adanya makhluk yang ada di alam semesta ini. Al-Ghazali pernah berkata: "Barangsiapa yang memperhatikan perjalanan sunnatullah, maka dia akan mengetahui bahwa rezeki itu datang bukanlah disebabkan oleh adanya usaha. Pada suatu hari, datanglah seorang yang telah kehilangan semangat kepada seorang hakim, lantas menanyakan tentang mengapa ada seorang yang bodoh, namun dia mendapatkan rezeki yang layak, sedangkan di sisi lain, ada seorang yang mempunyai otak cemerlang, namun tidak mendapatkan rezeki yang layak. Mendengar pertanyaan itu, sang hakim menjawab: "Jika setiap orang yang mempunyai otak cemerlang mendapat rezeki yang layak, dan setiap orang yang bodoh tidak mendapatkan rezeki yang layak, maka akan timbul sebuah asumsi, bahwa seorang yang mempunyai otak cemerlang dapat memberikan rezeki terhadap temannya. Akibatnya, setelah orang lain tahu dan berpandangan bahwa yang dapat memberikan rezeki itu adalah temannya sendiri, maka tidak ada artinya usaha yang mereka lakukan untuk mendapatkan rezeki tersebut." 2 Seorang penyair pernah melantunkan syairnya:
Kalaulah semua rezeki hanya berjalan di telapak tangan orang cemerlang,
maka hancurlah binatang-binatang yang bodoh.
Adapun tanggung jawab terhadap sebuah pekerjaan, merupakan sebuah keharusan bagi setiap manusia. Namun yang tidak dapat dilupakan adalah bahwa Allah Swt mempunyai hak untuk mengatur rezeki bagi setiap manusia. Faktor yang kedua inilah yang sangat menentukan dibandingkan usaha yang direalisasikan oleh manusia. Bahkan masuknya rezeki tidak dapat diperhitungkan, begitu juga dengan keluarnya. Dia datang dan pergi di luar sepengetahuan manusia. Hal itu disebabkan adanya rezeki itu di bumi, sedangkan penyebabnya berada di langit. Sebagaimana firman Allah Swt di dalam kitab suci Alquran:
"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu (rezeki yang ada di langit seperti turunnya hujan yang dapat menyuburkan tanaman-tanaman yang menjadi sebab rezekimu dan sebagainya) dan terdapat (pula) ada yang dijanjikan kepadamu (ialah takdir Allah terhadap tiap-tiap manusia yang telah ditulis di Lauhul Mahfudz). Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan." (QS. Adz-Dzâriyat: 22-23).
Ayat di atas dapat memperkuat pandangan bahwa rezeki itu berada di tangan Allah Swt. dan di dalam ayat tersebut, ada beberapa alat untuk memperkuat kandungan yang terdapat di dalamnya, sebagaimana yang telah diterangkan oleh para ulama, bahwa tidak ada taklid yang lebih kuat dibandingkan taklid yang ada di dalam ayat yang menerangkan tentang rezeki. Untuk lebih jelasnya, marilah kita lihat sejenak tentang taklid yang berada di dalam ayat di atas. Pertama, Allah memperkuat ayat itu dengan bersumpah. Hal ini dapat kita lihat di dalam firman-Nya:
"Demi Tuhan langit dan bumi."
Kemudian Dia yang mentaklidnya dengan huruf ( ), kita tahu bahwa huruf itu merupakan Harfu Taukidin wa Nashbin. Kemudian Dia juga memperkuatnya dengan meletakkan huruf ( ) di dalam firman-Nya ( ). Dan huruf Lam tersebut merupakan huruf taukid, karena dia adalah Lam Muzhalaqah, sebagaimana yang telah dikatakan oleh para ahli bahasa. Kemudian Allah Swt juga memperkuatnya dengan memberikannya dengan memberikan huruf ( ) di dalam firman-Nya ( ). Dan akhirnya Dia menguatkannya dengan firman-Nya ( ) dengan tidak berfirman ( ) atau ( ). Adanya taklid yang begitu banyak dan beruntun tersebut, menunjukkan betapa eratnya ( ) (sesuatu yang dibicarakan) dengan ( ) (rezeki). Dari sinilah dapat kita katakan, bahwa pembicaraan tentang rezeki dan mendapatkan rezeki itu berasal dari satu tempat. Sebagaimana jika kita tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain, maka kita tidak akan mendapat rezeki dari orang lain tersebut.
Adanya taklid yang begitu banyak dan beruntun itu, membuat orang Arab desa yang membaca ayat tersebut berkata: "Apakah gerangan yang menjadikan Zat Yang Mahaagung marah sehingga Dia bersumpah. Mungkinkah karena banyak orang yang tidak mempercayai firman-Nya, sehingga Dia bersumpah." Setelah berkata demikian, orang itu membaca ayat tersebut, seraya menghela nafasnya dalam-dalam3. Setelah kita bahas tentang hakikat ini secara panjang lebar, maka dapatlah kita simpulkan bahwa usaha itu bukanlah rezeki dan bahwa usaha tidak berarti akhirnya akan menghasilkan rezeki. Oleh karena itu, sebuah usaha bukanlah penyebab datangnya rezeki, meskipun dia juga sangat dibutuhkan dalam mencari rezeki, namun tidak berarti dia [satu-satunya] akan dapat menambah rezeki. Maksudnya, bukan berarti menghapus peranan usaha, akan tetapi sikap menerima terhadap takdir yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Ada seorang ulama yang berkata: "Sebenarnya, ketentuan rezekimu tidak mewajibkan kamu untuk bekerja sampai melupkan urusan akhiratmu. Sebab kamu tidak akan mendapatkan masalah duniawi, kecuali sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah Swt."4
Pembicaraan kita tentang rezeki ini, dimaksudkan untuk membendung asumsi-asumsi salah, yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Di antara asumsi-asumsi yang salah tersebut adalah:
Pertama, ada sebuah asumsi yang mengatakan, bahwa rezeki akan berkurang jika dia diinfakkan di jalan yang benar, seperti jihad di jalan Allah, memberi makan terhadap orang-orang fakir dan miskin dan lain sebagainya, yang termasuk ke dalam kategori jalan yang sesuai dengan syariat Islam. Asumsi yang salah ini telah banyak meracuni manusia di zaman modern ini. Bahkan juga telah banyak meracuni orang-orang terdahulu, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Ayyub.
Al-Alusi pernah berkata: "Telah diriwayatkan oleh beberapa orang, dari 'Imran bin Hushain, dia berkata: "Kami pernah berada di Konstantinopel, kemudian, keluarlah satu barisan manusia dengan jumlah yang sangat besar dan terdiri dari orang-orang Romawi, sehingga terbawalah seseorang dari orang-orang Muslim dan masuk ke dalam barisan mereka. Kemudian orang-orang berkata: "Dia telah menjatuhkan dirinya kepada kebinasaan, akibat ulahnya sendiri." Mendengar ucapan itu, berdirilah Abu Ayyub Al-Anshari, seraya berkata: "Sesungguhnya, kalian telah mentakwilkan ayat ini dengan takwilan yang kalian lontarkan. Ayat ini sesungguhnya turun terhadap kami kaum Anshar. Sebab setelah Allah Swt menjadikan agama ini agung dan penolongnya pun banyak, sebagian dari kami berkata terhadap sebagian yang lain dengan secara rahasia dan tanpa melaporkan hal ini kepada Rasulullah saw: "Sesungguhnya harta-harta kita telah hilang dan Allah Swt telah mengagungkan agama ini dan penolongnya pun telah banyak. Kemudian apakah salahnya jika kita bekerja untuk membangun harta kami, dan memperbaiki harta yang telah hilang dari kita."
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi tentang hal yang serupa, dari Al-Hasan: "Sesungguhnya ucapan kebinasaan itu mempunyai arti kekikiran. Karena kekikiran itu dapat menyebabkan kebinasaan yang kekal."5 Jadi, yang masuk kepada jurang kebinasaan bukanlah orang yang memerangi musuh sehingga dia terbunuh, dan bukan pula orang-orang yang menafkahkan sebagian hartanya atau keseluruhannya di jalan Allah Swt. Namun, yang dimaksud kebinasaan ini adalah meninggalkan jihad di jalan Allah dan infak di jalan-Nya, sebab keduanya tidak akan pernah mengurangi jatah rezeki, sebagaimana yang banyak diasumsikan oleh kebanyakan orang.
Kedua, ada sebuah asumsi bahwa dengan bertambahnya anak, berarti berkurangnya rezeki mereka dan rezeki anak-anak mereka. Sebab, menurut mereka, rezeki yang dibagikan kepada empat orang tidak sama dengan rezeki yang dibagikan kepada lima orang. Maka kalau kita perhatikan, adanya asumsi bertambahnya anak dapat mengurangi rezeki, adalah menyangkut masalah logaritma. Seperti sepertiga tidak sama dengan seperempat, dan seperlima tidak sama dengan seperenam.
Sebelum kita membicarakan tentang bagaimana kita membendung asumsi yang salah ini, terlebih dahulu kita membicarakan tentang hakikat yang dapat kami tentukan di sini bahwa diperbolehkan bagi seorang laki-laki dan perempuan merencanakan tentang jumlah anak-anaknya. Kepada mereka diperbolehkan pula untuk menempuh cara-cara yang dapat mencegah bertambahnya anak, baik cara itu adalah cara-cara yang lama, maupun cara-cara yang modern, baik cara itu dengan cara 'azl (mencabut kemaluan laki-laki dari kemaluan perempuan sebelum keluarnya sperma) seperti yang dilakukan oleh para sahabat, sebagaimana diriwayatkan: "Kami pernah melakukan 'Azl, sedangkan pada saat itu Alquran turun, seandainya pekerjaan itu merupakan sebuah larangan, niscaya Rasulullah saw akan melarang kami." Atau mempergunakan sesuatu yang semisal dengan 'azl, sebagaimana usaha-usaha yang dilakukan di zaman modern sekarang ini.
Masalah ini adalah boleh hukumnya, menurut pandangan syariat. Sebab hal ini bukanlah dakwah untuk membatasi keturunan, sebagaimana yang telah banyak dibicarakan di zaman sekarang, dan dia juga bukanlah sesuatu yang diharamkan oleh syara' secara keseluruhannya. Kita menentukan hal ini dengan syarat 'azl dan yang semisal dengannya itu, dilakukan khususnya jika terdapat 'udzur yang dapat membolehkannya, dan untuk menjaga kesehatan sang istri. Namun, kami tidak menerima sama sekali, jika hal itu dilakukan karena rasa takut berkurangnya rezeki. Di dalam Alquran ada dua ayat yang sangat bertentangan dengan asumsi yang salah ini. Karena kedua ayat ini disebutkan dengan nada yang sama, maka ada sebagian orientalis yang mengatakan, bahwa pengulangan ayat tersebut tidak ada gunanya sama sekali. Bahkan sebagian orang Muslim yang mempunyai asumsi bahwa bertambahnya anak dapat mengurangi jatah rezeki, juga meragukan eksistensi pengulangan kedua ayat tersebut.
Sedangkan kedua ayat tersebut satu di antaranya berada di dalam surat Al-Isrâ, sebagaimana firman-Nya: "Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu..." (QS. Al-Isrâ': 31)
Sedangkan ayat yang kedua terdapat di dalam surat Al-An'âm, sebagaimana firman-Nya:
"...Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka..." (QS. Al-An'âm: 151).
Karena adanya rasa takut ini, maka seorang ayah sibuk mencari rezeki, agar dia tidak terjerumus ke dalam jurang kemiskinan yang ia takuti itu. Padahal Allah Swt telah berfirman : "...Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka." (QS. Al-An'âm :151).
Maksud dari ayat ini adalah, jagalah stabilitas rezekimu, maka tidak akan pernah berkurang, kemudian akan datang rezeki yang baru untuk anak-anakmu.
Itulah perbedaan di antara kedua ayat tersebut, yang menurut sebagian orientalis kedua ayat tersebut adalah sebuah pengulangan, yang tidak mempunyai faedah sama sekali di dalam Alquran. Untuk menjawab asumsi mereka itu, maka kita dapat katakan bahwa tidak ada sebuah pengulangan di dalam Alquran yang tidak ada faedahnya, namun setiap ayat datang untuk memperbaiki sebuah keadaan yang belum diperbaiki oleh ayat-ayat lain. Allah Swt dengan mengemukakan kedua ayat tersebut adalah untuk membalikkan pandangan kita bahwa rezeki meskipun dia datang secara mujamal, namun dia harus digunakan secara terpisah. []
Catatan Kaki :
1. Asy-Syaikh Asy-Sya'rawi, Ar-Rizq, edisi 1, hal.15.
2. Al-Ghazali, At-Tauhid wa at-Tawakkal, hal.107.
3. Al-Alusi, Ruhul Ma'ani, jilid 27, hal.10.
4. Al-Ghazali, At-Tauhid wa at-Tawakkal, hal.17.
5. Al-Alusi, Ruhul Ma'ani, hal.77.
Kalau kita perhatikan definisi rezeki, maka jelaslah bagi kita kesalahan yang telah tersebar, bahwa usaha itu adalah penyebab datangnya rezeki. Asumsi yang seperti ini, adalah asumsi yang salah sama sekali. Karena kita masih banyak menyaksikan orang yang dengan gigih berusaha untuk mendapatkan rezeki yang ia inginkan, namun rezeki itu tidak kunjung datang. Kita juga masih banyak melihat orang yang tidak berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan rezeki, namun rezeki itu datang kepadanya dengan tanpa disangka-sangka. Di dalam Alquran juga telah ada tuntunan yang dapat memperkokoh pendapat ini. Allah Swt telah menceritakan kepada kita, tentang sebuah kejadian antara Nabi Musa as, dengan seorang hamba yang saleh dan telah diberi ilmu pengetahuan oleh Allah Swt. sebagaimana firman-Nya:
"Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya seorang yang shaleh, maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya, dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."(QS. Al-Kahfi: 82).
Harta simpanan orang saleh tersebut berada di sebuah kota, di mana penduduknya sangat kikir, dan tidak mau memberi makan terhadap Nabi Musa as dan Nabi Khidhir as., sementara bangunan yang di bawahnya terdapat sebuah simpanan harta benda yang hampir roboh. Kemudian Nabi Khidhir as. membangunnya kembali, sehingga bangunan itu tidak roboh, kecuali setelah kedua anak itu dewasa dan dapat menjaga harta simpanan itu dengan sebaik-baiknya. Padahal kalau kita berpikir sejenak, maukah kita membangun sebuah bangunan dengan tanpa ongkos atau upah? Namun ternyata Nabi Khidhir ini membangun sebuah bangunan dengan tanpa mengharapkan ongkos dan upah sama sekali, atas perintah Allah Swt, agar harta simpanan kedua anak itu dapat terjaga dengan baik. Harta simpanan itu sendiri merupakan rezeki bagi orang-orang miskin yang berada di tengah-tengah penduduk yang kikir itu.
Kisah yang dipetik dari Alquran tersebut, maupun kisah-kisah nyata lainnya yang terjadi di tengah-tengah kita, dapat memberi kejelasan bagi kita, bahwa usaha itu bukanlah penyebab datangnya rezeki. Karena sebuah sebab dapat memberikan nilai terhadap musabab. Kita dapat menyaksikan Alquran menceritakan kisah tersebut, kemudian diperkuat dengan kejadian-kejadian yang terpampang di depan mata kita, bahwa ada orang yang tidak berusaha, namun dia mendapatkan rezeki. Maka hal ini dapat memperkokoh keyakinan kita, bahwa usaha itu bukanlah penyebab datangnya rezeki. Namun dapat kita katakan, bahwa usaha itu merupakan keadaan dan hiasan serta pembungkus yang dapat memberikan nilai tersendiri terhadap rezeki. Sebab rezeki itu sendiri tidak datang dari usaha [kita semata-mata].
Jadi rezeki merupakan cakupan keagungan Allah Swt, yang di dalamnya terdapat hikmah yang sempurna, namun kita masih belum memahaminya.1 Kita lihat bahwa rezeki itu tidak datang dengan adanya usaha kita, dan dia juga tidak hilang dengan keinginan kita. Di dalam suatu kesempatan, kita dapat melihat beberapa kasus tentang nilai sebuah usaha terhadap eksistensi rezeki. Di dalam kesempatan lain kita juga melihat beberapa kasus, di mana sebuah usaha kita tidak mempunyai nilai sama sekali terhadap eksistensi rezeki. Beberapa kasus yang dapat kita lihat tersebut, dapat memberikan pelajaran kepada kita bahwa di balik usaha itu terdapat sebuah kekuatan yang dapat mengatur perjalanan dan eksistensi rezeki itu sendiri. Kekuatan itu dapat diketahui melalui perasaan, dan eksistensinya dapat diketahui dengan adanya tanda-tanda yang ditimbulkannya. Sebagaimana kita mengetahui bahwa Allah Swt itu ada, dengan adanya makhluk yang ada di alam semesta ini. Al-Ghazali pernah berkata: "Barangsiapa yang memperhatikan perjalanan sunnatullah, maka dia akan mengetahui bahwa rezeki itu datang bukanlah disebabkan oleh adanya usaha. Pada suatu hari, datanglah seorang yang telah kehilangan semangat kepada seorang hakim, lantas menanyakan tentang mengapa ada seorang yang bodoh, namun dia mendapatkan rezeki yang layak, sedangkan di sisi lain, ada seorang yang mempunyai otak cemerlang, namun tidak mendapatkan rezeki yang layak. Mendengar pertanyaan itu, sang hakim menjawab: "Jika setiap orang yang mempunyai otak cemerlang mendapat rezeki yang layak, dan setiap orang yang bodoh tidak mendapatkan rezeki yang layak, maka akan timbul sebuah asumsi, bahwa seorang yang mempunyai otak cemerlang dapat memberikan rezeki terhadap temannya. Akibatnya, setelah orang lain tahu dan berpandangan bahwa yang dapat memberikan rezeki itu adalah temannya sendiri, maka tidak ada artinya usaha yang mereka lakukan untuk mendapatkan rezeki tersebut." 2 Seorang penyair pernah melantunkan syairnya:
Kalaulah semua rezeki hanya berjalan di telapak tangan orang cemerlang,
maka hancurlah binatang-binatang yang bodoh.
Adapun tanggung jawab terhadap sebuah pekerjaan, merupakan sebuah keharusan bagi setiap manusia. Namun yang tidak dapat dilupakan adalah bahwa Allah Swt mempunyai hak untuk mengatur rezeki bagi setiap manusia. Faktor yang kedua inilah yang sangat menentukan dibandingkan usaha yang direalisasikan oleh manusia. Bahkan masuknya rezeki tidak dapat diperhitungkan, begitu juga dengan keluarnya. Dia datang dan pergi di luar sepengetahuan manusia. Hal itu disebabkan adanya rezeki itu di bumi, sedangkan penyebabnya berada di langit. Sebagaimana firman Allah Swt di dalam kitab suci Alquran:
"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu (rezeki yang ada di langit seperti turunnya hujan yang dapat menyuburkan tanaman-tanaman yang menjadi sebab rezekimu dan sebagainya) dan terdapat (pula) ada yang dijanjikan kepadamu (ialah takdir Allah terhadap tiap-tiap manusia yang telah ditulis di Lauhul Mahfudz). Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan." (QS. Adz-Dzâriyat: 22-23).
Ayat di atas dapat memperkuat pandangan bahwa rezeki itu berada di tangan Allah Swt. dan di dalam ayat tersebut, ada beberapa alat untuk memperkuat kandungan yang terdapat di dalamnya, sebagaimana yang telah diterangkan oleh para ulama, bahwa tidak ada taklid yang lebih kuat dibandingkan taklid yang ada di dalam ayat yang menerangkan tentang rezeki. Untuk lebih jelasnya, marilah kita lihat sejenak tentang taklid yang berada di dalam ayat di atas. Pertama, Allah memperkuat ayat itu dengan bersumpah. Hal ini dapat kita lihat di dalam firman-Nya:
"Demi Tuhan langit dan bumi."
Kemudian Dia yang mentaklidnya dengan huruf ( ), kita tahu bahwa huruf itu merupakan Harfu Taukidin wa Nashbin. Kemudian Dia juga memperkuatnya dengan meletakkan huruf ( ) di dalam firman-Nya ( ). Dan huruf Lam tersebut merupakan huruf taukid, karena dia adalah Lam Muzhalaqah, sebagaimana yang telah dikatakan oleh para ahli bahasa. Kemudian Allah Swt juga memperkuatnya dengan memberikannya dengan memberikan huruf ( ) di dalam firman-Nya ( ). Dan akhirnya Dia menguatkannya dengan firman-Nya ( ) dengan tidak berfirman ( ) atau ( ). Adanya taklid yang begitu banyak dan beruntun tersebut, menunjukkan betapa eratnya ( ) (sesuatu yang dibicarakan) dengan ( ) (rezeki). Dari sinilah dapat kita katakan, bahwa pembicaraan tentang rezeki dan mendapatkan rezeki itu berasal dari satu tempat. Sebagaimana jika kita tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain, maka kita tidak akan mendapat rezeki dari orang lain tersebut.
Adanya taklid yang begitu banyak dan beruntun itu, membuat orang Arab desa yang membaca ayat tersebut berkata: "Apakah gerangan yang menjadikan Zat Yang Mahaagung marah sehingga Dia bersumpah. Mungkinkah karena banyak orang yang tidak mempercayai firman-Nya, sehingga Dia bersumpah." Setelah berkata demikian, orang itu membaca ayat tersebut, seraya menghela nafasnya dalam-dalam3. Setelah kita bahas tentang hakikat ini secara panjang lebar, maka dapatlah kita simpulkan bahwa usaha itu bukanlah rezeki dan bahwa usaha tidak berarti akhirnya akan menghasilkan rezeki. Oleh karena itu, sebuah usaha bukanlah penyebab datangnya rezeki, meskipun dia juga sangat dibutuhkan dalam mencari rezeki, namun tidak berarti dia [satu-satunya] akan dapat menambah rezeki. Maksudnya, bukan berarti menghapus peranan usaha, akan tetapi sikap menerima terhadap takdir yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Ada seorang ulama yang berkata: "Sebenarnya, ketentuan rezekimu tidak mewajibkan kamu untuk bekerja sampai melupkan urusan akhiratmu. Sebab kamu tidak akan mendapatkan masalah duniawi, kecuali sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah Swt."4
Pembicaraan kita tentang rezeki ini, dimaksudkan untuk membendung asumsi-asumsi salah, yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Di antara asumsi-asumsi yang salah tersebut adalah:
Pertama, ada sebuah asumsi yang mengatakan, bahwa rezeki akan berkurang jika dia diinfakkan di jalan yang benar, seperti jihad di jalan Allah, memberi makan terhadap orang-orang fakir dan miskin dan lain sebagainya, yang termasuk ke dalam kategori jalan yang sesuai dengan syariat Islam. Asumsi yang salah ini telah banyak meracuni manusia di zaman modern ini. Bahkan juga telah banyak meracuni orang-orang terdahulu, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Ayyub.
Al-Alusi pernah berkata: "Telah diriwayatkan oleh beberapa orang, dari 'Imran bin Hushain, dia berkata: "Kami pernah berada di Konstantinopel, kemudian, keluarlah satu barisan manusia dengan jumlah yang sangat besar dan terdiri dari orang-orang Romawi, sehingga terbawalah seseorang dari orang-orang Muslim dan masuk ke dalam barisan mereka. Kemudian orang-orang berkata: "Dia telah menjatuhkan dirinya kepada kebinasaan, akibat ulahnya sendiri." Mendengar ucapan itu, berdirilah Abu Ayyub Al-Anshari, seraya berkata: "Sesungguhnya, kalian telah mentakwilkan ayat ini dengan takwilan yang kalian lontarkan. Ayat ini sesungguhnya turun terhadap kami kaum Anshar. Sebab setelah Allah Swt menjadikan agama ini agung dan penolongnya pun banyak, sebagian dari kami berkata terhadap sebagian yang lain dengan secara rahasia dan tanpa melaporkan hal ini kepada Rasulullah saw: "Sesungguhnya harta-harta kita telah hilang dan Allah Swt telah mengagungkan agama ini dan penolongnya pun telah banyak. Kemudian apakah salahnya jika kita bekerja untuk membangun harta kami, dan memperbaiki harta yang telah hilang dari kita."
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi tentang hal yang serupa, dari Al-Hasan: "Sesungguhnya ucapan kebinasaan itu mempunyai arti kekikiran. Karena kekikiran itu dapat menyebabkan kebinasaan yang kekal."5 Jadi, yang masuk kepada jurang kebinasaan bukanlah orang yang memerangi musuh sehingga dia terbunuh, dan bukan pula orang-orang yang menafkahkan sebagian hartanya atau keseluruhannya di jalan Allah Swt. Namun, yang dimaksud kebinasaan ini adalah meninggalkan jihad di jalan Allah dan infak di jalan-Nya, sebab keduanya tidak akan pernah mengurangi jatah rezeki, sebagaimana yang banyak diasumsikan oleh kebanyakan orang.
Kedua, ada sebuah asumsi bahwa dengan bertambahnya anak, berarti berkurangnya rezeki mereka dan rezeki anak-anak mereka. Sebab, menurut mereka, rezeki yang dibagikan kepada empat orang tidak sama dengan rezeki yang dibagikan kepada lima orang. Maka kalau kita perhatikan, adanya asumsi bertambahnya anak dapat mengurangi rezeki, adalah menyangkut masalah logaritma. Seperti sepertiga tidak sama dengan seperempat, dan seperlima tidak sama dengan seperenam.
Sebelum kita membicarakan tentang bagaimana kita membendung asumsi yang salah ini, terlebih dahulu kita membicarakan tentang hakikat yang dapat kami tentukan di sini bahwa diperbolehkan bagi seorang laki-laki dan perempuan merencanakan tentang jumlah anak-anaknya. Kepada mereka diperbolehkan pula untuk menempuh cara-cara yang dapat mencegah bertambahnya anak, baik cara itu adalah cara-cara yang lama, maupun cara-cara yang modern, baik cara itu dengan cara 'azl (mencabut kemaluan laki-laki dari kemaluan perempuan sebelum keluarnya sperma) seperti yang dilakukan oleh para sahabat, sebagaimana diriwayatkan: "Kami pernah melakukan 'Azl, sedangkan pada saat itu Alquran turun, seandainya pekerjaan itu merupakan sebuah larangan, niscaya Rasulullah saw akan melarang kami." Atau mempergunakan sesuatu yang semisal dengan 'azl, sebagaimana usaha-usaha yang dilakukan di zaman modern sekarang ini.
Masalah ini adalah boleh hukumnya, menurut pandangan syariat. Sebab hal ini bukanlah dakwah untuk membatasi keturunan, sebagaimana yang telah banyak dibicarakan di zaman sekarang, dan dia juga bukanlah sesuatu yang diharamkan oleh syara' secara keseluruhannya. Kita menentukan hal ini dengan syarat 'azl dan yang semisal dengannya itu, dilakukan khususnya jika terdapat 'udzur yang dapat membolehkannya, dan untuk menjaga kesehatan sang istri. Namun, kami tidak menerima sama sekali, jika hal itu dilakukan karena rasa takut berkurangnya rezeki. Di dalam Alquran ada dua ayat yang sangat bertentangan dengan asumsi yang salah ini. Karena kedua ayat ini disebutkan dengan nada yang sama, maka ada sebagian orientalis yang mengatakan, bahwa pengulangan ayat tersebut tidak ada gunanya sama sekali. Bahkan sebagian orang Muslim yang mempunyai asumsi bahwa bertambahnya anak dapat mengurangi jatah rezeki, juga meragukan eksistensi pengulangan kedua ayat tersebut.
Sedangkan kedua ayat tersebut satu di antaranya berada di dalam surat Al-Isrâ, sebagaimana firman-Nya: "Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu..." (QS. Al-Isrâ': 31)
Sedangkan ayat yang kedua terdapat di dalam surat Al-An'âm, sebagaimana firman-Nya:
"...Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka..." (QS. Al-An'âm: 151).
Karena adanya rasa takut ini, maka seorang ayah sibuk mencari rezeki, agar dia tidak terjerumus ke dalam jurang kemiskinan yang ia takuti itu. Padahal Allah Swt telah berfirman : "...Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka." (QS. Al-An'âm :151).
Maksud dari ayat ini adalah, jagalah stabilitas rezekimu, maka tidak akan pernah berkurang, kemudian akan datang rezeki yang baru untuk anak-anakmu.
Itulah perbedaan di antara kedua ayat tersebut, yang menurut sebagian orientalis kedua ayat tersebut adalah sebuah pengulangan, yang tidak mempunyai faedah sama sekali di dalam Alquran. Untuk menjawab asumsi mereka itu, maka kita dapat katakan bahwa tidak ada sebuah pengulangan di dalam Alquran yang tidak ada faedahnya, namun setiap ayat datang untuk memperbaiki sebuah keadaan yang belum diperbaiki oleh ayat-ayat lain. Allah Swt dengan mengemukakan kedua ayat tersebut adalah untuk membalikkan pandangan kita bahwa rezeki meskipun dia datang secara mujamal, namun dia harus digunakan secara terpisah. []
Catatan Kaki :
1. Asy-Syaikh Asy-Sya'rawi, Ar-Rizq, edisi 1, hal.15.
2. Al-Ghazali, At-Tauhid wa at-Tawakkal, hal.107.
3. Al-Alusi, Ruhul Ma'ani, jilid 27, hal.10.
4. Al-Ghazali, At-Tauhid wa at-Tawakkal, hal.17.
5. Al-Alusi, Ruhul Ma'ani, hal.77.
Kamis, 06 Mei 2010
Celotehan Pikiran
Organisasi sebagai salah satu hasil cipta karsa manusia, telah melahirkan sejumlah kemudahan sekaligus kerumitan di dalamnya.
Tidak sedikit yang dimudahkan oleh kelahirannya tetapi banyak juga yang kelimpungan karena berada di dalamnya.
Demikian juga Negara Indonesia sebagai sebuah Organisasi Besar di Negeri ini pastinya juga tidak luput dari kemudahan dan kerumitan di dalamnya.
Ibarat umur ... tidak ada yang bisa menghentikan bahwa umur negara ini juga selalu bertambah, dan mustahil untuk dipause/dipending atau sebangsanya.
Setiap penggal umur negeri ini tentunya ada saja moment-moment yang mengisinya, baik yang menyenangkan, sedang-sedang saja maupun moment yang cukup sulit bahkan merupakan lembaran kelam negeri ini.
Sebagai manusia yang menyadari akan posisinya sebagai makhluk tentu kita tidak memungkiri bahwa kita tercipta dengan segala kelebihan sekaligus kekurangan masing-masing.
Dan sesuai dengan kodrat bahwa manusia tempatnya salah dan lupa, sehingga OJO GUMUNAN kalau saat ini media mempertontonkan itu semua.
Yang perlu digumini kalau / seandainya / umpamanya kita berada di dalamnya, mungkin perlu berpikir beberapa kali kenapa kok bisa. Istighfar dan mohon ampun kepada Alloh dan mudah-mudahan diberi kekuatan untuk keluar dari dalamnya.
Umur kemerdekaan negara Indonesia tentunya juga akan terus bertambah, siapa dan bagaimanapun kondisinya "THE SHOW MUST GO ON".
Sekuat apapun reka daya Manusia pada dasarnya tidak akan berpengaruh banyak kepada sesuatu yang sebenarnya sudah ditentukan oleh-Nya.
Sebagus apapun sistem yang dibuat manusia andaikata Gunung sudah waktunya meletus maka dia juga akan meletus, peringatan dini secanggih apapun tidak akan menyelamatkan kalau memang sudah waktunya dipanggil oleh-Nya. Bahkan Obat semahal apapun pada dasarnya tidak bisa menjamin 100% akan kesembuhan.
Semoga Alloh senantiasa menuntun kita di Jalan-Nya, memberikan kekuatan atas kelemahan-kelemahan kita dan menyelamatkan kita dari segala keterpurukan.
Astaghfirullah hal adzim
Tidak sedikit yang dimudahkan oleh kelahirannya tetapi banyak juga yang kelimpungan karena berada di dalamnya.
Demikian juga Negara Indonesia sebagai sebuah Organisasi Besar di Negeri ini pastinya juga tidak luput dari kemudahan dan kerumitan di dalamnya.
Ibarat umur ... tidak ada yang bisa menghentikan bahwa umur negara ini juga selalu bertambah, dan mustahil untuk dipause/dipending atau sebangsanya.
Setiap penggal umur negeri ini tentunya ada saja moment-moment yang mengisinya, baik yang menyenangkan, sedang-sedang saja maupun moment yang cukup sulit bahkan merupakan lembaran kelam negeri ini.
Sebagai manusia yang menyadari akan posisinya sebagai makhluk tentu kita tidak memungkiri bahwa kita tercipta dengan segala kelebihan sekaligus kekurangan masing-masing.
Dan sesuai dengan kodrat bahwa manusia tempatnya salah dan lupa, sehingga OJO GUMUNAN kalau saat ini media mempertontonkan itu semua.
Yang perlu digumini kalau / seandainya / umpamanya kita berada di dalamnya, mungkin perlu berpikir beberapa kali kenapa kok bisa. Istighfar dan mohon ampun kepada Alloh dan mudah-mudahan diberi kekuatan untuk keluar dari dalamnya.
Umur kemerdekaan negara Indonesia tentunya juga akan terus bertambah, siapa dan bagaimanapun kondisinya "THE SHOW MUST GO ON".
Sekuat apapun reka daya Manusia pada dasarnya tidak akan berpengaruh banyak kepada sesuatu yang sebenarnya sudah ditentukan oleh-Nya.
Sebagus apapun sistem yang dibuat manusia andaikata Gunung sudah waktunya meletus maka dia juga akan meletus, peringatan dini secanggih apapun tidak akan menyelamatkan kalau memang sudah waktunya dipanggil oleh-Nya. Bahkan Obat semahal apapun pada dasarnya tidak bisa menjamin 100% akan kesembuhan.
Semoga Alloh senantiasa menuntun kita di Jalan-Nya, memberikan kekuatan atas kelemahan-kelemahan kita dan menyelamatkan kita dari segala keterpurukan.
Astaghfirullah hal adzim
Kamis, 29 April 2010
SANDARKAN HANYA PADA SANG PEMILIK KEHIDUPAN
Sang Maha Pencipta telah menciptakan makhluk dengan segala perangkatnya lengkap untuk menopang bagi kehidupannya.
Kalaupun takaran dan jenisnya tentu akan berbeda-beda karena memang itulah kodratnya bahkan dalam rupa kembar sekalipun pasti ada perbedaannya.
Janganlah takut (samar : jawa) karena sang Pemilik Kehidupan tidak pernah tidur, tidak pernah lupa dan tidak pernah lalai. Dia pasti akan selalu menyediakan sumber kehidupan bagi makhluknya.
Yang sering muncul adalah kepesimisan manusia sendiri, dapat 1 piring seharusnya berpikirnya alhamdulilah bisa buat makan sekali, tetapi karena hawa nafsu dan keinginanlah yang mendorong manusia berpikir untuk kebutuhan 1 bulan mendatang seiring dengan kemajuan ilmu manajamen (planning) sehingga menjadikannya gelisah akan ketidak cukupannya untuk kebutuhan 1 bulan ke depan yang belum dipegang hari itu.
Pernahkan berpikir akankah umur sampai akhir bulan ini ? Besok ? Lusa ?
Keoptimisan yang salah penempatan bisa menjadi bumerang bagi manusia sehingga tidak akan merasa puas/cukup karena kecenderungan untuk menggunakan takaran yang lebih tinggi dari apa yang dipegangnya (sudut pandang kemajuan yang salah kaprah)
Kiranya pemikiran ini yang menurut penulis melahirkan Sang Koruptor, Sang pendampa materi, Sang pendamba kemewahan.
Mudah-mudahan Alloh selalu mengingatkan akan hal itu. Amin
Peace Indonesia
Kalaupun takaran dan jenisnya tentu akan berbeda-beda karena memang itulah kodratnya bahkan dalam rupa kembar sekalipun pasti ada perbedaannya.
Janganlah takut (samar : jawa) karena sang Pemilik Kehidupan tidak pernah tidur, tidak pernah lupa dan tidak pernah lalai. Dia pasti akan selalu menyediakan sumber kehidupan bagi makhluknya.
Yang sering muncul adalah kepesimisan manusia sendiri, dapat 1 piring seharusnya berpikirnya alhamdulilah bisa buat makan sekali, tetapi karena hawa nafsu dan keinginanlah yang mendorong manusia berpikir untuk kebutuhan 1 bulan mendatang seiring dengan kemajuan ilmu manajamen (planning) sehingga menjadikannya gelisah akan ketidak cukupannya untuk kebutuhan 1 bulan ke depan yang belum dipegang hari itu.
Pernahkan berpikir akankah umur sampai akhir bulan ini ? Besok ? Lusa ?
Keoptimisan yang salah penempatan bisa menjadi bumerang bagi manusia sehingga tidak akan merasa puas/cukup karena kecenderungan untuk menggunakan takaran yang lebih tinggi dari apa yang dipegangnya (sudut pandang kemajuan yang salah kaprah)
Kiranya pemikiran ini yang menurut penulis melahirkan Sang Koruptor, Sang pendampa materi, Sang pendamba kemewahan.
Mudah-mudahan Alloh selalu mengingatkan akan hal itu. Amin
Peace Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)