Kamis, 19 Agustus 2010

Bahayanya "Wadi" yang dipublikasikan

Seiring dengan perkembangan jaman, teknologi, bisnis dan sebangsanya maka banyak urusan yang sifatnya "WADI" (jawa) atawa "PAMALI" (sunda) dipublikasikan secara blak-blakan dengan alasan era keterbukaan dll.

Padahal ibarat sebuah jurus maka dengan dipublikasikannya maka dia tidak akan menjadi andalan bahkan sebaliknya akan menimbulkan keresahan.

Untuk hal-hal yang sifatnya "WADI" tidak semua orang bisa / mampu dan sudah mumpuni untuk mengetahui atau menjalankannya, sehingga manakala sudah diumbar dan dipublikasikan maka jangan heran jika ada yang NYLENEH-NYLENEH terjadi di kehidupan berbangsa dan bermasyarakat secara luas.

Yang bisa salah tidak hanya preman dan wong cilik saja, penguasa, kyai, pejabat dan presiden sekalipun bisa kecletut( keseleo ).

Orang Jawa punya warisan yang terkenal dengan istilah UMPAN PAPAN.

Selasa, 17 Agustus 2010

AGUSTUSAN ATAU 17-AN



Kira-kira itulah kata yang bisa mewakili peringatan Hari Kemerdekaan Negera Indonesia di benak Penulis Kecil saat itu.

Bentuk kegiatanpun tidak jauh berbeda dulu dan sekarang, kecuali rasa dan pemahaman penulis sendiri terhadap Peringatan itu yang berbeda seiring perjalanan umur dan waktu tentunya.

.............M e r d e k a Indonesiaku .................

Sabtu, 14 Agustus 2010

INFO MUDIK

http://www.rttmc-hubdat.web.id

Selasa, 13 Juli 2010

BAB REZEKI

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan (bagi siapa yang Dia kehendaki)…”. (QS. Ar-Ra’d [13]: 26).
Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasi dengan nalar manusia. Se-ringkali ia bergerak diluar jangkauan nalar. Itulah yang disebut dengan rezeki tidak disangka-sangka. Al-Qur’an mengatakan, “Wayarzuqhu min haitsu lâ yahtasib.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 3).
Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Setiap manusia yang terlahir ke dunia sudah dilengkapi dengan rezekinya masing-masing. Oleh karena itu, selayaknyalah kita tidak perlu cemas mengenai rezeki. Persoalan rezeki sudah diatur oleh Allah Swt.Hal penting yang perlu dilakukan adalah sempurnakan ikhtiar, perkuat dengan doa, dan tawakal secara total kepada Allah. Biarlah Allah yang Maha Mengatur rezeki yang menentukan. Insya Allah, jika ikhtiar dan doa kita optimal serta tawakal kita total, kita akan diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Allah akan mengaruniakan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.


Hakikat Rezeki
Oleh : Abdullah Gymnastiar


BERAPA banyak binatang melata yang tidak sanggup membawa rezekinya (makanan kebutuhannya), Allahlah yang menjamin rezekinya, juga terhadapmu.(Q.S. Al Ankabuut 29: 60).

Pada Bulan Ramadhan, pintu-pintu keberkahan Allah dibuka lebar-lebar, karenanya ada yang menyebut Ramadhan sebagai syahrul mubarak, bulan yang penuh keberkahan. Rizki dimudahkan, urusan-urusan dilancarkan, kegembiraan-kegembiraan senantiasa diiringkan. Itu semua benar-benar kita rasakan.

Dalam soal rezeki, pesona Ramadhan sangat berbeda. Rata-rata, seiring kewajiban ibadah puasa, standar belanja masyarakat biasanya meningkat. Di bulan puasa yang harusnya berdampak penghematan, kebutuhan belanja justru meningkat. Tapi semua itu bisa terpenuhi dengan baik.

Hampir tidak kita temui orang yang ikhlas menjalankan ibadah puasa di bulan ini sepanjang waktu berurai air mata karena tidak kebagian rezeki untuk sahur maupun berbuka. Tidak, semua orang bisa menikmati semua itu dengan memadai.

Saudaraku, berbicara soal rezeki, tampaknya sangat penting bagi kita untuk mencoba menelaah hakikat rezeki. Sederhananya begini, ada seorang majikan menyuruh hamba sahayanya untuk menimba, tidak mungkin majikan ini lupa memberi makan kepada hamba sahayanya. Karena kalau lupa maka hamba sahayanya ini tidak akan bisa bekerja.

Semakin bagus kerjanya, akan dicukupi pakaiannya atau kebutuhan lainnya. Lalu, bagaimana mungkin Allah yang memerintahkan kita ibadah dan kalau kita ibadah tidak dicukupi. Contoh, kita diperintahkan untuk shalat dan shalat itu harus menutupi aurat. Pasti kita akan dicukupi rezeki menutup aurat karena yang menyuruh menutup aurat adalah Allah.

Allah memerintahkan kita untuk bersedekah, lalu bagaimana mungkin kita bisa sedekah kalau kita tidak diberi rezeki sementara itu yang memberi rezeki adalah Allah. Kita pasti diberi makan, karena bagaimana mungkin kita bisa menolong orang, bagaimana kita bisa ibadah, kalau kita tidak diberi makan. Jadi, andai saja kita tahu kewajiban kita dan kita tunaikan dengan baik maka insya Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakannya.

Maka saudaraku, kewajiban kita yang pertama adalah husnudzan (berbaik sangka) bahwa Allah adalah Maha Penjamin rezeki. Karena Allah berfirman dalam hadits qudsi: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku pada-Ku. Yang kedua. Ikhtiar dijalan yang Allah sukai itu baik.

Kalau Allah menyuruh kita jujur, jujur saja, mengapa enggan? Mungkin kita pernah dengar ungkapan ini, dari rezeki tidak jujur saja susah, apalagi kalau jujur. Maka tak mungkin Allah yang menyuruh kita jujur, terus Allah tidak memberinya. Kita disuruh membayar zakat, bayarkan saja. Toh, uangnya juga milik Allah. Kalau Dia mau mangambilnya kembali kita tidak bisa menolak. Kita tidak mau bayar zakat, misalnya, tiba-tiba mobilnya tabrakan atau rumahnya kebakaran atau usahanya bangkrut; kita tidak bisa berbuat apa-apa. Atau kita diberi penyakit oleh Allah dan harus operasi.

Tak mungkin kita tidak mau berobat karena mau tidak mau keluar uang juga. Pasti, uang itu akan keluar. Maka daripada dipaksa oleh Allah agar uang keluar, lebih baik tunaikan segera zakatnya.

Sudah saatnya berangkat haji, bayarkan saja ongkos haji. Toh, uangnya juga milik Allah, kenapa mesti pusing-pusing cari alasan. Allahlah yang Maha mengatur lalu lintas rezeki setiap hamba-Nya. Maka sebetulnya, hidup ini akan enak kalau kita sudah tahu rumusnya. Sayangnya kita lebih sibuk memikirkan apa yang dijanjikan Allah daripada apa yang menjadi kewajiban kita.

Nah, begitulah kurang lebih hakikat rezeki kita. Yang utama tunaikan kewajiban kita lebih dahulu maka rezeki akan terpenuhi. Mudahan-mudahan uraian di bulan suci ini mendapat barokah dari-Nya. Wallahu alam. (Sumber : http://www.indomedia.com/sripo)

Cara Menjemput Rezeki

Banyak jalan yang bisa ditempuh untuk menjemput rezeki. Berikut sepuluh diantaranya..

1. Taqwa
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya,” (QS ath-Thalaq: 2-3).

2. Tawakal
Nabi s.a.w. bersabda: “Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.)

3. Shalat
Firman Allah dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya." (Riwayat al-Hakim dan Thabrani)

4. Istighfar
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai" (QS Nuh: 10-12).

“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka,” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim).

5. Silaturahmi
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaknyalah ia menyambung (tali) silaturahim.”

6. Sedekah
Sabda Nabi s.a.w.: “Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan kerana orang-orang lemah di kalangan kamu.” (Riwayat Bukhari)

7. Berbuat Kebaikan
"Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS Alqashash:84)

Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah tdk akan zalim pd hambanya yg berbuat kebaikan.Dia akan dibalas dengan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat.(HR. Ahmad)

8. Berdagang
Dan Nabi SAW bersabda: “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan” (Riwayat Ahmad)

9. Bangun Pagi
Fatimah (putri Rasulullah) berkata bahwa saat Rasulullah ( S.A.W.) melihatnya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari, beliau (S.A.W.) mengatakan kepadanya, "Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan-hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu antara mulainya subuh sampai terbitnya matahari. ( H.R. Al-Baihaqi)

Aisyah juga meceritakan sebuah hadits yang hampir sama maknanya, yang mana Rasulullah (S.A.W.) bersabda, "Bangunlah pagi-pagi untuk mencari rezekimu dan melakukan tugasmu, karena hal itu membawa berkah dan kesuksesan. (H.R. At-Tabarani)

10. Bersyukur
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim:7)


Kumpulan berbagai sumber

Sabtu, 10 Juli 2010

DEMOKRASI

Ibarat buah simalakama... menerima istilah ini berarti boleh dikatakan apapun yang berbeda akan diterjemahkan demi DEMOKRASI.

Sampai ada pendapat/ide untuk melegalkan perjudian/judi dengan sekian banyak argumentasi baik yang bersifat ini itu.. dan lain-lain.

Kiranya mungkin itu konsekuensi pilihan BERDEMOKRASI walaupun secara jelas dan gamblang dari sisi religi tak satupun Agama yang ada di negeri ini memperbolehkan adanya judi.

Mungkinkah atas nama demokrasi ide dan gagasan tersebut diajukan dan mungkin saja diterima karena bak layaknya UU Pornografi/Pornoaksi saja yang jelas-jelas akan melindungi umat ini dari hal-hal di atas ada juga yang menentang bahkan kecenderungannya justru memenangkannya untuk menolak bahkan sebagian kaum HAWA yang notabene menurut penulis akan lebih dijunjung martabatnya kok malah menolak... piye to.

Mudah-mudahan ada yang mempunyai kajian-kajian yang bisa merontokkan ide/gagasan dilegalkannya judi di negeri ini terutama yang punya power dan perlengkapannya tentunya(duit.. jabatan...de el el).

Oh Negeri, Bangsa dan Tanah Airku Indonesia.
Wong cilik cuma bisa menonton,,, geleng kepala.... dan turut prihatin.

Mudah-mudahan Negeri Bangsa dan Tanah Airku akan selalu dilindungi-Nya.
Ku serahkan harapan untuk Negeri, Bangsa dan Tanah airku pada MU Sang Pemilik Kehidupan.... Engkau adalah sebaik-baik pengatur, Seadil-adil Pemberi, Sang Maha Perkasa atas segala sesuatu.

Peace Indonesiaku


Amien.

Jumat, 02 Juli 2010

Lattah Yang Tidak Alami

Kurang menguntungkan sekiranya latah yang tidak alami, seperti latah berbisnis dan latah mengomentari issue.

Dalam dunia usaha latah untuk meniru suatu bisnis yang kelihatannya menjanjikan, padahal dari sisi-sisi yang lain sama sekali tidak pernah diperhitungkan, sehingga pelaku usaha hanya melihat suatu bisnis dari proyeksi keuntungan semata, padahal pelaku usaha tersebut tidak / belum menguasai keilmuannya. Ini mungkin juga merupakan hasil dari metode pendidikan / keberhasilan sang motivator untuk membuat orang ingin menjadi the number one, tanpa melihat kapabilitasnya.

Demikian juga sang komentator mengenai suatu issue, bahkan issue yang seharusnya tidak perlu dikomentari saja kadang dilakukan penilaian walaupun sebenarnya bukan merupakan kapasitas yang bersangkutan, bahkan sebenarnya akan merendahkannya, karena kepandaian sang pewawancara diapun berkomentar mengenai issue yang sebenarnya tidak dikuasainya atau sebenarnya tidak perlu dikomentari.

Mohon maaf kepada yang mempunyai sifat latah, selama alami itu berarti karunia Sang Khalik, asal jangan dibuat-buat.

Dunia telekomunikasi dan informasi serta pelakunya memegang peranan penting terhadap perkembangan suatu tingkat kecerdasan masyarakat yang masing gampang sekali dibingungkan oleh suatu informasi karena kaburnya sang Nara Sumber, mana yang bisa dijadikan referensi.

Bahkan sebuah konferensi pers-pun ternyata bisa kalah oleh hiruk pikuknya pemberitaan dan komentar-komentar di luar.

Mudah-mudahan sisi-sisi moralitas, kemaslahatan dan nilai manfaat bisa dikedepankan ketimbang selalu mengedepankan sisi-sisi bisnis yang kadang kala berbenturan dengan norma-noram maupun nilai-nilai religi.

Peace Indonesia

Senin, 10 Mei 2010

Rezeki Itu Datang

Banyak manusia merasa khawatir dalam mencari rezeki karunia Allah SWT. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang rela menggadai diri dan menghinakan martabat.

Kondisi dunia modern yang sarat persaingan dan pergulatan menuntut mereka untuk lebih berjibaku dalam mencari nafkah berupa karunia Tuhan. Betapa banyak setiap pagi di belahan bumi manapun di dapati wajah-wajah penuh ketegangan dan kepanikan yang memancarkan rona khawatir dalam mengais rezeki di pagi hari.

Seolah, mereka tidak memiliki Tuhan yang Maha Kaya Yang Mampu menjamin rezeki setiap hambaNya. Dialah Allah, Ar Razzaq Sang Pemberi Rezeki.

Hal yang sering luput dari diri manusia zaman modern ini adalah keimanan dan keyakinan bahwa Allah SWT telah menjamin rezeki dan nafkah setiap hambaNya. Karena keyakinan ini semakin memudar, maka setiap individu bergulat dan berkutat dalam kehidupan dunia demi memenuhi kebutuhan hidup belaka.

Dalam kitab Mirqaat al Mafatiih, terdapat kutipan pernyataan Al Qusyairi yang mengatakan; “Seseorang yang mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pemberi Rezeki, berarti ia telah menyandarkan tujuan kepadaNya dan mendekatkan diri dengan terus bertawakal kepadaNya.”

Pernyataan Al Qusyairi ini penting untuk diyakini bahwa memang kunci mendapatkan rezeki adalah dengan mendatangi Sang Pemilik rezeki yaitu Ar Razzaq! Sebab dengan mendatanginya maka segala hal kebutuhan akan terpenuhi.

Apakah kita belum pernah mendengar hadits yang amat masyhur ini: “Hai manusia, jika dari generasi pertama sampai terakhir, baik jin dan manusia berkumpul dalam satu tempat untuk meminta kepadaKu, lalu masing-masing orang meminta untuk tidak mengurangi kebutuhannya, niscaya hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun dari kekuasaanKu, kecuali hanya seperti jarum yang dicelupkan di laut.” (HR. Muslim).

Ini semua bukanlah demi menafikan sebuah ikhtiar mencari nafkah atau bekerja. Tetap saja bekerja sebuah prasyarat mulia untuk mendapatkan nafkah, dan para Nabi; manusia terhormatpun tetap melakukannya.

Namun tekanan yang terpenting dalam mencari rezeki dan nafkah adalah ketaatan kepada Allah Sang Pemberi rezeki.

Dalam Kitab Shahih Al Jami’ disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang berbunyi: “Sesungguhnya malaikat Jibril menghembuskan ke dalam hatiku bahwasanya jiwa hanya akan mati sampai tiba masanya dan memperoleh rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah, carilah nafkah yang baik, jangan bermalas-malasan dalam mencari rezeki, terlebih mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya Allah tidak akan memberikan apa yang dicarinya kecuali dengan taat kepadaNya.”

Sebab itu, usahlah panik dalam mencari karunia Allah SWT berupa rezeki. Yakinilah bahwa rezeki itu datang, bahkan kedatangannya menghampiri diri kita begitu cepat.

“Sesungguhnya rezeki itu akan mencari seseorang dan bergerak lebih cepat daripada ajalnya.” (HR. Thabrani)
Semoga Allah memberkahi rezeki & hidup kita bersama. Amien

Bobby Herbibowo